Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
153. Rapor


__ADS_3

Selesai sesi pergulatan panas, Grael pun memberanikan diri untuk membuka suara terlebih dahulu sebelum suaminya tertidur pulas akibat kelelahan.


"Sayang," ucap Grael. Dia mendongak melihat ke arah suaminya yang sudah memejamkan mata seraya meresapi sisa fly yang melambung tinggi.


"Ehmm?" Erlangga langsung membuka matanya dan melihat ke arah Grael yang tengah melihatnya terlebih dahulu.


"Hmm ... nggak jadi deh." Grael kembali memeluk suaminya dan mengurungkan niatnya untuk meminta Erlangga menjadi walinya.


Erlangga pun langsung naik ke atas tubuh Grael lalu menatap manik mata yang memiliki bulu mata lentik itu, dia mengecup lembut kening istrinya.


"Why? Katakanlah!" ucap Erlangga.


Rasa gugup Grael begitu jelas ketika saliva-nya sulit sekali untuk dia telan. "Hhmm, apa besok Kak Er punya waktu luang?"


"Ada sih, tapi nggak terlalu sibuk bila kamu minta di temani untuk mengambil rapor besok." Erlangga menunjukkan ekspresi wajah yang menimbang-nimbang.


"Kok, Kakak tahu?" Grael membulatkan matanya karena terkejut bila Suaminya mengetahui niatnya.


Erlangga tertawa geli, lalu menjawab, "Ya, tahu lah ... aku kan suami kamu! Jelas aku tahu, luar dan dalam."


Grael nampak tidak percaya dengan ucapan sang suami, dia pun mencubit pinggang suaminya seraya berkata, "Iihh ... Kakak!"


Erlangga meliuk-liukkan tubuhnya karena rasa geli pada pinggangnya sembari tertawa dan itu berhasil membuat sang junior yang menggesek ke area sensitif Grael menjadi efektif.


"Yank, ampun ... Yank! Ini si junior, bangun!" Erlangga langsung melihat ke arah adik kecilnya.


Grael pun ikut melirik ke arah junior Erlangga yang kembali mengeras, tangan Grael menutup mulutnya, ketika junior kembali meminta jatah. Dia langsung mendorong tubuh Erlangga lalu menutup tubuhnya dengan selimut dan memejamkan matanya.


Erlangga terkejut dengan sikap istrinya yang mengabaikan si junior. "Yank, ini junior gimana?"


"Sudah tidur!" sahut Grael.


"Yank!" Erlangga mencolek tubuh istrinya tetapi ditepis begitu saja oleh Grael.


Tidak terima bila juniornya tidak mendapat tanggung jawab dari Grael, Erlangga langsung menggelitik pinggang istrinya dan hal hasil membuat Grael pun tertawa.


"Terima kasih, Sayang. Aku mencintaimu, El!" Erlangga mengecup kening Grael ketika dia mendapatkan kembali pelepasannya.

__ADS_1


***


Suasana sekolah begitu ramai dengan para wali murid yang berdatangan dengan mobil-mobil yang bisa dipandang mewah, hanya sebagian murid beasiswa yang memilih untuk mengambil sendiri dari pada menjadi bahan olok teman-teman ketika orang tua mereka datang dengan alat kendaraan sederhana.


Salah satunya Anjas, salah satu murid yang memiliki rangking teratas setelah Grael, dia menjadi siswa rangking umum dan mendapatkan beasiswa kuliah diluar negeri begitu juga dengan Grael dan Ernata.


"Kok malah diam? Ayo, turun!" ajak Erlangga yang membuka sabuk pengamannya.


"Malu," ucap Grael sembari tertawa canggung.


"Malu?" Erlangga mengerutkan keningnya lalu kembali berucap, "Ooh, kamu malu karena yang mengambil rapot suaminya hanya artis pensiun?"


"Astaga! Kamu itu berburuk sangka mulu sama istrinya, bukan itu ... aku malu aja karena takut nilai jelek! Biasanya Buk Clara suka bawel ke wali murid saat pengambilan rapor, aku takut kamu diceramahi panjang lebar, nanti yang ada jadi tontonan, terus malu-maluin kamu." Grael langsung memasang wajah cemberutnya.


