Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
140. Rasa nyaman.


__ADS_3

Begitu sampai di rumah, Erlangga di sambut hangat oleh Anne. "Di mana dia, Bi?"


"Ada di dapur Tuan, Nyonya sedang membuat kue. Maaf, saya tidak bisa mencegah Nyonya untuk berada di dapur, Tuan!" Anne menunduk karena merasa bersalah.


"Tidak apa!" Erlangga pergi ke kamar mandi terlebih dahulu sebelum pergi menemui istrinya.


Erlangga mencuci wajah dan tangannya setelah itu dia pun keluar melihat istrinya yang di bantu oleh Chef Hans dari arah kejauhan. Langkahnya semakin mendekat dan memberikan instruksi pada para maid yang terkejut dengan kedatangannya agar diam.


Semua maid memilih untuk pergi dari sana dan meninggalkan pasangan itu untuk berdua, termasuk juga dengan Chef Hans. Akan tetapi, mereka semua justru malah mengintip tuan mereka dari balik tembok dapur.


"Rara, tolong ambilkan telur!" pinta Grael saat dirinya masih sibuk mengaduk adonan dengan mixer.


Erlangga yang awalnya ingin meluk istrinya dari belakang, jadi dia urungkan untuk mengambilkan telur. Tanpa melihat ke arahnya, sang istri menerima telur itu.


"Baking powder, Ra!" ucap Grael yang mengulurkan tangan tanpa melihat. ke arah orangnya.


Erlangga pun bingung yang mana baking powder yang di sebut Grael, hingga akhirnya para maid yang mengintip tertawa melihat tuannya bingung dan memilih garam yang akan diberikan oleh Grael.


"Rara ... baking powder, pengembangan kue loh, Ra ... bukan garam!" ucap Grael dengan lembut meski kecewa.


Semua maid bagian dapur tertawa melihat tuanya, langsung saja tawa mereka berhenti ketika tuannya melihat ke arah mereka, sedangkan Rara menunjuk ke arah nakas yang terdapat tempat bahan kue.


"Bukan itu, sampingnya, Tuan! Satunya lagi!" Rara menggerakkan tangan agar Erlangga menggeser tangannya sesuai arahannya, dan pada saat tuannya itu sesuai instruksinya dia pun mengucapkan. "Betul, Tuan!"


Semua pada tepuk tangan karena Erlangga berhasil memberikan baking powder dengan benar, sontak membuat Nyonya mereka melihat ke arah belakang dan melihat ke arah suaminya dan para maid.


"Kak Erlangga!" Grael langsung mematikan mixer lalu mencuci tangannya.

__ADS_1


Erlangga langsung menyuruh para maid pergi dari tempat persembunyiannya, dan memeluk istrinya. "Lagi buat apa?"


"Ya Tuhan, wajah Kakak kenapa bisa penyok begini? Kakak habis berantem?" Grael begitu panik lalu melihat ke arah wajah suaminya dari samping kiri lalu ke kanan, atas dan ke bawah tanpa menjawab pertanyaan suaminya yang sudah bertanya lebih dahulu.


"Ya, sekarang giliranku, kamu buat kue apa?" tanya Erlangga.


"Aku jenuh dan bosan, jadinya buat kue sepulang sekolah. Oh, wait ... aku ambilkan yang sudah jadi!" Grael melepaskan pelukannya lalu mengambil kue yang sudah jadi dan menyuapi kue tersebut ke arah suaminya.


"Bagaimana?" tanya Grael.


"Eehmm, enak!" Erlangga mengambil kue tersebut lalu menyuapi sang istri.


Grael pun terkejut saat ternyata Erlangga menyuapinya dengan mulut, lalu menjilat krim yang ada di sudut bibirnya, tapi entah kenapa dia menangkap sorot mata sang suami yang sedih.


"Why?" Grael langsung menarik wajah suaminya agar lebih jelas. Namun, suaminya justru malah meneteskan air mata dan hanya tersenyum.


Grael langsung memeluk Erlangga dan membiarkan suaminya menangis dalam pelukannya, tangannya pun mengusap lembut kepala Erlangga untuk memberikan kenyamanan.


Grael memberikan usapan lembut pada kepala sang suami saat Erlangga menangis dalam dadanya, dia terus memberikan sentuhan agar sang suami merasa sedikit nyaman dan mau bercerita pada dirinya apa yang membuatnya menangis tidak berdaya di hadapannya.


