
...Warning!!...
...Adegan dalam episode kali ini mengandung unsur dewasa, harap bijaklah dalam membaca!...
Sudah hampir satu jam Grael berada di dalam kamar mandi, dia tetap enggan untuk keluar dari sana. Gadis itu menggrutuki kebodohannya sendiri yang lupa membawa baju ganti ketika berada di kamar mandi.
"Kan, dodol banget gue! Masa iya, gue cuma pake handuk ini? Aaakkh ... gimana dong?" Grael menggigit ujung kukunya.
Akhirnya dia memutuskan untuk membuka pintu kamar mandi dan melihat ke arah Erlangga yang sedang duduk manis di atas tempat tidur sembari memainkan ponselnya.
"Ehem! Hmmm ... itu, boleh tidak keluar dulu?" ucap Grael. Dia hanya memperlihatkan kepalanya sedikit dari balik pintu.
Erlangga masih saja memaku melihat dengan asik pada layar ponselnya tanpa menanggapi ucapan dari sang istri. Dia justru memasang gigi putihnya ketika bola matanya masih menatap pada benda pipih yang ada di tangannya.
"Iiish ... dicuekin!" ucap Grael pada batinnya sendiri. Tubuhnya yang sudah gemetar, tidak dapat lagi menahan rasa dingin lebih lama di dalam kamar mandi, dia pun berteriak lebih kencang. "Kak Erlangga ... buruan! Aku kedinginan."
"Kenapa aku harus keluar?" tanya Erlangga yang akhirnya buka suara.
"Karena ... a–aku ... a–aku, ma ... lu," sahut Grael dengan intonasi suara yang pelan.
Erlangga menurunkan kakinya ke lantai, dia berjalan mendekati Grael dari balik pintu. Tanpa memperdulikan raut wajah sang istri ketakutan, Erlangga membuka pintunya dan melihat sang istri hanya mengenakan handuk kecil sebatas paha.
"Ma–mau apa?" Grael memasang kewaspadaan dengan memegang kuat-kuat ujung handuk yang ada di bagian dadanya.
Debaran jantung Erlangga perlahan semakin kencang, saat bola matanya melihat belahan dada Grael begitu membangkitkan hasrat nalurinya, ditambah paham mulus yang terpampang jelas di matanya.
Erlangga menelan saliva-nya dengan kasar, ketika mangsa sudah ada di depan mata, tapi hati kecilnya berusaha mengingatkan dia akan sesuatu. Tangannya mulai meraih sesuatu pada Grael, sehingga membuat sang empu memejamkan matanya.
"Kak, ja–ja–jangan dulu! Nanti aja ... se–setelah Kakak mandi!" gugup Grael sembari memejamkan matanya.
Erlangga tertawa begitu senang mendengar penuturan dari istrinya, dia pun langsung mengambil handuk dari atas kepala Grael kemudian mendekat ke telinga istrinya.
__ADS_1
"Emangnya ... setelah aku mandi, kita mau ngapain?" bisik Erlangga yang membuat sang istri salah tingkah dengan mendorong tubuhnya dan langsung lari keluar dari kamar mandi.
Degup jantung Grael begitu kencang, dia menutup raut wajahnya untuk menahan rasa malu atas ucapan yang dia lontarkan. Suara tawa Erlangga masih saja terdengar di telinganya. Dia langsung membuka isi lemari yang ada di hadapannya sebelum Erlangga selesai mandi.
"Astaga!" Mata Grael membulat seketika, dia mengobrak-abrik isi lemari tersebut dan hanya melihat baju tidur yang kekurangan bahan.
Grael mengambil salah satu baju tidur lalu dia pakai ke tubuh sembari melihat ke arah kaca besar, meskipun baju tidur yang dia pilih itu sudah paling tertutup. Namun, tetap saja tubuh lekuknya sangat terlihat jelas.
Bagian belahan dada Grael dengan payuudara yang terlihat menonjol, bagian paha yang hanya tertutup kain transparan dan hanya sebatas paha. Membuat dia merasa malu membayangkan akan terjadi apa malam pertamanya dengan seorang artis terkenal yang dulu pernah dia idolakan.
"Aakkhhh!" Grael berteriak pelan sembari berlari ke arah tempat tidur dan memasukan kepalanya ke dalam selimut.
Grael pun bangun, lalu mengembuskan napasnya yang disertai senyuman. Dia bergegas ke arah cermin untuk menyisir rambutnya dengan cepat. Agar saat Erlangga selesai mandi, dia sudah tertidur dengan menutupi tubuhnya dengan selimut.
Suara pintu yang ingin terbuka terdengar jelas di telinga Grael, dia pun berlari menuju tempat tidur lalu menutupi tubuhnya dengan selimut sampai ke kepalanya.
Grael memasang telinganya dengan tajam, agar bisa mendengar langkah kaki Erlangga. Akan tetapi dia sama sekali tidak mendengar suara yang menunjukkan sang suami membuka lemari pakaian.
