Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
122. Persetujuan Joe


__ADS_3

Malam ini adalah malam terindah dari malam-malam yang lalu, ulang tahun kali ini pun juga berbeda dari ulang tahun sebelumnya , begitu spesial dan akan di kenang oleh Grael seumur hidupnya.


Erlangga memakaikan kalung permata biru safir pada Grael, sungguh romantis ketika melihat pasangan suami istri dari arah pandang para koki dan juga pelayan restoran membuat iri sekaligus ikut senang menyaksikannya.


"Thank you so much, Suamiku!" Grael langsung mencium bibir Erlangga di depan semua orang yang menyaksikannya seraya menepuk tangan.


"Ingat, ini tidak gratis, Nyonya Erlangga!" bisik Erlangga dengan pelan di telinga Grael.


Grael tersipu malu bila dia dipanggil dengan sebutan nama suaminya, apalagi dia tahu bahwa maksud ucapan sang suami adalah meminta seorang anak dari rahimnya.


"Ya," sahut Grael yang meyakinkan suaminya bila dia akan mengambulkan keinginan Erlangga untuk memiliki anak.


Mendengar lampu hijau dari istrinya, Erlangga menyuruh Grael untuk meniup serta memotong kue-nya yang diiringi suara biola dan para pelayan restoran ataupun koki yang menyanyikan sebuah lagu ucapan selamat ulang tahun menggunakan bahasa daerah tersebut.


...----------------...


Setelah keluarga Josua telah pergi, Joe langsung berbicara kepada Emira di ruangan keluarga sebelum memutuskan untuk membatalkan perjodohan dengan keluarga Steven.


"Papa tahu kamu sedang berbohong, Emira! Katakan dengan jujur, apa kamu sudah tidur dengan Rangga?" Joe berdiri membelakangi Emira yang sedang berlutut sembari menangis.


Rio dan Windy duduk di sofa sembari mendengarkan ucapan Joe, tapi lama Emira tidak menjawab pertanyaan sang ayah, itu membuat Joe kesal seraya berteriak, "JAWAB!"


Suara desakan Joe membuat semua kaget terutama Emira, dia melonjak kaget dengan bahu yang terangkat karena sangking takutnya, dia pun bergegas menjawab sembari menangis. "Iya!"


Joe langsung kalut mendengar ucapan Emira, dia membalikan badan dan melempar gelas pajangan yang dia arahkan tepat di samping Emira, membuat anak perempuannya ketakutan.


"Pah!" hati Windy begitu sakit melihat anak tirinya hampir terluka oleh sang suami.


"Diam!" bentak Joe yang melotot ke arah Windy, sedangkan Rio hanya terdiam.

__ADS_1


"Emira! Jika kamu ingin Papa menggagalkan hubungan kamu dengan Steven, jawab dengan jujur! Apa kamu sudah memberikan—"


ucapan Joe terhenti dikala hatinya begitu sakit bila harus mengatakan kesucian anaknya telah hilang, dia tahu betul Emira seperti apa orangnya. Tidak mungkin anak perempuannya begitu murahan rela mengorbankan apa yang dia pertahanan demi memutuskan hubungan dengan Steven. Terpaksa Joe kembali menyambung ucapannya yang terpotong.


"Papa tahu betul kamu sedang berbohong, Emira! Jadi, katakanlah dengan jujur, bila kamu jujur, Papa akan membatalkan perjodohan kamu dengan Steven!" Intonasi suara Joe mulai mereda saat batin seorang ayah yakin bila anaknya berbohong demi kebaikannya.


"Katakanlah dengan jujur, Nak!" ucap Windy dengan lirih.


"Maafin Emira, Papa! Emira mengaku salah, karena sudah berbohong sama Papa dan keluarga Louis! Emira memang benar tidur bersama Rangga, ta–tapi ... kita tidak sampai melakukannya!" Emira terus berlutut sembari menundukkan kepalanya saat air matanya begitu deras menangis, tanganya mengepal kencang pada celana yang dia pakai.


Joe mengepalkan tangan sembari mengeraskan rahangnya, dia tidak percaya bila sang anak rela merendahkan dirinya untuk bisa terlepas dari perjodohan dengan Steven.


