
"Ya, Tuhan! Siapa kamu!" ucap dokter yang bertanggung jawab atas pasien bernama Grael.
Dokter gadungan itu, langsung menyuruh asisten yang bekerjasama dengan dia untuk segera pergi dari ruangan Grael. Setelah mereka ketahuan menjadi penyusup untuk mencelakai istri dari Erlangga.
"Berhenti, kamu!" teriak sang dokter yang mencoba mengejarnya, tetapi tidak terkejar. "Tolong cek cctv serta tutup pintu keluar masuk, ada penyusup yang mencoba mencelakakan pasien saya!"
Dokter itu tidak mengejar pelaku yang menyamar menjadi dokter, dia langsung mencabut infusan yang terhubung ke tubuh Grael usai memberi kabar pada pihak rumah sakit melalui ponsel selulernya.
Bergegas sang dokter menyelamatkan Grael yang mulai menunjukkan gejala reaksi pada tubuh, istri dari pewaris itu mengalami reaksi pada tubuh yang diterima obat lain dari dokter gadungan tersebut.
Dokter itu langsung memberikan magnesium sulfat melalui infus sebagai cara penanganan kejang pada ibu hamil, lalu mengontrol tekanan darah pada Grael.
"Sus, cepat pindahkan pasien ke ruangan Ekstra!" perintah dokter lalu suster itu memanggil beberapa suster lainnya untuk membantu mengangkat pasien agar segera dipindahkan.
Ruangan ekstra adalah ruangan sejenis ICU ataupun IGD, di mana di ruangan tersebut pasien mendapatkan ekstra pelaratan yang lebih memadai dan lebih dijaga ketat dalam perawatan.
Erlangga yang baru saja tiba usai dari farmasi langsung terkejut melihat keributan yang terjadi dalam ruangan rawat inap sang istri, langkahnya pun langsung bergegas masuk ke dalam menanyakan apa yang sedang terjadi.
Dokter pun hanya bisa berkata kalau saat ini Grael dalam keadaan kondisi kritis memerlukan penanganan yang intensif, karena itu Grael harus segera cepat ditangani untuk keselamatan ibu dan juga bayi yang dalam kandungannya.
Erlangga langsung menghubungi Joshua, Rangga dan juga Marvin, karena di saat dia baru saja tiba di ruang rawat inap sang istri ketiga pria itu tidak ada sama sekali.
Ya, karena Karina dan juga Gracia memilih pulang ke rumah Erlangga dan Grael untuk beristirahat dan bergantian dalam menjaga, istri Erlangga.
"Ada apa?" tanya sang ayah pada Erlangga.
"El, masuk ke ruangan intensif!" jawab Erlangga yang panik seraya mondar-mandir di depan ruangan Ekstra
"Ya Tuhan! Kok bisa?" Marvin pun terkejut mendengar ucapan dari adik iparnya perasaannya menjadi gusar saat terasa bersalah menggelitik di relung hatinya.
__ADS_1
"Rangga mana?" tanya Josua.
"Erlangga datang sudah tidak ada Rangga, justru Er yang tanya sama kalian! Kenapa kalian bisa ninggalin Grael? Hah!" bentak Erlangga kepada Joshua dan juga Marvin.
Joshua merasa bersalah, dia meminta maaf kepada sang anak karena sudah mempercayakan Grael pada Rangga. Begitu juga dengan Marvin, dia tengah sibuk mengirim kabar pada asistennya untuk menangani sejumlah klien dan membatalkan rapat.
"Kan bisa di ruangan itu tanpa meninggalkan, El! Ya Tuhan ...."
Erlangga benar-benar tidak habis pikir dengan ketiga pria yang dia percayai untuk bisa menjaga sang istri, ingin rasanya dia melampiaskan marah kepada ketiga pria itu tetapi dia masih menyadari bahwa saat ini tengah berada di rumah sakit.
Paling penting adalah kondisi sang istri yang saat ini masih ditangani oleh dokter, karena itu dia terus berusaha bersabar dan berdoa kepada Tuhan untuk keselamatan Grael dan calon anaknya.
Sementara Joshua terus menghubungi Rangga karena sampai saat ini anak itu sulit dihubungi. Perasaannya semakin bersalah ketika melihat terus Erlangga menangis sembari berdoa meminta pada sang pencipta untuk keselamatan menantunya dan calon cucunya.
"Er, tenang! Grael orangnya kuat, dia pasti bisa melewati semua ini!" Joshua mencoba menenangkan perasaan Erlangga yang sedang kalut dengan emosi dan juga rasa sedih.
