
"Wooooww ... El, lihat! Papi dapat ikan!" Josua berhasil menangkap ikan yang cukup besar yang dia pamerkan pada menantunya.
"Ya Tuhan, Papi ... ikannya gede banget! Aakhh!" ucap Grael yang terciprat air dari buntut ikan.
"Aah ... mana punya kamu Er! Aah ... payah kamu!" ledek Josua yang merendahkan anaknya ketika sejak beberapa menit lalu belum juga mendapatkan ikan.
"Aaiissh!" umpat Erlangga dengan kesal.
Tiba-tiba dari arah belakang mereka, Rangga yang sudah bertelanjang dada dan hanya memakai kollor boxer berlari cukup kencang dan melompat ke arah danau tersebut yang airnya begitu jernih.
Suara dentuman air pun terdengar di telinga Grael saat Rangga menceburkan dirinya, wajah terkejutnya begitu terkesima melihat Rangga yang keluar menampakan kepalanya seraya menggelengkanya untuk mengibaskan air dari rambut pendeknya.
Raut wajah Grael begitu menyebalkan di mata Erlangga, dia yang memiliki sifat pencemburu langsung bangun dari duduknya dan menghampiri Grael yang duduk di samping sang ayah.
Tangan Erlangga mengangkat ujung kaos yang dia pakai lalu dia arahkan ke kepala sang istri, memasukannya ke dalam kaos tersebut agar tidak terpesona melihat sang adik yang sedang berenang di danau.
"Iihh, Sayang!" Grael terkejut saat kepalanya berada di perut sang suami.
"Apakah dia lebih menggoda?" tanya Erlangga begitu cemburu, dia membungkukkan tubuhnya untuk mengigit pipi sang istri dari arah belakang.
"Aauuh, sakit! Ampun ... Yank!" keluh Grael yang tertawa ketika mengetahui suaminya masih saja cemburu.
Erlangga membuka kaosnya sedikit dan hanya sebagain bibir Grael yang terlihat, kemudian dia mengecup bibir sang istri di sebelah Josua dari atas kepala sang istri. Tentu punggungnya mendapatkan pukulan dari rotan kebanggan Josua.
"Dasar, tidak lihat Papi di sampingmu sendirian?" tegur Josua ketika anaknya memamerkan kemesraan di hadapannya.
"Papi sendiri? Kalau gitu nikah lagi aja, Pih!" ucap Erlangga yang memberi saran.
"Boleh Papi nikah lagi?" tanya Josua yang mengangkat pancingannya.
__ADS_1
"Jangan, Pih!" maki Rangga, dia langsung naik ke atas dan berlari untuk menendang Kakaknya saat mendengar saran dari Erlangga.
Erlangga langsung lari menjauh dari amukan Rangga sembari tertawa, ketika adiknya begitu emosi. Mereka pun saling kejar-kejaran dan pada saat sampai di tepi danau Erlangga membuka bajunya untuk melompat ke arah danau dan disusul oleh adiknya.
Suara tawa Grael membuat hati Josua merasa senang, dia begitu bahagia melihat menantunya tertawa. Namun, sosok Grael membuat dia teringat oleh mendinang istrinya. Raut wajah yang penuh bahagia Josua seketik berubah menjadi sedih.
"Papi kenapa?" tanya Grael, dia langsung mengambilkan segelas minuman hangat untuk ayah mertuanya
"Tidak apa-apa, hanya saja ... Papi teringat ketika dulu, Mami Erlangga meninggal dalam keadaan hamil anak perempuan, adik nya Erlangga," ucap Josua yang mengeluarkan air mata.
Perasaan Grael jadi ikut sedih ketika ayah mertuanya menangis, dia tahu ada rasa cinta yang begitu mendalam di hati Josua pada ibu kandung Erlangga. Sangat terlihat jelas di raut wajah Josua bahwa lelaki tua itu sangat terpukul ditinggal pergi oleh kedua orang yang sangat berharga dalam hidupnya.
Wanita yang menjadi menantu Kesayangan Grup Jaya itu pun ingin sekali menanyakan perihal kematian ibu kandung Erlangga tapi hatinya merasa tidak enak untuk menanyakan hal yang begitu sensitif, mungkin bukan waktu yang tepat untuk sekarang ini.
"Andai saja mereka masih hidup, mungkin anak perempuan saya saat ini sedang kuliah." Josua meminum air hangat buatan Grael.
"El, rasa ... pasti Kak Erlangga bakalan sayang banget sama adik perempuannya," ucap Grael.
