
Pagi hari yang begitu cerah, Grael yang hendak berangkat ke kampus mendapati sang suami yang terus muntah-muntah di dalam kamar mandi, dia bergegas mengambilkan minyak angin dan segelas Ari hangat.
"Ya Tuhan, masih mual? Tiduran, dulu ... biar aku hubungi Dokter!" Grael memapah sang suami agar sampai ke tempat tidur.
"Nggak usah, Yank! Nggak apa-apa, istirahat sebentar juga udah mendingan! Kamu berangkat sama Noel aja dulu ya?" ujar Erlangga dengan suara yang lemah.
"Ya ampun, Sayang! Tubuh kamu lemas begini, aku khawatir ... mending aku panggilin dokter!" Grael langsung bangun dari tidurnya dan segera mengambil ponselnya untuk menghubungi dokter.
Erlangga hanya bisa pasrah saat istrinya menghubungi sang dokter, tangannya enggan untuk melepaskan tangan Grael ketika istrinya terus berbicara pada dokter melalui seluler, seakan-akan takut ditinggal oleh si istri.
"Katanya nggak apa-apa, di tinggal pergi ngampus," ucap Grael dalam hatinya ketika dia baru selesai menghubungi dokter, dia melihat Erlangga tertidur sembari memegang tangannya dengan erat seakan tidak mau ditinggal.
Terpaksa Grael mau tidak mau meminta izin dari dosen untuk tidak masuk hari ini dan menemani suaminya. Dia ingin menaruh ponselnya ke atas nakas, tetapi karena tangannya terlalu di gengamam, hingga dia kesulitan untuk menaruhnya.
Grael pun memijat kepala suaminya untuk mengurangi sakit yang dirasakan oleh Erlangga, memeluknya dari samping serta terus mengoleskan minyak angin pada hidung suaminya.
Tidak lama kemudian, dokter pun datang. Grael masih setia menemani sang suami saat diperiksa oleh dokter, matanya melihat bagaimana Erlangga terus menggenggam tangannya dan tidak mau dilepas sedikitpun.
"Bagaimana, Dok? Suami saya sakit apa?" tanya Grael yang khawatir dengan kondisi suaminya.
"Tuan Erlangga hanya kecapaian, tidak ada gejala yang serius! Nyonya tidak perlu khawatir," ucap sang dokter.
Grael menghela nafasnya dengan lega setelah mendengar penuturan dari dokter. "Terima kasih, Dok!"
"Sama-sama, kalau begitu saya permisi dulu, semoga Tuan Erlangga cepat sembuh!" ucap Dokter yang berpamitan pada Grael.
__ADS_1
Grael menyuruh Evelyn untuk mengantar dokter itu sampai di luar teras rumah, kemudian dia mengambilkan obat dan membangunkan Erlangga untuk segera meminum obat, tetapi karena suaminya enggan untuk meminum obat terpaksa Grael memberinya melalui mulut.
Grael yang sangat anti dengan meminum obat, terpaksa harus menggunakan cara itu agar obat itu segera masuk ke dalam mulut Erlangga.
"Untung itu bukan obat pait!" Ucap Grael dalam hati, dia pun meminum air untuk menetralkan rasa peppermint dari obat tersebut.
Selama lima menit Grael menemani suaminya akhirnya dia bisa juga lepas dari cengkraman itu, dia bergegas pergi ke dapur untuk membuatkan bubur agar bisa dicerna oleh lambung Erlangga.
"Nyonya, biar saya saja yang masak!" Evelyn mengambil panci stainless dari tangan Grael tetapi wanita itu justru melarangnya.
"Tidak apa, Bik! Kak Erlangga sudah enakan Kok bisa ditinggal, jadi saya bisa masak buat dia!" ucap Grael. Lantas menguncir rambutnya ke atas sedangkan Evelyn memasangkan celemek pada tubuhnya.
"Saya bantu ya, Nyah!" Evelyn membantu Grael membuatkan Erlangga bubur.
Selama mereka berada di dapur, keduanya saling berbincang satu sama lain karena baru kali ini mereka bisa begitu dekat. Selagi ada kesempatan Grael mencoba untuk bertanya pada Evelyn tentang rumah yang ditempati oleh dia saat ini.
Grael juga mendengar kalau Calista jatuh cinta pada Joshua saat mereka satu kampus di salah satu universitas negeri tersebut, sampai akhirnya callista memutuskan untuk menikah muda bersama Joshua.