"Kenapa kamu melakukan tindakan bodoh, Emira!" Joe memijat keningnya yang terasa pusing.


"Papa kan sudah tahu sendiri, Emira ingin membatalkan perjodohan dengan Steven sejak lama!" Emira mencoba mengingatkan kembali permintaan yang pernah dia ajukan kepada Joe.


"Tapi bukan seperti ini juga, Emira! Kamu itu ... aaarrgghh! Bukan kah kamu juga mencintainya? Apa sekarang kamu sudah bosan dengan Steven?" Joe ingin sekali memukul putrinya tapi dia mencoba menahan gejolak amarahnya.


"Cukup, Emira!" Joe menampar pipi putrinya begitu keras, hingga Rio langsung menarik adiknya dalam dekapannya.


"Papah, cukup!" Windy maju memasang badan untuk anak tirinya.


Joe langsung tersadar dari perbuatannya, ini memang salahnya sendiri yang rela membiarkan anaknya diperalatan oleh keluarga Steven karena demi perusahaannya juga. Joe melihat Rio, andai saja Rio mau mengurus perusahaan sendiri maka dia tidak akan membiarkan Emira terjebak situasi seperti ini.


"Ini semua gara-gara ka—"


"Apa? Papa mau menyalahkan Rio? Papa tidak sadar, semestinya Papa mencoba mengerti keinginan anak-anak Papa! Papa itu tidak lebih dari orang tua yang egois!" tutur Windy sebelum Joe melempar kesalahan pada anak-anaknya.


Ucapan Windy membuat hati Joe tersadar dia pun mencoba untuk memenangkan hati dan pikirannya sendiri, bila dia membatalkan perjodohan dengan keluarga Steven, maka otomatis pihak Steven meminta dua kali lipat sebagai kompensasinya. Namun, bila dia tidak membatalkan perjodohan, maka dia akan menjadi orang tua yang egois sekaligus kejam dengan anak kandungnya sendiri.

__ADS_1


Lama Joe termenung mengambil keputusan, sampai akhirnya dia bersuara, "Papa akan menelepon keluarga Steven dan meminta untuk membatalkan perjodohan ini!"


Emira yang berada dipelukan sang kakak langsung melihat ke arah ayahnya. "Papa serius?"


"Lupakan! Papa hanya bergurau!" ujar Joe yang membuang muka.


"Papa!" Emira langsung melepaskan pelukan Rio dan berlari memeluk Joe.


"Terima kasih, Pah!" ucap Emira yang menangis.


"Rio, kamu atur jadwal pertemuan kedua dengan keluarga Louis setelah kesepakatan untuk membatalkan perjodohan dengan keluarga Steven." Joe mengeratkan pelukannya pada putri tercintanya.


"Baik, Pah!" sahut Rio yang ikut merasa lega nial ternyata Rangga masih menjaga kehormatan Emira dan ayahnya merestui hubungan mereka.


...----------------...


Dalam kamar hotel, Steven sedang menikmati minuman anggur yang ditemani oleh para wanita cantik asal negara tersebut. Pria yang seumuran dengan Rangga dan Grael sedang menikmati waktu liburan ke negara pamannya tanpa mengajak kekasihnya yang bernama Emira.


Bagi diri Steven, Emira hanyalah sebuah boneka yang kapanpun dia mainkan di saat diperlukan. Dia memang mencintai Emira, tapi rasa takut kepada kedua orangtuanya membuat nyalinya menciut untuk mencintai Emira.


Sehingga Steven lebih memilih untuk mendengarkan apa kata orang tuanya, meskipun di dalam benaknya mencintai Emira.


"Stev, kalau lo udah mulai bosan dengan Emira, kasih ke gue! Masih virgin kan?" celetuk temannya Steven.


"Bangsat! Berani Lo minta Emira, berati Lo musuh gue!" Steven langsung bangun dari duduknya dan melayangkan pukulan.


"Eh, nggak usah berantem! Nih, info gadis yang Lo pinta!" Max memberikan satu lbar berisi info tentang Grael.


"Grael Arabella, usia 18 tahun, selebihnya data private? ******!" Steven meremas kertas informasi yang di dapat dari temannya.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2