Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
148. Mau mangga


__ADS_3

Pukulan mendarat tepat di wajah Erlangga, hingga pewaris itu terkulai lemas, dia juga mendapat pukulan di sekujur tubuhnya ketika Josua menghakimi secara emosi.


"Pih, El sakit karena telat makan, bukan karena Kak Erlangga!" tegas Grael meski dirinya masih belum pulih. Namun, sekuat tenaga dia mencoba untuk memisahkan Josua dari Erlangga.


"Jangan pernah kamu belain laki-laki seperti dia!" Josua masih mencengkram sekuat tenaga kerah baju Erlangga lalu kembali berucap, "Sekarang kamu tinggal sama, Papi!"


"Nggak! Dia istri, Er! Er yang berhak atas dirinya!" ucap Erlangga dengan tegas meski darah sudah keluar dari sudut bibirnya.


"Istri? Apakah karena dia istri kamu sehingga kamu bisa sesuka hati kamu?" maki Josua yang kembali menampar Erlangga dengan keras.


Grael hanya melihat perkelahian sang ayah dengan anak, ada sedikit kasian melihat suaminya di pukuli seperti itu. Namun, rasa sakitnya masih ada. Sehingga dia hanya bisa terdiam seraya menangis.


Sementara Rangga yang melihat Grael duduk di kursi roda melihat Erlangga dipukuli oleh Josua langsung menutup mata lentik wanita itu, dan memutar kursi roda Grael agar menghadap ke arahnya.


"Its oke, ada aku! Sorry, aku telat datang!" Rangga berjongkok di hadapan Grael, dia mengusap air mata Grael lalu memeluk Kakak iparnya itu.


Grael hanya tersenyum lemah saat melihat Rangga ada di depan matanya, seraya menunjukkan bahwa dia akan baik-baik saja setelah pemuda itu datang.


"Aku antar kamu ke kamar, ya?" Rangga melepas pelukannya dan mengantar Grael ke kamar.


Setiap langkah Rangga, dia melihat seisi ruangan pada rumah tersebut, begitu banyak barang, yang di sukai oleh Kakaknya, tetapi kenapa sang kakak masih bisa menyakiti wanita yang sempat singgah dihatinya?


Padahal Rangga tahu, bila wanita yang dia bawa saat ini tidak mungkin membuat seorang Erlangga bisa tega berbuat kasar pada istrinya sendiri.


"Lepasin istri gua!" Erlangga langsung memukul Rangga hingga adiknya itu terjatuh ke lantai.


Ya, Erlangga langsung mengejar Grael saat melihat Rangga membawanya ke lantai atas. Dia berhasil lolos dari amukan Josua dan menghajar sang adik melampiaskan rasa kesalnya ketika matanya melihat Rangga memeluk Grael.


"Cukup, Kak! Haruskah Kakak memukul Rangga? Dia adik kamu!" bentak Grael yang menangis.


"Dia sudah meluk ka—"


"Aku bilang cukup! Belum puas kamu? Apalagi mau kamu? Kamu melarang aku untuk tidak dekat dengan pria lain, Ok! Kamu bebas dengan wanita lain aku juga, Ok! Apa lagi? Hah!" bentak Grael prustasi.

__ADS_1


"El, bukan itu—”


"Aku mau pulang," ucap Grael dengan lirih.


Erlangga tertawa, kemudian berjongkok di hadapan sang istri. "Mau pulang? Ini rumah kamu, Sayang!"


"Pih, El kangen sama Mama ... boleh, El minta di anterin ke Mama?" ucap Grael dengan suara lirihnya.


"El!" Erlangga berdiri dan berdacak pinggang.


Josua tersenyum puas, dia pun mendorong kursi roda Grael menuju pintu luar sebelum Erlangga menahannya.


Benar saja, begitu Erlangga tersadar, dia langsung menahan Josua agar tidak membawa istrinya pergi. Dia bersimpuh di kaki Grael seraya memeluk pinggang sang istri dengan derai air mata.


"Yank, maafin aku, Yank! Semua sudah aku lakukan buat kamu! Katakan padaku apalagi yang harus aku lakukan, agar kamu tidak pergi tinggalkan aku?" Erlangga tidak perduli bila imagenya hancur di mata Rangga dan Josua ketika dia menangis dan bersimpuh di kaki seorang wanita yang tak lain adalah istrinya sendiri.


