Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
97. Belajar bersama 2


__ADS_3

Suara Gea yang menyebut nama Erlangga begitu nyaring di telinga Ernata saat temannya itu langsung berlari dan memeluk Erlangga begitu saja dengan raut wajah senangnya.


"Ya ampun, ini beneran Erlangga Loius!" Gea mencubit pipi Erlangga dengan gemas seraya memeluk kegirangan.


Grael yang berdiri di samping sang suami menatapnya sembari tersenyum, hatinya cemburu dikala wanita lain memeluk suaminya di depan mata, tetapi karena dia tahu Gea seperti apa, jadi dia hanya bisa tersenyum mengambang.


"Ge ... Gea!" Ernata menarik tangan Gea agar melepaskan pelukannya pada Erlangga.


"Oh, iya maaf," ucap Gea yang tanpa bersalah, dia melepaskan pelukannya dan mengusap kemeja Erlangga seraya perlahan mundur kebelakang. "Iihh, Nat! Gue senang banget bisa bertemu idola dan meluk langsung!"


Ernata mencubit lengan Gea, agar temannya itu bisa diam dan tidak pecicilan apalagi membuat malu, dia meminta maaf kepada Erlangga dan juga Grael atas apa yang sudah Gea perbuat dan untungnya Grael bisa memaklumi itu.


"Nggak apa-apa," ujar Erlangga yang langsung merangkul pinggang Grael.


"Oh ya, kenalin, dia ... Kakak gue! Kalian pasti udah kenal kan siapa dia? Dan ini ... Kak Rio." Rangga memperkenalkan kepada semua teman-temannya yang ternyata sudah mematung sejak kedatangan Erlangga.


Tentu saja, Anjas dan Irfan terkejut bila seorang artis go internasional ternyata adalah kakaknya Rangga yang berati artis itu adalah suaminya Grael Arabella. Namun, Irfan tidak terkejut saat melihat Rio begitu juga sebaliknya. Bola mata Irfan langsung berkaca-kaca saat melihat langsung suami dari wanita yang dia cinta.


Hampir saja Irfan meneteskan air matanya di depan semua orang saat hatinya terasa perih, dia melihat ke arah Ernata untuk menyembunyikan air matanya. Pada saat itu juga Rangga tertawa melihat Irfan juga merasakan hal yang sama apa yang dulu Rangga rasakan.


"Kak, kita ke paviliun dulu!" ucap Rangga kepada Erlangga, dia memainkan matanya kepada semua teman-teman agar bisa ikut dia ke paviliun.


"Oh, ya ... kalau gitu kita ke paviliun dulu ya kak!" pamit Ernata.


Pada saat mereka pergi ke paviliun milik Rangga, Rio menunggu di ruang tamu sedangkan Erlangga menggandeng tangan sang istri hingga sampai ke dalam kamar, dia pun mendapat pelayanan dari Grael mulai menyiapkan air mandi serta baju.


"Kak, tumben Kak Rio ikut," ucap Grael.


"Iya, nanti aku lembur!" jawab Erlangga yang memberitahu bahwa dia dan Rio akan melanjutkan pekerjaan di ruang kerja Josua.


"Oh ... oh iya, Kak, boleh aku ikut belajar bareng sama teman-teman di paviliun Rangga?" tanya Grael ketika Erlangga memakai bajunya.

__ADS_1


"Boleh, tapi ada syaratnya!" Erlangga mendekati Grael yang bersandar di pintu lemari.


"Apa?" Senyum Grael terukir ketika dia mulai paham syarat yang akan diberikan oleh sang suami.


"Aku tidak suka kamu terlalu dekat dengan teman-teman pria, terutama Rangga!" bisik Erlangga di telinga sang istri lalu mengecup lembut leher Grael.


"Masih cemburu sama adik sendiri?" ledek Grael, dia meremas rambut Erlangga seraya memejamkan mata saat tangan Erlangga meremas bokongnya.


"Tentu saja, walaupun aku tahu dia sedang mengejar wanita lain! Dan satu lagi, aku tidak suka kamu memakai rok saat aku tidak ada didekatmu!" Erlangga menggigit gemas aset kenyal bagian dada Grael dan kedua tangannya meremas bokong sintal sang istri.


"Aah," ujar Grael yang semakin mengeratkan pelukan Erlangga.


