
Grael nampak tercengang ketika melihat Erlangga makan begitu lahap bagaikan orang yang kelaparan, bayangkan saja tengah malam dia menginginkan nasi padang dengan lauk rendang di saat posisi mereka sedang berada di luar negeri.
Untung saja Noel masih mau mencarikan nasi padang tersebut untuk Erlangga meski sempat pria paruh baya itu marah dengan Grael. Noel rela melakukan hal itu demi Erlangga karena mengingat jasa kakek Erlangga yang sudah banyak membantunya.
"Sayang, makannya pelan-pelan! Nggak ada yang mau merebutnya!" ucap Grael.
Sendawa Erlangga terdengar jelas ketika suapan terakhir pun masuk ke dalam mulutnya, dia mengambil gelas air hangat lalu meminumnya hingga tandas.
"Ya Tuhan!" Grael tertawa sembari mengambil tisu untuk mengelap bibir suaminya lalu berkata, "Sudah kenyang?"
"Makasih, Sayang!" Erlangga tersenyum manis seperti anak kecil di depan istrinya. Lantas mengatakan sesuatu pada Grael. "Yank, aku lupa kasih tahu kamu, aku ditawari untuk kerja sama mobil PT mobil legend, kira-kira menurutmu terima jangan?"
"Terserah, Kakak. Aku selalu dukung kamu apapun itu." Grael mengusap pipi Erlangga dengan penuh kasih sayang, sorot matanya pun memperhatikan suaminya dengan seksama. "Kok suamiku tambah ganteng ya?"
Erlangga tersenyum mendengar semua penuturan dari istrinya, dia senang ketika Grael selalu memberikan dukungan tiada hentinya. Tubuhnya langsung bangun dan mengecup kening Grael penuh penghayatan.
"Makasih, ya ... kamu selalu ada di sampingku! Maaf, bila telah berbuat kasar padamu!" ucap Erlangga.
"Yang sudah berlalu jangan diingat-ingat lagi, fokus dengan masa depan kita! Oke?" Grael membalas kecupan hangat sang suami.
"Sudah malam, kita tidur!" Erlangga mendekat ke arah Grael lalu menggandengnya untuk sampai ke tempat kamar mereka.
Semua pun berjalan mulus ketika mereka berada di dalam satu selimut yang sama, tetapi pada saat lampu dimatikan Erlangga tiba-tiba menginginkan sesuatu dari istrinya.
Pandangan Erlangga melihat ke arah Grael yang ternyata sudah tertidur lelap mungkin karena sudah seharian merawatnya sehingga lebih dulu untuk tidur. Ada sedikit kecewa tetapi hasrat keinginan yang tidak bisa ditahan, itulah kenapa dirinya terus rasa kemauannya mencuat begitu tinggi ketika hasrat semakin tinggi.
Tangan Erlangga pun membuka kancing baju piyama Grael satu demi satu sembari pandangannya terus memperhatikan raut wajah sang istri yang telah tertidur lelap. Dia kembali membuka satu kancing dan terpampang jelas squishy yang kenyal lembut dan harum.
__ADS_1
Tanpa menunggu persetujuan dari sang empu, Erlangga langsung mendekatkan wajahnya ketika dia sudah mengeluarkan mainan tersebut tanpa pelindung. Bibirnya pun seperti bayi yang yang menempel pada sang Ibu ketika tertidur sembari menyuusu.
"Kak?" Grael merasakan ada sesuatu yang menggelitik dirinya, dia melihat sang suami yang ternyata sedang asyik seperti bayi sembari memeluk tubuhnya dengan mata terpejam.
"Iissshh, gemesin aja!" Grael justru membalas pelukan Erlangga sembari menepuk pundak kokoh itu dan tangan satunya lagi pun mengusap kepala sang suami. Membiarkan pewaris itu seperti bayi kepada dirinya.
Perlahan mereka tertidur lelap, sampai pagi menjelang. Ternyata Erlangga tetap memeluknya dengan erat, Grael yang ingin pergi ke kamar mandi pun terhalang dengan lengan kokoh kekar itu.
Namun, tiba-tiba saat Grael menggeser tangan itu, Elangga sudah bangun lebih dulu dan berlari ke arah kamar mandi. Telinganya menangkap suara di mana suaminya tersebut memuntahkan kembali isi dalam perutnya.
