Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
42. Putus


__ADS_3

Grael menangis di dalam pelukan Irfan, sang empu pun memeluk gadis itu di bahunya. Ernata yang melihat sahabatnya menangis dalam pelukan Irfan, langsung menghampiri mereka berdua dan menyuruh Grael untuk duduk.


"El, Lo kenapa? Fan! Lo apain?" bentak Ernata yang mendorong bahu Irfan.


"Bukan salah dia! Fan, anterin gue pulang! Gue mau pulang!" ajak Grael yang mengambil tasnya.


"El, hujan! Lagiankan, lo baru datang!" ucap Ernata.


Grael tidak menggubris ucapan dari Ernata, dia terus memaksa Irfan untuk mengantarnya pulang. Namun, belum sempat Irfan, mengambil kunci mobil. Suara dari Rangga terdengar oleh telinga Grael.


"Ay, kamu sudah sampai?" tanya Rangga yang menghampiri Grael. Namun, Gadis itu terdiam saja dan bangun dari duduknya.


"Ay, mau ke mana? Ay, kamu kenapa si?" Rangga menarik tangan Grael.


"Fan, buruan!" Grael menepis tangan Rangga dengan cepat lalu menarik tangan Irfan dengan cepat.


"Ay! kamu tuh kenapa sih? Dari tadi pagi aku hubungin kamu nggak bisa, terus sekarang kamu datang tiba-tiba begini! Aku makin nggak ngerti sama kamu!" Rangga menghadang Grael untuk pergi bersama Irfan.


"Kalau kamu nggak ngerti! Aku akan kasih kamu pengertian. Mulai sekarang ... kita, putus!" Grael menatap Rangga dengan air mata yang sudah tidak bisa ditahan lagi, ucapannya bergetar saat mengatakan putus pada Rangga.


Rangga yang melihat mata kekasihnya yang sudah memerah akibat menangis dan mendengar kata putus dari bibir mungil yang selalu menjadi candunya, langsung meneteskan air matanya.


Semua teman-teman yang ada di ruangan itu begitu syok, begitu juga Ernata. Irfan yang berada di samping Grael ikut merasakan cengraman yang begitu kuat dari tangannya.


Usai melontarkan kata putus, Grael mendorong tubuh Rangga agar menyingkir dari jalannya. Dia melepaskan tangan Irfan lalu pergi begitu saja, tanpa memperdulikan Rangga yang masih mematung.


Irfan yang ingin mengejar Grael, ditahan oleh Rangga. "Jangan ikut campur urusan gue!"


"Ck! Ikut campur? Lo nggak sadar, barusan Lo ngapain sama Veby di kamar? Sampai Grael minta putus dari Lo?" bentak Irfan yang membuat semua tercengang mendengar ucapan dari Irfan.


"What the Fuckk!" Rangga langsung mengejar Grael.


Rangga menarik tangan Grael saat dia ingin masuk ke dalam mobil milik keluarga Josua, yang mengantar Grael hingga sampai di villa tersebut.


"Ay ... aku minta maaf sama kamu! Ay, dengerin penjelasan aku dulu!" Rangga menutup kembali pintu mobil itu, lalu menyuruh sang sopir untuk meninggalkan mereka berdua.

__ADS_1


"Kamu mau jelasin apa lagi? Kalau itu tidak sengaja? Atau Veby yang mencium kamu duluan? Hah!" Grael menepis tangan Rangga dengan kasar.


"Ay, maafin aku! Aku menyesal, Ay! Please ... aku nggak mau kita, putus!" Rangga memeluk Grael dengan erat.


"Ngga, udah cukup!" Grael terus memberontak dalam dekapan Rangga sembari menangis. Hatinya bener-bener kecewa dan sakit atas apa yang sudah Rangga lakukan.


"Nggak, El ... aku nggak mau putus dari kamu, kita udah nyebar undangan! Aku nggak mau sampai pernikahan kita batal! Aku minta maaf sama kamu!" Rangga menangis memeluk Grael di bawah derasnya hujan.


"Kenapa kamu tega sama aku? Aku percaya sama kamu, Ngga! Tapi kamu menghancurkan rasa kepercayaan aku!" Grael memukul punggung Rangga ketika sang kekasih tidak mau melepaskan pelukannya.


"Aku minta maaf! Ok, aku tahu ... aku salah! Aku minta maaf sama kamu, Ay! Maafin aku ... kalau perlu, aku sujud minta maaf sama, kamu!" Rangga langsung melepaskan pelukannya dan bersimpu di hadapan calon istrinya.


