Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
72. Siapa kamu


__ADS_3

"Ngga!" Veby menyerahkan botol air minum pada Rangga.


"Fan, Nata mana?" Rangga menghampiri Irfan, dan enggan untuk menegur sapa dengan Veby.


Irfan mengerti melihat Rangga bersikap dingin dengan Veby, dia langsung menunjuk ke arah Ernata yang sedang tertawa bersama Grael. Rangga pun menghampiri mereka yang sedang menikmati waktu istirahat mereka sebelum memulai kembali melantik peserta didik anak baru.


"Hai, boleh gabung, kan?" Rangga mengambil kursi lalu duduk di dekat Grael, lantas mengambil air minum dari tangan Grael seraya menenggaknya.


"Nat, gue ke toilet dulu, ya!" Grael bangun dari duduknya saat melihat Veby yang sudah terbakar api cemburu. Ernata pun menganggukan seraya mengijinkan dia.


Langkah kaki Grael menuju toilet ternyata diikuti Veby, Grael pun bergegas untuk mempercepat langkahnya. Akan tetapi, Veby sudah lebih cepat masuk dan mengunci pintu ruangan kamar mandi tersebut.


"Astaga, Veby! Lo, kagetin gue aja." Grael memegang dadanya seraya mengatur irama detak jantung yang berdegup kencang.


"Ck! Ternyata, Lo itu perempuan licik ya, El! Mana janji Lo? Lo masih aja sama Rangga, padahal Lo udah merr—"


Grael dengan cepat membekap mulut Veby lalu melihat ke arah ruangan toilet untuk memastikan tidak ada orang di toilet tersebut. Setelah mengetahui di ruangan toilet itu sepi, Grael menarik napas leganya, tanganya pun dibuka paksa oleh sahabatnya.


"Denger ya, gue bakalan bongkar rahasia pernikahan Lo, sama artis itu!" ancam Veby, dia sudah tahu sejak malam di villa Irfan.


Sebelum Grael dijemput oleh Erlangga, Veby sudah meminta terlebih dahulu kepada Grael bahwa dia sangat mencintai Rangga, Veby bakalan nekat mengakhiri hidupnya di depan Grael jika Grael tidak mau melepaskan Rangga untuknya, karena itu lah yang menjadi penyebab Grael untuk berani memutuskan menerima lamaran Erlangga dan merelakan Rangga untuk Veby.


"Gue udah nepatin janji gue! Kalau Rangga masih menjauhi Lo, itu bukan urusan gue!" ucap Grael dengan tegas saat matanya berkaca-kaca mengingat dirinya begitu berat melepas Rangga untuk Veby dalam ke adaan masih sayang-sayanganya, sampai Grael jatuh sakit berhari-hari dan mendapatkan perawatan intensif di rumah.


"Nepatin? Mana? Buktinya, masih aja kegatelan deketin Rangga! Lo, masih cinta kan sama Rangga?" Veby begitu kesal dan sakit hati kepada Grael sehingga dia menarik rambut Grael dengan kencang.


Grael pun meneteskan air mata seraya berteriak kesakitan pada Veby, dia tidak menyangka bila sahabat yang dia kenal begitu benci sama dia walaupun sudah merelakan cinta pertamanya untuk Veby.


"Sakit, By! Apa sih salah gue sama Lo, gue udah ngelepasin Rangga buat, Lo!" Grael menahan rambutnya agar tidak semakin sakit ketika Veby menjambak rambutnya.


"Itu balasan buat Lo, karena sudah berani merebut Rangga dari gue, Lo udah tahu, El ... gue tuh cinta sama Rangga! Dengan mudahnya Lo bilang dia tunangan Lo, gue masih sakit hati sama, Lo! Gue benci sama Lo, karena Lo juga, gue di bully satu sekolahan gara-gara, Lo!" Veby menarik sekencang-kencangnya rambut Grael, lalu dia hempasan kelantai begitu saja.

__ADS_1


"Sekarang, Lo rasain gimana jadi gue, yang di bully satu sekolahan!" Veby sudah naik pitam, hatinya sudah dirasuki oleh rasa kebencian sehingga dia menginjak jemari Grael hingga wanita itu kesakitan lalu menyiramnya dengan air kotor.


"Rasain, Lo! Gimana? Nggak enakkan jadi, gue? Hah!" Veby menjambak rambut Grael kembali lalu di dorongnya hingga kepala Grael terbentur dinding wastafel. Dia pun keluar dari ruangan toilet wanita setelah puas menganiaya Grael.


Sementara Grael menangis sembari memegang kepalanya yang sakit, dia tidak percaya bila sahabatnya bisa melakukan seperti itu, begitu bodohnya kenapa Grael tidak bisa melawan Veby saat dirinya mendapat perlakuan kasar dari sahabatnya itu.


Suara pintu dari dalam kamar mandi terbuka, Grael bergegas mengusap air matanya lalu bertumpu pada wastafel untuk berdiri, kemudian dia segera masuk ke dalam kamar mandi tanpa melihat seseorang yang ternyata mengetahui kejadian tersebut.


