
"Tuan muda ... ini bukan kesalahan, Nyonya Grael! Nyonya, hanya salah paham karena di kira saya maling yang masuk ke kamar Nyonya Grael, padahal saya hanya mengantarkan obat vitamin atas perintah Tuan besar," ucap Lydia, seraya memegang tangan Erlangga agar tidak emosi kepada sang istri.
Erlangga menatap tangan Lydia yang memegang lengannya, serta kaki Lydia yang terluka, kemudian menatap Grael dengan penampilan acak-acakan akibat peristiwa jambak-jambakan dengan Lydia.
"Benar gitu?" tanya Erlangga yang melihat raut wajah sang istri yang hanya datar saja tanpa takut kalau dia akan mempercayai omongan Lydia.
"Klise lama! Drama Lo, kurang dramatisir ... kenapa nggak sekalian aja pake air mata buaya, terus ngadu kesakitan! Apa perlu gue ajarin ke Lo, buat merayu majikannya?" Grael tidak menjawab ucapan Erlangga, justru dia menyindir dan menatap tajam ke arah Lydia yang pintar mencari muka di depan Erlangga.
"El ... aku lagi tanya sama kamu!" Erlangga membentak sang istri di depan Lydia, sehingga ada senyuman kemenangan di raut wajah maid itu.
"Astaga ... Nyonya, saya tidak mengerti apa yang Nyonya ucapkan, saya berkata jujur!" Lydia semakin mengeratkan pegangannya pada Erlangga, Pria yang berstatus suami Grael itu melirik ke arah Grael dengan raut wajah yang biasa saja.
"Ck! Kamu bertanya sama istri kamu? Apa perlu aku jawab, buat jelasin ke kamu masalah seperti ini?" tegas Grael yang memberitahu, apakah Erlangga perlu mendapat penjelasan dari istrinya ketika istrinya bertengkar dengan maid dan memperjelas ucapan seorang maid?
"Astaga, El ... ka—"
"Tuan, jangan memarahi Nyonya! Ini salah, saya! Biar saya yang mengalah dan meminta maaf." Lydia menahan tangan Erlangga agar tidak maju ke sisi Grael.
"Kenapa nggak sekalian aja dipeluk! Sayangkan cuma megang tanganya doang!" sindir Grael dengan senyum sinisnya yang melihat sang suami membiarkan terus bila tangan maid itu berada di tanganya, padahal Erlangga ingin melihat sang istri cemburu dan menerkam langsung Lydia di depan matanya.
"Maaf, Tuan ... saya, tidak bermaksud untuk—"
Erlangga merasa kecewa ketika sang istri justru menyuruh maid itu memeluk tubuhnya, Padahal dia berharap bahwa Grael cemburu buta dan menghajar Lydia seperti saat dia baru datang.
"Lyd, sebaiknya kamu kembali ke kamarmu dan obati luka pada kakimu!" suruh Erlangga yang hanya menggerakkan matanya untuk mengusir maid itu keluar.
"Terima kasih, Tuan. Atas perhatiannya, saya akan kembali ke kamar dan mengobati luka pada kaki saya, Tuan tidak perlu khawatir," ucap Lydia yang menampilkan senyum manisnya karena senang Erlangga begitu perhatian padanya.
"Lyd? Oh ... namanya, Lidi? Kepanjangannya, sapu lidi?" batin Grael yang mengejek nama Lydia.
__ADS_1
Usia Lydia keluar dari kamar, Grael langsung pergi ke lemari pakaian dan langsung mencari sesuatu untuk membuktikan apa yang dilakukan oleh Lydia saat berada di ruangan pakaian.
"Jangan dekat! Jangan sentuh aku!" bentak Grael dengan emosi saat Erlangga ingin mendekatinya.
Erlangga tersenyum lalu pergi ke arah kamar mandi, untuk membersihkan dirinya dari bakteri yang menempel pada seluruh tubuhnya walaupun Lydia hanya memegang lengannya.
"Kok, nggak ada yang hilang, ya?" Grael sudah memeriksa semua yang ada di lemari sana tetapi tidak menemukan ke anehan ataupun barang yang hilang.
"Semua baju, Kak Erlangga juga komplit semua, nggak ada yang hilang! Cellana dallamnya juga masih komplit!" ucap Grael berpikiran jauh tentang Lydia yang ingin mengguna-guna suaminya.
"Masih di sini? Cari apa sih?" tanya Erlangga yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Nggak usah tanya, kalau akhirnya nggak bakalan percaya sama istrinya sendiri! Awas!" Grael melangkah pergi meninggalkan Erlangga yang tersenyum melihat sikapnya.