"Ya Tuhan, Yank! Kita ke dokter aja, yuk! Aku gak tega liat kamu begini terus," ujar Grael yang memberi saran.
"Nggak usah, Yank ... aku baik-baik saja, hanya mual banget! Mungkin lambungku lagi kumat! Minum obat itu mendingan kok, Yank! Kamu tidal perlu cemas," ucap Erlangga dengan suara lirih yang masih lemas.
"Beneran nggak ke rumah sakit aja?" Tanya grael yang masih penuh khawatir.
Grael menjadi ragu ketika suaminya itu lebih memilih untuk di rumah daripada dibawa ke rumah sakit, dia pun terus meyakinkan suaminya itu tetapi lagi-lagi Erlangga tetap pada pendiriannya bahwa pria itu baik-baik saja.
Tiga puluh menit kemudian, Grael sudah rapih dengan penampilannya. Dia pun bergegas untuk sarapan bersama sang suami, sudah terdapat menu sarapan yang sudah siap dihidangkan oleh Evelyn untuk dirinya dan juga Erlangga.
"Terima kasih ya, Bik!" ucap Grael kepada Evelyn.
"Sama-sama, Nyah!" Evelyn langsung bergegas meninggalkan keduanya.
Grael terus memperhatikan kondisi suami ketika sarapan bersama, terlihat raut wajah yang mulai segar mungkin benar apa yang dikatakan oleh Erlangga bahwa dia sudah lebih baik daripada hari kemarin. Jadi dia memutuskan untuk pergi ke kampus diantar oleh sang suami.
***
__ADS_1
"Kak, kamu beneran, nggak apa-apa?" tanya Grael ketika dia melihat suaminya justru malah tersenyum.
"Nggak apa-apa, Yank! Sudah sana masuk, nanti aku jemput. Kabarin ya?" Erlangga terus menyakinkan istri agar tidak terlalu cemas mengkhawatirkan dirinya.
"Ok, kalau begitu, aku kuliah dulu ya, Sayang!" Grael mencium seluruh wajah sang suami.
"Semangat, Sayang!" ucap Erlangga yang memberikan dukungan pada sang istri.
Grael turun dari mobilnya lantas melambaikan tangan pada Erlangga lalu masuk ke dalam area kampus saat mobil yang sederhana itu melesat menjauh dari kampus, tiba-tiba saja dari belakang ada seseorang yang menepuk pundaknya.
"El!" Teriak pria yang memanggil namanya seraya merangkul bahu Grael.
"Astaga, kak Diego! Ngagetin aja!" Grael pun merasa risih ketika Diego menyandarkan tangan di atas bahunya, dia sedikit menggeser tubuhnya agar tidak terlalu dekat.
"Sorry, gua lupa!" ucap Diego. "Mau ke kelas? Bareng yuk!"
"Tapi aku mau ke ruang Prof. Roberto dulu, kak. Kakak duluan aja, nggak apa-apa!" ucap Grael yang menolak secara halus.
"Oh, oke kalau gitu, gua duluan ya?" ucap Diego yang tidak enak dengan Grael. Ada sedikit kecewa di dalam relung hatinya tetapi dia meyakinkan kembali pada dirinya. "Sabar Diego, sabar! It's oke jadi teman aja, gua akan nunjukin kalau cara berteman di negara ini!"
Sementara dari arah kejauhan ada sepasang mata yang sudah terbakar oleh api cemburu yang dilakukan oleh Diego dan juga wanita yang dulu pernah dia kunci dalam kamar mandi, wanita yang sudah membuat hatinya kesal sampai saat ini.
Dia adalah Olivia, satu angkatan dengan Diego wanita yang menyukai teman satu kampusnya itu adalah kekasih Edward. Dia yang sudah mengunci Grael di kamar mandi, dia juga yang ingin Grael tetapi tidak jadi ketika Diego mengajaknya lebih dulu mengantar ke kelas.
"Si al! Jelas-jelas gue yang selalu ada di samping lo Diego, bukan dia!" Umpat Olivia yang memandang kesal kearah Grael dan juga Diego.
To be continued...
__ADS_1
Hallo sobat readers, maaf ya bila banyak kesalahan dalam penulisan, nanti akan diperbaiki.. terima kasih atas waktunya sudah membaca kisah Grael dan Erlangga sampai saat ini🤗