
“Aku lagi mau pakai baju, habis mandi!” Grael langsung melihat ke layar ponselnya dan menampakkan tubuhnya yang hanya mengenakan handuk pendek.
Erlangga dengan kesal menyuruh sang istri untuk tidak meninggalkan ponselnya ketika Grael memakai baju, dia juga menyampaikan bila hari ini mereka berdua akan menginap di rumah Karina. Erlangga berpesan kepada sang istri agar tidak pulang bersama Pak Beni dan menyuruh pria paru baya itu untuk pulang.
Setelah menutup panggilan video call, Grael langsung mengabari ibunya bahwa mereka akan menginap malam ini, dia melihat raut wajah sang ibu yang langsung berubah senang saat Grael memberitahu, dia pun langsung mencuci sayurannya untuk membantu Karina menyiapkan makan malam.
Waktu terus bergulir, ketika suara ketukan pintu terdengar di telinga Grael, dia langsung membuka pintu itu lalu melihat sang suami yang sudah berdiri di ambang pintu.
Grael pun tersenyum manis kepada Erlangga lalu menyuruh sang suami untuk segera masuk ke dalam karena hujan begitu lembat dan semakin dingin.
“Nak Erlangga sudah pulang?” Karina mendekat ke arah Erlangga ketika Erlangga ingin mencium tangan Karina.
“Malam, Bu!” Rio menyapa Karina ketika baru sampai di ambang pintu karena usai memarkirkan mobilnya.
“Oh, ada Nak Rio juga, ayo masuk!” ucap Karina dengan ramah.
“Iya Bu, terima kasih, saya mau pamit langsung pulang!” ujar Rio.
“Loh, kenapa buru-buru? Masuk dulu, kita makan bersama!” pinta Karina, Grael pun mencoba untuk basa basi menawarkan Rio setelah mendapat ijin dari Erlangga untuk mengajak bergabung makan malam.
Terpaksa Rio menerima tawaran dari Karina, walaupun hatinya juga senang bila dia juga diajak makan malam bersama.
Grael pun dengan telaten melayani sang suami mulai dari mengambilkan makanan hingga minuman untuk Erlangga, tak lupa dengan sikap ramah dan tutur kata yang lembut Grael mengucapkan kata maaf karena hanya bisa menyajikan menu yang sederhana.
“Apa pun yang dimasak oleh istriku, pasti rasanya tak kalah enaknya dengan masakan bintang lima,” ucap Erlangga dengan lembut. Dia menerima piring yang sudah diambilkan oleh sang istri.
Rio senang bila Grael sudah membalas cinta sahabatnya, sehingga dia tidak perlu khawatir tentang kehidupan rumah tangga Erlangga. Sahabatnya memang tidak salah memilih seorang wanita, begitu pun dengan dirinya yang juga tidak salah mencintai Grael secara diam-diam.
“Ayo, makan yang banyak! Jangan malu-malu,” ucap Karina kepada Erlangga dan juga Rio.
Mereka pun menikmati makan malam dengan menu sederhana buatan Grael, begitu nikmat saat Erlangga menyantap masakan sang istri ditambah dia selalu mendapat pelayanan yang begitu di rajakan.
Usai makan, Rio pun berpamitan pada Karina dan juga Grael, tapi karena hujan semakin lebat Karina menyuruh Rio untuk menginap semalam, dia juga menawarkan Rio untuk tidur di kamar Gracia. Terpaksa Rio menerima tawaran dari Karina walaupun Erlangga selalu menyuruhnya untuk pulang.
Pada saat semua telah masuk ke dalam kamar masing-masing, ini kali pertamanya bagi Erlangga yang tidur satu kamar di kamar Grael, Erlangga memasang wajahnya dengan senyum yang lebar, akhirnya dia bisa tidur bersama wanita yang dicintai di kamarnya.
__ADS_1
“Apa sih? Senyum-senyum?” Grael melirik ke arah sang suami saat dia memakai body lotion.
“Nggak apa-apa, aku seneng aja! Impianku terwujud ketika dulu aku berharap bisa tidur bersama diranjang kamu.” Erlangga mencium pipi Grael seraya memeluknya dari belakang ketika sang istri duduk di meja hiasnya.
Grael tersenyum seraya melihat ke arah Erlangga lewat pantulan cermin, tubuhnya memutar menghadap sang suami ketika Erlangga menyuruhnya untuk melihat ke arahnya.
Perlahan tangan Erlangga mengusap wajah cantik Grael lalu mengecup keningnya dengan mesra saat mantanya terpejam, menandakan bahwa dirinya sungguh beruntung bisa mempunyai istri yang masih sangat muda.
“I love you,” ucap Erlangga saat matanya menatap mata Grael.
“I love you to!” balas Grael yang tersenyum ke arah Erlangga.
Pergulatan bibir kembali terjadi saat Erlangga tidak kuat menatap bibir sang istri yang begitu candu baginya, dia pun menggendong sang istri agar di bawa ke tempat tidur.
“Kak, aku kan lagi halangan!” Grael menahan bibir Erlangga agar berhenti minciuminya.
