
"Sayang, pelan sedikit!" ucap Gracia mengingatkan suaminya saat Marvin menggaulinya dengan kasar.
Hentakan demi hentakan terus dilakukan oleh lakukan Marvin, dia begitu semangat saat berada di posisi yang dia suka, sampai dia lupa bila sang istri sedang mengandung anaknya yang belum dia beritahu pada Karina dan juga Grael.
"Sorry, Honey! You are so exciting, membuat aku lupa," bisik Marvin ditelinga Gracia. Dia kembali mengubah posisi istrinya agar janin yang di kandung Gracia dengan usia kehamilan trisemester pertama menjadi aman terkendali.
"Apakah sakit?" tanya Marvin yang penuh perhatian.
Gracia tersenyum seraya menggelengkan kepala, dia pun kembali menikmati permainan yang dilakukan oleh suaminya, hingga tanpa mereka sadar, Erlangga berdiri melihat aksi mereka yang sedang bergulat.
"Ya Tuhan!" ucap Erlangga yang tidak percaya bila Marvin nekat mengajak Gracia melakukannya di luar kamar.
Marvin dan Gracia hanya tersenyum, untung tubuh Gracia ke halangan tubuh Marvin. Sehingga Erlangga tidak bisa melihat tubuh polos kakak iparnya.
Ya, Erlangga baru saja keluar dari dalam kamar Grael ketika dia ingin mengambilkan air hangat untuk mengompres luka memar pada pipi istrinya, sebelumnya Erlangga masih asik menjadi seperti bayi yang berada di dalam dekapan sang ibu, mulutnya tidak berhenti menyesap kedua buah dada sang istri secara bergantian dengan tangan yang sama-sama sibuk meremas dan memilin pucuk dada itu.
Tidak lama kemudian, Erlangga bisa merasakan dari napas sang istri yang mulai teratur menandakan bila Grael telah tertidur pulas meski dia sibuk menghisap benda kenyal itu.
"Maafin aku ya, Yank!" Erlangga bangun dari tidurnya dan mengambil obat salep yang diberikan dari dokter Nadin. Sebelum mengoles obat itu tepat di pipi Grael yang memar akibat tamparan darinya, Erlangga berniat pergi ke arah dapur dan ternyata melihat adegan panas di depan matanya.
Erlangga hanya berlalu begitu saja untuk mengambil air hangat lalu kembali ke dalam kamar, tidak lupa dia pun membanting pintu kamar saat menutupnya dan membuat Marvin dan Gracia tertawa.
Begitu berada di dalam kamar, Erlangga langsung mengompres lebam pada pipi Grael secara perlahan agar tidak membangunkan istrinya. Setelah itu dia baru mengolesi salep pada pipi itu, tidak lupa juga dia mengompres area sensitif milik sang istri dengan wadah yang berbeda.
"Hhmm, Kak? Kamu ngapain?" tanya Grael yang terusik ketika area sensitifnya terasa hangat.
"Maaf buat kamu terbangun, apakah sakit?" tanya Erlangga, dia pun kembali memberikan salep untuk daerah milik Grael dengan salep.
"Biar aku saja!" Grael pun bangun dan duduk tapi Erlangga melarangnya.
__ADS_1
"Kamu tiduran saja, biar aku yang ngobatin, tenang ... aku hanya ingin memberi obat, tidak lebih!" Erlangga langsung mengecup kening Grael agar istrinya percaya lalu kembali membuka kaki sang istri lebar-lebar.
"Hhmm!" Grael meremas seprei saat jari Erlangga menyentuh titik sensitifnya.
Erlangga mengangkat kepalanya untuk melihat dessahan sang istri seraya tersenyum, hatinya ingin sekali langsung menerkam Grael saat itu juga. Namun, dia masih mengendalikan hawa napsunya demi kesehatan Grael.
"Apakah sakit?" tanya Erlangga berbasa-basi untuk menghilangkan desiran hebat pada tubuhnya.
"Hhm, sedikit!" sahut Grael dengan jujur, ketika ujung kakik nya mengangkat sedikit untuk menahan perih.
Erlangga begitu menyesal telah berbuat kasar pada Grael, dia meniup pelan ke arah area sensitif sang istri agar mengurangi rasa peri karena efek obat yang dia oles.