"Hai, nggak usah malu. Ya, nggak apa-apa misalkan nilai kamu kurang bagus dan aku kena cemara sama guru kamu, siapa tahu pas aku buka masker, guru kamu langsung terpesona dan lupa ceramahnya." Erlangga tertawa melihat raut wajah Grael, dia pun mendapat cubitan dari istrinya.


"Tahu aaķh!" keluh Grael


"Dah, ayo turun!" Erlangga tertawa sembari mencubit pipi sang istri kemudian turun dari mobil dan membukakan pintu untuk sang istri.


"Gila, berani banget tuh si El, bawa pacarnya buat jadi wali!" celetuk teman-teman satu sekolahan.


"Emang boleh? Gua yakin bakalan kena tegur sama kepsek!" sahut teman satunya.


"Nekat banget, tuh anak beasiswa, kalau gua sih ... mending ngambil sendiri dari pada maksa bawa wali keren tapi nyatanya cuman pacar!" ledek yang lain.


"Iyyuuh, kasian banget, biar nggak di pandang rendah, sama aja dong kaya temannya dulu," timpal temennya.


"Veby!" sahut temannya yang lain.


Mereka tertawa ketika menggunjing siswa beasiswa yang tidak membawa orang tua mereka untuk dipamerkan, tapi tawa mereka berhenti ketika Lucy dan Silvia datang.


"Vi, lo malu nggak sama Anjas dan Grael?" celetuk Lucy.


"Malu kenapa si?" Sylvia berdiri di tengah-tengah mereka yang tertawa membicarakan Grael.


"Kalau gua si, malu sama anak beasiswa! Mereka memang dari keluarga sederhana, tapi gila dong ... Pamernya mereka nggak nanggung-nanggung! Otak kecerdasannya, cuy! Kalah tuh mobil BMW sama jabatan tinggi di perusahan kalau anaknya dengan otak pas-pasan menghina orang!" sindir Lucy dengan pedas.

__ADS_1


"Wiih, gila ... dalem banget sindiran lo, udah kaya seblak mercon," ucap Sylvia.


"Maksud lo, apa? Nyindir?" tegur siswa itu yang merasa tersindir.


"Oh, itu sindiran ya? Oops, sorry ... kalau lo merasa tersindir. Berati pas deh, buat lo," ucap Lucy yang tertawa dengan Sylvia kemudian mereka berlalu begitu saja meninggalkan kawanan siswa yang jengkel dengan tingkah Lucy.


Sementara itu, Erlangga menggenggam tangan Grael sampai tiba dalam ruang kelas yang ternyata sudah penuh dengan wali murid teman sekelasnya.


"El!" panggil Ernata yang melambaikan tangan.


"Hai," sahut Grael yang mendekat ke arah Ernata dan ayahnya Ernata, dia pun menyapa ayahnya Ernata.


"Eh, Grael ... loh, ini siapa?" tanya Robbet yang menunjuk ke arah Erlangga.


"Saya walinya, Om!" ucap Erlangga.


"Ya Tuhan, Pak Erla—"


Erlangga langsung memberi kode agar Robbert tidak membongkar identitasnya, karena Robert dan Erlangga masih rekan bisnis melalui Josua.


"Oh, ya ... Hahah, ini yang selalu di banggakan oleh Josua, ternyata anak saya! Ya ... pintar sekarang tidak mau kasih tahu ayah!" Robert merasa bangga sebab, Grael juga seperti anaknya sendiri karena Ernata dan Grael begitu dekat.


"Maaf, Ayah Robbert," ucap Grael merasa bersalah dan ucapannya membuat segudang tanda tanya Erlangga.


"Ayah?" bisik Erlangga.


"Kita bahas di rumah!" sahut Grael yang tersenyum.


Pada saat itu juga guru wali kelas Grael masuk membawa beberapa map yang diduga rapor kelas tiga, satu persatu pun para wali murid mengambil sesuai dengan nama urut, di saat Grael sedang gugup, justru suaminya tertawa pelan.


"Kamu kenapa, sih Yank?" ucap Grael pelan melihat tingkah suaminya yang tertawa.


"Nggak apa-apa, Yank! Aku berasa jadi orang tua kamu! Jantung aku dag dig dug, takut nilai anaknya jelek!" Erlangga masih terkekeh dengan sikapnya sendiri.


"Aaissh, kamu itu! Kirain aku kenapa!" Grael mencubit paha Erlangga.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2