Awalnya Calista dan Joshua tinggal di rumah yang sekarang ditempati oleh Grael dan juga Erlangga karena kedua orang Calista yang kurang setuju dengan Joshua sehingga Calista pun diusir dari rumahnya.
Perjuangan Calista mendapatkan rumah tersebut tidaklah mudah Calista harus mulai karirnya dari nol bersama Joshua untuk membangun rumah impian mereka yang sederhana ini.
Melihat hasil jerih payah Joshua kedua orang Calista pun merestui mereka, sehingga keluarga Calista yang kaya raya nomor satu di negara itu menerima Joshua sebagai menantu mereka. Hingga akhirnya salah satu perusahaan terbesar yang dimiliki oleh keluarga Calista memberikan kepercayaan pada Joshua untuk memegang perusahaan tersebut yang kini dikenal dengan grup Jaya.
Tidak hanya itu saja, melihat perkembangan perusahaan yang maju begitu pesat boleh Joshua keluarga Calista pun memberikan hak sepenuhnya pada Calista untuk mengurus salah satu perusahaan tersebut pada sang anak dan juga menantu.
__ADS_1
Harta yang dimiliki keluarga Calista pun sangat banyak, karena Calista hanya memiliki satu saudara yang bernama Nadin jadi harta tersebut dibagi dua sama rata. Akan tetapi, semenjak kedua orang tua Calista dan Nadine meninggal, Joshua mulai berubah.
Calista sering mempergoki Joshua bersama sekretarisnya, tetapi pria tua bangka itu selalu mengelak bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi di antara mereka, hingga akhirnya pada satu titik di mana semua mengubah jalan cerita tentang seorang anak pewaris yang bernama Erlangga.
"Evelyn!" Teriak Noel yang membentak istrinya ketika menceritakan tentang masa lalu Calista.
tentu saja keduanya pun langsung terkejut mendengar suara teriakan dari pria paruh baya itu, Evelyn pun langsung menjauh dari Grael seraya meminta maaf hanya sebatas itu yang dia ceritakan pada Grael.
"Tunggu dulu! Noel saya belum selesai bicara sama dia!" Tegas Grael yang melarang Evelyn untuk pergi.
"Maaf, Nyonya! Saya harap Anda tidak mengganggu istri saya untuk menceritakan apapun yang bahkan kami sendiri tidak mau menceritakannya!" Noel sangat marah kepada Grael.
Ucapan Noel sangat menusuk relung hati Grael seakan ada kisah yang disembunyikan dari mereka, dia yang tidak bisa tinggal diam begitu saja mencegah kedua orang itu agar tidak pergi dari rumah itu.
"Saya tidak mengizinkan kalian keluar sebelum kalian mengatakan sesuatu!" Grael mencegah dengan menghadang Evelyn dan Noel.
"Dan saya akan melaporkan Anda atas tindakan yang Anda perbuat!" Ancam Noel dengan marah.
"Tindakan apa yang saya perbuat? Apakah saya berbuat kasar pada istri Anda? Apakah ada sesuatu yang kalian rahasiakan dari keluarga Erlangga?" Grael menatap Noel dengan sinis.
"Tindakan yang memaksa kami untuk kembali mengingat kenangan pahit! Kalau anda ingin mengetahui, silakan tanya sendiri dengan mertua Anda Nyonya Erlangga! Kita permisi dulu, maaf tidak bisa menemani Anda untuk mengurus Tuan Erlangga!" Noel langsung menarik Evelyn untuk keluar dari rumah tersebut setelah mengatakan itu semua.
Jelas saja itu membuat Grael tercengang mendengar penuturan yang Noel katakan, apa yang sebenarnya terjadi? Begitu tertutup dan rahasia. Grael tidak bisa diam berdiri setelah mendengar cerita dari Evelyn, bahwa sesungguhnya harta kekayaan itu adalah milik Erlangga yang semestinya sudah hak paten dan tidak jatuh ke tangan orang lain apalagi anak Rangga.
Suara bubur yang meletup-letup hingga menetes ke dasar stainless kompor menyadarkan Grael, dia bergegas pergi ke arah dapur untuk mematikan kompor melihat bubur yang setengah bluber keluar. Segera dia membersihkan kekacauan yang terjadi di dapur.
__ADS_1
To be continued...