Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
144. Divorce Me


__ADS_3

Apa yang baru saja Grael katakan membuat Erlangga terdiam, dia melihat ada emosi yang membara yang terlontar dari mata istrinya. Ya, dia tidak bisa mengelak bila kenyataannya memang dia tidur di samping Sherly, tapi juga di samping Rio, itu juga cuman beberapa menit setelah Beni datang dan membawa pergi bersama Rio.


"Heh, diam? Benar kan? Egois!" Grael langsung meninggalkan Erlangga begitu saja saat suaminya hanya terdiam. Namun, di saat Erlangga kembali mendekat dan mencegahnya. Grael pun mengancam lagi dengan mengarahkan pecahan kaca.


"El!" teriak Erlangga yang mengejar Grael menuruni tangga seraya berteriak, "Tutup pintunya dan jangan biarkan dia lolos!"


Sontak saja semua maid yang mendengar perintah dari tuannya segera menutup pintu keluar utama, dan beberapa bodyguard sudah memasang badan menjaga setiap pintu dan jendela.


"Lepas! Bereng sek kalian semua, buka pintunya!" maki Grael yang di tahan oleh kedua bodyguard Erlangga.


"Baji ngan! Kamu mau mengurungku? Sedangkan kamu bebas dengan pelacurmu itu? Hah!" ucap Grael menatap sinis ke arah Erlangga yang kian mendekat. Grael sudah tidak peduli dengan sopan santun terhadap suaminya yang sudah dinasihati oleh kakak dan ibunya, karena hatinya sendiri sudah hancur saat Erlangga menyiksanya memaksa hubungan badan lalu ditinggalkan begitu saja dan pergi ketempat wanita lain.


Tatapan amarah Erlangga sudah tidak terbendung lagi saat wanita yang dia cintai berani berbicara kasar padanya, hingga suara tamparan keras mendarat di pipinya.


"Nyonya!" teriak Rara saat melihat tuannya menampar keras pipi majikannya. Rara pun hendak mendekat ke arah Grael tapi ditahan oleh Anne. Hatinya begitu sakit melihat Nyonya kesayangannya mendapat perlakuan kasar dari suaminya, dia menangis memeluk Anne karena tidak bisa menolongnya.


Sementara Grael, tubuhnya langsung lemas seketika. Dia tertunduk dengan rambut yang menutupi wajahnya, darahpun keluar dari sudut bibir ketika dia tertawa.


"Ck! Sekarang aku tahu, suami macam apa kamu! Kamu tuh egois Erlangga! I hate you, divorce me!" ucap Grael yang tertawa dan masih berani menatap Erlangga sampai dia mengucapkan kata yang sudah membuat darah Erlangga mendidih tawanya berheti, Grael memelankan kata terlarang seorang istri tidak boleh ucap dengan tatapan serius yang terpancar.


"Apa kamu bilang!" Erlangga mencengkam kuat-kuat kedua pipi Grael dengan satu tangannya yang kokoh, rahangnya mengeras dan menyuruh para bodyguard untuk melepaskan dan menjauh.


"Le–lepas! Sa–sa ... aaakhh!" Grael memukul-mukul tangan suaminya agar melepaskan cengkeramannya.


"Katakan sekali lagi!" bentak Erlangga dengan emosi yang naik pitam.


"Ce–ce ... aaakkhh!" rintihan Grael kesakitan saat dia ingin mengulangi kata itu kembali tapi Erlangga semakin mengeraskan cengkeraman tangannya.


"Tuan, saya mohon lepaskan Nyonya, Tuan! Kasian Nyonya, Tuan!" Rara yang tidak tahan melihat majikannya disiksa oleh Tuannya, langsung bersujud memohon pada Erlangga agar melepaskan Grael.


Erlangga melihat Rara memohon untuk Grael langsung memanas, dia pun menatap ke arah Grael yang enggan menunjukan rasa bersalah dan meminta maaf, hingga dia menghempaskan Grael begitu saja ke lantai.

__ADS_1


"Nyonya!" pekik Rara yang langsung memeluk Grael sembari menangis.


"Anne!" teriak Erlangga. Buru-buru Anne mendekat ke arah tuannya.


"Obati lukanya! Dan kamu Jack, jaga setiap ruangan dan jangan biarkan dia kabur dari sini!" Erlangga langsung masuk ke ruangan kerjanya.


Begitu Erlangga masuk ke dalam, Grael langsung pingsang dalam pelukan Rara. Tentu saja Rara langsung berteriak memanggil Grael agar bangun, sementara Anne langsung memanggil Erlangga kembali.


Tanpa mendengarkan kelanjutan Anne, Erlangga langsung membawa Grael ke dalam kamar yang di ikuti oleh Rara. Sesampainya di dalam kamar, Erlangga mengobati luka Grael, bukan hanya luka di wajahnya saja tetapi juga di area sensitifnya.