"Bagaimana Er bisa tenang, Pih! Di dalam sama Grael sedang bertarung nyawa sama calon anak El!" bentak Erlangga dengan kesal kepada Joshua saat air matanya terus keluar.
"Merasa bersalah? Seharusnya Papi memang harus merasa bersalah karena sudah meninggalkan Er!" bentak Erlangga. "Denger ya Pi, kalau kejadian ini ada sangkut pautan sama Papi dan juga Rangga, El tidak akan Pernah maafin Papi seumur!"
Deg, jantung Joshua seakan begitu sakit mendengar perkataan dari putranya karena memang dia sama sekali tidak tahu menahu apa yang sedang terjadi dengan menantunya.
Joshua terpaksa meninggalkan Er pada Rangga demi mengurus administrasi menantunya, dia tidak menyangka apa yang dia lakukan ternyata berakibat fatal.
Marvin yang mendengar ucapan dari Erlangga begitu mengerti posisi adik iparnya itu, terlebih lagi memang sejak dulu hubungan Erlangga dan juga Ayah sekaligus adik iparnya tidak baik.
"El, Gua janji, akan menangkap siapapun pelakunya dibalik semua ini!" janji Marvel kepada Erlangga.
"Ingat ucapan Er, Pih!" Erlangga langsung menjauh dari Joshua dia terus memanjatkan doa yang mengalir tiada henti untuk keselamatan istri tercinta.
__ADS_1
Setelah beberapa menit Rangga pun datang dengan tergesa-gesa, dia menanyakan kondisi kakak iparnya pada ketiga pria yang tengah menunggu di depan pintu ruangan intensif.
Erlangga langsung mendekat ke arah Rangga untuk memberi pelajaran pada adik tirinya, satu bogeman pun meluncur di pipi Rangga dan berhasil membuat adiknya itu tersungkur ke bawah seraya mengeluarkan darah.
"Ya Tuhan, Er! Sabar, tenangin emosi! ingat ini masih di rumah sakit!" pinta Marvin yang mencegah mereka berdua untuk bertengkar.
"El, sabar, El!" ucap Josua agar putra pertamanya mau bersabar.
"Apaan sih? Salah gua apa?" Rangga pun tidak kalah emosi saat tiba-tiba datang mendapatkan bogeman mentah dari sang kakak.
Jelas Marvin mencoba mencegah mereka agar tidak membuat keributan, sedangkan Joshua menahan tangan Rangga agar tidak ikut terpancing emosi yang dibuat oleh Erlangga.
"Lo, pakai nanya salah lo apa? Lo tau, gara-gara lo, kondisi Er kritis!" ucap Erlangga yang ngegas. Tubuhnya terus dihalangi oleh Marvin agar tidak mendekat ke arah Rangga.
"Apa? Kritis? Ya Tuhan!" Rangga langsung terkejut mendengar ucapan dari sang kakak.
"Ya, semua itu karena gara-gara lo, karena kalian bertiga! Kalau sampai Grael kenapa-napa, Jangan harap bisa menunjukkan wajah kalian bertiga di sini!" tegas Erlangga yang sudah kalut akan emosi.
Rangga pun menjadi merasa bersalah ketika meninggalkan kakak iparnya saat berbicara pada asisten pribadi. dia meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada Erlangga atas apa yang sudah terjadi.
Satu kesalahan besar sangat fatal bagi Rangga karena sudah membuat wanita yang begitu penting dalam hidupnya selama ini dalam bahaya.
Ketiganya pun sama-sama berdoa, panjatkan dan meminta mukjizat pada Pencipta. setelah itu Erlangga langsung bergegas mencari informasi tentang siapa yang sudah berhasil membuat sang istri dalam keadaan kritis.
"Permisi, siapa suami pasien atas nama Grael Arabella?" tanya salah satu pihak rumah sakit yang mendekat ke arah keempat pria tersebut.
Erlangga langsung berdiri dari duduknya dan bertanya, "Iya saya! Ada apa?"
"Mohon ikut saya!" pinta pria tersebut yang menyuruh Erlangga untuk ikut dengan dirinya mengenai kasus yang terjadi.
__ADS_1
Ketiga pria itu saling tatap menatap melempar pandangan saat Erlangga ikut bersama pihak yang bertanggung jawab di rumah sakit, berharap bawa kabar baik datang pada Erlangga.
To Be Continued...