
Setelah acara telah selesai, kedua pasangan yang telah resmi manjadi suami istri menuju kamar pengantin mereka. Pintu lift terbuka, Rangga segera menarik Emira agar segera masuk ke dalam lift yang kosong.
Begitu pintu lift tertutup, Rangga langsung menarik pinggang sang istri lantas menciumnya dengan napsu sampai tubuhnya menabrak dinding lift. Ciuman mereka begitu bergairah sampai tiba di lantai kamar mereka, mereka berhenti dan membuka pintu kamar itu lantas langsung masuk ke dalam dan melanjutkan sesi ciuman yang panas.
Akan tetapi, di sela-sela mereka sedang asyik bercumbu mesra, tiba-tiba suara ketika pintu terus diketuk berulang kali hingga membuat mereka terpaksa harus menghentikan aktivitas mereka.
"Sshit!" umpat Rangga dengan kesal. "Aku kasih kamu waktu sejam, selebihnya waktuku!"
Rangga menepuk bokong Emira agar segera bergegas mempersiapkan dirinya, sedangkan dia pergi memeriksa siapa yang sudah berbuat ulah dengan dirinya.
"Siapa?" tanya Rangga dengan emosi saat membuka pintu. Dia melihat Bella yang berdiri di depan pintu kamar sembari memberikan senyum manisnya. "Ngapain Lo, ke sini?"
"Hai, sorry! Gue cuma mau bilang, kalau Papa manggil Lo untuk menemuinya di kamar 306!" ucap Bella yang masih santai dengan ekspresinya.
"Ck! Terus lo pikir gue percaya gitu?" Rangga terkekeh lantas membanting pintu dengan menutupnya seraya berkata, "Nggak!"
Suara ponsel Rangga berdering, sang ibu melihat nama Jo yang menghubunginya. Ternyata perintah dari Bella adalah benar. Dia pun terpaksa mengiyakan perintah dari Jo untuk bertemu dengannya, dia meminta izin dulu kepada Emira kalau dia akan menemui Jo.
Entah Emira mendengar apa tidak saat Rangga berpamitan, tapi yang pasti dia langsung pergi dari sana tanpa menunggu persetujuan dari sang istri setelah membuka jasnya lalu melangkah pergi dari keluar dari kamar itu.
"Kak, siapa yang datang?" tanya Emira ketika dia baru saja keluar dari kamar mandi. "Loh ke mana, Kak Rangga? Kak!"
Emira terus memanggil nama suaminya tetapi tidak ada sahutan dari sang empu, dia hanya melihat jas pengantin Rangga Yang tergeletak di atas tempat tidur penuh dengan bunga mawar.
Tangan Emira pun mencoba menghubungi sang suami dengan ponselnya tetapi nomor yang dihubungi, ponselnya tertinggal dalam jas yang dilepas oleh Rangga.
__ADS_1
Perasaan kesal langsung muncul tiba-tiba dalam benak Emira, dia mencoba untuk mencari Rangga menemui kedua orang tuanya yang sedang bersama kedua mertuanya.
"Lo, Sayang ... kok kamu ke sini? Ada apa?" tanya Jo saat melihat anaknya sudah berpenampilan seperti biasa.
"Ngga apa-apa, cuma masih nervous aja!" elak Ermiar pada sang ayah, karena tidak mungkin dia bilang sedang mencari Rangga.
"Tuh kan, saya bilang juga apa! Nggak usah dipanggil Rangga ke sini! Jadi ganggu waktu mereka," ucap Joshua yang tertawa.
"Ya udah, sekarang kamu masuk lagi, kasian suamimu pasti nungguin!" sambung Kylie.
"Emang bahas apa? Kok lama?" Emira mengambil buah di atas meja sembari memakannya.
"Cuma lima menit kok lama?" Jo tertawa mendengar ucapan Emira.
"Maklum lah, Pah! Sudah sana, balik lagi!" ujar Windy yang tersenyum.
Emira pun kembali melangkahkan kakinya memasuki pintu lift, saat dia ingin menaik ke lantai kamarnya, pengunjung lift lainnya pun masuk ke lantai lift sebelum Emira.
