Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
174. Sosok Bella


__ADS_3

”Apaan, si! Datang-datang langsung banting pintu?" tanya Rio saat dia baru keluar dari kamar mandi.


"Sebel sama Papa! Dah tahu itu kamar Emira, tapi main seenaknya aja mindahin semua barang-barang Emira!" Emira menangis memendam wajahnya di atas bantal milik Rio.


"Pindahin aja lagi, apa susahnya sih!" Rio dengan jahil menjatuhkan tetesan air dari rambutnya ke arah wajah Emira yang sudah berganti posisi.


"Kakak, iih!" Emira menendang perut Rio, tetapi kakinya justru ditangkap oleh sang kakak lantas ditarik begitu saja hingga dia jatuh ke lantai seraya mengeluh kesakitan. "Sakit!"


"Aduh, kacian Ade Kakak ... cini Kakak tiup! Ffuaah!" Rio meniup bokong seraya menepuk dengan keras.


"Aaww! Tega banget, ihh." Emira marah lantas bangun dan merebahkan tubuhnya di atas kasur Rio.


Rio hanya tertawa dia membuka lemari seraya memakai baju dan kembali melihat ke layar laptopnya tentang data pribadi Tia—sekretaris barunya, telinganya masih menangkap suara rintihan tangisan dari sang adik membuat konsentrasi dia buyar.


"Emira, gua sambit dari sini kalau masih nangis!" ucap Rio dengan kesal saat konsentrasi terganggu.


"Jahat!" keluh Emira yang menutup wajahnya dengan bantal.


Rio pun menutup laptopnya dan melihat ke arah sang adik, tangannya membuka bantal dengan kasar hingga melihat kedua bola mata emira sudah sebab dengan air mata.


"Jangan nangis!" Rio mencubit pipi sang adik agar berhenti menangis lantas berkata, "Biar nanti Kakak yang bilang sama Papa! Dah, jangan nangis, mandi sana! Kan nanti malam, Ayang Beb mau datang."


Emira langsung bergegas bangun dan memilih untuk mandi di kamar sang kakak, dia melihat di kamar mandi tersebut sudah tidak ada lagi barang-barang milik Cherry, dia pun tidak peduli lantas segera menuntaskan membersihkan dirinya.


"Kak, aku pakai baju Kakak ya!" ucap Emira yang membuka lemari Rio.


"Gua nggak pake BH, Emira!" celetuk Rio yang masih fokus ke arah laptopnya.


Emira pun hanya berdecit kesal, dia tetap mengambil baju Rio untuk dia pakai lantas merangkul kakaknya yang tengah sibuk kembali memeriksa data pribadi Tia.


"Siapa tuh, Kak?" Emira menunjuk ke arah laptop dengan wajah seraya bibirnya memakan buah apel dari tangan Rio yang sedang kakaknya makan.

__ADS_1


"Cantik nggak?" tanya Rio.


"Ya jelas cantiklah! Namanya juga cewek, Dodol!" Emira mengambil buah apel dari tangan Rio.


"Cantikan mana sama Cherry?" Tanya Rio sekali lagi.


Emira mendekatkan wajahnya ke arah laptop untuk melihat lebih teliti lagi penampilan Tia dari atas sampai bawah, dia pun membandingkan dengan pikiran yang dia bayangkan adalah Cherry. Dua-duanya nampak cantik membuat Emira bingung.


"Kak Cherry cantik, bahenol, modis dan juga terlihat berpengalaman," ucap Emira yang berhasil membuat Rio langsung melihat ke arahnya saat mengatakan bila Cherryi terlihat berpengalaman. "Kalau Kak Tia, manis, kalem, sepertinya anak baik-baik."


"Kalau dia jadi kakak ipar, mau nggak?" Rio melihat ke arah Emira.


"Kakak ngeduain Kak Cherry, ya?" tanya Emira yang saat itu juga langsung mendapat sentilan kepala dari tangan Rio.


"Emang Papa nggak bilang, kalau gua batal nikah ama Cherry?" Rio mengambil buah apel miliknya.


