Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
39. Ngedate


__ADS_3

Rangga menggandeng tangan kekasihnya begitu mesra saat dia berada di sebuah mal terbesar di kota tersebut, mereka pun berjalan memasuki toko baju pria dan wanita.


Grael mengambil beberapa style untuk Rangga, kemudian dia menyuruh kekasihnya itu masuk ke dalam ruangan ganti baju, sedangkan dia duduk menunggu Rangga sembari mengutak-atik ponsel milik Rangga.


"Ay, gimana?" tanya Rangga yang keluar dari balik hordeng.


"No!" Grael menggelengkan kepalanya. Rangga pun masuk kembali ke dalam ruang ganti baju.


Setelah Rangga mencoba beberapa baju yang dipilihkan oleh Grael, akhirnya mereka membayar semua barang pesanan mereka berdua.


"Ay, mau makan apa? Susi mau?" tanya Rangga ketika mereka baru saja keluar dari toko tersebut.


"Gak mau, maunya di sana aja!" Tunjuk Grael ke arah tempat restoran yang dia mau, Rangga pun menggandeng tangan Grael agar tidak lepas darinya.


Mereka pun masuk ke dalam restoran, lalu memilih duduk di dekat jendela. Rangga memesankan beberapa makanan dan minuman kesukaan Grael kemudian menyuruh waiters untuk tidak menambahkan lemon pada minuman yang dia pesan untuk kekasihnya.


Menunggu pesanan mereka tiba, Rangga diam-diam mengambil foto Grael yang sedang melamun melihat ke arah jendela. Suara bidikan pada kamera membuat Grael tersadar dan melihat ke arah Rangga yang sedang tersenyum mendapatkan gambarnya.


"Aah, Rangga! Coba lihat ... pasti jelek ya?" Tangan Grael berusaha meraih ponsel Rangga.


"Heeits, cantik kok, aku jadiin wallpaper ya?" tanya Rangga.


"Ihh, jangan itu, jelek!" pinta Grael yang merengek tapi Rangga tetap memasang foto Grael untuk dijadikan sebagai wallpaper pada layar ponsel menu utama.


Tidak lama kemudian, di sela-sela mereka menikmati candaan, tiba-tiba seorang wanita dengan paras yang begitu cantik datang menghampiri mereka berdua.


"Rangga?" panggil gadis itu kepada Rangga.


Rangga yang tersenyum lebar karena bercanda dengan Grael, berubah masam ketika wanita itu menyebut namanya.


"Kamu, di sini juga?" tanya Wanita itu yang berdiri di samping Rangga.


Rangga pun masih bergeming, bibirnya enggan untuk menanggapi ucapan wanita ya ada di sampingnya, Grael yang merasa heran dengan sikap Rangga langsung mencairkan suasana.


"Hai, aku Grael," ucap Grael yang tersenyum ke arah Wanita cantik itu.


"Oh, Alena!" Alena membalas uluran tangan Grael.


Rangga pun menatap sinis ke arah Grael saat tangan ke kasihnya berjabat tangan dengan mantan kekasih Rangga. Rangga pun berdiri dan langsung menarik tangan Grael untuk segera pergi dari sana.


"Ngga, kamu kenapa sih?" tanya Grael yang merasa kesakitan pada pergelangan tanganya.

__ADS_1


"Ngga! Aku mau bicara sama kamu." Alena menarik tangan Rangga. Namun, sang empu menepisnya dengan kasar.


"Mau bicara apa lagi? Urusan kita udah kelar!" Rangga langsung menarik tangan Grael agar segera pergi dari sana. Tidak lupa Rangga membayar pesanan makanan mereka yang belum tersajikan.


"Ngga! Tunggu, Ngga! Dengerin penjelasan aku dulu," panggil Alena yang mencoba mengejar Rangga. Namun, dengan cepat Rangga membawa Grael keluar dari restoran tersebut.


"Ngga, sakit!" keluh Grael saat Rangga begitu kencang mencengkeram pergelangan tanganya.


"Maaf," ucap Rangga. Dia melihat pergelangan kekasihnya memerah akibat ulahnya, kemudian mengusapnya dengan lembut.


Grael melihat sorot mata Rangga begitu perhatian, ada rasa penasaran pada wanita itu. Akan tetapi, dia urungkan niatnya untuk bertanya pada Rangga.


"Kita pulang?" tanya Rangga.


"Mau nonton sama kamu!" ucap Grael dengan manja.


Raut wajah Rangga, kini tersenyum kembali melihat tingkah kekasihnya, dia pun langsung mengajak Grael untuk menonton film ke sukaannya.


