Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
103. Jangan di ganggu


__ADS_3

Tangan Erlangga menepuk bokong itu ketika dia ingin memasukkan junior ke dalam sangkar melalui pintu belakang, begitu masuk Erlangga kembali mengerang kenikmatan sang junior yang dihampit dari belakang, sangat terasa kedutan ringan dari dinding Mili Grael, membuat Erlangga semakin menggila untuk memaju mundurkan pinggangnya sembari memegang pinggang sang istri.


Suara erangan yang saling bersahutan dan getaran pada meja menandakkan sesi bercinta mereka begitu nikmat, sampai mereka mengabaikan suara ketukan pintu dari luar sana.


Posisi di mana Erlangga tidak akan kuat bertahan lama ketika melakukanya dari belakang, membuat suara erangan dari mulut Erlangga keluar dengan ciri khas seorang pria jantan, begitu candu bagi Grael ketika mendengarnya.


Hentakan junior yang semakin dalam menandakan bahwa sang suami pun telah menyusul dia mencapai puncak klimaksnya, dapat Grael rasakan semburan hangat di dalam rahimnya ketika Erlangga menumpahkan semua benih kecebong dari juniornya.


Erlangga memeluk erat tubuh sang istri dari belakang ketika denyutan itu masih terasa sampai lambat Laun menghilang. Dia tersenyum melihat raut wajah sang istri terkulai lemas dengan rambut yang acak-acakan akibat permainannya.


Erlangga langsung membopong tubuh sang istri untuk dia bawa masuk ke dalam kamar privasi yang ada di balik tembok sebelah kanannya. Dia membaringkan secara perlahan lantas menyelimuti tubuh Grael dengan selimut.


"Terima kasih, Sayang! Kau sungguh luar biasa ... nikmatnya!" bisik Erlangga di telinga Grael yang sudah memejamkan matanya karena lelah dan mengecup keningnya.


Setelah melakukan sesi panas di atas meja kerja, Erlangga menghubungi Beni untuk mengizinkan seseorang masuk ke dalam ruangannya ketika dia sedang merapihkan kekacauan yang baru saja dia buat.


"Wah, gila Lo! Sejam gue nungguin, Ampe jamuran benjolan kening gue!" gerutu Rio ketika dia tahu bahwa ada Grael di dalam ruangan Erlangga.


"Permisi, Pak! Ini dokumen yang harus bapak tanda tangani!" Sherly menaruh berkas dokumen di atas meja Erlangga seraya melirik ke seluruh ruangan mencari di mana anak sekolah itu berada.

__ADS_1


Rio melihat gerak-gerik Sherly yang seakan Rio sendiri bisa menebaknya bahwa sekertaris Erlangga mencari Grael.


"Apa masih ada yang mau kamu tanyakan?" ujar Erlangga yang menaikkan satu alisnya ketika Sherly masih berdiri di hadapannya.


"Ah, tidak ada, Pak! Saya permisi dulu!" ujar Sherly yang pamit keluar dari ruangan Erlangga.


"Ah, Sherly!" panggil Erlangga.


Sherly menghentikan langkahnya lalu memasang senyum manisnya ketika Erlangga memanggilnya kembali, dia pun membalikkan tubuh seraya berkata, "Iya, Pak?"


"Tolong tutup kembali pintunya dan selama sejam jangan biarkan siapapun untuk masuk ke dalam ruangan saya! Karena saya tidak ingin di ganggu oleh siapapun termasuk kamu dan kamu, ketika istri saya datang!" perintah Erlangga yang menunjuk Sherly dan juga Rio secara bergantian.


"Kenapa gue, di bawa-bawa?" Tunjuk Rio pada dirinya sendiri.


"Kapan pertemuan dengan kolega yang bernama Handoko?" tanya Erlangga yang tidak menggubris ucapan dari Rio.


"Nanti malam, di restoran bintang sepuluh!" sahut Rio.


"Ok, belikan satu style pakaian untuk Grael dan saya! Terus, kamu hubungin Kak Marvin dan istrinya untuk menemani makan malam nanti!" Erlangga mengeluarkan kartu untuk Rio.

__ADS_1


"Gue kaga mau akhh! Suruh aja noh, si Sherly kalau nggak Pak Beni! Masa iya gue ke butik dengan wajah babak-belur gini? Nggak mau, aaakkh! Mending gue tidur!" gerutu Rio, dia pun ingin melangkah kan kakinya masuk ke kamar privasi Erlangga tapi dengan cepat Erlangga sudah menarik baju Rio dari belakang seperti seekor kucing.


"Lo, mau persahabatan kita bubar? Akhh?" ancam Erlangga yang memberitahu bahwa ada sang istri hang tengah tertidur lelap.


"Mana gue tahu! Pokoknya, gua minta cuti selama seminggu!" keluh Rio yang masih merajuk kepada Erlangga.


"Lebai banget sih, Yo! Cuman benjol begitu doang juga ... tiga hari gue kasih cuti!" tawar Erlangga yang merangkul pundak Rio seraya mengusirnya secara halus.


"Jangan lupa, kasih ini ke Pak Beni!" Erlangga tersenyum ke arah Rio ketika memberikan kartu debitnya ke pada Rio.


Suara pintu tertutup pun terdengar ditelinga Rio, dengan kesal dia melangkah jauh dan berniat menemui Pak Beni sesuai instruksi dari atasannya.


"Siapa istrinya Erlangga? Masa iya, anak sekolah yang tadi?" tanya Sherly pada dirinya sediri.


"Kalau memang dia istrinya Erlangga, Jangan salahkan aku yang bakal merebut Erlangga dengan mudah!" timpal Sherly yang percaya diri ketika dia melihat wajah dan tubuhnya di pantulan cermin.


To be continued...


Mohon maaf ya bila ada typo bertebaran di mana-mana, nanti bakalan di revisi kok... terima kasih ya 🙏😘

__ADS_1


__ADS_2