Hembusan angin dari mulut Erlangga yang menerpa kulit yang sedang lecet di bawah sana membuat Grael merasakan nyaman dan sejuk, dia begitu menikmati sampai rasa perih itu menghilang.
"Apakah sudah lebih baik?" tanya Erlangga yang ternyata hanya di anggukkan oleh Grael.
Sudah berapa kali Grael mendengar kata maaf dari mulut Erlangga, sampai dia pun sedikit luluh meski hatinya masih terlalu sakit. Akan tetapi, tidak mungkin juga dia harus berlarut-larut dalam amarah yang tidak berujung, toh dirinya juga salah telah bersikap kasar mangka dari itu Erlangga sedikit kasar menurutnya.
"Kak," ucap Grael dengan sedikit gugup.
"Hmm?" sahut Erlangga ketika sudah memeluk Grael dari arah samping.
"Maafin, El ya ... sudah bersikap tidak sopan dengan Kak Er!" Grael melihat ke arah sang suami dengan takut-takut.
Tentu saja pengakuan Grael cukup membuat Erlangga terkejut sekaligus senang, dia bersyukur bila istrinya bagaikan malaikat yang memiliki jiwa yang mulia. Meski letak kesalahan ada padanya sepenuhnya, tetapi Grael tetap mau meminta maaf padanya.
"Ya, aku maafin, tapi ... aku minta sama kamu, aku tidak mau mendengar kata pisah atau lain sebagainya yang membuat hubungan kita hancur!" Erlangga mendekatan wajahnya ke arah tengkuk leher sang istri.
"Maaf, tidak lagi!" ucap Grael.
__ADS_1
"Ya, sekarang, lebih baik kita tidur! Besok kita ajak Mama pindah ke rumah baru, aku sudah membelinya untuk Mama, biar rumah ini dibangun dan diperbaiki sama Marvin!" ujar Erlangga.
"Loh, kok, kamu sama Kak Marvin nggak bilang-bilang dulu? Kalau Mama tidak setuju bagaimana? Ini kenang-kenangan dari mendiang Papa! Aku mau ngomong dulu sama Kak Cia!" ucap Grael yang hendak bangun.
"Ngapain? Besok aja!" Erlangga menarik kembali tangan Grael agar masuk ke dalam pelukannya lagi.
"Ya mau bahas soal ini! Kak Cia kok nggak ngomong sama aku?" Grael memasang wajah masamnya.
"Besok aja, toh percuma kamu keluar, orangnya lagi sibuk bikin Kakak untuk anak kita," bisik Erlangga yang kini tangannya mengelus perut Grael.
"Maksudnya?" Grael mengerutkan keningnya.
"Mereka lagi—”
Erlangga tidak bisa melanjutkan ucapannya, dia hanya bisa mempraktekkan apa yang dilakukan Marvin pada Gracia di luar sana. Membuat Grael langsung mengerti maksud dari ucapan sang suami.
...----------------...
Pagi pun telah tiba, Erlangga dan Marvin telah mengutarakan niat baik mereka dengan membangun rumah itu, sementara Marvin dan Gracia pun memberikan kabar baik bila Gracia tengah mengandung.
Karina merasa senang atas kabar baik dari anak pertamanya, sedangkan dari Grael sudah hampir seminggu semenjak pulang dari rumah Karina dan mengidam makan mangga hanya mengalami hamil simpatik saat Gracia hamil.
Erlangga pun terus memberikan semangat untuk istrinya agar tidak mudah putus asa, mungkin belum dikasih kepercayaan oleh tuhan, toh Grael juga masih sekolah.
Semenjak itu juga, kini sekertaris baru Erlangga yang bernama Yogi. Dia sekertaris Erlangga sekaligus Asisten pribadi Erlangga karena tidak mungkin Beni terus-menerus mengekori Erlangga di usianya yang semakin tua.
Waktu pun terus berlalu, setelah Karina lebih memilih tinggal di rumah peninggalan suaminya yang sudah dibangun oleh Marvin, kini waktunya Grup Jaya menyiapkan jumpa pers yang akan di selenggarakan tiga hari setelah kepulangan Grael dari acara kelulusan.
To be continued...
__ADS_1