Sejam kemudian, Grael pun kembali mengospek para peserta didik baru, usai dibantu boleh Ernata tanpa diketahui oleh Rangga. Ernata benar-benar kesal dengan sikap Grael yang begitu bodoh membiarkan Veby semena-mena terhadap Grael.


Selama ospek berjalan, Emira tersenyum sinis ke arah Grael yang selalu menghindar dari Rangga, sangat terlihat jelas di mata Emira bahwa Rangga masih sangat mencintai Grael.


"Dasar bodoh!" umpat Emira pada Grael, dia pun maju ke depan panggung saat Ernata menyuruh salah satu perwakilan anak murid untuk menunjukkan bakat apapun sebagai penutup ospek hari pertama.


Emira pun berdiri ditengah-tengah Grael dan Ernata kemudian dia memperkenalkan dirinya terlebih dahulu, lantas menunjukan aksi bakatnya. Emira menampilkan bakat seni bela diri di atas panggung begitu berkarisma dan mengagumkan. Namun, setiap Emira mengeluarkan jurus, dia selalu mengarahkan jurusannya ke arah Veby dengan tatapan tajam.


Semua terkagum melihat jurus Emira yang begitu mahir seakan menunjukkan bahwa dia memiliki tingkat seni bela diri yang cukup tinggi, Grael yang melihat Rangga sedang memperhatikan Emira begitu terpukau.


Semua pun bergemuru menyaringkan suara tepukkan tangan untuk penampilan Emira, ketika Emira berhenti tepat di hadapan Veby. Dapat Grael dan Ernata rasakan seakan Emira tidak begitu menyukai Veby.


"Siapa kamu, Emira?" batin Grael yang melihat raut wajah Emira mirip seseorang.


...----------------...


Kediaman rumah Louis, pukul menunjukkan 08 : 45 pm. Usai selesai makan malam tanpa sang suami, Grael kembali ke dalam kamar, dia diberitahu oleh pesan singkat dari Erlangga bahwa sang suami masih mengurus perusahaan di kota M dan kemungkinan akan pulang larut malam.


Erlangga pun berpesan agar Grael tidak membahas soal penangkapan Pak Rudin dan Rani, apalagi berurusan dengan Kylie dan Lydia di saat Erlangga tidak ada. Sang suami menyuruh agar dia langsung segera tidur dan jangan menunggunya pulang.


"Ihh ... kesal banget sih, nih mata diajak tidur susah banget!" keluh Grael, sebenarnya hatinya kesal karena berbagai macam yang dia hadapi seharian ini, entah Erlangga yang menahannya agar tidak membuka suara tentang Lydia, tentang Veby yang sudah berbuat kasar sama dia, ditambah Erlangga yang pulang telat.


Grael pun menangis, ingin rasanya mengeluarkan rasa yang saat ini dia rasakan di pangkuan sang ibu, dia juga ingin sekali bercerita pada Gracia. Namun, apalah daya dia tidak mau membuat mereka merasa khawatir apalagi saat Grael masuk rumah sakit, dia tidak memberitahu dan melarang agar sang ibu dan juga Gracia tidak mengetahuinya.

__ADS_1


Grael pun melihat jam yang sudah menunjukan pukul 9 : 20 dia memutuskan untuk membuka akunnya untuk menulis, tapi sebelum itu dia pergi ke dapur untuk mengambil beberapa cemilan dan minuman.


"El," tegur Rangga saat mereka berada di dapur.


Grael melirik ke arah samping saat mengambil air minum di dalam kulkas, langkahnya langsung menjauh dari tempat Rangga berdiri.


"El ... kamu kenapa si, selalu menghindar dari aku? Salah aku apa? Hah!" Rangga menarik tangan Grael lalu memepetnya sampai ke dinding.


"Ngga, lepasin!" Grael berusaha untuk memberontak tapi Rangga mengunci kedua tanganya dan tubuhnya dalam sekali gerakan.


"Ngga! Aku bilang awas!"


"Apa salah aku? Kamu selalu menghindar dari aku?" kalut Rangga yang begitu sakit hati saat Grael mencoba menjauhinya saat masih di sekolah bahkan sampai di rumah.


"Aku hanya ingin kita jaga batasan, Aku ini kakak ipar kamu! Lepasin!" bentak Grael di mendorong Rangga sekuat tenaga, hingga tubuh Rangga bisa menjauh.


"Ck! Ipar?" Rangga membuang ludahnya, kesabaran Rangga sudah habis, dia begitu geram dengan sebutan kata ipar.


Rangga pun perlahan mendekat ke arah Grael secara perlahan dia langsung menahan ke dua tangan Grael seraya mencengkeram dagu Grael.


"El?" Suara Erlangga terdengar dari belakang tubuh Rangga.


Sontak membuat Grael dan Rangga langsung melihat ke arah sumber suara dan melihat Erlangga sudah berdiri sembari menahan amarah.


To be continued...


Bonus visual



Emira Harika

__ADS_1


__ADS_2