Pintu lift pun tertutup dan kini mulai menaiki satu persatu angka menuju atas, perasaannya terus kusar selama pintu lift itu bergerak pikirannya sudah berkelana hingga membuat hatinya panas sendiri.
Begitu pintu lift terbuka di lantai sebelum kamar Emira, pengunjung itu turun. Akan tetapi, sebelum pintu lift tertutup sorot mata Emira melihat sosok laki-laki yang dia kenal sedang dia cari, tangannya pun menjulur ke arah pintu lift agar tidak tertutup.
Degup jantung Emira berdebar kencang, ketika pikiran dan prasangkan saling berperang dalam benak hatinya. Langkah kakinya gemetar saat berupaya melangkah lebih dekat untuk melihat pria itu yang ternyata memang benar Rangga.
Kedua mata lentik itu langsung membulat sempurna, Emira menutup bibirnya yang terbuka dengan kedua tangan. Seraya tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Air matanya langsung menetes, perlahan dia mundur dan langsung bergegas pergi dari sana.
__ADS_1
Tangan Emira terus memencet tombol berulang kali agar pintu lift segera tertutup, saat pintu lift itu tertutup suara teriakan pun menggema dalam lift yang kosong.
"Aaaakkk!" teriak Emira, dia duduk memeluk lututnya sendiri sembari menangis.
Suara pintu lift terbuka, dia pun bangun dari duduknya saya mengusap air matanya dengan kasar. Langkah kakinya masuk ke dalam kamar lalu menutupnya kembali.
Sesampainya Emira di dalam kamar dia langsung memilih untuk pergi ke arah kamar mandi dan pengunci pintu kamar mandi itu dengan rapat, dia duduk menangis saat air pancuran shower mengalir ke arah dirinya.
"Tega kamu, Kak!" ucap Emira dengan suara isakannya, dia tidak menyangka bila dia melihat sang suami sedang berciuman dengan kakak tirinya sendiri.
Bayangan tentang cerita Rangga yang selingkuh dari Grael kini terlihat jelas di pikirannya, dulu dia sempat memberikan umpatan pada Grael tentang bodohnya meninggalkan Rangga hanya karena pria itu berciuman dengan wanita lain, sedangkan kini dia merasakannya sendiri.
Sementara di posisi Rangga, pria itu tengah bertengkar hebat dengan Bella yang memaksa mencium dirinya begitu berani, bodohnya Rangga, dia masih saja terjebak oleh wanita lain saat dia menolong wanita lain.
Ya, saat Rangga selesai bertemu dengan Jo dia tidak sengaja menambrak Bella hingga membuat kaki wanita itu terkilir, Rangga melihat jelas bila kakak tiri dari istrinya tersebut meringis kesakitan. Hingga dia pun berniat membawanya ke kamar sesuai perintah dari Bella.
Pada saat Rangga berhasil membawa Bella ke dalam kamar, saat itu juga dia masuk perangkap Bella. Dia di suruh untuk membantunya memijat kaki yang terkilir dengan obat oles yang ditunjuk oleh Bella, tetapi tingkah wanita itu semakin aneh saat menyuruh memijat kakinya sampai kebagian pahanya.
Jelas saja Rangga langsung marah menyadari sikap aneh Bella, dia pun berdiri tapi Bella langsung memeluknya hingga dia terjatuh di atas tubuh Bella.
"Aku merindukanmu Rangga!" ucap Bella. Dia terus memeluk Rangga dengan erat meski Rangga memberontak.
"Lo, Beby kan? Ngaku! Gua tahu lo, meski Lo ngembohongin semuanya tapi Lo gak bisa ngembohongin gua!" Rangga menahan kedua tangan Bella hingga tangan itu tidak bisa lagi memeluknya tetapi membuat mereka begitu intim dan membuat Bella tersenyum.
"So sweet banget, si kamu! Aku tidak nyangka bila kamu begitu mencintaiku! Aku terharu Rangga Louis!" Bella memajukan bibirnya agar mencium bibir Rangga.
__ADS_1
To be continued...