
"Jaga ucapan Lo!" bentak Erlangga.
Kali ini Rio tertawa senang ketika dia berhasil memancing emosi Erlangga, dia mengeluarkan video di mana Erlangga berciuman dengan Sherly di dalam kantor. Terlihat jelas bila ciuman itu begitu nyata karena memang kenyataannya bibir Erlangga dengan Sherly menempel.
"Lo mau ngerebut Grael dari gua dengan video itu? Ck! Silahkan!" Erlangga duduk kembali dengan emosi yang masih dia tahan.
Awalnya Rio tidak bermaksud merebut Grael sama sekali, karena bagi dia persahabatan adalah segala-galanya, dia rela membiarkan sahabatnya bahagia dengan wanita yang dia cintai sampai dia sendiri membantu sahabatnya mendapatkan cinta dan hak milik dia selama ini.
Namun, saat melihat Erlangga beradu bibir dengan Sherly, hatinya begitu sakit. Dia tetap menyangka bila itu hanyalah kekhilafan semata sebagai seorang pria yang terus bertemu dengan wanita seksi.
Rasa amarah Rio tidak bisa di toleransi ketika dia mengetahui bahwa Erlangga tidak memecat Sherly ketika Grael memintanya. Di tambah Erlangga begitu hangat dan akrab dengan Sherly, meskipun sudah berulang kali Rio memberi peringatan pada sahabatnya itu agar menjaga jarak dengan Sherly untuk Grael.
Tetap saja, Erlangga masih mempertahankan posisi Sherly dengan alesan anak dari sahabat Josua, di situ Rio kecewa dengan Erlangga ketika usahanya untuk menyatukan sahabatnya dengan wanita yang dia sukai menjadi sia-sia karena penampilan Sherly yang menggoda syahwat.
"Kalau gua bilang, iya? Gimana?" Rio menaikan satu alisnya.
"Bang, sat!" Erlangga naik ke atas meja kerjanya dan menendang Rio hingga sahabatnya terpental dan jatuh ke lantai.
Tidak memberikan Rio kesempatan untuk bangun, Erlangga terus menendang Rio sampai sahabatnya itu terpental ke tembok.
Satu kaki Erlangga naikan untuk menginjak kepala Rio, tapi dengan sigap sahabatnya itu menghindar dan menarik satu kaki Erlangga membuat sang empu terjatuh.
Rio naik ke atas tubuh Erlangga seraya melayangkan pukulannya tepat di pelipis pewaris itu. "Itu buat amarah gua karena adik kesayangan Lo yang lalai menjaga adik gua! Dan ini buat Lo, yang udah nyakitin Grael!"
Rio tanpa ada rasa takut terus memberikan pukulan pada Erlangga, tapi tangannya langsung di tahan oleh Erlangga hingga posisinya sekarang Erlangga berada di atas Rio dan membalas pukulan Rio.
"Jangan harap Lo bisa ngerebut Grael dari gua! Mulai sekarang persahabatan kita sampai di sini, An Jing!" Erlangga mengembalikan pukulan yang Rio kasih. Hingga pergulatan panas yang sesungguhnya antara sesama pria terjadi.
Sherly yang baru saja masuk ke dalam ruangan begitu terkejut mendapati kedua pria saling berkelahi dengan hebat, dia pun menjerit kencang dan memanggil Beni untuk melerai pergulatan panas mereka di lantai.
"Lo mau persahabatan kita berakhir, oke! Jadi gua lebih gampang ngerebut Grael dari tangan lo, tanpa mandang kalau Lo sahabat gua!" Rio hendak melayangkan pukulan tapi tangannya sudah di tahan oleh beberapa security sedangkan Beni menahan Erlangga.
"Lepasin!" bentak Erlangga yang di pegang oleh Beni, Beni pun melepaskan dan membiarkan Erlangga merapihkan bajunya yang dibantu oleh Sherly.
__ADS_1
Rio tersenyum tidak suka ketika melihat Erlangga diam saja saat wanita itu ikut membantu merapihkan baju Erlangga, dia pun mendengus kesal dan keluar begitu saja dengan membanting pintu.
"Beni, siapkan uang pesangon untuk orang itu!" Erlangga menepis tangan Sherly dengan kasar lalu kembali duduk ke kursinya.
"Baik, Tuan!" ucap Beni dengan nurut, hatinya masih bingung kenapa Erlangga bisa bertengkar hebat dengan Rio sedangkan dia tahu bila kedua pria itu bersahabatan.
"Pak, obati dulu lukanya!" Sherly membawa kotak P3K.
"Tidak perlu!" ucap Erlangga dengan ketus tapi Sherly terus memaksa untuk mengobati luka Erlangga.
"Saya bilang tidak perlu! Kamu tuli apa bagaimana? Keluar!" bentak Erlangga dengan keras dan berhasil membuat Beni tertawa. Sherly hanya menunduk dan terpaksa keluar dengan berat hati yang di ikuti oleh Beni.
"Aaakkh! ****!" maki Erlangga.
