
Enam bulan kemudian.
"Oh, ya sudah kalau begitu, nggak apa-apa kok," ucap Grael yang sedikit kecewa saat Gracia tidak bisa datang untuk mengambil rapor kelulusannya.
Grael langsung mematikan sambungan teleponnya seraya mendesaah pelan, dia pun kembali menyiapkan acara kelulusan karena dia terpilih menjadi anggota tim yang mengurus acara kelulusan bersama Ernata.
"Apa aku minta Kak Erlangga aja ya, buat yang mengambil rapot?" Grael mengigit ujung bolpoinnya seraya ragu-ragu dalam berucap.
"Kalau Kak Erlangga nggak mau, bagaimana? Aakhh ... apa aku harus pakai cara—”
Seketika Grael pun memiliki rencana untuk bisa membujuk suaminya agar mau menjadi wali untuk mengambil rapor hasil ulangannya, karena dia tahu kesibukan seorang Erlangga, di tambah statusnya yang masih menjadi seorang artis. Apa mungkin mau pergi ke sekolah dan mengambil rapor miliknya? Karena selama ini yang selalu menjadi wali Grael untuk mengambil rapor adalah Gracia.
Namun, karena Gracia berada di kontak X rumah mertuanya, karena itu Grael menjadi bingung. Tidak mungkin dia merepotkan sang ibu untuk mengambil hasil rapor meski dia tahu anak-anak lain bersama orang tuanya.
"Ok, kalau gitu siap-siap dulu sebelum kak Erlangga sampai di rumah!" Grael langsung bangun dari meja belajarnya dan menuju ke arah walk in closed.
Tangan Grael sibuk mencari lingerie yang cocok untuk malam ini, karena malam ini dia akan mencoba merayu suaminya agar mau mengabulkan permintaan dia.
"Ok, sip!" ucap Grael, dia mengambil lingerie warna hitam dengan yang begitu menerawang, dipadukan renda yang terbelah dua untuk mempercantik belahan kedua dadanya.
Tidak lupa juga Grael mandi terlebih dahulu dan memakai wangi-wangian di seluruh tubuhnya bahkan diarea sensitifnya sebelum dia memakai lingerie yang baru dia pilih.
Suara mobil Erlangga pun terdengar di telinga Grael, saat dia sengaja berdiri di balkon menunggu ke datangan suaminya. Dia pun bergegas pergi ke arah cermin dan melihat penampilannya yang udah perfect.
"Ok, Grael ... tunjukkan pesonamu pada suamimu! Buat dia bertekuk lutut malam ini!" Grael menarik napasnya seraya menebalkan lipstik berwarna merah mencolok kemudian keluar dari dalam kamar.
Grael langsung mematikan lampu ruang tengah agar saat suaminya datang begitu lampunya menyala dengan sekali tepukkan bisa melihat surpise darinya, yang sebelumnya juga sudah Grael kasih tahu terhadap Anne agar memuluskan rencananya yang dibantu oleh Rara.
"Nyah, itu ... Tu–Tuan dat—”
a
__ADS_1
Ucapan Anne disuruh berhenti karena Grael tahu bila Erlangga sudah tiba, dia menyuruh Anne dan Rara agar masuk ke dalam kamar dan tidak mengintip aksinya.
"Tapi, Nyah. Tuan—”
"Rara, Anne!" bentak Grael yang menyuruh mereka berdua untuk tutup mulut dan segera berlalu, dia pun tergesa-gesa mematikan lampu dengan sekali tepuk.
Sementara itu di luar rumah, bukan hanya mobil Erlangga yang terparkir sempurna di halaman, tetapi juga mobil Josua. Begitu semua turun dan hendak masuk ke dalam, mobil dokter Nadin bersama anaknya—Farah datang di saat waktu yang tepat.
"Loh, Tante?" ucap Erlangga yang berdiri di depan pintu saat melihat Nadin dan Farah keluar dari dalam mobil.
"Hai, Tante mau ngundang kamu beserta keluarga Louis yang terhormat, Minggu besok Farah mau merrid, sekalian mau bahas tentang Grael!" ucap Nadin dan Farah pun mengangkat kedua alisnya dengan senang seraya melebarkan senyuman.
"Terima kasih, tetapi keluarga Louis sangat sibuk untuk saat ini!" Josua mengambil surat undangan dari tangan Nadin lalu mengusir mereka.
"Pih!" Rangga menyenggol lengan Josua agar berhenti berbicara.