Ucapan Grael mematahkan semangat Erlangga untuk bermadu kasih di atas ranjang sang istri. Dia pun hanya membuang napas kasarnya seraya merebahkan tubuhnya di samping Grael, tetapi kakinya tidak sengaja menendang sesuatu di bawah kolong tempat tidur.
Erlangga pun bangun lalu melihat sebuah kotak yang ada di bawah sana, dia pun menarik dus tersebut lalu berniat untuk membuka penutupnya. Namun, dengan cepat Grael mengambil kotak dus itu yang tidak terlalu besar.
Erlangga langsung memicingkan matanya, kemudian mencoba untuk merebut kotak dus itu dari tangan sang istri. Perasaanya semakin kacau saat Grael tetap berusaha agar dia tidak melihat isi dalam kotak itu.
“Ka, please ... ini bukan apa-apa!” pinta Grael saat Erlangga sudah berhasil menarik kotak itu tapi masih di tahan oleh Grael.
“Kalau bukan apa-apa kenapa nggak boleh liat! Buka nggak?” bentak Erlangga yang curiga dengan sang istri bila Grael menyimpan sesuatu yang mencurigakan.
“Nggak mau!” Grael masih bertahan dengan prinsipnya, dia memasang raut wajah melasnya agar sang suami tidak memaksanya untuk membuka dua itu.
“Yank, di bahu kamu ada kecowa!” Tunjuk Erlangga pada bahu Grael, sontak saja sang istri langsung melempar kontak itu ke lantai dan meloncat ke arah Erlangga.
Hal hasil semua isi yang ada di dalam kontak tersebut berserakan ke lantai, Grael pun tersadar dari sikap dusta sang suami, dia melihat Erlangga yang menatap semua isi tersebut dengan raut wajah yang sulit di artikan.
“Kak, a–aku! Aaakh ... jangan lihat!” Grael menutup mata Erlangga saat Erlangga mencoba untuk mengambil beberapa barang yang berserakan.
“Apa sih? Awas nggak!” Erlangga mencoba menyingkirkan tangan sang istri dari matanya.
__ADS_1
“Aaah ... iya, tapi jangan marah!” ucap Grael yang sudah ketakutan sekaligus malu.
“Iya, awas! Nggak janji!” ucap Erlangga, dia pun berjongkok melihat beberapa barang yang ternyata terdapat, stiker, poster, barang-barang dengan gambar foto dirinya.
Erlangga juga melihat tulisan menunjukkan bahwa sang istri ternyata adalah penggemarnya, berbagai tulisan ungkapan rasa suka terlihat jelas Erlangga baca, sampai sang empu tersenyum melihat semua barang-barang itu. Akan tetapi, kalau Grael adalah penggemarnya kenapa semua barang-barang itu di simpan dalam dus dan barada di kolong tempat tidur?
Erlangga pun melihat kembali semua ya ada berserakan di lantai kemudian dia membaca kata umpatan dan makian yang ditulis pada salah satu poster dan menggambar raut wajahnya seperti monster.
“Jangan dilihat!” teriak Grael yang takut terhadap suaminya.
Erlangga pun langsung berdiri dan menatap tajam ke arah sang istri, dia mencoba mencari jawaban atas apa yang diperbuat oleh Grael.
“Maaf, abis waktu pertama ketemu kamu nyebelin banget!” ucap Grael secara jujur, dia memainkan kedua jari telunjuknya sembari memajukan bibirnya.
“Nyebelin?” tanya Erlangga dengan menaikkan satu alis, dia masih setia mendengarkan penjelasan sang istri kenapa Grael begitu kesal dengan dirinya setelah menjadi penggemar beratnya.
Setelah mendengar keluh kesah dari Grael, Erlangga pun menaikkan sudut bibirnya lalu berkata, “Merah!”
“Aaaakkhhh ... ampun Kak! Kan aku lagi halangan!” teriak Grael saat Erlangga menerkamnya dengan buas.
“Masih bisa cara lain,” ucap Erlangga, dia membuka baju Grael lalu melahap kedua gundukan itu dengan buas.
Grael tampak berpikir sejenak ketika mendengar ucapan dari Erlangga. “Cara lain?”
Sesaat Grael mengerti maksud dari sang suami, dia pun meremas rambut Erlangga seraya menikmati hisapan dari mulut sang suami yang memainkan ujung pucuknya.
“Aaah,” desa Han Grael keluar begitu saja saat Erlangga kembali mengukir lukisan merah di daerah penggunaan.
“sepoong, Yank!” bisik Erlangga di telinga Grael, dia pun membuk gespeer dan cellana kemudian mengarahkan kepala sang istri untuk mengullum sang junior yang sudah berdiri tegak.
Grael pun dengan suka rela menyervis Mr. P milik suami dengan menjillatnya dari dua buah zakarr, lalu lidahnya menjulur ke arah bataang peenis kemudian mengullumnya dengan perlahan.
“Aarrgghh, Yank!” Erlangga mengibaskan rambut panjang Grael lalu memaju mundurkan pinggulnya secara perlahan hingga menggerakkan dengan cepat, membuat Grael hampir tersedak dan itu menjadi kenikmatan tersendiri bagi Erlangga.
To be continued...
__ADS_1