
Mentari pagi mulai menampakan dirinya yang mulai menyapa wajah seorang wanita yang masih terpejam, melalui sela-sela gordeng. Begitu nyaman dia berada di dalam dekapan Erlangga.
Grael membuka matanya secara perlahan, matanya menangkap wajah tampan yang baru saja menikah denganya, dia pun tersenyum seraya mengusap lembut pipi Erlangga dengan jemari lentiknya.
Ada kemiripan pada wajah Erlangga dengan Rangga dan itu membuat Grael menghentikan aksi mengusap wajah sang suami, dia berusaha untuk menampik semua bayang-bayang Rangga dalam pikirannya dan mencoba untuk berdamai dengan hatinya bahwa dia tidak ditakdirkan untuk Rangga.
Grael pun melanjutkan aksi menyentuh pada wajah tampan tersebut, mulai dari mata, hidung hingga ke bagian bibir Erlangga. Ingatannya pun kembali saat di mana dia menyerahkan seluruh dirinya untuk Erlangga, pergulatan panas di ranjang bersama seorang artis terkenal yang pernah dia idolakan.
Pipi Grael langsung merah merona, tangannya menarik selimut untuk menutupi wajahnya yang tersipu malu, menyadari bahwa ternyata dia pun menikmati permainan Erlangga.
"Good morning!" ucap Erlangga dengan suara ciri khas orang baru bangun tidur, dia masih memejamkan matanya tetapi tangannya langsung melingkar ke area perut sang istri.
Erlangga semakin mengeratkan pelukannya di dalam selimut, dan mendaratkan kecupan di kepala Grael. Dia sudah tahu bahwa istrinya sudah bangun lebih dulu dan menjelajahi wajahnya.
Erlangga pun ikut masuk ke dalam selimut untuk melihat raut wajah istri yang tersipu malu, dia tersenyum lalu mendaratkan bibirnya ke bibir Grael.
"I love you!" ucap Erlangga, dia menatap manik mata sang istri lalu mencium leher Grael seraya menjelajah tubuh istrinya kembali dengan tanganya.
"Kak! Perutku lapar," keluh Grael yang mencoba menghentikan tangan Erlangga.
"Sebentar saja," mohon Erlangga dengan tatapan yang memelas.
Grael pun menganggukan kepalanya dan kembali merangkul kepala sang suami, membiarkan Erlangga menikmati ke dua benda kenyalnya secara bergantian.
"Aaah ... Kak, pelan!" pinta Grael dengan suara pelan, ketika Erlangga menggigitnya dengan gemas.
Di sela-sela pemanasan mereka yang mereka lakukan di pagi hari, tiba-tiba seseorang masuk begitu saja tanpa permisi ketika pintu kamar mereka ternyata tidak terkunci.
"Ngga ... Papi ma—"
"Astaga ... ternyata kamu benar-benar enggak bisa nunggu Grael lulus sekolah, ya!" Josua kembali membalikan tubuhnya ketika melihat anaknya sedang melakukan pemanasan di pagi hari.
Grael pun langsung bersembunyi di tubuh sang suami saat Erlangga dengan sigap melindungi tubuh polos sang istri, dia begitu kesal dengan Josua yang mengganggu aktifitas paginya.
__ADS_1
"Astaga, Papi! Papi itu kenapa sih?" Erlangga mengusap wajahnya dengan kesal.
"Buruan pake baju kamu! Papi tunggu di bawah! Ingat, Papi enggak suka menunggu lama!" bentak Josua yang melangkahkan kakinya keluar dan menutup pintu.
Erlangga yang tidak peduli dengan ucapan Josua kembali mencumbu sang istri dengan lembut, kini tanganya mulai meraba ke area bagian sensitif sang istri.
"Buruan ... Ngga!" Josua kembali membuka pintu sembari meninggikan suaranya.
"Astaga! Iya!" Erlangga pun mau tidak mau menghentikan niatannya yang ingin mengulang kembali adegan panas bersama Grael.
Melihat raut wajah kesal sang suami Grael hanya tertawa dengan pelan, sangat terlihat jelas bahwa sang suami masih menginginkannya, tapi apalah daya, saat mereka harus menunda dan segera keluar.
"Mau mandi bareng?" tanya Erlangga.
"Hah? Enggg ... nggak usah, duluan aja! Kakak kan sudah ditunggu sama Papi," saran Grael.
"Ok." Erlangga mengecup bibir Grael sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah mendengar pintu kamar mandi tertutup, Grael langsung memasang wajah meringis nya karena menahan sakit di sekujur tubuhnya terutama di bagian area sensitifnya. Pandangannya tertuju pada noda merah di samping yang dia duduki. Itu menandakan bahwa dia sudah sepenuhnya milik Erlangga.
Grael terus meringis kesakitan sembari bangun secara perlahan untuk menyiapkan baju suaminya. Pintu kamar mandi pun terbuka, tampak Erlangga yang sudah dalam keadaan segar setelah mandi, raut wajahnya pun benar-benar kelihatan senang.