"Sudahlah, tidak perlu di ingat lagi masa lalu yang sedih. Papi ajak kamu ke sini untuk bersenang-senang, bukannya mendengarkan cerita sedih Papi, sekarang kita bakar ikan hasil tangkapan Papi!" timpal Josua yang bangun dari kursinya dan menuju tempat pembakaran.
Grael pun tidak bisa ikut campur lebih dalam lagi ketika sang mertua memilih untuk tidak membahasnya, walaupun hatinya begitu banyak pertanyaan dan kebingungan terhadap keluarga Louis terutama kebencian Erlangga terhadap Rangga dan ibunya.
Sorot mata Grael kini melihat ke arah Erlangga dan juga Rangga, mereka terlihat akur dan akrab untuk saat ini, setelah Grael mengetahui ternyata keduanya sama sekali tidak pernah akrab sebelumnya, bahkan Grael melihat senyuman yang melebar di bibir suaminya ketika bercanda dengan Rangga saat ini.
"Sayang, makan dulu!" teriak Grael ketika ikan yang dia bakar bersama Josua sudah matang.
"Iya, Ay!" sahut Rangga yang sangat suka menggoda kakaknya dan membuat Erlangga mencekik leher Rangga dan memasukkannya ke dalam air seraya bercanda.
Begitu puas memberi pelajaran kepada sang adik ketika wajah Rangga di dekatkan ke bokongnya dan mengeluarkan gas di dalam air, Erlangga langsung keluar dari dalam air sembari tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Bang ke, Lo, Kak! Ck, Bang sat! Ketut Lo, bau banget!" keluh Rangga yang membuang ludah dan mengejar Erlangga, dia pun tidak segan-segan menurunkan cellana lepis Erlangga. Namun, sayangnya cellana Erlangga susah untuk di buka, sehingga penyerangan berbalik ke arah Rangga, dengan mudah Erlangga menurunkan cellana Boxster Rangga di depan Grael.
"Ayoo kalau berani nurunin cellana gue! Gue jamin istri Lo bakalan liat senjata gue!" ancam Rangga yang ternyata dia mempertahankan tali cellana tepat di senjatanya agar tidak terlihat oleh Grael.
"Aah, sial!" Erlangga memasang cellana Rangga seperti semula lalu menendang bokong Rangga sampai Rangga kehilangan keseimbangan dan ingin jatuh tepat ke arah Grael yang sedang membuat sambal.
Akan tetapi, Erlangga yang menyadari perbuatannya langsung menangkap Grael untuk masuk ke dalam dekapannya dan membiarkan Rangga mencium rerumputan seraya mengeluh kesakitan.
...----------------...
Suasana di siang hari begitu cerah, pepohonan yang rindang, angin yang sejuk serta air jernih pada danau yang dihiasi oleh ikan-ikan menjadi salah satu lukisan Tuhan yang begitu sempurna.
Erlangga, Grael dan Rangga bersiap-siap untuk memanjakan tubuh mereka berenang di air yang sejuk itu, Erlangga dan Rangga yang hanya memakai cellana boxser sedangkan Grael memakai baju berenang yang tidak terlalu terbuka, karena Erlangga tidak mau bila adiknya melihat tubuh istrinya.
Rangga pun menantang Grael untuk berlomba sampai ke tepi danau di seberang sana karena Rangga tahu Grael adalah juara satu perenang wanita di sekolahnya.
"Ay, ayoo turun!" teriak Rangga yang sudah turun lebih dulu.
Erlangga pun langsung melompat ke arah Rangga yang selalu menyebut istrinya dengan panggilan mesra. Akan tetapi di sela-sela canda tawa Erlangga dan Rangga, ternyata Grael masih diam membeku menatap air yang ditemani oleh ikan-ikan di bawah sana.
Debaran jantungnya semakin cepat, keringat pun langsung muncul dari sudut pori-pori halus Grael, bahkan suara teriakan suami dan adik iparnya tidak terdengar di indra pendengarannya.
Mengetahui Grael berbeda, Erlangga langsung naik kembali ke permukaan, begitu juga dengan Rangga, mereka mendekat ke arah Grael.
"Kamu nggak apa-apa, Yank?" Erlangga langsung memeluk tubuh istrinya yang masih terdiam.
Rangga langsung mengambilkan handuk untuk menutupi tubuh Grael, dia menyuruh Grael untuk duduk di bangku lalu mengambilkan air minum untuk Kakak iparnya.
"Hai, it's okey! Ada aku, jangan takut! Tarik napas ... buang, tarik lagi ... terus buang pelan-pelan!" Erlangga memegang pipi sang istri yang sudah pucat pasi, dia menyuruh Grael untuk mengikuti instruksi-nya. "Good, Honey!"
__ADS_1
To be continued...