
Kedua pria antara Diego dan juga Edward kini saling tetap menatap, ketika ternyata dompet Grael tertinggal di atas meja yang terhalang oleh piring. Bergegas mereka berebut untuk mengambil dompet Grael, tetapi Dona lah yang lebih dulu mengambil dompet tersebut.
"Ini dompet, Grael?" tanya Dona, tangannya membuka isi dompet tersebut dan ternyata memang benar terdapat foto Grael dan juga Erlangga. Namun, tiba-tiba dia langsung menutupnya dengan cepat dengan debaran jantung berpacu kencang.
"Ada apa sih?" tanya Jack yang melihat raut wajah Donna berubah menjadi shock.
Dona mengambil napasnya dalam-dalam lalu dia keluarkan secara teratur, kemudian dia berteriak, "Aaaakkk! Nggak bisa dipercaya, sebelum melihatnya sendiri, sorry ya ... Aku nganterin dompet Grael dulu, bye, semua!"
Ketiga pria menatap kepergian Dona dengan aneh, mereka bergegas mengekori Dona dari belakang. Rasa penasaran mereka pun terhadap suami Grael menjadi tinggi, siapa pria yang sudah berhasil mendapatkan wanita idaman mereka? Terkecuali Diego yang sudah tahu lebih dulu suami Grael.
"El!" teriak Dona yang berjalan menghampiri mobil sederhana itu.
Ketiga pria itu berdiri dengan jarak yang tidak terlalu jauh dari mobil yang dihampiri oleh Dona, terlihat jelas wajah Grael yang membuka kaca mobil sembari tersenyum ke arah wanita sahabatnya.
"Dompet!" Dona menyerahkan dompet Grael, lantas melirik ke arah samping sahabatnya itu sembari tersenyum mengangkat kedua alisnya yang menandakan bila dia ingin berkenalan dengan sang idola.
"Oh, ya ... sebentar!" Grael langsung berbisik kepada suaminya menyuruh untuk berkenalan dengan sahabatnya.
Erlangga keluar bersama Grael, lantas mendekat ke arah Dona untuk melakukan sesi foto bersama dan minta tanda tangan. Kedua pria langsung tercengang melihat sosok pria yang keluar dari dalam mobil ternyata artis go internasional yang sudah fakum dari dunia hiburan.
"Itu ... Erlangga Louis kan? Jadi, suaminya Grael bintang top? Wah, saingan kalian berat juga, ya!" Jack menyindir kepada kedua pria yang sama-sama mematung melihat betapa beruntungnya laki-laki itu mendapatkan sang pujaan hati.
"Thanks ya, El ... Hati-hati di jalan!" ucap Dona yang girang tiada terkira.
"Ciiee, senangnya yang dapat foto dan tanda tangan!" celetuk Jack yang cemburu pada Dona.
"Foto sama siapa, sih?" tanya Olivia yang baru saja datang. Dia pun mengambil foto tersebut dari tangan Dona dan melihat foto artis favoritnya. "Ya Tuhan, dari mana ini? Kok bisa? Sekarang orangnya mana?"
Edward dan juga Diego langsung memutarkan bola matanya secara malas mendengar ucapan Olivia, mereka langsung pergi dari sana kecuali Dona yang masih setia menunggu foto itu kembali padanya.
__ADS_1
"Kok pada pergi, sih? Diego, tunggu!" Olivia langsung menyerahkan fotonya kembali lantas berlari mengejar Diego.
***
Jam terus bergulir hingga tiba waktunya makan malam, Grael yang sudah menyiapkan makan malam kesukaan sang suami kini harus menjauhkan semau makanan tersebut karena Erlangga terus mual saat mencicipi aroma pada bau masakan.
"Sayang, mending kita kerumah sakit aja ya ... siapa tahu kamu nggak cocok sama obatnya?" Grael mengelus pundak Erlangga ketika dia mengusapnya dengan lembut. Dia pun kembali memapah tubuh suaminya agar bisa duduk di tempat tidur.
Sudah dua hari Erlangga setiap pagi dan menjelang malam, dirinya merasa mual dan pusing. Dia juga merasa sesuatu yang kesal tapi dirinya sendiri tidak tahu apa yang dia kesali itu.
"Nyah, sepertinya yang harus diperiksa oleh Dokter ... Nyonya Grael deh, bukan Tuan!" ujar Evelyn yang memberikan saran kepada Grael.
"Loh? Kan saya tidak sakit, Bik?" Grael masih bingung terhadap ucapan Evelyn.