"Jangankan urusan Kakak, lah Papa aja nggak bilang sama Emira buat mundur pernikahan Emira sama Rangga! Masalah kamar juga gitu, emang Papa bilang sama Emira? Nggak!" Kesal Emira.


***


Malam hari, keluarga Louis telah tiba di rumah Mahendra, mereka disambut hangat oleh sang pemilik rumah. Tutur kata dan sikap keluarga Mahendra membuat keluarga Josua semakin yakin untuk menikahkan anak mereka.


"Emiranya mana Om?" tanya Rangga yang tidak melihat Emira datang menyambutnya.


"Masih di kamar, nanti sebentar lagi dia turun," jawab Windy yang di anggukan oleh Rangga.


Tidak lama kemudian, Rio pun turun. Dia melihat tidak ada Erlangga dan juga Grael saat di ruang makan hingga Rio hanya menyapanya tanpa semangat.


"Waah, ini dia ... direktur Mahadrika dari Mahendra! Sehat, Yo?" tanya Josua dengan seuntai senyuman.


Rio tertawa menyambut hangat tangan yang mengulur ke arah depannya. "Om, bisa aja! Erlangga nggak ikut, Om?"

__ADS_1


"Erlangga kebetulan sedang di luar kota bertemu dengan Tuan Samuel, jadi dia tidak bisa ikut datang," ucap Josua.


Di tengah perbincangan mereka, Emira turun dengan balutan gaun mini dress berwarna dusty, rambut pirang curly yang tergerai serta make up natural membuat siapapun yang berada di bawah sana terpanah kecuali Kylie.


"Waw, waw, waw, calon mantu Louis ternyata seorang bidadari," sanjung Josua yang terkagum dengan penampilan dari emira.


"Iya, dong siapa dulu Papahnya!" Sahut Jo yang merasa bangga saya tertawa memeluk putrinya.


"Terima kasih, Om ... atas pujiannya." Emira tersenyum seraya menunduk dengan sopan membuat Rangga terus terpanah dengan sikap dan penampilan calon istrinya.


"Loh, kamu turun tidak bareng sama Kakak kamu?" tanya Windy.


Sontak membuat Joshua dan Kylie bingung, mungkin wanita yang disebut itu adalah kakak tiri Emira yang baru pulang dari luar negeri usai mendapatkan perawatan. Itu sebabnya pernikahan Rangga dan Emira diundur.


"Oh, iya! Mana Bella?" sambung Joe.


Emira hanya terdiam sambil melirik ke arah Rio seakan dia malas untuk menjawab, sedangkan manik matanya menangkap ke arah sang kakak seakan-akan menunjukkan bahwa dia tidak mau ikut campur.


"Ya sudah biar Mama saja kalau begitu yang samperin Bella." Windy langsung menggeser bangkunya lantas pergi menyusul ke kamar Bella.


Emira menahan kesal dia melihat ke arah Rangga dan ternyata membalas tatapannya, perasaannya takut kalau Bella berhasil membuat calon suami juga terpanah dengan penampilan sang kakak yang tidak kalah cantik meski kecantikannya berasal dari operasi wajah.


Derap langkah kedua wanita ibu dan anak yang menuruni tangga membuat semua yang berada di ruang makan tersebut melihat ke arah sumber suara, terlihat jelas oleh semuanya bila Windy menuntun tangan sang anak penuh dengan perhatian.


Deg, jantung Rangga berdebar kencang bukan karena terpanah karena kecantikan wanita itu, tetapi debaran rasa was-was yang mengusik pikirannya bila wanita itu jauh berbeda dengan wanita yang dia kenal selama ini yaitu Veby.


Entah mengapa penampilan Bella begitu mirip dengan emira malam itu, rambut pendek dengan warna rambut yang sama dengan Emira serta baju yang dikenakan oleh Bella pun sama dengan Emira.


"Astaga! Apa-apaan coba maksudnya? Dia nyamain gua? Wah gila!" batin Emira berucap saat melihat penampilan kakak iparnya.


Rio tercengang melihat ke arah Bella dan juga ke arah Emira, pandangannya pun beralih ke arah Rangga yang ternyata sedang memperhatikan Bella. Dia tidak menyangka bila adik dirinya membawa kehebohan yang luar biasa.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2