Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
55. Merasa bersalah


__ADS_3

Udara malam hari begitu dingin disertai hujan deras serta angin kencang menerpa pepohonan yang berada di area halaman rumah sakit. Petir begitu menggelegar di telinga setiap umat insan yang mendengarnya, kilatan yang terang tampak menyilaukan mata bagi yang melihatnya.


Tidak jarang setiap manusia begitu takut keluar akan badai hujan yang disertai dengan kilatan petir yang bergemuruh, karena kebanyakan hanya kalangan dari kaum wanita yang takut akan hal seperti itu, termasuk Grael.


Grael memeluk selimutnya dengan erat saat suara petir terdengar dengan kilatan yang menyilaukan dari balik jendela, wajahnya berkeringat dingin menahan takut saat Erlangga tidak ada di sampingnya. Sang suami pergi menemui Dokter Raditya di ruangannya, sedangkan Rangga memilih pulang ke rumah kediamannya.


"Aakkh!" Grael berteriak histeris saat lampu rumah sakit padam, deru napasnya pun tersengal. Dia mencoba untuk turun dari tempat tidur dan keluar menghampiri Erlangga, tetapi sambaran petir bersamaan dengan kilatan terus bermunculan, membuat Grael ketakutan.


Grael langsung berjongkok di lantai saat dia berhasil turun dari tempat tidur, ketika kilatan itu belum muncul dia pun bangun dan berlari lagi mendekat ke arah pintu, hampir langkahnya sampai untuk membuka pintu. Akan tetapi, lagi-lagi kilatan itu menampakan cahayanya yang membuat Grael kembali berjongkok sembari ketakutan.


Suara pintu terbuka terdengar oleh Grael, Erlangga masuk ke dalam kamar rawat inap sang istri dengan lampu senter melalui ponselnya. Alangkah terkejutnya dia saat melihat sang istri sedang ketakutan berada di lantai sembari memeluk kakinya.


"Ya Tuhan!" Erlangga langsung berjongkok mengimbangi tinggi Grael, dia melihat manik mata sang istri yang sudah sembab akibat menangis.


Infusan pada tangan sang istri pun terlepas, hingga beberapa tetesan darah mengenai baju Grael. Erlangga langsung memeluk istrinya lantas membawanya kembali ke tempat tidur.


"Jangan tinggalin aku!" ucap Grael dengan suara yang lirih.


"Tidak akan!" Erlangga memencet tombol yang ada di atas tempat tidur untuk memanggil suster, seraya tangan kekarnya memeluk tubuh sang istri.


Terasa nyaman berada dipelukan Erlangga, dapat Grael rasakan debaran jantung sang suami begitu kencang, pikirannya menerka-nerka, apakah cinta Erlangga begitu besar untuknya? Ataukah hanya sebagai pelampiasan dendam pada Rangga sehingga Erlangga merebut dirinya dari tangan sang adik?


Grael pun melihat raut wajah Erlangga, jemarinya mengelus pipi yang terdapat bulu di dagu sang suami, sontak husapan lembut Grael membuat Erlangga melihat ke arahnya.


"Bersabarlah, ada pohon tumbang mengenai kabel listrik sehingga terpaksa dipadamkan, pihak rumah sakit juga sedang mencoba memasang genset-nya, jadi akan terang kembali," ujar Erlangga.

__ADS_1


"Hmmm, iya," sahut Grael, dia mengeratkan pelukan dan menatap mata Erlangga penuh lekat dan ingin mengucapkan permintaan maaf karena sudah membuat hati sang suami sakit saat melihat dia menyentuh Rangga. Namun, sang suami terus menghindari kontak mata dengannya.


Grael pun mencoba mengambil kesempatan untuk mencium bibir Erlangga, ingin memastikan perasaannya, apakah dia benar-benar memiliki perasaan yang sama terhadap suaminya? karena saat Grael waktu masih menjadi kekasih Rangga, setiap sentuhan yang diberikan oleh Rangga selalu terbayang raut dan sentuhan Erlangga.


"Apakah Kak Erlangga marah?" tanya Grael pada dirinya sendiri saat sang suami terus menerus menghindari raut wajahnya agar tidak mendekat ke arahnya.


Sekali lagi, saat Grael ingin mencium bibir Erlangga, tiba-tiba lampu sudah menyala. Sang suami pun langsung menjauh dari dirinya, dengan alasan karena dia akan menemui suster untuk mengganti jarum infusan pada tanganya.