"Maaf sebelumnya, tapi ... apa Nyoya sudah haid bulan ini?" tanya Evelyn ragu-ragu.
Grael berpikir sejenak untuk mengingat kapan terakhir dia mendapatkan tamu datang bulannya, lantas dia baru menyadari apa yang dimaksud oleh Evelyn.
"Yank? Serius?" tanya Erlangga menatap istrinya, kali ini dia paham arah pembicaraan Evelyn dan juga istrinya.
"Mungkin saja, Tuan! Lebih pastinya lagi mending diperiksa ke dokter!" saran Evylin kepada Tuannya tersebut.
"Ok, kalau gitu kita segara periksa ke dokter, Yank!" Erlangga langsung bangun dari tempat tidur dengan penuh semangat, dia pun bergegas mengambil jaket dan kunci mobil serta menunggu istrinya yang masih terdiam bersama Evelyn.
Grael benar-benar dibuat tidak percaya oleh Erlangga, dia melihat suaminya langsung semangat 45 ketika mendengar apa yang sudah menjadi impiannya selama ini yang dia tunggu-tunggu.
"Sayang ... ayo!" ucap Erlangga yang sudah tidak sabar membuktikan ucapan Evylin.
"Ah, iya," ucap Grael dengan ragu, pasalnya dia tidak yakin akan sesuatu yang diinginkan oleh dia dan juga sang suami. Takut hasilnya tidak sesuai dengan harapan.
__ADS_1
Grael hanya bisa mengikuti keinginan suaminya dia tidak mau mematahkan semangat yang sudah berkorbar dalam diri Erlangga, dia berharap bahwa sesampainya di rumah sakit hasilnya menunjukkan positif.
Padahal bisa saja Erlangga memanggil dokter untuk memeriksa kandungan Grael, tetapi karena saking semangat dia pun memilih untuk pergi ke rumah sakit sesuai dengan saran dari Evelyn.
"Hmm, Kak," ucap Grael ketika mereka sudah berada di dalam mobil.
"Iya, apa, Sayang?" tanya Erlangga yang tersenyum senang.
"Hhmmm, gak jadi, deh!" Grael membalas senyuman dari suaminya, dalam hati dia berdoa agar apa yang menjadi keinginannya terwujud.
Gelap malam sepanjang jalan menuju rumah sakit hanya di temani oleh cahaya lampu penerang jalanan dan juga cahaya dari kendaraan lainnya. Setiap detik saat mobil itu melaju pun menjadi pengantar detak jantung Grael yang semakin berpacu dengan cepat.
Sorot mata Grael terus mirip bagaimana tangannya digenggam erat oleh suaminya sembari menyetir, tidak lupa Erlangga memberikan kecupan hangat pada punggung tangan tersebut.
Jujur, Grael sangat takut bila nanti hasilnya membuat sang suami kecewa dan bila itu terjadi maka dia tidak sanggup untuk melihatnya. Melihat raut kekecewaan yang menggantikan rasa senang yang tersimpan di wajah Erlangga saat ini.
"Ya Tuhan, aku meminta keajaiban dari-Mu!" pinta Grael dalam hati seraya memejamkan matanya berdoa meminta kepada Sang Pencipta agar tidak mengecewakan Erlangga yang sudah menanti kehadiran buah hati selama dua tahun pernikahannya.
Mobil pun tiba di sebuah halaman perkiraan rumah sakit, terpampang jelas nama rumah sakit khusus ibu dan anak. Itu membuat perasaan Grael semakin tidak menentu.
Erlangga membukakan sabuk pengaman lalu turun dari mobil dan membukakan pintu untuk istrinya tersebut, dia menggenggam mencemari lentik itu dengan kencang kemudian menuntunnya memasuki lobby utama pada rumah sakit khusus ibu dan anak.
Mereka disambut hangat oleh staf medis yang berada di sana, begitu banyak orang yang berlalu lalang atau sebagian sedang menunggu antrian.
"Tunggu sebentar, ya!" Erlangga menyuruh istrinya duduk menunggu dirinya yang tengah mendaftarkan sang istri.
Seperti mengingat beberapa tahun silam sebelumnya mereka sempat datang untuk memeriksakan kondisi Grael yang dinyatakan masih sehat, tetapi belum ada tanda-tanda kehamilan.
"Ya Tuhan, kali ini dengarkan permintaanku, agar Engkau tidak mengecewakan harapan suamiku!" pinta Grael dalam hati yang terus berdoa.
__ADS_1
To be continued...