
Suasana di rumah utama keluarga Louis begitu ramai ketika mereka sudah berkumpul di taman belakang. Terlihat jelas di mata Grael bila Emira begitu senang mendapat perhatian dan kasih sayang dari ibunya Rangga—Keylie, membuat hatinya sedikit cemburu.
"Tante, mau tambah lagi dagingnya?" tanya Emira dengan ramah.
"Jangan panggil Tante dong, Sayang ... panggil Mami, seperti Rangga!" ujar Kylie yang begitu lembut kepada Emira.
"Nah, betul itu ... jangan sungkan lagi, panggil Papi dan Mami mulai sekarang! Beberkan, Sayang?" tanya Josua yang melirik ke arah Grael.
Grael hanya tersenyum seraya mengangguk kepalanya membenarkan Apa yang dimaksud oleh Joshua, dia melihat ke arah Erlangga yang terus memasang wajah dinginnya. Bukan karena tidak suka dengan Emira tapi karena memang suaminya itu tidak suka dengan ibu tirinya.
Kylie yang ingin menambah saus pada stik beef-nya ternyata saus tersebut habis dia pun melihat ke arah Grael. "Ambilkan saos yang berada di lemari dekat bumbu!"
Erlangga langsung menatap tajam ke arah ibu tirinya seakan dia tidak senang bila sang istri disuruh oleh Kylie, tangannya pun menahan tangan sang istri agar tidak bangun dari tempat duduknya.
Melihat kecanggungan tersebut Emira menawarkan diri untuk mengambil saus tersebut. "Biar Emira saja!"
"Huuuh, kamu memang calon menantu idaman!" Kylie mencubit manja dagu Emira ketika mereka duduk bersebelahan.
Emira tersenyum kepada Kylie, perasaannya menjadi tidak enak kepada Grael dan melihat ke arah Erlangga yang memberikan tatapan sinis, dia pun bangun dari tempat duduknya yang ternyata diikuti oleh Rangga.
"Aku temani!" ujar Rangga yang tersenyum.
"Iiihsss kalian tuh romantis banget! Jadi gak sabar melihat mereka menikah," ujar Kylie dengan bangga yang menyentuh tangan Josua.
Grael hanya terdiam seraya masih terus menikmati steak yang ada di hadapannya, sekilas dia melihat ke arah Erlangga yang tengah menenggak whine yang ada di gelasnya.
Tidak lama kemudian, Rangga kembali membawa saus bersama Emira, tawanya terus terukir di bibirnya sembari menggandeng Emira, mereka pun duduk kembali di kursi mereka.
"Oh iya, Emira ... kamu menginaplah malam ini, ya? Biar Mami yang meminta izin kepada orang tuamu! Boleh kan, Pih?" bujuk Kylie yang mendapat restu dari Josua.
"Hmm, bagaimana ya ... Tan?" Emira menimang penawaran dari Kylie.
__ADS_1
"Nginap saja! Besok kan libur sekolah, jadi kita bisa shopping sepuasnya ... ya!" Kylie mencoba membujuk Emira dan melihat calon menantunya itu mengangguk membuat hatinya senang sembari berucap, "Terima kasih, Sayang!"
"Kalian berdua juga menginapkan?" tanya Joshua kepada Erlangga dan juga Grael.
"Tidak!" jawab Erlangga dengan singkat dan jelas dan itu membuat Josua sedikit sedih.
"Maaf, Pih! Bukan maksud Kak Erlangga menolak, tapi ... besok, El, akan berangkat ke luar negeri untuk mengambil beasiswa dan rencana Kak Erlangga mau mengantarkan El sampai ke bandara!" ucap Grael yang baru angkat bicara.
"Apa? Kenapa mendadak? Dan juga kamu ... seenaknya cuma mengantar istrimu! Kenapa gak ikut sekalian ke sana?" Josua marah mendengar kabar dari Grael.
"Emm, jadi maksud Papi ... Erlangga boleh ikut El ke NY?" Erlangga mulai mengerti maksud dari ucapan Josua.
