
Di sesi ciuman romantis mereka, salah satu maid dengan tubuh yang gemetar dan menundukkan kepala datang menganggu kedua sejoli tersebut yang sedang bercumbu mesra.
"Ma-maf tu-Tuan mu-Muda ... tu-tu-Tuan dipanggil oleh Nyonya Kylie." Maid tersebut gugup dan hanya menundukkan kepalanya.
Grael langsung mendorong tubuh Rangga cukup kencang dan mengelap bibirnya yang basah akibat ulah Rangga, dirinya sungguh malu ketika dia terciduk bersama Rangga oleh orang lain saat mereka sedang berciuman.
Rangga tertawa melihat reaksi Grael yang begitu menggemaskan, dia pun menyuruh maid untuk pergi terlebih dahulu, kemudian mengacak rambut sang gadis dengan gemas.
"Tunggu sebentar ya, jangan kemana-mana." Rangga mencubit pipi Grael lalu meninggalkan sang gadis seorang diri di dalam gazebo tersebut.
Grael menganggukan kepalanya sembari tersenyum kepada Rangga, dia pun menunggu Rangga dengan setia sembari melihat ke arah langit yang begitu indah dengan taburan bintang-bintang.
Tanpa dia sadari ada seseorang yang berjalan ke arahnya dengan perlahan, dia semakin mendekat ke arah gadis tersebut. Hingga akhirnya ia melingkarkan tanganya di pinggang ramping Grael dan mendekapnya dengan erat.
"Kok cepet banget sih?" tanya Grael tanpa menoleh kebelakang dia membalas pelukan orang tersebut dengan mengusap tangan yang melingkar di atas perutnya dan tangan yang satu lagi mengusap pipi orang tersebut saat orang itu mencium tengkuk lehernya.
Jantung Grael langsung berdegup kencang, saat tangannya mengusap pipi orang tersebut merasakan bulu jenggot yang tipis. Dia menyadari bahwa orang tersebut bukanlah Rangga melainkan Erlangga.
Grael langsung membalikan tubuhnya dan mendorong tubuh Erlangga dengan sekuat tenaga sembari bertanya. "Ka-kamu ... mau apa? Lepasin gak!"
Erlangga tidak menggubris apapun dari ucapan gadis itu, dia terus memaksa memeluk Grael hingga dia berusaha untuk mencium bibir dan leher sang gadis dengan paksaan. Grael pun mendorong wajah Erlangga agar menjauh dari wajahnya, tetapi karena tenaganya tidak cukup kuat, dia hanya bisa mengigit tangan Erlangga dengan sangat kencang.
"Aakhh ... shhit!" maki Erlangga saat melihat gadis tersebut berlari menjauh darinya.
Erlangga langsung mengejar Grael, dia menarik tangan gadis itu hingga masuk ke dalam dekapannya kembali, Grael yang berusaha melepaskan diri terus memukul dada Erlangga dengan kuat, saat tangan kekar itu menahan tengkuk lehernya dan berhasil mencium bibir Grael dengan buas.
"Uummpp ... aaah," ringis Grael kesakitan dalam mulut Erlangga, tapi sang empu terus mellumatnya dengan napsu bahkan tubuh Grael sampai terdorong ke dinding.
Tangan Grael yang memukul dada bidang Erlangga langsung di kunci dan digenggam dengan erat di atas kepalanya, dia menangis saat tubuhnya tidak bisa berbuat apa-apa ketika Erlangga mencumbunya dengan leluasa.
Grael membiarkan Erlangga sesuka hati menikmati bibir, leher, hingga ke bagian dadanya, air matanya terus mengalir saat Erlangga menyesap leher dan dadanya dengan sangat kencang.
"Please ... stop it, Kak Er ... aku takut!" Grael hanya bisa memohon ketika tubuhnya benar-benar tidak bisa berkutik dalam kungkungan Erlangga.
Erlangga langsung menghentikan aksinya ketika mendengar suara lirih dari gadis tersebut, dia mengusap air mata Grael dan mencium kening gadis itu sembari memeluknya dengan erat.
__ADS_1
"Maaf, maafkan aku yang begitu cemburu ... aku menyukaimu Grael, sangat ... sangat mencintaimu, hingga aku tidak tahu caranya untuk menunjukkan rasa suka ini, sama kamu." Erlangga memeluk Grael dan terus mencium pucuk kepala gadis tersebut sembari ikut menangis.
Mendengar ungkapan cinta dari Erlangga, membuat Grael tidak percaya. Dia justru tersenyum mengingat bahwa hatinya sudah tidak mempan lagi mendengar ucapan dari pria sombong tersebut. Dia pun mengusap air matanya dan merapihkan kembali dress bagian atas yang sedikit berantakan akibat ulah Erlangga.
"Kita lupakan! Anggap malam ini tidak pernah terjadi apapun," ucap Grael dengan tegar dan tersenyum ke arah pria tersebut.
Erlangga tidak menyangkan bahwa secara tidak langsung dia sudah ditolak oleh seorang gadis yang masih duduk di bangku sekolah, dia membuang napas kasarnya saat gadis itu meninggalkannya sendiri.
"Aaaggrrh! Aku gak akan membiarkan kamu, menjadi milik Rangga." Erlangga menonjok dinding tersebut hingga tangannya terluka.
Grael mengusap air matanya, agar tidak ketahuan oleh Rangga dan yang lainnya. Dia terus berjalan tanpa melihat ke arah belakang, sampai akhirnya dia menambrak seseorang.
"Aaauuh," keluh Grael yang tidak sengaja menambrak Rangga.