Sembari menunggu istrinya bangun setelah mendapat penanganan dari Dokter Nadin, Erlangga menggengam erat tangan Grael yang diinfus. Air mata pun jatuh dari pelupuk mata Erlangga, dia menyesali dirinya terlalu keras terhadap sang istri.


"Maaf," ucap Erlangga dengan lirih, dia tidak mau bila harus kehilangan sang istri hanya sebuah ego yang mempertahankan Sherly untuk tetap bekerja di kantornya, dia juga bingung alesan apa yang tepat untuk memecat Sherly sedangkan sekertaris itu berhasil meningkatkan 89% grafik keuntungan bagi perusahannya.


Sementara Josua lah yang merekomendasikan Sherly sebagai sekertarisnya, bukan hanya karena orang tua Sherly yang berteman dekat dengan Josua, tapi memang skill Sherly membuat Grop Jaya berkembang lebih cepat.


"Kamu tahu, posisi kamu itu sama percis dengan posisi Papi—kamu!" Kata-kata Nadin begitu jelas di ingatan Erlangga saat selesai mengobati Grael.


"Maksud Tante?" Erlangga mengerutkan keningnya.


"Apa kamu tidak tahu bahwa Mami tirimu dulu adalah sekertaris Aki-aki bau tahan itu!" bentak Nadin dengan kesal.


"Kylie?" ucap Erlangga yang memastikan.


"Dasar anak bodoh! Katanya kamu cari info tentang penyebab kematian Mami kamu! Tapi kamu tidak tahu bila nenek sihir itu adalah mantan sekertaris Aki-aki bangkotan!"


"Tapi, Papi bilang dia tidak selingkuh dari Mami, Tante! Dia cinta sama mami dan tidak pernah selingkuh!" elak Erlangga yang menyakinkan Nadin.


"Apakah kamu cinta dengan Sherly? Apakah kamu selingkuh dengan Sherly?" sindir Nadin agar otak Erlangga bekerja.


"Jelas Erlangga hanya cinta sama Grael! Mana mungkin Erlangga selingkuh dari istri yang Erlangga suk—"

__ADS_1


Tiba-tiba Erlangga teringat dengan ucapan sang Ayah yang sama percis yang diucapkan oleh dirinya sendiri, Erlangga pun menyadari hal tersebut kemudian Nadin memukul kepala keponakannya dengan keras.


"Buka mata kamu Erlangga, sebelum semua terlambat seperti Aki-aki bangkotan itu!" Nadin langsung memberi tambahan obat, vitamin penyubur kandungan untuk Grael.


Semua ucapan Nadin dalam ingatnya terus menyadarkan Erlangga, dia pun terus mengusap rambut Grael seraya mencium pipi yang memar akibat tamparannya.


"Maafkan aku, Sayang!" Erlangga pun langsung tertidur di samping sang istri seraya memeluknya.


Pagi pun tiba, Grael membuka mata secara perlahan ketika dirinya merasa terusik dengan kakinya terasa di sentuh oleh seseorang.


Tubuh Grael masih sangat lemas untuk menolak sentuhan pada kakinya yang membuat dia merasa rileks. Ya, dia melihat Rara sedang memijat kakinya dengan sebuah alat terbuat dari besi bulat yang di jalankan di telapak lakinya.


"Ra?" panggil Grael dengan lemah.


"Nyonya? Alhamdulillah ... Ya Allah!" ucap Rara yang menghapus air matanya lalu memberikan air hangat untuk Grael.


"Terima kasih, Ra!" ucap Grael yang tersenyum manis saat matanya mencari keberadan seseorang.


"Tuan sedang berada di dapur Nyonyah, lagi membuatkan bubur untuk Nyonyah," ucap Rara yang mengerti maksud Nyonya-nya.


"Saya tidak menanyakan dia, Ra! Saya tidak mau perduli lagi tentangnya, dan tidak akan tersentuh apapun yang Tuan kamu lakukan!" ucap Grael yang membuang arah pandangannya entah ke mana.


"Tidak baik seperti itu, Nyah! Maaf bila saya lancang, tapi Tuan sangat sayang sama Nyonya ... Semalam Tuan menangis melihat Nyonya pingsan, terus menemani Nyonya sambil terus meminta maaf. Tuan juga—"


"Ra, saya mau sendiri!" ucap Grael yang menghentikan ucapan Rara sebelum telinganya panas mendengar pujian untuk sang suami.


"Maaf, Nyonya!" Rara pun menunduduk dengan perasaan sedih.


"Bilang sama Tuan kamu, aku tidak mau di ganggu!" timpal Grael sebelum Rara menutup pintunya.


To be continued.

__ADS_1


__ADS_2