"Kak!" Rangga masuk begitu saja ketika pintu kamar Kakaknya terbuka lebar tidak tertutup.


Buru-buru Grael mendorong tubuh Erlangga agar Rangga tidak melihat mereka berdua yang sedang bercumbu manja.


"Cepat ganti roknya, pakai celana panjang!" Erlangga menepuk pantat sang istri lalu keluar dari ruangan ganti baju yang kemudian menghampiri Rangga yang sedang mencari sesuatu di laci lemari kecil.


"Bisa nggak sebelum masuk diketuk dulu?" ujar Erlangga yang menasihati Rangga dengan kesal. Dia pun menendang bokong sang adik saat Rangga masih sibuk mencari sesuatu di dalam laci lemari milik Erlangga.


Erlangga berjalan mengambil charger yang akan dia berikan kepada Rangga lalu menyuruhnya untuk segera keluar. Begitu kesalnya Erlangga dengan sikap sang adik langsung masuk ke dalam tanpa izin terlebih dahulu.


Setelah keluar dari kamar Erlangga, Rangga menuruni anak tangga dan mendekati Rio untuk bisa lebih akrab dengan Rio sebelum dia pergi ke paviliun.


Ternyata begitu mudah mendekati Rio dari pada mendekati Emira, mereka pun bertukar candaan untuk sesaat sebelum Grael dan Erlangga turun.


"Thanks ya, Kak!" ucap Rangga, dia pun bersama Grael pergi ke paviliun sedangkan Erlangga dan Rio pergi ke ruang kerja Josua.


"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Erlangga kepada Rio.


"Ah, tidak! Hanya saja, adikmu lebih seru daripada Abangnya!" ujar Rio yang masih tertawa mendengar ucapan Rangga.

__ADS_1


"Apa maksudnya!" Erlangga menatap sinis ke arah Rio seakan tidak suka dibandingkan dengan sang adik.


"Sorry, sorry!" ucap Rio meminta maaf seraya menahan tawanya.


...----------------...


Dalam ruangan paviliun Rangga, semua pada serius mengerjakan soal-soal. Terutama Irfan, dia mengesampingkan masalah hatinya sementara waktu dan fokus pada mata pelajaran.


"Eh, rumus itu apa sih? Gue lupa!" ujar Gea yang sedaritadi tidak menemukan jawaban pada kertas soalnya.


"Ini pakai rumusnya begini!" Grael memberi contoh pada Gea.


"Aah ... udah, aakkhh ... otak gue nyut-nyutan!" Irfan melepaskan pensilnya di atas buku lalu merebahkan punggungnya sejenak di atas karpet premium.


"Nggak, coba cocokin dong punya kamu sama punya aku!" pinta Grael ketika dia sudah selesai mengerjakan tugasnya.


"Jangan! Nanti susah lagi untuk melupakan kalau sama-sama cocok!" ledek Rangga yang menutupi tugasnya yang ternyata belum selesai.


Grael pun langsung melempar bantal sofa ke arah wajah Rangga sembari tertawa, begitupun teman-teman lainya yang ikut tertawa dengan candaan Rangga.


Berbeda dengan Irfan, dia tersenyum getir ketika Rangga dan Grael masih bisa melempar canda dan tawa di saat wanita yang pernah sempat Rangga miliki kini menjadi milik kakaknya.


"Wah, gue tahu sekarang ... baru inget gue! Berati waktu itu bukan hasil cupangan Lo, Ngga!" Anjas tertawa senang, tetapi seketika dia berhenti ketika melihat Irfan yang terbaring di sampingnya menutup matanya seraya menangis.


"Fan, sorry! Gue nggak maksud untuk—"


"Move on, Fan! Gea cantik, kok!" ujar Rangga yang memberi saran.


Irfan pun bangun dari duduknya dan melihat ke arah Gea yang masih serius mengerjakan soalnya, lalu kemudian dia berkata, "Ge, Lo mau nggak jadi pacar gue?"


Sontak semua terdiam ketika mendengar penuturan kata dari Irfan yang langsung mengajak Gea untuk pacaran, Gea yang memang memiliki paras cantik dengan lesung pipinya walaupun terkadang ucapannya terlalu polos mengiyakan ucapan Irfan.

__ADS_1


"Lo serius terima gue jadi pacar Lo?" ucap Irfan.


To be continued...


__ADS_2