
Suara kegaduhan begitu memadati area parkir halaman rumah sakit, di mana tempat istri sang pewaris tengah dirawat. Berita langsung menyebar dengan cepat menjadi topik hangat pada pagi hari di negeri itu sampai ke negeri tempat Grael dan Erlangga berasal.
Erlangga mencoba mematikan saluran televisi, maupun media lainnya melalui ponsel agar sang istri tidak merasa keganggu dengan berita-berita yang tengah terjadi. Dia tidak mau membahayakan janin yang di kandung Grael karena itu dia memilih untuk menjauhkan segala apapun yang berbentuk media sosial dan pembicaraan mengenai berita saat ini.
"Makan dulu, ya!" Erlangga mengambil satu prong makanan. Namun, belum sempat dia menyuapi sang istri, gejala morning sickness kembali menyerang dirinya saat di pagi hari dan hal-hal tertentu. "Maaf, Yank!"
Erlangga menaruh piringnya kembali lalu bergegas menuju kamar mandi, mengeluarkan segala isi perutnya yang dia makan saat malam hari. Ya, di malam hari dia makan begitu lahap tanpa tersisa. Akan tetapi, saat di pagi hari, rasa mual terus menyerangnya.
"Sayang, kamu nggak apa-apa kan?" tanya Grael saat ingin turun dan membantu sang suami.
"Jangan turun, Yank! Tetap di sana! Aku nggak apa-apa," ucap Erlangga yang melarang sang istri agar tidak ikut membantunya.
Tubuh yang terasa begitu lemas Erlangga rasakan, menikmati gejala hamil simpatik dari sang istri. Tidak bisa dibayangkan oleh dirinya apabila yang dia alami dirasakan oleh sang istri di saat kondisinya yang masih lemah.
Mata terpejam untuk menetralkan rasa mual pada lambung, Erlangga benar-benar menikmati masa gejala seorang wanita yang hamil di usia trisemester pertama. Demi sang buah hati dan juga istri tercinta dia ikhlas menjalankan apa yang dia rasakan saat ini.
"Sayang, minum air hangat dulu kalau sudah!" teriak Grael saat tidak tega melihat kondisi suaminya.
Erlangga pun keluar lalu mengambil segelas air hangat untuk dia minum, seperempat air dalam gelas berukuran sedang langsung diminum oleh Erlangga hanya beberapa kali tegukan. Dirinya langsung rileks ketika mencium aroma terapi dari minyak hangat yang selalu dia bawa.
"Uuuh, kacian si Daddy!" Grael mengoleskan minyak hangat pada sang suami sembari dia pijit secara perlahan.
"Eh, jangan, Yank! Sudah, kamu istirahat saja!" pinta Erlangga.
Pada saat itu juga ketukan pintu terdengar di telinga mereka berdua, Grael dan juga Erlangga melihat siapa yang datang san ternyata Karina dan juga Gracia.
__ADS_1
"Mama? Kak Cia? Ya ampun, kok kalian bisa ke sini sih?" tanya Grael yang begitu senang. "Kalian sama siapa ke sini?"
"Ya, tentu saja sama Kak Marvin," ucap Gracia pada sang adik."Selamat ya, atas kehamilannya! Di jaga baik-baik jangan sampai kecapean!" ujar Gracia pada sang adik.
"Loh, Kak Marvin ya mana?" tanya Erlangga yang terus menghirup aroma terapi.
"Di luar, karena ada pembatasan tidak boleh lebih dari tiga orang," ucap Karina.
Erlangga pun memutuskan untuk keluar dari ruangan, membiarkan sang istri bercengkrama menyalurkan rasa rindu pada sang Ibu dan juga kakaknya. Lantas pergi menemui Marvin yang berada di luar ruangan.
Di sana Erlangga bertanya-tanya pada kakak iparnya ketika Gracia tengah mengandung apakah Marvin mengalami apa yang dia rasakan? Hanya saja jawaban dari pria berstatus kakak iparnya tersebut mengatakan bahwa dia sama sekali tidak mengalami hamil simpatik karena waktu Gracia hamil yang merasakan hamil simpatik adalah Grael.
