Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
79. Sakit


__ADS_3

"Kak, Lo ... nggak apa-apa? Mukanya pucat lo," tegur Emira ketika dia bertemu Grael saat membawa buku tugas dari guru.


"Nggak apa-apa," sahut Grael yang tersenyum lemah.


"Yakin? Badan lo, juga panas kali, Kak! Sini, gue bantu bawaain!" Emira menyentuh kening Grael lalu mengambil buku paket dari tangan Grael.


"Thanks ya!" ucap Grael.


Mereka pun pergi ke ruang guru, begitu sampai mereka juga berpapasan dengan Rangga. Emira melihat raut wajah Rangga yang begitu dingin dan enggan untuk menatap Grael, begitu pun sebaliknya Emira melihat Grael seakan biasanya saja.


"Kak, kalian lagi nggak berantem kan?" tanya Emira yang pura-pura lugu tidak mengetahui hubungan Rangga dan Grael.


Grael pun menarik napas pelan lalu menceritakan bahwa dia sebenarnya bukan kekasih Rangga melainkan hanya mantan, dia juga meminta kepada Emira agar tidak menyangkut pautkan Rangga dengannya lagi.


Emira mengerti, dia pun menutup mulutnya dan tidak menanyakan hal apapun tentang Rangga. Namun, Emira mengkhawatirkan kondisi Grael, dia menyuruh Grael untuk pergi ke ruang UKS karena wajahnya begitu pucat dan terdapat lebam ringan di pipi Grael seperti bekas tamparan.


"Gue nggak apa-apa, Emira! Terima kasih atas perhatiannya, gue balik ke kelas duluan," ujar Grael, dia pun melangkahkan kakinya menuju kelas.


Selama di sekolah, Grael sama sekali tidak fokus ke dalam mata pelajaran, nilainya pun berkurang. Pikirannya terus mengarah ke Erlangga yang sampai saat ini belum tahu keberadaanya, dia mencoba mengubungi Rio tapi tidak di balas hanya mengabari bahwa Erlangga baik-baik saja.


Setelah bel pulang sekolah berbunyi, Grael pun bergegas pergi ke perusahaan Grup Jaya. Dia nekat untuk menemui suaminya ke perusahaan terbesar di kota tersebut hanya demi menyelamatkan rumah tangga.


Ini pertama kalinya Grael menginjakkan kakinya di perusahaan besar tersebut, dia pun membayar taksi yang dia kenakan dari sekolahan sampai tempat tersebut, lalu melihat bangunan yang menjulang tinggi dengan luas yang sulit untuk di katakan.


"Grup Jaya," ucap Grael saat melihat plang yang begitu besar pada bangunan tersebut.


Sungguh mewah dengan desain bangunan gedung yang sangat menakjubkan, sentuhan arsitektur yang sangat tinggi. Tidak jarang orang yang mengetahui perusahaan Grup Jaya yang sangat terkenal, banyak orang yang berbondong-bondong untuk melamar pekerjaan di Grup Jaya karena jaminan yang mengiurkan.


Grael pun menarik napasnya dalam-dalam untuk menetralisir hawa gugup ketika ingin memasuki perusahaan tersebut dengan penampilan yang masih mengenakan seragam sekolah.

__ADS_1


Langkah kaki Grael mulai masuk ke dalam gedung saat pintu otomatis terbuka, dengan raut wajah yang pucat dia mendekati resepsionis untuk bertanya.


"Permisi, Mbak! Saya mau ketemu, Pak Erlangga, raungannya di mana ya?" tanya Grael dengan intonasi suara yang begitu lemah.


"Maaf, apa sebelumnya sudah ada janji?" tanya penjaga resepsionis dengan ramah.


"Saya ... belum ada janji," jawab Grael.


”Kalau belum ada janji, mohon maaf belum bisa menemui Pak Erlangga, karena Beliau begitu padat jadwal hari ini," ucap penjaga resepsionis.


"Ah, gitu ... makasih, ya, Mbak!" Grael pun begitu kecewa ternyata apa yang selama ini dia tonton di film-film sama, begitu susah menemui orang penting dalam perusahaan tersebut.


Grael memutuskan memilih untuk pulang ke rumah orang tuanya untuk sementara waktu, sesaat kepalanya merasakan pusing yang begitu menyakitkan ketika dia ingin berbalik badan, dia tersadar bahwa hari ini dia hanya makan sedikit untuk mengisi perut kosongnya.