Usai sang suami keluar dari ruangan pakaian, Grael sudah merapihkan rambutnya dan duduk manis di tengah-tengah tempat tidur, lalu menatap ke arah Erlangga yang heran melihat tingkahnya.
"Merah! Malam ini tidak boleh tidur di atas kasur dan tidak boleh keluar dari kamar tanpa seijin dari aku!" Grael menatap tajam ke arah Erlangga sembari memberi hukuman pada sang suami yang sudah membuatnya emosi.
Grael langsung masuk ke dalam selimut lalu mulai memejamkan matanya, dia tidak perduli Erlangga mau marah atau tidak dengannya, dia hanya membutuhkan waktu untuk menenangkan dirinya yang begitu emosi saat melihat drama Lydia yang seperti film ikan terbang yang suka ditonton oleh Gracia dan ibunya.
Belum sempat Grael tertidur pulas, Erlangga sudah melucuti cellana tidurnya hingga terlepas, dia pun terbangun lalu melihat sang suami sudah mencium kakinya hingga ke paha yang putih mulus.
"Iiih ... kamu nyebelin banget sih, aku bilangkan, MERAH! Jangan sentuh aku, dasar artis cabul!" bentak Grael dengan emosi saat sang suami menahan tangannya.
"Artis, cabul?" tanya Erlangga.
"Iya, artis cabul, kalau ada katagori word artis cabul, aku jamin kamu mengoleksi satu lahan untuk piala!" Grael menatap mata Erlangga dengan cemburu buta.
"Baik lah, aku tunjukkan ke kamu, seberapa cabulnya, aku!" Erlangga langsung mencium leher Grael penuh napsu sembari meremaas ke dua gundukkan favoritnya.
__ADS_1
"Jangan sentuh aku! Aku jijik karena kamu disentuh sama sapu lidi itu!" Grael menangis saat Erlangga justru mencumbunya dengan napsu.
Erlangga pun menghentikan aksinya lalu menatap mata Grael yang sudah menangis. "Sapu lidi?"
"Iya, sapu lidi! Kamu aja manggil maid itu namanya, mau disentuh sama dia! Terus manggil dia menggunakan namanya, Lid, Lid ... apa coba kalau bukan sapu lidi? sapu ijuk? Hah!" Grael tambah menangis saat mengeluarkan rasa amarahnya.
Erlangga pun tertawa mendengar sebutan panggilan untuk Lydia, Erlangga setengah berdiri di atas tubuh sang istri seraya menjelaskan, bahwa dia hanya ingin melihat reaksi cemburu Grael saat Lydia menyentuhnya.
"Maaf, bila aku membuatmu kesal, aku hanya ingin mengikuti drama yang Lydia buat untuk melihatmu cemburu, aku percaya sama kamu, aku hanya ingin melihat adegan kamu yang ingin memukul Lydia!" ucap Erlangga yang masih tertawa.
"Ketawa? Cihh! Kamu sebut namanya dengan gampang? Sedekat itu kamu sama sapu lidi?" Grael mendorong tubuh Erlangga agar bangun dari atas tubuhnya.
"Maaf, aku tidak akan menyebut namanya lagi," ucap Erlangga, dia pun menceritakan kepada sang istri, kalau dia dan Lydia sempat berteman baik saat pertama Josua menikah dengan Kylie. Carly dan Lydia sudah berada di rumah utama saat mendingan Calsita—Ibu Erlangga masih hidup.
Kedua orang tua Carly dan Lydia adalah orang kepercayaannya Josua dan Calista, tetapi orang tua mereka mengalami kecelakaan ketika mendapat perintah dari Josua untuk menjemput Calista dan Erlangga yang berada di kota M.
Singkat cerita, Josua bertanggung jawab dengan menjadikan Carly kepala maid menggantikan ayah Carly dan adiknya yang bernama Lydia juga bekerja sebagai pelayan pribadi Kylie.
"Sekaran, apa istriku ini mau menjelaskan kepada suamimu tenang kejadian di mall, dan kenapa kamu berkelahi dengan seorang maid?" tanya Erlangga yang memeluk istrinya dari samping.
"Aku ... aku ... aku, apa Kak Erlangga akan menertawai aku, mengejekku, kalau aku memberitahu siapa aku?" tanya Grael yang memajukan bibirnya yang takut akan profesinya.
"Katakanlah!" Erlangga menyakinkan Grael agar sang istri tidak meragukan dirinya sebagai suami.
"A–aku ... aku bekerja dia dunia komik anak dan juga sebagai—"
"Sebagai?"
"Penulis, cerita dewasa!" Grael berbicara cepat dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
__ADS_1
To be continued...