"Astaga ... kamu gak apa-apa?" tanya Rangga, dia memegang bahu Grael agar tidak jatuh.
"Hmm," jawab Grael yang menundukkan pandangannya.
Rangga melihat kedua mata sang gadis terlihat sembab, dia pun melihat warna lipstik Grael yang sedikit berantakan, tanganya mulai mengelap sudut bibir Grael. Namun, matanya tertuju pada warna merah di kulit putih leher sang gadis.
***
Langkah hentakan sepatu high heels begitu nyaring terdengar di sepanjang lorong menuju ruang kerja Josua, Kylie membuka pintunya dengan kasar sembari memasang wajah masamnya.
"Papi! Pokoknya mami tetap tidak setuju, kalau anak kita menikah dengan gadis kampung itu!" protes Kylie ketika kelurga Grael sudah pergi dari rumah mereka beberapa menit yang lalu.
"Terserah mami, setuju atau tidak yang penting mereka sudah sama-sama suka." Josua duduk di kursi kerjanya.
"Pih, Mami tahu betul ... Rangga masih mencintai Alena. Dia lebih pantas bersanding dengan anak kita!" Kylie meluapkan segala emosinya ketika dia sudah melepaskan kedok sandiwara dari wajahnya.
"Mami tahu sendiri ... betapa prustasinya Rangga saat tahu Alena selingkuh dan tidur dengan sahabatnya sendiri! Itu sebabnya kita pindahkan sekolah Rangga, demi kesehatan mental anak kita!" tegas Josua.
"Ya, tapi tidak sama anak udik itu Pih ... kan masih banyak yang lebih cocok dengan status kita!" rengek Kylie kepada sang suami.
"Papi, sudah berjanji sama sahabat Papi ... Mi," ucap Josua dengan lembut agar sang istri mau menghargai keputusannya.
__ADS_1
"Ya, kan janji bisa dibatalkan Pih ... kan orangnya juga sudah gak ada." Kylie memilih duduk di sofa.
"Astaga ... Mami! Biar bagaimanapun keluarga Gerald sudah berjasa sama keluarga ini. Dia adalah sahabat Papi, jadi tolong hargai keputusan Papi, Mi." Josua bangun dari kursinya dan melihat sang istri dengan tatapan emosi.
Kylie begitu terkejut dengan apa yang diucap oleh suaminya, dia begitu penasaran tentang keluarga Gerald yang selalu Josua bangga-banggakan, bahkan dia melihat sendiri bagaimana Josua begitu perhatian kepada calon menantu yang kampungan itu.
"Permisi Tuan, Tuan Muda pertama ingin bertemu," ucap maid yang menundukkan kepalanya.
"Suruh masuk!" Josua langsung melihat ke arah Kylie untuk keluar terlebih dahulu.
Kylie langsung bangun dan berdiri, dia segera meninggalkan ruangan itu. Namun, pada saat dia sudah berada di luar pintu, matanya berpapasan dengan Erlangga. Dia memandang anak tirinya penuh kebencian sembari menyunggingkan sudut bibirnya, tapi Erlangga tidak melihat Kylie sama sekali dan tidak mau perduli dengan sang ibu tiri.
Erlangga langsung mengeluarkan berkas surat yang ingin dia tanda tangani, tetapi dia meminta kesepakatan dengan sang ayah sebelum dia menyetujui permintaan Josua.
"Apa permintaan kamu?" tanya Josua dengan ketus.
"Batalkan soal perjodohan itu!" Erlangga berdiri di meja kerja sang ayah sembari menatapnya dengan keberanian.
Mendengar permintaan dari Erlangga, Josua langsung tertawa. Dia melihat ke arah Erlangga. "Apakah kamu sudah mulai kompak dengan ibu tiri kamu?"
"Jangan pernah sangkut pautkan perempuan jallang itu dengan aku!" tegas Erlangga.
Josua bangun dan memukul wajah sang anak dengan sekali pukulan, hingga mengeluarkan darah. Dia tidak terima bila sang anak berkata buruk tentang Kylie, dia menarik kerah baju Erlangga dan ingin melayangkan pukulannya kembali, tetapi dengan sigap, Erlangga menahan tangan sang ayah.
Kedua mata yang memiliki kemiripan saling beradu pandang dengan sinis, melempar rasa amarah di masing-masing antara sang anak dan ayah.
"Jaga cara bicara kamu! Dia, ibu kamu!" teriak Josua kepada anaknya.
"Dia, bukan ibu aku! Jangan pernah berharap Er akan menganggapnya sebagai ibu, karena sampai kapanpun dia hanyalah seorang perempuan yang sudah membunuh Mami kandung Er." Erlangga melepaskan cengkraman tangan sang ayah dari bajunya.
"Dasar, anak kurang ajarrr!" emosi Josua sudah mulai naik pitam, dia mencengkeram kembali kerah baju Erlangga dengan sangat kuat lalu ingin melayangkan pukulan. Namun, saat melihat bola matanya yang sama persis seperti dirinya, dia hanya mengepalkan tangan.
"Ck! Kenapa? Gak berani mukul darah dagingnya sendiri!" Erlangga langsung mendorong sang ayah dan menandatangani dokumen tersebut.
"Ingat, Pih! Er pernah bilang sama Papi ... ambil semua harta yang Papi mau untuk Rangga, Erlangga gak tertarik ... asal jangan pernah mengusik kehidupan Er! Terutama Grael, karena dia milik Er!" Erlangga melangkahkan kakinya keluar dari ruang kerja sang ayah dan melihat Rangga yang sudah berdiri dibalik pintu.
__ADS_1
To be continued...