Oleh karena itulah, Erlangga menganggap bahwa sang istri tengah hamil saat meminta buah mangga di rumah Karina. Tidak hanya itu Erlangga pun menceritakan tentang apa saja yang dia rasakan saat ini, biarpun begitu pewaris yang beberapa bulan ke depan akan menjadi seorang ayah bersyukur dan menikmati apa yang dirasakan.
"Er!" teriak Josua pada pada Erlangga. Lelaki tua itu berjalan lebih cepat dari biasanya menghampiri sang anak.
"Papi? Kok bisa cepat ke sininya?" tanya Erlangga.
"Itu tidak penting! Di mana ruangan anak Papi?" tanya Josua pada Erlangga.
Tanpa ragu, Erlangga memberitahu di mana letak ruangan Grael di rawat. Namun, dia juga memberitahu bahwa di dalam sudah ada Karina dan juga Gracia yang menandakan bahwa Joshua harus bersabar untuk bisa menemui istrinya.
Sementara Rangga langsung menangis memeluk sang kakak, hatinya tidak menyangka bila wanita yang dulu sempat singgah di hatinya, mungkin masih tersisa rasa cinta pada Grael langsung memeluk Erlangga dengan erat.
"Selamat ya, Kak!" ucap Rangga yang memberikan selamat pada Erlangga.
__ADS_1
"Istri Lo, mana? Kok nggak di ajak?" tanya Erlangga pada sang adik.
"Ah, dia di rumah, karena kan sekolah belum sempat ke sini!" Rangga duduk di samping sang kakak dan juga Marvin. Ingin rasanya mengeluh pada Erlangga agar segera pulang ke tanah air, tetapi rasanya sangat tidak mungkin karena kondisi Grael harus benar-benar dijaga ketat.
Begitu Gracia dan Karina keluar dari ruangan Grael, kini giliran waktunya Rangga dan juga Joshua untuk masuk ke dalam ruang rawat inap menantu kesayangan pewaris.
"Ay!" Rangga langsung berhamburan ingin memeluk kakak iparnya tersebut tetapi bajunya sudah ditarik lebih dulu oleh Erlangga.
"Tidak boleh macam-macam!" seret Erlangga pada baju adiknya.
Rangga pun hanya bisa tersenyum saat Erlangga masih saja begitu posisi terhadap dirinya, meski dia sudah memiliki seorang Istri tetap saja rasa cemburu itu tidak bisa dihilangkan dari dalam diri seorang pewaris besar.
Joshua bercengkrama dengan Grael melampiaskan rasa rindu mereka dengan berbagi cerita yang menarik. "Cukup istirahat yang banyak dan penuhi kebutuhan nutrisi kamu saat sedang hamil, karena nutrisinya jauh lebih besar saat Grael belum hami.
"Terima kasih, Pih!" ucap Grael.
Sementara di posisi lain, Kylie tengah berpikir keras bagaimana caranya untuk menyingkirkan calon pewaris yang tengah dikandung oleh Grael. Asisten pribadinya masih berada di penjara sedangkan dia terus mencari cara agar bisa berhasil merebut atas apa yang selama ini dia sudah sampai pada tahap ini.
Pasalnya setiap kali Kylie menanyakan kapan Emira hamil, menantunya selalu bilang masalah waktu karena istri Rangga masih sekolah jadi dia enggan untuk hamil di usia muda.
Oleh karena itulah, Kylie semakin kesal dibuat oleh Emira, saat menantunya itu tak kunjung juga memberikan dia cucu. Kylie teringat akan seseorang di mana dia yakini akan bisa membantu melancarkan rencananya untuk merebut semua harta warisan Joshua.
Joshua dan Rangga ketika mereka berada di luar negeri untuk menjenguk Grael, dan meninggalkan para istri mereka. Kylie justru sibuk untuk melenyapkan bayi yang di kandung Grae
"Aku tidak akan tinggal diam dan membiarkan anak itu lahir dengan selamat!" Kylie mematahkan sebuah lilin yang termbuat tubuhnya .
__ADS_1
To be continued...