Jam terus bergulir menunjukkan waktu pulang kerja, berkali-kali Erlangga memanggil Beni dengan sebutan Rio, rupanya dia memang tidak bisa lepas dari bayang-bayang asisten sahabatnya itu walau sehari pun.
Erlangga pun memutuskan untuk pulang lebih awal, dia keluar dari ruangannya dan melihat Sherly tersenyum manis kepadanya, Erlangga pun mendekat ke arah Sherly dan menyuruh Beni untuk menunggunya di bawah, sedang dia menyuruh Sherly untuk ikut masuk ke dalam ruangannya.
"Sherly, saya pinta agar kamu mengubah penampilan kamu, saya tidak mau bila besok kamu memakai baju yang ketat, di larang masuk ke ruang saya sebelum saya izinkan dan satu lagi ... jaga jarak dengan saya apabila kamu tidak mau saya pecat, mengerti!" bentak Erlangga yang meninggalkan Sherly di ruangannya begitu saja.
Sherly dibuat tercengang oleh perkataan Erlangga, berbeda dengan apa yang dia harapkan. Dia berpikir Erlangga menyuruh Beni memberikan waktu berdua agar dirinya bisa berduaan dengan romantis, ternyata hanya untuk memberikan larangan yang tidak boleh dia lakukan.
"Sial! Iiihh susah banget sih, nahklukin kamu, Er!" Sherly pun keluar dari ruangannya.
***
Erlangga keluar dari kantor dan ternyata melihat Rio yang berdiri di samping mobil seraya menyuruh dia untuk ikut bersamanya seenak jidat.
"Pak Ben, bilang pada istri saya bila saya telat pulang hari ini, dan siapkan penjagaan ketat pada rumah!" Erlangga meminta kunci pada Beni karena dia tahu Rio berniat mengajaknya ke suatu tempat.
"Maaf, Tuan, saya tidak mengizinkan Tuan untuk menyetir sendiri!" ucap Beni yang teryata ditertawai oleh Rio.
"Beni!" bentak Erlangga yang tidak mau di bantah oleh dirinya ketika dia tidak terima oleh tawa Rio yang mengejeknya.
__ADS_1
Terpaksa Beni menyerahkan kunci mobil pada Erlangga, dan langsung saja tuannya itu menancapkan gas mengikuti mobil Rio, sedangkan Beni menyuruh beberapa pengawal untuk mengikuti mobil Erlangga dari jarak jauh.
Mobil keduanya pun saling balap satu sama lain dengan kecepatan tinggi, di mana Rio dan Erlangga memimpin mobil mereka secara bergantian, sampai akhirnya Erlangga yang memenangkan balap mobil meski mereka tidak ada niatan untuk balapan
Rio mengajak Erlangga ke tepi pantai, di sana mereka leluasa memuaskan hasrat mereka sebagai sesama lelaki untuk melampiaskan rasa amarah pada diri mereka masing-masing.
"Bang sat!" umpat Erlangga ketika dirinya dapet tendangan di wajah.
"Lo yang bang sat! Gua relain Grael demi Lo, sekarang Lo malah nyakitin dia, Njing!" maki Rio yang berada di bawah Erlangga ketika sahabatnya langsung naik ke atas tubuhnya dengan hati yang tidak terima mendapat tendangan di wajahnya.
"Gua nggak pernah nyakitin Grael, Nyet! Video yang Lo ambil itu, Sherly yang terus maksa cium gua!" bentak Erlangga.
"Tapi Lo nikmatin juga kan, Njing!" Rio tertawa seakan mengejek.
"Gua nggak—"
Belum sempat Erlangga melanjutkan omongannya, Rio sudah menarik tengkuk leher Erlangga dan mencium bibir Erlangga saat itu juga.
Sontak Erlangga terkejut dan memukul Rio secara bertubi-tubi. "Bang sat!"
Rio tertawa meski darah mengalir di sudut bibirnya. "Bagaimana, Er? Enakan bibir gua apa bibir Sherly?"
"Gila, Lo!" Erlangga terus-terusan mencuci mulutnya dengan air laut dan memuntahkan karena merasa jijik.
"Lo yang gila, memilih persahabatan kita hancur demi Sherly! Lo gua kasih kesempatan untuk memilih, Lo pecat Sherly sekarang juga demi rumah tangga Lo, atau persahabatan kita memang berakhir sampai hari ini?" ancam Rio yang masih terbaring di pinggir pantai, membiarkan air laut menyapu darah di sudut bibirnya.
"Lo suka sama istri gua, kenapa Lo peduli sama rumah tangga gua?" Erlangga duduk di samping kepala Rio.
"Karena Lo lebih berharga buat gua dari pada wanita yang gua cinta, cinta masih bisa gua cari, tapi Lo ... Lo manusia langka yang hampir punah, jadi harus gua lestarikan!" ucap Rio yang awalnya serius kini berubah tertawa melihat Erlangga tengah menatapnya dengan sinis.
"Yo, Lo gay?" tanya Erlangga.
To be continued...
__ADS_1