Grael yang terus menangis, di bawah guyuran hujan dalam ke adaan perut kosong, langsung ambruk seketika. Tubuhnya jatuh dalam dekapan Rangga.


"Ay! teriak Rangga yang menangkap tumbuh sang kekasih.


"Sayang, bangun, Sayang! Ay ... please jangan buat aku khawatir!" Rangga menepuk pipi Grael agar sang empu tersadar.


"Ay, bangun!" Tangan Rangga langsung membawa Grael ke dalam villa Irfan.


"Nat, siapin baju dan selimut hangat! Fan, telepon dokter!" pinta Rangga pada Ernata dan juga Irfan.


"Ngga, keluar dulu!" pinta Ernata saat dia ingin mengganti pakaian Grael.


"Gue calon suaminya!" tegas Rangga dengan emosi.


"Ya ... gue tau, lo calon suaminya, tapi baru calon! Belum suaminya!" bentak Ernata yang tidak kalah sewotnya.


"Ngga, lo juga harus ganti baju! Bentar lagi, dokter datang!" pinta Irfan.


Rangga pun mau tidak mau mengalah dan mengganti pakaiannya, saat selesai mengganti pakaiannya. Dia melihat Grael yang sedang di periksa oleh dokter, kakinya perlahan mendekat ke arah Grael yang masih terbaring tidak sadarkan diri.


"Gimana, keadaan calon istri saya, Dok?" tanya Rangga.


"Nona Grael, hanya kecapaian saja! Perutnya kosong serta kehujanan, itu yang membuatnya pingsan." Dokter menyerahkan beberapa obat pada Rangga dan segera pamit untuk memeriksa keadaan Veby.

__ADS_1


Rangga pun duduk di samping Grael, dia memegang tangan kekasihnya sembari berdoa untuk kesembuhan Grael. Tak lupa dia juga mengecup kening sang kekasih, hingga membuatnya tersadar.


"Ay," panggil Rangga yang mengusap kepala Grael.


Ernata baru saja tiba, dan membawakan sepiring makanan untuk Grael. "Hai, gimana? Apa yang sakit?"


Grael hanya tersenyum membalas ucapan Ernata, tubuhnya masih terasa lemas untuk mendorong tubuh Rangga agar sedikit menjauh darinya.


"Makan dulu, yuk!" Ernata menyuruh Rangga untuk membantu Grael duduk dan bersandar pada divan tempat tidur.


"Aku suapin, ya!" Rangga mengambil piring lalu mengarahkan sendok ke arah mulut Grael. Namun, sang empu hanya terdiam.


"El, kata dokter ... perut kamu kosong, makan dulu terus minum obat!" ujar Ernata, tetapi Grael masih saja bergeming.


"Sorry ganggu! Ngga, Veby tubuhnya panas banget! Terus manggil nama kamu terus," ucap Gea yang begitu polos memberitahu disaat waktu yang kurang tepat.


Rangga memijat keningnya yang terasa pusing, dia menarik napas kasarnya lalu menyuruh Ernata untuk membantu mengurus Veby. Ernata pun hendak bangun dari duduknya, tetapi Grael meminta dia untuk tetap menemaninya.


"Nat, suapin gue!" pinta Grael, dia enggan untuk menatap ke arah Rangga.


"Ay, kan ada Irfan!" Rangga tahu maksud dari Grael, agar dirinya bisa keluar dan menemui Veby.


"Ngga, aku mau istirahat! Bisa tolong keluar?" ucap Grael dengan suara pelannya.


"Kamu masih sakit, Ay!" Rangga kembali menggengam tangan Grael.


"Ada, Ernata!" bentak Grael.


"Aku, calon sua—"


"Ngga!" tegas Grael agar kekasihnya itu bisa mengerti, bahwa dia tidak ingin berada didekat Rangga.


Rangga pun mengecup kening Grael, kemudian keluar dari kamar tersebut. Tidak lama Rangga keluar dari kamar, Grael mencoba untuk menghubungi manager Erlangga, agar Rio bisa menjemputnya.


"Ok, besok pagi, Kakak akan jemput kamu!" ucap Rio yang dari seberang telepon.

__ADS_1


Grael pun mematikan sambungan telepon, kemudian meminta kepada Ernata agar tidak memberitahu Rangga, soal dia yang akan di jemput oleh seseorang esok pagi.


To be continued...


__ADS_2