Rangga mendekat ke arah sang kakak yang menangis bersimpuh di kaki Grael, dia paham betul bagaimana rasanya di posisi Erlangga, karena dulu dia pernah melakukan hal seperti itu saat meminta Grael agar tidak pergi darinya.


"El, gua mohon sama Lo! Maafin, Kakak, gua!" Rangga ikut bersimpuh di hadapan Grael membuat Josua tidak percaya dengan apa yang di lakukan Rangga.


"Walaupun Grael memaafkan Erlangga, tetap saja, Papi akan membawa Grael pergi!" sahut Josua dengan ketus.


"Pih! Jangan seperti itu, Papi mau kalau Papi dipisahain sama Mami? Nggak kan?" Rangga mulai membela Erlangga.


"Kamu itu ya, sok ikut campur urusan rumah tangga orang!" balas Josua.


"Loh, Papi sendiri apa? Bukannya sama aja ini?" balas Rangga yang tidak mau mengalah.


"Enak saja, Papi hanya mau menyelamatkan menantu Papi dari Buaya burik seperti Erlangga!" Josua kembali meninggikan suara membuat Grael tertawa mendengar kata umpatan untuk suaminya.


Erlangga yang awalnya sedih menjadi lega ketika melihat sang istri tertawa, meskipun hanya sesaat. Begitu juga dengan Rangga, dia pun mulai memancing Grael agar bisa tersenyum kembali.


"Kata siapa Kak Erlangga buaya burik? Hah? Papi kalau ngomong suka benar! Kak Erlangga bukan burik Pih!" Rangga mulai mendalami perannya supaya Grael tertawa.

__ADS_1


"Terus apa? Kalau bukan buaya burik?" tanya Papi yang tahu maksud Rangga.


"Korengan!" ucap Rangga dengan keras, tentu membuat Erlangga langsung bangun dan membela dirinya.


"Anjriet bacot Lo, tahu dari mana gua korengan?" bentak Erlangga.


"Papi mau lihat? Di pantaat kak Erlangga banyak korengan! Kalau Papi nggak percaya liat aja nih!" Rangga berusaha membuka resleting Erlangga agar cellana itu bisa lepas dari pinggang sang Kakak.


"Buka paksa Ngga! Papi yang rekam, biar semua para Fansnya tahu kalau artis idola si buaya burik mereka punya korengan!" Josua langsung memulai merekam aksi Rangga yang terus mengejar Erlangga agar bisa menurunkan cellananya.


Tentu saja Grael tertawa melihat ketiga pria yang berkuasa atas Grup Jaya, sampai akhirnya ketiga pria itu terdiam mendengar suara tawa wanita yang duduk di kursi roda.


"Yank, kamu sudah maafin aku kan?" Erlangga kembali berjongkok dihadapan Grael seraya menyentuh tangan sang istri.


Grael terdiam kemudian menangis dan membuat Josua dan Rangga ikut panik dan bingung melihat Grael yang menangis usai tertawa.


"Ay, kamu nggak apa-apa kan?" tanya Rangga.


"Yank, kenapa? Ada yang sakit? Yank, ngomong dong!" Erlangga tambah bingung.


"Aku mau ... pulang!" Grael tambah kencang menangis di hadapan Erlangga.


"Ya Tuhan, Yank! Aku minta maaf, please jangan seperti ini, aku nggak bisa tanpa kamu! Katakan sama aku, aku harus apa agar kamu mau maafin aku?" ucap Erlangga yang sudah frustasi.


"Aku udah maafin kamu kok! Aku cuma mau pulang!" ucap Grael yang sesuaikan.


"Ya kalau kamu sudah mau maafin aku kenapa masih mau pulang? Ini rumah kamu, Sayang!" Erlangga menghapus air mata istrinya.


"Aku cuma mau makan buah mangga yang ada di belakang rumah Mama!" Grael kembali menangis seperti seorang anak kecil yang tidak tercapai keinginannya.


"Ya Tuhan!" ucap serempak ketiga pria yang sudah dibuat pusing oleh Grael.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2