"Kuat, Grael!" ucap pada dirinya sendiri ketika tanganya memegang keningnya untuk meredakan rasa sakit pada kepalanya.


Erlangga terlihat baik-baik saja, bahkan Grael bisa menangkap senyum yang begitu mengembang di wajah suaminya ketika wanita cantik bertubuh seksi itu berjalan di sampingnya seraya melontarkan candaan kepada Erlangga.


Sorot mata Grael langsung menangkap mata Erlangga yang juga melihatnya, sesaat dia mematung ketika Erlangga dan Rio begitu juga wanita cantik itu berhenti tertawa dan berhenti tepat di hadapannya.


"Siapa, Er?" tanya wanita cantik itu yang merangkul lengan Erlangga.


Sudut bibir Grael yang pucat tersenyum ketika melihat tangan wanita itu merangkul mesra pada lengan suaminya, dia tidak menyangka bila sang suami hanya terdiam tidak menjawab pertanyaan dari wanita bertubuh seksi itu.


Hanya satu helaan napas pelan, Grael menurunkan tasnya lalu mengeluarkan buku serta pulpen yang dia sodorkan di depan Erlangga. "Aku hanya penggemarnya, boleh minta tanda tangan?"


Suara itu begitu lemah hingga sampai tidak terdengar oleh Rio dan juga wanita itu, Grael mencoba menarik tangan Erlangga untuk menandatangani apa yang dia pinta. Dapat Grael rasakan sorot mata Erlangga berubah berkaca-kaca.


"Thanks," ucap Grael mengambil buku dan bolpoin dari tangan Erlangga ketika sang suami sudah menandatangani bukunya, dia pun tersenyum sembari menepuk bahu wanita itu dengan lembut. "Thank you for making him smile!"

__ADS_1


Grael langsung meninggalkan mereka begitu saja sembari menguatkan hatinya agar tidak menangis saat itu juga, dan menguatkan pada dirinya sendiri agar tidak tumbang ketika masih berada di dalam gedung itu.


Sakit, begitu sakit yang Grael rasakan saat ini, dia membuang bukunya ke dalam tong sampah ketika dia sudah mendapatkan tanda tangan suaminya sembari meneteskan air mata yang sudah tidak terbendung lagi, kemudian memanggil taksi.


Sementara itu, Erlangga mengepalkan tangannya begitu kuat sembari mengeraskan rahangnya. Terlihat jelas raut wajah Grael begitu pucat serta luka memar pada pipi kiri sang istri, dia juga merasakan tangan sang istri begitu panas saat menyentuh tangannya.


"Er?" tegur Rio, dia mengisyaratkan agar Erlangga mengejar sang istri.


"Yo, siapkan jadwal rapat pertemuan bagian Tim A dan Tim B!" tegas Erlangga yang kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam lift.


Rio pun menatap kepergian Grael lalu mengikuti Erlangga masuk ke dalam lift, begitu juga wanita seksi itu yang bernama Sherly—sekertaris sekaligus anak dari Tuan Hans—kolega Josua.


"Yo, hubungi Pak Beni!" perintah Erlangga dan langsung di mengerti oleh Rio


Sangat terlihat jelas di mata Rio, bahwa Erlangga menahan air matanya saat melihat sang istri, entah sedalam apa Grael menabur garam pada luka Erlangga sehingga sahabatnya itu bersikap sangat dingin terhadap Grael.


"Kak, wanita bodoh itu sedang sakit? Pipinya terdapat memar bekas tamparan keras, apakah Erlangga melakukan KDRT terhadap dia?" pesan Emira yang baru saja dibaca oleh Rio.


Sontak Rio terkejut dengan pesan yang dikirim oleh sang adik, dia pun langsung memasang amarah kepada Erlangga. Begitu sampai di ruangan kerja Erlangga, Rio menyuruh Sherly untuk menyiapkan berkas yang akan digunakan rapat sore ini kemudian mendorong Erlangga dengan sangat keras.


"Apa yang Lo perbuat sama Grael?" Rio menatap tajam ke arah Erlangga ketika mereka sudah berdua dalam ruangan itu.


"Maksud Lo, apa?" Erlangga mendorong balik tubuh Rio.


"Gue tahu, Lo marah, kecewa sama Grael! Tapi jangan pernah kasar apa lagi KDRT sama istri Lo!" Rio menunjuk dada Erlangga dengan satu jemarinya.


"KDRT?" Erlangga menatap heran ke arah Rio yang dia sendiri tidak mengerti maksud dari manager sekaligus asisten pribadinya.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2