"Iyalah! Masa membiarkan istrinya tinggal sendiri di negeri orang? Apa perlu Papi yang ikut tinggal di sana?" ucap Josua dengan nada kesal. "Biar Rangga yang menggantikan tugas kamu di kantor, jadinkamu tinggal menunggu hasil laporan dari Rangga, sekalian dia belajar untuk mengurus perusahaan sendiri di kota D!"
"Oke, deal!" ucap Erlangga dengan senang hati.
"Dih, enak ae ... nggak bisa dong, Pih! Itukan tugas Kak Erlangga masa nyerahin ke Rangga? Terus yang ngurus perusahaan di kota D siapa? Nggak mau!" protes Rangga.
Josua pun memberikan saran usai menerima kritikan dari sang istri, dia meminta Rangga untuk tetap mengurus tugas Erlangga dan memberikan hasil laporan pada kakaknya yang dibantu oleh Yogi dan anak buah yang dipercaya oleh Josua dengan begitu semua beres.
Namun, Rangga tetap marah pada Grael meski hanya dia memendam amarah tersebut karena pasti Grael tidak akan datang ke acara pernikahannya bersama Emira.
Selesai makan, Erlangga dan Rangga memutuskan untuk bermain game bersama di ruang televisi dengan ukuran televis tiga meter, sedangkan Grael dan Emira duduk samping mereka untuk memberikan semangat pada pasangan masing-masing.
"Ayo, Sayang! Maju terus!" ucap Grael yang memberikan semangat pada sang suami ketika kedua pewaris tersebut memainkan balapan mobil.
"Baby, terus dong! Masa kalah sih? Ah ... payah!" protes Emira yang menertawakan calon suaminya.
"Wwwoooww, hahaha ... ayo babi kejar gua kalau bisa!" ledek Erlangga pada sang adik ketika mengucap ulang apa yang dipanggil Emira untuk Rangga.
"Baby, sayang! Bukan babi!" ucap Grael yang membenarkan ucapan suaminya.
__ADS_1
"Iiihsss, Kak Erlangga jahat! Masa ayank aku di panggil babi, dia bukan babi, Kak!" Emira memasang wajah merajuknya.
"Asu emang, Lo, Kak! Kasih tahu, Yank, apa!" Rangga menendang kaki Erlangga.
Erlangga terkekeh lalu bertanya, "Terus apaan dong?"
"Rangga bukan babi, tapi ... Big pig!" ucap Emira yang tertawa yang disusul oleh semua yang juga ikut tertawa.
"Sama aja ... Ayank! Akkh, malas ah gua ah ... udahan!" Rangga meletakan stik game begitu saja dengan merajuk seperti anak kecil.
"Aah ... gak seru Lo, Nggah! Masa gitu aja ngambekan! Udah jebolin gawang masih aja kaya anak kecil," ucap Erlangga yang meledek sembari tertawa melihat tingkah adiknya.
Rangga langsung balik lagi ke arah sang kakak sembari tertawa. Dia pun memberikan jurus pada Erlangga dengan naik ke atas tubuh kekar sixpack itu, tangannya mencoba untuk memasukkan keripik ke arah mulut Erlangga dengan paksaan.
Tentunya membuat Grael dan Emira mencoba melerai cara bercanda kedua sang pewaris tersebut, hingga tendangan demi tendangan di lempar oleh keduanya saat tawa terus mengiringi bibir mereka semua.
"Nih, bacotnya emang asu banget!" Rangga terus menekan kripik ke arah bibir Erlangga.
"Tapi benarkan? Hahaha, enakkan rasanya?" Erlangga mendorong tubuh adiknya hingga dirinya bisa terlepas dan berlari yang kini menjadi amukan Emira.
"Iiihsss, Kak Erlangga sok tahu! Sebel, iiihh!" Emira melempar bantal ke arah Erlangga.
Rangga terus mengejar Erlangga sampai mereka berlari menjauh dari kedua wanita yang ada di ruang televisi, kedua wanita itu pun memilih untuk bermain game yang masih menyala. Membiarkan kedua pewaris tersebut saling kejar-kejaran dengan suara tawa yang mengisi kehampaan pada rumah besar tersebut.
To be continued..
bonus visual
Rumah utama
__ADS_1