"Hmm," jawab Grael yang merasakan sakit saat dirinya mendapat penolakan dari Erlangga secara halus.


***


Di sebuah gudang yang sudah tidak terpakai, suara pukulan dan teriakan seseorang Pria paru baya merintih kesakitan, pukulan demi pukulan dia terima, ketika setiap jawaban yang dia berikan tidak membuat si pemukul merasa puas.


"Ampun ... Tuan! Bukan saya pelakunya!" ucap suara rintihan kesakitan dari mulut Pria paru baya yang tidak berdosa.


"Demi, Tuhan! Bukan saya pelakunya, dan tidak ada yang menyuruh saya untuk mencelakai Nyonya Grael!" Pak Rudin mengeluarkan darah dari sudut bibirnya.


"Ck ... dasar bedebah! Ikat dan gantung kakinya!" perintah Carly kepada bawahannya.


"Ampun ... Tuan! Saya tidak bersalah! Kasihanilah saya, Tuan!" Pak Rudin pun diseret untuk menjauh dari Carly lalu digantung dengan posisi terbalik.


Setelah puas menyiksa Pak Rudin yang menjadi tersangka utama dalam mencelakai Grael, Carly pun memberi laporan kepada Josua yang berada di ruangannya.


Suasana pun mencengkram saat Josua berdiri seraya menatap ke arah luar jendela yang menjulang tinggi, tangannya kanannya bertumpuh pada tongkat tua, sedangkan tangan satunya lagi memegang anak panah lempar.

__ADS_1


Pada saat Carly memberi informasi kepada Josua bahwa Pak Rudin tidak mau mengakui kesalahannya, saat itu juga Josua melempar anak panah ke arah Carly. Akan tetapi dengan sigap Carly menghindar dari emosi atasannya yang hampir memuat dirinya sebagai target bidikan.


"Hukum, dia! Sampai dia, mau berkata jujur!Siapa yang sudah menyuruhnya untuk melukai anakku!" Josua pun kembali duduk di kursi kebanggaannya.


"Baik, Tuan!" ucap Carly.


"Jangan lupa, untuk periksa kembali cctv yang rusak di bagian sebelah taman selatan! Dan pasang cctv di setiap ruangan para maid dan jangan kasih tahu pada siapapun termasuk adik kamu—Lydia! Paham!" pinta Josua yang mengusir Carly hanya dengan gerakan tangan.


Setelah Carly keluar, Kylie pun masuk ke ruangan Josua. Dia membawakan satu cangkir kopi untuk Josua, usai pulang dari luar negeri dan menyusul Rangga ke tanah air, Kylie mengetahui bahwa Grael masih hidup dan kini sudah pulang dari rumah sakit.


Kylie pun mengetahui bahwa sang suami ingin menghukum pelaku yang sudah mencelakai Grael, oleh sebab itu rencana dia untuk menyingkirkan Grael dari rumah utama tersebut sudah dia persiapkan secara matang.


"Sayang ... kenapa kamu masih membiarkan Pria tua itu, hidup? Jelas-jelas dia yang sudah mendorong El hingga jatuh ke kolam." Kylie mengusap dada bidang Josua yang sedang duduk di kursi.


Josua hanya terdiam dia melihat gerak-gerik keanehan pada Kylie setelah pulang dari luar negeri. Pasalnya, sang istri sangat menginginkan bila Pak Rudin dibunuh karena sudah berani mencelakai Grael.


"Tidak apa, Sayang! Aku akan membuat pelakunya mati secara perlahan, sebagai mana rencananya untuk mencelakai mantu kita!" Josua sengaja mengambil cangkir kopi lalu menjatuhkannya begitu saja ke lantai, Josua beralasan bahwa gelas yang dia pegang sangatlah licin.


"Sayang, maaf tanganku licin!" ujar Josua yang tersenyum ke arah Kylie.


Sang istri pun tersenyum kaku saat mendengar ucapan Josua yang seakan memberi isyarat bahwa dia akan bertindak kejam bagi siapa saja yang mencoba ingin mengusik menantunya.


"Lydia! Lid—"


"Sayang ... buat apa manggil maid bodoh itu? Saya mau kamu yang membersihkannya, dan membuatkan kopi yang baru untuk saya!" Josua tersenyum lebar ke arah istrinya yang kesal akibat ulahnya.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2