
Grael bersama teman-temannya menikmati makan siang mereka di kantin kampus, di mana Jack dan juga Edward saling melontar candaan untuk merefreshkan otak mereka karena mata kuliah.
Ya, ternyata semua teman-teman Grael memiliki jiwa humoris yang tinggi. Sehingga dia pun ikut terbawa suasana tertawa bersama mereka ketiga teman baru yang menjadi sahabat barunya.
"Edward, ngomong-ngomong cewek lu mana?" Tanya Dona.
"Masih ada satu mata kuliah lagi, belum keluar!" Jawab Edward sekenanya.
"Oh, terus lo mau nungguin dia sampai keluar? Apa pulang bareng gua?" Jack memberi saran kepada sahabatnya.
"Kayanya, nungguin dia keluar deh! Kan lu tau sendiri, Olivia bagaimana orangnya." Edward meminum gelas miliknya.
"Olivia cemburu banget ya, manja banget ya?" Sambung Dona.
"Itu yang gue suka dari dia!" Jawab Edward dengan singkat padat dan jelas.
Grael yang mendengarnya pun ikut tertawa memberikan ucapan salut kepada teman barunya itu, begitu juga dengan cek dan juga Dona memberikan ucapan hebat kepada sahabat mereka yang bernama Edward.
Selepas mereka makan siang bersama, Dona pun berpamitan kepada Edward dan juga Grael untuk pulang lebih dulu. Mereka begitu mesra seakan menunjukkan kepada Grael bahwa mereka menjalin hubungan tanpa harus bilang bahwa mereka sepasang kekasih.
"Lo pulang sama siapa? Nunggu pacar Lo?" tanya Edward ketika mereka berdua masih berada di dalam kantin.
Grael pun tersenyum dan hanya mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan sahabatnya itu, lalu kembali melihat benda pipih yang ada di atas meja bahwa sang suami mengabari bila dia tidak bisa menjemputnya karena harus meeting bersama klien penting melalui situs online.
Edward yang melihat raut wajah wanita yang ada di sampingnya, langsung bertanya, "Ada apa? Cowok lu nggak bisa jemput?"
"Hmmm, sibuk!" Grael pun merubah wajah ekspresinya seperti anak kecil dan itu membuat Edward tertawa.
"Ya udah, gua duluan ya!" Grael dengan perasaan malas bangun dari tempat duduknya seraya mengambil tas.
__ADS_1
"Semangat! Mau gua antar sampai depan?" Tawar Edward.
"Nggak perlu, nanti cewek lu marah," ucap Grael dengan tersenyum.
Edward pun terkekeh, apa yang dikatakan oleh wanita itu benar bila Olivia akan marah kalau tahu dia jalan bersama wanita lain. Dia melambaikan tangan saat Grael pergi meninggalkannya.
Lagi-lagi Grael harus pulang sendiri, langkahnya begitu berat saat menuju halaman gerbang kampus. Ingin sekali dimanja seperti yang lainnya diantar jemput oleh sang kekasih, tetapi apalah daya sejak dia belajar di kampus itu Erlangga baru dua kali menjemputnya.
Grael berusaha untuk memaklumi pekerjaan sang suami yang ternyata begitu sibuk, dia duduk di pinggir halte menanti kedatangan bus yang mengarah ke arah rumahnya. Akan tetapi, di saat dia sedang menunggu mobil bus datang, tiba-tiba Diego menghampirinya.
"El!" Panggil Diego menyebut nama Grael, dia berlari menghampiri wanita yang tengah duduk di halte bus.
"Hai, Kak!" sapa Grael ketika Diego duduk di samping Grael.
"Nunggu, jemputan atau bis?" tanya Diego dengan seluruh nafas yang masih tersengal akibat berlari.
"Bis," jawab Grael dengan ramah, dia pun lantas berdiri saat bis itu datang. "Aku duluan ya, Kak!"
Pada saat Grael ingin membayar bis itu dengan kartu, Diego udah lebih dulu memasukkannya dua kali pembayaran. Sehingga jarak mereka begitu dekat saat Grael menengok ke arah pria yang ada di belakangnya.
Hidung Grael yang menyentuh pipi Diego, saat dia menggerakkan kepalanya ke arah samping untuk melihat siapa yang sudah membayar bisnya langsung mengalihkan kemarin wajahnya saat mata pria itu menatapnya dengan jarak dbegitu dekat.
"Terima kasih," ucap Grael yang menunduk lantas segera berjalan mencari bangku yang kosong sebelum sopir bus menjalankan mobilnya dan ternyata Diego mengikutinya.