Bangku bioskop pun hanya beberapa orang yang menempati, karena Grael menolak ketika Rangga ingin menyewa satu bioskop untuk mereka berdua. Rangga pun memesan cemilan untuk mengganjal perut kosong mereka ketika berada di bioskop.


Lampu bioskop pun mulai padam ketika film yang mereka tonton telah dimulai, Grael yang mulai menyimak film yang sudah diputar, bersandar di bahu Rangga sembari menikmati minumn yang ada di tanganya.


Mengetahui Rangga tidak dapat menikmati film yang mereka tonton, Grael menarik dagu kekasihnya dan bertanya, "Kenapa? Gak seru ya, filmnya?"


"Ah, nggak kok!" Rangga tersenyum canggung.


Mereka kembali menikmati film yang mereka tonton, sampai di mana adegan film berubah menjadi menyeramkan, sontak membuat Grael dengan refleks memeluk Rangga karena ketakutan.


Tidak hanya di situ, Grael juga menggengam tangan Rangga dengan sangat erat. Rangga pun tersenyum ketika kekasihnya itu memeluknya dengan sangat erat. Ternyata dibalik sikap polos dan manjanya terdapat rasa ketakutan yang berlebihan ketika dia melihat darah.


"Ay, pegangnya jangan dekat kesitu, bahaya nanti kalau bangun!" bisik Rangga yang menggeser tangan kekasihnya.


"Maaf, aku beneran nggak ada maksud untuk ke situ kok!" Grael memilih untuk langsung menjauh dari Rangga.


"Jangan jauhan, di sini aja!" Rangga menarik lagi kepala sang kekasih agar bersandar dari bahunya.


Adegan demi adegan terus berlanjut, sampai di mana adegan pada film tersebut berubah menjadi adegan panas yang dilakukan oleh peran utamanya dengan lawan jenisnya.


"Ngga, itu mereka melakukan itu beneran nggak, sih?" tanya Grael penasaran, pikirannya menjadi teringat oleh Erlangga bila dia melakukan adegan panas dengan lawan mainnya.


"Sebagian ada yang beneran, sebagian ya ada yang bohongan," jawab Rangga.

__ADS_1


"Serius beneran?"


"Ya, karena tuntutan pekerjaan lah ... namnya profesional," ujar Rangga.


"Oh," sahut Grael. Dia menjadi kesal sendiri saat membayangkan bila Erlangga melakukan adegan tersebut dengan lawan jenisnya, membuta hatinya seketika menjadi panas.


"Mau, di mana?" tanya Rangga yang mulai merasa gelisa ketika adegan demi adegan panas itu berputar.


"Mau apanya?" tanya Grael yang heran dengana pertanyaan dari Rangga.


"Bulan madunya?" bisik Rangga dengan suara yang berat.


"Iissh, apa sih ... Rangga?" Grael mendorong sedikit dada Rangga agar menjauh dari wajahnya.


"Aku serius," tanya Rangga. Dia menatap lekat ke arah sang kekasih.


"Hmm ... Paris?" jawab Grael dengan asal sembari membalas tatapan mata Rangga.


"Ok, Paris!" Rangga menarik dagu Grael lalu mencium bibir sang kekasih dengan lembut.


Lidah Rangga semakin menggila di dalam mulut Grael, kedua tanganya menahan kepala kekasihnya untuk memperdalam ciuman mereka. Hatinya begitu takut akan kehilangan sosok wanita yang akan menjadi istrinya dua Minggu lagi.


"I love you, I love you Arabella." Rangga menatap mata Grael dengan suaranya yang semakin berat dan menggebu, ketika dia melepaskan hisapannya.


"I love you to," balas Grael.


***


Usai sepulang dari mal, kini Rangga mengajak Grael ke paviliun pribadinya. Tangannya mengikat sebuah tali celemek yang melingkar di pinggang gadis itu, lalu mengikat rambut Grael agar tidak terurai.


"Makasih, Ngga!" Grael mengelus rahang Rangga sembari tersenyum.


"Panggil, yank, ay, beb, honey, apa kek! Masa nama mulu," tegur Rangga yang kecewa.


"Sayang ... tolong cucikan sayurannya, ya!" balas Grael dengan suara yang lembut.


Rangga pun tersenyum, ketika mendengar panggilan untuknya dari sang kekasih. Dia mencucikan sayuran sesuai perintah dari kekasihnya kemudian, membantunya untuk memotong sayuran tersebut.


Tidak membutuhkan waktu lama, nasi goreng buatan Grael pun sudah jadi dan siap dihidangkan di atas meja makan, Rangga yang sudah menunggu di meja makan, tidak sabar ingin menyantap masakan calon istri.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2