
"Anjriet, Gay!" Rio langsung bangun dari tidurnya di pinggir pantai dan mengejar Erlangga yang berlari menjauh dari amukannya seraya tertawa.
Kedua pria itu yang awalnya saling melempar pukulan dengan emosi yang memuncak, kini di selimut oleh kehangatan canda dan tawa. Sudah lama sekali mereka tidak merasakan saat seperti ini.
Rio yang terus mengejar Erlangga dengan emosi saat dirinya tidak terima bila di anggap suka sesama jenis, sedangkan Erlangga terus tertawa sembari menghindar dari amukan sahabatnya, tidak lupa dia selalu meledek Rio membuat emosinya tambah memuncak.
Begitu Rio berhasil menangkap Erlangga, dia langsung mengarahkan kepala pewaris itu masuk ke dalam ketiaknya, dia jepit lalu diseret hingga keduanya terjatuh ke atas pasir yang selalu di sapu oleh air laut.
Keduanya tertawa bersama bersebelahan, di mana tubuh mereka diterpa ombak kecil. Mata mereka pun menyambut senja yang mulai berkilau dengan hembusan angin pantai yang menambah kesan manis tawa canda mereka.
"Sejak kapan lo suka sama istri gua?" tanya Erlangga yang begitu penasaran, sebenarnya dia tidak mau merusak lagi momen indah ini tapi rasa penasarannya cukup tinggi bila menyangkut soal sang istri.
"Sejak Lo terus-terusan mengerjai dia," ucap Rio dengan jujur lalu menatap raut wajah Erlangga yang cemburu.
"Apa Lo cemburu?" pancing Rio.
"Jelas bego!" Erlangga mendorong tubuh Rio agar tidak terlalu dekat dengan dirinya dan membuat sahabatnya itu terguling jauh.
"Si alan, Lo sendiri yang cari penyakit! Rese Lo!" Rio bangun dan duduk di samping Erlangga sembari memegang pinggang yang sakit.
"Kalau gua pinta buat Lo hapus rasa suka lo ke istri gua, bisa?" pinta Erlangga yang terus menatap ke arah matahari yang berwarna oranye.
"Tanpa Lo pinta, gua akan hapus rasa itu! Karena itu, cariin gua lubang dong!" Rio menggandeng tangan Erlangga dan menaruh kepalanya di bahu sahabatnya yang kekar itu.
Erlangga langsung terdiam mendengar ucapan sahabatnya yang meminta untuk dicarikan lobang, kepala Rio yang bersandar di bahunya bagaikan posisi mereka adalah sepasang kekasih yang begitu romantis.
"Sakit, Lo!" Erlangga langsung menjauhkan kepala Rio dengan jari telunjuknya agar tidak bersandar di bahunya.
__ADS_1
"Aah, gua mencoba dekat dengan Ernata, tapi dia menolak untuk pacaran, gua tanya lagi alesannya, karena dia mau langsung merrid, pas gua ajak merrid, dia bilang lagi cari imam yang bisa menuntunnya ke Jannah! Gua jadi bingung sebenarnya dia itu non muslim apa muslim sih? Di ajak pacaran nolak, di ajak nikah nolak, di sentuh cuma pegang tangannya juga nolak!" curhat Rio pada Erlangga.
"Kasian bener nasib, lo! Turut berduka gua!" Erlangga menepuk punggung sahabatnya dari belakang.
"Sedih kan, jadi gua!" Rio menertawai dirinya sendiri.
"Lo mau tahu nggak, fakta tenang Ernata?" tanya Erlangga.
"Apa?" Rio melihat ke arah Erlangga yang sedang menatap ke arah hamparan air laut yang luas.
"Ernata itu dulunya muslim sejati, dari kecil dia sudah terbiasa memakai pakaian syar'i, tapi semenjak ibunya meninggal, dia di bawa oleh papanya ke Perancis. Di sana, dia mendapat perlakuan kejam oleh Om dan Tantenya termasuk Papanya sendiri, bahkan agama sekarang yang dia anut adalah ajaran agama Papanya sampai akhirnya dia mengalami kecelakaan dan di ajak lagi ke tanah air untuk melanjutkan sekolahnya di sini!" ucap Erlangga yang bercerita panjang lebar.
"Tahu dari mana?" tanya Rio yang masih menatap Erlangga dari awal cerita sampai akhir cerita.