Tidak ada jawaban dari sang istri, Erlangga pun melanjutkan membuka lemarinya untuk mengambil baju tidur. Namun, belum sempat Erlangga mengambil baju tidurnya. Tiba-tiba suara Grael mengejutkannya.
"Aakkk ... kecoa! Ada kecoa!" Grael membuka selimutnya lalu berjingkrak-jingkrak ketakutan di atas kasur sembari membuka selimut yang ada di tubuhnya.
Hal itu, tentu saja membuat Erlangga langsung melihat ke arah Grael yang sedang ketakutan, matanya langsung melihat aset paling berharga Grael yang begitu menonjol yang sedang berguncang hebat akibat pemilik tubuhnya sedang melompat-lompat ketakutan.
"Itu! Itu kecoa!" Grael menunjuk ke arah selimut yang berantakan dan memeluk lengan Erlangga.
Mata Erlangga hanya pokus melihat sentuhan hangat di lengannya, ke dua aset milik Grael begitu sempurna menempel di lengan ototnya yang kekar.
"Kak! Iihh ... buruan, usir kecoanya!" bentak Grael yang masih bersembunyi di lengan kekar suaminya.
"Iya, iya!" ucap Erlangga yang mendapat dorongan dari Grael.
__ADS_1
Selimut itu diambil oleh Erlangga, tetapi dia tidak menemukan hewan yang ditakuti oleh sang istri. "Mana? Enggak ada juga!"
"Ta–tadi, barusan ada!" ucap Grael yang membuka lebar selimut itu. Namun, ternyata hasilnya nihil.
"Buktinya enggak ada kan?" Erlangga mengambil selimut dari tangan Grael, sehingga dia bisa melihat kembali lekuk tubuh sang istri dengan leluasa.
Rambut hitam lurus yang panjang, belahan dada yang terlihat jelas dan sedikit menyembul keluar. Serta celana G-string yang dia kenakan begitu transparan memperlihatkan gundukan kenyal pada bagian belakang yang sintal. Membuat jakun Erlangga naik turun dan sesuatu yang ada dibalik handuk pun seketika ikut menegang.
Grael yang melihat sorot mata Erlangga, langsung menyadari bahwa dirinya sudah menjadi mangsa oleh tatapan sang suami, dia pun menutupi bagian dada dan bawahnya dengan kedua tanganya.
"Kak Erlangga! Balikin selimutnya!" teriak Grael dengan sangat kencang, dia berusaha merebut kembali selimut dari tangan Erlangga.
Terlihat jelas tangan Erlangga menjauhkan selimut itu agar Grael tidak bisa menangkap selimutnya, dia pun tertawa senang ketika umpannya berhasil dimakan oleh mangsanya.
Tangan Grael masih berupaya menggapai selimut yang ada di belakang Erlangga, hingga membuat jarak di antara mereka begitu dekat, dan pada saat itu handuk yang dikenakan oleh Erlangga terlepas dan jatuh ke bawah.
"Aaakkk!" teriak Grael begitu kencang saat melihat benda pusaka milik Erlangga yang menjuntai panjang dan bersiap bertempur.
Sontak Erlangga langsung menutup mulut sang istri dengan tangannya sembari menyelimuti diri mereka berdua dengan selimut itu, memberi alasan bahwa ruangan tersebut tidak memiliki kedap suara.
"Sstt ... jangan kencang-kencang! Nanti yang lain bisa dengar!" dusta Erlangga kepada sang istri, dengan bodohnya Grael pun menurut dengan ucapan Erlangga.
Ke dua mata pun saling melihat satu sama lain, saat mereka berada di dalam selimut yang sama. Erlangga yang kehabisan kata-kata hanya terdiam, sesaat dia menikmati debaran jantung di hatinya di kala dirinya yang tidak memakai sehelai benang pun dan melihat Grael hanya mengenakan lingerie seksi.
Tidak mau membuang kesempatan emas ada di depan mata, perlahan Erlangga mendekatkan wajahnya ke arah Grael sembari merasakan deru napas yang begitu berat akibat menahan gejolak hasrat yang sudah mengalir di seluruh tubuhnya.
"Ya Tuhan, apakah aku harus benar-benar memberikan hak suamiku sekarang? Aku benar-benar takut!" batin Grael berkata sembari berucap.
Bibir Erlangga pun berhasil mengecup lembut bibir Grael sekilas, dia melihat mata sang istri terpejam. "I love you!"
Erlangga langsung mengecup kembali bibir sang istri, hingga bibirnya mellumat lembut dan penuh penekanan. Tak lupa juga tangan Erlangga menarik pinggang Grael agar lebih dekat dengannya, kemudian tangannya menuntun tangan Grael agar bisa merangkul lehernya.
__ADS_1
To be continued...