"Terima kasih, Sayang!" Erlangga memeluk tubuh istrinya yang masih terlilit selimut untuk menutupi tubuh yang masih polos.
Hanya senyuman yang menjawab setiap kata keluar dari mulut Erlangga baik itu panggilan sayang ataupun kata-kata cinta, karena dirinya masih belum bisa membalas ungkapan cinta Erlangga.
Jemari lentik Grael sangat telaten mengancingkan kemeja pada Erlangga, dia pun mengusap bahu sang suami dengan seuntaian senyum.
"Dah, buruan temui, Om Josua!" suruh Grael saat tugasnya melayani suami sudah selesai.
"Papih, Yank ... bukan, Om!" ucap Erlangga yang membenarkan perkataan sang istri.
"Iya, Papi! Dah ... buruan sana, temui dulu! Aku mau mandi." Grael mendorong perlahan tubuh Erlangga agar segera keluar dari kamar.
__ADS_1
"Sun-nya mana?" Erlangga menunjuk bibirnya agar dicium oleh Grael.
Senyum Grael selalu ditampilkan di wajah Erlangga, kemudian dia berjinjit untuk mencium bibir sang suami, Erlangga pun menahan tengkuk leher Grael agar tidak hanya sekedar mengecup sesaat, tetapi mellumat lebih lama.
"I love you!" ucap Erlangga yang lagi-lagi hanya mendapatkan senyuman di bibir istrinya.
Erlangga memang sengaja terus mengucapkan kata cinta pada Grael semenjak resmi menikah dengan wanita yang masih remaja itu, walaupun dia tahu bahwa sang istri tidak membalas cintanya dan senyuman yang terukir dari wajah istrinya hanyalah semata-mata untuk menyenangkan hatinya.
Tidak masalah bagi Erlangga, ketika Grael tidak membalas ungkapan cintanya, yang terpenting bagi Erlangga, sang istri sudah mau berkata jujur akan belajar mencintainya dan sudah menyerahkan diri seutuhnya pada dia.
Setelah melihat Erlangga sudah keluar dari kamar tersebut, Grael pun bergegas mandi. Langkahnya yang sedikit tertatih membuat dirinya malu saat terlihat oleh Erlangga.
"Astaga!" Grael memandang dirinya dipantulan cermin, begitu banyak tanda merah kebiruan pada sekujur tubuhnya bekas hisapan Erlangga, dia menyadari bahwa artis yang selama ini terkesan alim jarang mengambil adegan dewasa dan begitu lemah lembut di depan para Fans ternyata begitu beringas saat di ranjang.
"Permisi, Nyonyah! Kami diperintahkan untuk melayani Anda!" ucap salah satu maid yang terdiri dari tiga maid bertugas untuk membantu Grael.
"Hah? Apa? Eh, tunggu ... jangan di buka selimutnya, aaakhh!" ucap Grael yang tidak percaya saat para maid sudah membuka selimutnya dan membersihkan tubuhnya.
***
Di ruangan tengah, semua sudah berkumpul menunggu kedatangan Grael, usai membicarakan soal perusahaan yang akan dipegang oleh Erlangga setelah Erlangga menyelesaikan film yang sudah dia tandatangani dan membicarakan tentang kesepakatan bahwa Grael tidak boleh hamil terlebih dahulu sebelum lulus sekolah.
Josua sungguh marah terhadap Erlangga yang telah melanggar janjinya untuk tidak menyentuh Grael sebelum lulus sekolah, nyatanya justru dia sudah melakukannya pada saat malam pertama.
"Pokoknya, Papi tidak mengijinkan mantu Papi tinggal di apartemen kumuh kamu! Papi mau, kalian berdua tinggal di rumah utama, keputusan Papi sudah bulat!" pinta Josua yang tidak mau berpisah dari Grael.
Erlangga sangat kesal dengan keputusan Josua, pasalnya dia tidak mau tinggal di rumah utama karena takut Grael selingkuh darinya, tuduhannya bukan ke arah istrinya tapi dia tidak percaya dengan Rangga, berbagai macam bayangan buruk terlintas di benak pikirannya, membayangkan saat dia jarang pulang karena syuting, Rangga mengisi kekosongan Grael.
"Aakkkh! Pokoknya Erlangga tidak setuju, Pih!" pekik Erlangga dengan kesal.
Karina dan Gracia hanya mendengar perdebatan ayah dan anak, mereka tidak mau ikut campur walaupun sebenarnya Karina ingin menyampaikan bahwa sebagai orang tua tidak berhak mengatur rumah tangga anak setelah menikah. Akan tetapi, Josua yang begitu menyayangi Grael melebihi sayangnya terhadap ke dua anak laki-lakinya sangat terlihat jelas di mata Karina.
Marvin yang berada di samping Gracia terus menahan tawanya saat mendengar Erlangga sudah berhasil melewati malam pertama dengan adik iparnya begitu sempurna, Gracia pun hanya mencubit lengan Marvin agar berhenti tertawa.
__ADS_1
To be continued...