"Dari istri gua lah! Siapa lagi? Grael cerita karena emang sosok Ernata baik luar biasa, Walaupun Ernata terlahir anak orang kaya dia tidak sombong dan mau terus membantu istri gua dalam segala hal! Jadi, kalau Lo mau dia, Lo harus pindah agama dulu dan jadi Gus, biar diterima!" ucap Erlangga yang kini membalas tatapan Rio.
"Dah, jangan dipikirin, nggak usah harus jadi ustad, nanti gua cariin buat Lo, mau kaya gimana? Hitam, putih, langsing, gemuk, pendek, tinggi?" Erlangga merangkul sahabatnya.
"Yang jelas, gua maunya masih virgin!" celetuk Rio.
"Anjay! Di kasih hati minta jantung, Lo sendiri masih perjaka nggak?" Erlangga melirik ke arah aset Rio.
"Wwwiih, jelas dong! Mau buktiin?" Rio membalas tatapan Erlangga dengan membuka gesper yang melekat di pinggang.
"Anjriet, Lo! Gua normal, Nyet!" Erlangga menggeplak kepala Rio dengan kencang sehingga membuat sahabatnya kesakitan.
"Dah ahh, gua mau balik! Kasian istri gua!" ucap Erlangga yang bangun dari duduknya dan diikuti oleh Rio.
__ADS_1
"Oh iya, surat pengunduran diri lo, gua tolak! Berani lo keluar jadi asisten gua, jangan harap persahabatan kita bisa berlanjut!" ancam Erlangga yang membuka pintu mobil.
"Jangan, Er! Gua serius mau keluar, karena Papa sudah minta gua untuk tanggung jawab di perusahaannya, lagian kita masih tetap bersahabat, kalau bukan gua siapa lagi yang mau ngurus perusahaan kecil bokap gua?" ucap Rio yang masih berdiri di belakang Erlangga.
Erlangga terdiam sejenak, hatinya begitu berat melepas asisten, manager, sekaligus sahabatnya yang sudah bertahun-tahun selalu disamping memberinya support, dan arahan, karena sahabatnya itulah, dia bisa berada sampai di titik ini, bisa kembali mengambil alih perusahaan dan mendapatkan wanita yang dia cintai.
Air mata Erlangga jatuh, bagaimana bisa dia melakukan ke depannya tanpa Rio, karena sahabatnya itu pula yang sudah menemani dia dari titik nol dan sekarang harus melepaskannya untuk berkarier sendiri ketika dia sudah mendapatkan semuanya.
"Er, ayolah ... tugas gua udah selesai! Lo bukannya anak kecil lagi yang harus gua temenin, semua udah Lo dapet. Sekarang giliran gua, gua juga mau kaya Lo, usaha sendiri, mengelola perusahaan gua sendiri, pengen hidup berkeluarga kaya lo! Masa iya, gua jadi kacung Lo mulu? Gua juga mau hidup dan di pandang sukses, biar kelak istri gua nggak malu!" ucap Rio yang sedikit berteriak untuk menyadarkan Erlangga dari lamunannya.
Erlangga pun menghapus air mata yang keluar dari sudut matanya, dia menutup pintu mobilnya kembali lalu melihat ke arah Rio seraya berkata, "Gua masih butuh Lo, Yo! Gua nggak bisa tanpa, Lo!"
"Lo bisa, Men! Ayolah, Lo aja ngenjjot Grael bisa tanpa Gua!" Rio tertawa menasihati Erlangga, dia selalu saja bisa merusak suasana dengan banyolan ucapannya. Membuat Erlangga yang awalnya sedih dan berat hati tapi mendengar ucapan dari Rio dia berubah jadi kesal.
"Ok, gua terima surat pengunduran diri lo! Tapi ingat, kalau Lo butuh bantuan gua, apapun itu jangan sungkan-sungkan untuk datang ke gua!" ucap Erlangga dengan serius.
"Thanks, brother!" Rio memeluk Erlangga dengan erat dan Erlangga pun membalas pelukan Rio.
Erlangga masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobilnya menuju rumahnya, sepanjang perjalanan baru kali ini dia merasa kehilangan separuh jati dirinya yang pergi diri sisinya, tanpa terasa air mata pun menetas.
Bagaimana lagi, Erlangga tidak bisa selamanya menahan Rio untuk selalu berada di sisinya yang selalu membantunya, dia tidak mau egois untuk kebahagian sendiri, karena Rio juga mengorbankan perasaan untuk kebahagian dia.
To be continued...
bonus visual Rio
__ADS_1