Grael duduk di pinggir dekat jendela mobil bus, sedangkan Diego duduk tetap di belakangnya, walaupun bangku sebelah Grael kosong pria itu lebih memilih duduk di belakangnya.
Diego terus memperhatikan Grael dari belakang tanpa mengedipkan mata sedikitpun, dari awal pemuda yang menjadi maskot kampus tersebut tertarik pada wanita yang ada di depannya. Senyumnya pun mengembang saat matanya mengetahui bila wanita itu tertidur di dalam bis hanya melalui gerakan kepalanya.
Tangan Diego mencoba untuk melindungi kepala gadis itu agar tidak terbentur pada kaca mobil bus dengan mengulurkan tangannya, saat itu juga tangan yang menyentuh pipi Grael dan itu membuatnya tersenyum ketika posisi duduknya dekat ke arah kursi depan.
__ADS_1
Saliva sangat sulit untuk Diego telan ketika jemarinya menyentuh pipi mulus Grael, jemari-jembari itu pun begitu kaku saat ingin menyentuh kulit mulus itu. Deg, jantung yang tidak karuan berdetak saat ibu jemari Diego mengelus pipi wanita di balik kursi secara perlahan.
Diego terpejam seraya menikmati betapa lembutnya kulit pipi Grael, dia menyandarkan heningnya di sandaran kursi sang wanita. Hingga mobil pun berhenti di halte bis, Dia pun mendongak melihat beberapa pria tengah mencari kursi dan langsung saja Diego membenarkan kepala Grael dan pindah duduk di samping wanita itu.
Tujuan yang diambil Diego agar pria tersebut tidak bisa duduk di samping wanita incarannya, jantungnya yang belum bisa berdetak dengan normal kembali melihat ke arah sang wanita yang masih tertidur, tangannya pun mengarahkan kepala itu untuk bersandar di pundaknya.
Sementara sorot mata Diego melihat ke arah bibir ranum yang sedang menggoda batinnya, perlahan tanpa sadar dia mendekatkan kepalanya mendekat ke arah bibir merona itu untuk bisa mencicipinya. Akan tetapi, bis yang mengerem secara mendadak membuat misinya gagal total, bukan bibir mereka yang saling bersentuhan tetapi kening Meraka.
Sehingga Grael terbangun karena merasakan sakit pada keningnya, dia pun mengeluh kesakitan seraya melihat ke arah dalam bis ternyata sudah penuh dengan orang dan dia melihat ke arah samping ternyata seniornya duduk berada di sebelahnya.
"Kak? Ya ampun, aku ketiduran! Maaf, apa Kakak nggak apa-apa?" Grael bingung apa yang tengah terjadi hingga kepalanya terbentur dengan kening sang senior.
"Nggak apa-apa, ka–kamu, nggak apa-apa kan?" tanya Diego dengan gugup, dia takut kalau aksinya ketahuan oleh Grael.
"Sakit!" jawab Grael dengan jujur, dia pun masih mengelus keningnya yang terasa sakit dan dibantu oleh Diego yang meniup kening itu.
"Makasih kak, udah mendingan kok!" ucap Grael ketika kedua matanya saling melihat ke arah Diego dia pun langsung mengubah posisinya untuk menjauh dari pria itu.
Padahal berikutnya Grael berpamitan kepada Diego untuk turun lebih dulu, tetapi siapa sangka bila pria itu justru mengikutinya dari belakang.
Sampai Grael turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam perumahan, Diego pun masih terus mengikutinya membuat dirinya merasa risih dan tidak nyaman. Dia harus bisa menjaga harga dirinya ketika dia sudah menjadi seorang istri, karena itu langkahnya pun berhenti dan menghadap ke arah belakang.
"Kak Diego mengikuti saya?" tanya Grael yang sedikit ketus.
Diego pun tidak mengerti apa yang dimaksud oleh wanita itu, dia mencoba untuk menunjuk rumahnya yang ternyata searah dengan rumah Grael.
Seketika raut wajah Grael berubah yang awalnya ingin marah tetapi kembali ramah, dia pun terkekeh menyadari kesalahannya yang sudah menuding Diego mengikuti dia.
"Ya ampun, ternyata kita searah! Maaf sudah salah sangka sama kakak!" ucap Grael yang masih tertawa menahan malunya.
__ADS_1
"It's ok," sahutnya, yang kini mereka menjadi jalan bareng seiringan.
To be continued...