
Di posisi lain, Erlangga sedang menikmati pertempuran sengit di atas tempat tidur, kakinya dia angkat ke atas meja kecil sembari memakan keripik yang ada di tangannya, entah dari mana dia mendapatkan keripik tersebut. Namun, dia menikmati adegan drama malam yang begitu membuatnya senang. Dia pun menepuk sofa yang ada di sebelahnya untuk mengajak sang istri menonton bersama.
Grael hanya menghembuskan napas kasarnya seraya menggelengkan kepala melihat sang suami begitu senang ketika orang tuanya memarahi sang adik.
***
Sejam kemudian, setelah adegan drama telah selesai. Kini, mereka semua berada di ruangan tengah, sudah ada Rio yang duduk di depan kedua tersangka yang melakukan tidur bersama dengan keadaan polos.
Ya, Rangga dan Emira sedang diintrogasi oleh orang tua Rangga dan Rio, begitu emosinya Rio ketika mengetahui hal tersebut. Dia pun masih menatap tajam ke arah Rio, sembari menopang kedua tanganya yang dia taruh di kedua paha sembari menyatu kedua jemarinya.
__ADS_1
Sementara Erlangga duduk manis di samping istrinya sembari memakan buah apel di tangan, terkadang Erlangga juga menyodorkan buah bekas gigitannya ke arah sang istri.
"Kak, ini bukan salah Rangga, Emira yang minta duluan!" Emira membuka suara terlebih dahulu, dia meraih tangan Rio lalu menggenggam tangan sang Kakak.
"Tuh, kan ... Pih! Jallang ini du—"
"STOP, TANTE! Adik saya bukan orang yang Tante bilang! Asal Tante tahu, adik saya tidak akan melakukan hal keji itu keculai Rangga yang menghasutnya, Rangga yang maksa!" Rio berdiri sembari berteriak ke arah Kylie.
Mendengar Rio sahabatnya dihina, Erlangga langsung berdiri dan ingin membela Rio—sahabatnya, tapi Grael lebih dulu menarik tangannya, agar masalah tidak semakin panjang lebar.
__ADS_1
"Apa Tante pikir, saya akan takut sama Tante? Walaupun saya hanya seorang asisten! Iya? Tan, seorang asisten juga punya harga diri! Pokoknya saya akan melaporkan tindakan Rangga yang sudah melecehkan, Adik saya!" ujar Rio dengan tegas.
"Eh, enak saja! Mau melaporkan anak saya! Nggak bisa begitu dong! Jelas-jelas, Adik kamu sudah mengakui kalau dia yang merayu anak saya! Sembarangan ... main lapor-lapor aja!" Kylei menatap tidak suka kepada Rio seraya menunjukan cibiran pada mulutnya sebagai bentuk tanda bencinya.
"Sudah, sudah, sudah ... CUKUP! Kalian bikin masalah tambah runyam saja! Gini saja, pertama ... saya selaku orang tua dari Rangga, mau mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya, memang dalam masalah ini, pihak wanita yang merasa rugi, karena itu ... kami sekeluarga akan bertanggung jawab dengan menikahkan Rangga dengan adik kamu!" Josua membuang napas kasarnya seraya meremas tongkat saktinya.
"Pih! Nggak bisa gitu, donk! Masa callon mantu Mami, dia! Mami nggak setuju! Mami sudah punya calon istri untuk Rangga, dia jauh lebih cantik, lebih terpandang dan jelas ... lebih segala-galanya dari pada dia, masih kecil sudah ubanan!" Pandang Kylie yang menatap Emira begitu jijik.
"Saya bilang, stop menghina Adik saya, Tante! Anda boleh menghina saya, tapi jangan menghina Adik saya! Tante pikir, saya bakalan kasih restu pada mereka berdua? Tidak! Lagian, Emira juga punya sudah punya tunangan! Jadi, Rangga tidak perlu repot-repot bertanggung jawab!" ujar Rio yang menatap sinis ke arah Kylie. Dia langsung menarik tangan Emira agar segera pulang.
__ADS_1
"Kak Rio ... aku yang akan bertanggung jawab, aku akan menikahi Emira! Karena takutnya, benih yang aku tanam, tubuh di rahim Emira, aku tidak mau bila laki-laki lain merawat anakku!" Rangga bangun dan menarik tangan Emira sebelum terlambat.
To be continued...