"Rio, dia mengundurkan diri, hari ini dia—"


Grael tahu bila Rio adalah orang yang selama ini ada untuk Erlangga, karena sampai membuat seorang pewaris menunjukkan sisi lemahnya pada sang istri. Grael juga tahu, sampai kapanpun dia tidak akan bisa menggantikan posisi Rio yang selama ini menemaninya dari nol.


"Aku tahu, pasti sedih bila pisah dari sahabat yang selama ini ada untuk kita, tapi bener kata Kak Rio, dia pun juga ingin membangun usahanya sendiri untuk keluarganya nanti, Kakak masih bisa bertemu dengan nya, ya ... walaupun tidak seperti dulu yang setiap hari hampir 24 jam, tapi kan Kakak bisa mengajaknya kerja sama biar bisa bertemu dan menjalankan bisnis bersama-sama," ucap Grael dengan lembut saat mengetahui semua cerita dari suaminya yang sempat berantem juga dengan Rio.


Tentu saja, ucapan Grael belum sempat terpikirkan oleh Erlangga, walaupun dirinya sudah bilang akan membantunya kapan saja, tapi dia belum kepikiran untuk mengajak Rio berkerja sama dengan dirinya.

__ADS_1


"Kamu benar, Yank!" Erlangga langsung membenarkan posisi duduknya dengan semangat.


"Ya, apa sekarang sudah lega? lebih enakan?" tanya Grael yang mengusap wajah suaminya yang sedikit babak belur.


"Ya, terima kasih, terima kasih, Sayang!" Erlangga langsung menarik tubuh istrinya agar duduk di pangkuannya seraya dalam hati berkata, "Aku mencintaimu, El ... sangat mencintaimu, terima kasih sudah mau memilihku, terima kasih karena kamu sudah mau memberikan tempat rasa nyaman padaku."


Erlangga terus mencium bibir istrinya, meski ciuman itu lembut tapi penuh dengan gairah yang memburu, karena dia ingin kehilangan bekas ciuman terllaknat dengan Rio.


"Aaah," ucap Grael saat tangan Erlangga meremas sedangkan lehernya dihisap kuat oleh lidah suaminya.


"Yank, I want to!" ucap Erlangga dengan suara yang parau.


Baru saja Erlangga ingin memasukan asetnya ke dalam sangkar, tapi Beni sudah berbicara melalui video introcome di depan pintu kamar Erlangga bahwa Josua ingin bicara melalui telepon dan menginginkan Erlangga cepat menjawabnya.


"Aakkh, sshyit! Ten minutes!" bentak Erlangga yang kesal di depan video introcome ketika dia sudah keluar dari dalam bathtub. Begitu selesai dia pun mengajak sang istri untuk mandi bersama di bawah shower.


"Iihh, Kak Erlangga ... geli!" Grael menghindar saat suaminya memainkan pucuk merah gunung kembar milik Grael.


"Ya kan, aku mau bantu bersihkan!" ujar Erlangga yang terus mengincar pucuk merah mudah yang sedang di tutupi oleh ke dua tangan Grael.


Tidak lama kemudian, mereka keluar dari dalam kamar mandi dan hanya mengenakan handuk saja. Namun, mereka keluar sembari terus ******* satu sama lain.


"Maaf, Tuan ... ada sekertaris Sherly di bawah!" ucap Anne yang berada di pintu luar kamar seraya berbicara lewat video intercom bila ternyata pintu kamar tuannya terkunci.


Mendengar Anne menyebut nama Sherly, Grael langsung melepaskan ciumannya dan segera menjauh dari Erlangga, meski pun dia menutupi hatinya yang penuh curiga kenapa sekertaris suaminya bisa tahu rumah baru dan bisa bertamu? tetapi tetap saja aura cemburu itu ada.


"Yank?" bujuk Erlangga yang tahu bila istrinya merajuk.

__ADS_1


"Pergilah, mungkin ada sesuatu yang penting!" Grael membuka lemari baju Erlangga dan menyuruhnya untuk segera menemui Sherly meski hatinya tidak setuju, tapi dia mencoba untuk berfikir jernih bila Sherly datang untuk urusan pekerjaan.


To be continued...


__ADS_2