Nadin dan Farah hanya menganggapnya angin lalu, karena prinsip mereka yang waras lebih baik mengalah dari pada harus ikutan gila.
Begitu pintu dibuka, Erlangga dan yang lainnya terlihat bingung karena lampu dalam rumah semuanya mati, sedangkan lampu depan rumah hidup.
"Anne?" panggil Erlangga, untuk menanyakan sistem lampu di rumah, tetapi tidak ada jawaban.
"Sayang?" panggil Erlangga pada Grael, hatinya yang awal cemas langsung terkejut ketika telinganya mendengar suara tepukan tangan dan lampu pun menjadi nyala.
Suara lantunan musik romantis pun terdengar bukan hanya di telinga Erlangga tetapi juga telinga semua orang yang ada di sekitar Erlangga.
"An, bagaimana ini?" ucap Rara yang ketakutan saat melihat Nyonya-nya hendak berdiri di depan tangga dengan penampilan seksi dari lantai atas agar Erlangga yang berada di bawa melihatnya menari erootis.
Anne pun langsung membekap mulut Rara dan menyuruhnya terdiam. Sementara Erlangga langsung terkejut saat sang istri dengan penampilan begitu menggoda meliuk-liuk kan tubuhnya dengan berani di depan dirinya dan juga di depan beberapa orang yang berkunjung.
"Sayang?" panggil Erlangga yang memastikan wanita yang mengenakan lingerie seksi sembari menari dengan menghadap kebelakang itu adalah istrinya.
__ADS_1
Grael yang sudah percaya diri langsung menghadap depan seraya berkata, "Honey—”
Grael langsung terdiam ketika membalikan tubuhnya menghadap depan, mata dan tubuhnya langsung terpaku ketika mengetahui bila suaminya tidak hanya sendiri, melainkan bersama, Rangga, Josua, Yodi, Nadin dan juga Farah.
"Gila, cantiknya mantan gua!" ucap Rangga tanpa tersadar, dia begitu terpesona melihat kakak iparnya yang begitu menggoda syahwatnya.
Yogi langsung menelan saliva-nya begitu susah ketika melihat wanita yang ada di depan matanya menggoda syahwatnya juga. Dia langsung membalikan tubuh agar tidak mendapat amukan dari Bosnya, ini pertama kalinya Yogi melihat istri dari bosnya karena selama enam bulan dia sama sekali tidak diizinkan untuk melihat istri Erlangga, entah apa alesan Erlangga melarang dia untuk tidak boleh bertemu Grael, hanya author dan readers yang tahu.
Erlangga langsung mengejar sang istri masuk ke dalam kamar setelah dia memukul perut Rangga karena kesal atas ucapan adiknya itu. Josua hanya menggelengkan kepalanya sementara Nadin dan Farah terdiam tanpa berani berkomentar.
"Sayang, buka pintunya!" Erlangga menggedor pintu kamar mandi, dia pun kembali berucap, "Yank, nggak apa-apa! Aku nggak marah kok! Lagian mereka semua juga saudara, bukan orang lain!"
Erlangga terus membujuk Grael agar keluar dari kamar mandi, meskipun hatinya sakit dan tidak rela bila Rangga dan juga Yogi melihat penampilan Grael yang memang membuat sisi liar pria menjadi bangkit termasuk dirinya.
"Sayang, kalau kamu tidak mau buka aku dobrak ya!" ancam Erlangga.
Terpaksa Grael mau tidak mau membuka pintu kamar mandi itu dengan keadaan muka yang sudah sembab akibat menangisi tingkahnya yang konyol dan sangat memalukan.
"Ya Tuhan," Erlangga memeluk Grael ketika melihat istrinya menangis.
"Maaf, sudah buat Kak Erlangga malu!" lirih Grael dengan suara yang begitu pelan.
"Its ok!" Erlangga mengajak istrinya untuk duduk di atas tempat tidur.
"Malu!" ucap Grael yang semakin nangis di pelukan suaminya.
Erlangga tertawa melihat sikap Grael saat ini, dia pun terus berusaha membujuk hati istrinya agar tenang. Jujur saja, dia begitu tergoda dan menyukai aksi yang dilakukan Grael, hanya saja waktunya kurang tetap.
Erlangga bukan marah pada Grael, dia hanya kesal dengan ucapan Rangga. Sementara Yogi, dia masih bisa melihat posisi Yogi yang langsung memutarkan tubuhnya begitu melihat sang istri.
To be continued...
__ADS_1