Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
99. Gagal nganu


__ADS_3

Erlangga langsung menutup pintunya dan meminta maaf kepada Grael untuk menunda sebentar pergulatan panas mereka, dia memakai bajunya kembali lalu mencium bibir Grael.


"Tunggu sebentar!" pesan Erlangga terhadap istrinya, lalu berjalan keluar dari kamar meninggalkan Grael yang masih mematung.


Tidak dapat dipercaya oleh Grael, bila dirinya sudah terbakar oleh hasrat asmara yang dibuat oleh Erlangga, tetapi langsung ditinggal begitu saja oleh sang empu. Dia pun menendang selimut sebagai bentuk kecewa.


"Iiihh, kesel!" gerutu Grael yang memajukan sudut bibirnya.


Sejam, dua jam Grael menunggu sang suami tapi Erlangga belum juga datang. Terlalu lama dia menanti untuk bisa menuntaskan hasrat yang sudah terbakar, hingga akhirnya mata Grael perlahan terpejam dan terbawa arus dalam mimpi.


Sementara itu di ruangan kerja Josua, Erlangga sudah kesal dengan sang ayah yang ternyata meminta tolong untuk menggantikan rapat dengan kolega yang berasal dari luar negeri melalui laptop.


"Tolong gantikan, Papi! Ada rapat penting dari luar negeri yang harus dibahas malam ini juga, Papi sudah lama tidak mendapat jatah dari Kylie!"


Kata-kata Josua masih terngiang dipikiran Erlangga, membuat dia menutup laptopnya dengan kencang saat rapat telah usai, tangangnya menjambak rambut untuk melampiaskan rasa prustasi karena sang adik junior merasakan sakit luar biasa ketika hasratnya tertunda.


Segera Erlangga kembali ke dalam kamarnya dan membuka kaos yang menempel di tubuhnya dan perlahan mendekat ke arah sang istri yang ternyata sudah tertidur lelap.


"Yank?" Erlangga menepuk pelan pipi sang istri tapi masih belum ada jawaban dari Grael.


"Yank, bangun ... jangan tidur, Yank!" Erlangga mencoba membangunkan Grael. Namun, sang istri hanya mengulet dan mengubah posisi tidurnya.

__ADS_1


"Sayang ... bangun!" ucap Erlangga yang membangunkan Grael dengan cara melahap dua gundukkan sang istri.


Grael pun terusik dari tidurnya yang sudah masuk ke dalam mimpi, tangannya mendorong kepala Erlangga agar berhenti mencumbunya. "Iiih ... Kak Erlangga, aku ngantuk! Besok aja, ya!"


"Nggak mau, maunya sekarang!" Erlangga terus mencumbu istrinya untuk membangkitkan hasrat birahi sang istri.


"Tapi aku ngantuk! Besok aku ulangan, Kak! Besok aja kita lanjutin ... nanti aku kasih double deh!" ucap Grael ketika matanya masih terpejam dan sulit membuka matanya.


Helaan napas kasar pun Erlangga keluarkan ketika mendapat penolakan halus dari sang istri untuk memuaskan keinginannya, dia pun merebahkan tubuh di samping Grael mencoba untuk memejamkan mata agar bisa ikut ke dalam mimpi bersama istrinya. Namun, dia masih merasakan sakit pada adik juniornya ketika belum menuntaskan hasrat yang sudah menggelora, akhirnya dengan terpaksa Erlangga memuntuskan untuk bermain solo.


Pada saat si Junior sudah bisa bernapas lega, Erlangga pun perlahan mulai memejamkan matanya seraya masih menghisap aset kenyal milik Grael sembari memeluk tubuh istrinya.


***


"Saya pinta kirim ulang hasil laporanya, saya kasih kamu satu jam untuk memperbaikinya!" ujar Erlangga ketika melihat kesalahan pada laporan yang ada di atas meja.


"Ta–tapi, Pak!" ucap karyawan itu yang ingin protes ketika Erlangga memberi waktu hanya satu jam.


"Tidak ada tapi-tapian! Kalau kamu tidak mau, silahkan kirim surat pengunduran diri!" tegas Erlangga yang begitu menakutkan.


"Baik, Pak! Saya akan mengerjakan dalam satu jam." Karyawan itu bergegas keluar dari ruangan Erlangga.

__ADS_1


"Er, Er ... Lo, kenapa lagi sih? Kaga dapat jatah?" Rio hanya menggelengkan kepala saat melihat sahabat sekaligus bosnya marah-marah tidak jelas dari pagi.


"Diem, kalau tidak mau dipecat!" ancam Erlangga.


"Wwoow, takut! Ya sudah kalau gitu, gue juga ikut bikin surat undur diri," ledek Rio yang melangkah menuju pintu keluar.


"Sampai Lo bikin surat undur diri, persahabatan kita the end!" Erlangga menatap sinis ke arah Rio.


"Ya, Bos!" Rio memberi hormat lalu segera keluar dari ruangan tersebut.


Tidak lama kemudian, Josua masuk ke ruangan Erlangga dan meminta anaknya itu untuk bertemu dengan Tuan Handoko—kolega terbaik sepanjang masa selama menjadi rekan bisnis mereka.


"Sorry, Pih! Erlangga tidak ada waktu! Itu kolega Papi, bukan kolega Er!" ucap Erlangga yang masih sibuk mengetik pada keyboardnya.


"Kamu masih marah sama, Papi? Gara-gara tidak dapet jatah? Masa cuma begitu saja marah, lagian ini penting loh, nanti Papi kasih libur selama yang kamu mau untuk bulan madu bersama menantu Papi, mau?" Josua memberikan penawaran pada Erlangga setelah memberi ejekan.


"Nggak tertarik, Pih!" balas Erlangga yang masih dengan pendiriannya.


"Yakin tidak tertarik bulan madu? Selesai ulangan Grael libur loh! Sebagai bonusnya nanti, Papi yang akan mengurus jumpa pers pengumuman kamu setelah Grael lulus sekolah! Bagaimana?" tawar Josua dengan licik.


Erlangga masih bergeming, bukan tidak tertarik dengan penawaran dari Josua, tapi dirinya masih gengsi dan marah terhadap ayahnya yang sudah membuat dia main solo.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2