Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
12. Kedatangan Artis


__ADS_3

"Dek, Mama dan keluarga Pak Louis sudah membicarakan soal pertemuan keluarga, jadi ... setelah acara lamaran kakakmu, kita di undang makan malam di rumah mereka." Karina duduk di samping Grael yang sedang menonton televisi.


Grael pun hanya mengangguk sembari mengambil keripik buatan ibunya, saat tangannya menyentuh bibir, dia teringat akan ciuman pertamanya tadi sore dengan Rangga di pinggir pantai. Begitu manis dan lembut.


Sampai dia langsung menutupi wajahnya yang tersipu malu dengan bantal sofa, sang ibu yang melihat tingkah anak bungsunya yang aneh langsung menepuk Grael agar segera tersadar.


Hanya senyuman yang terpancar di bibir Grael saat ibunya melihat penuh curiga, sang ibu pun hanya mengerutkan keningnya saat melihat tingkah anaknya yang aneh, dia memilih kembali ke dapur untuk melihat kue yang sedang di oven. Tiba-tiba suara ketukan pintu berbunyi, Grael yang tengah asik menonton film bioskop transparan langsung segera melihat jam yang menunjukan pukul 08 : 40 pm.


"Siapa sih?" tanya Grael pada dirinya sendiri, dia pun berjalan secara perlahan untuk membuka pintu.


Grael pun mengintip terlebih dahulu dari balik jendela, dia melihat sosok pria yang tengah berdiri di depan pintu rumahnya, dan ternyata pria itu adalah Rio, manager Erlangga.


"Kak Rio, ada apa ke sini?" tanya Grael yang membuka pintunya.


Rio melihat kaki Grael yang di perban, Grael yang mendengar ibunya bertanya siapa yang datang, bingung harus menjawab apa. Hingga akhirnya, sang ibu menghampiri mereka di depan pintu.


"Cari siapa, Nak?" tanya Karina yang begitu kawatir melihat pria tampan datang ke rumahnya.


"Ah, saya Rio manager Erlangga. Mohon maaf sebelumnya, karena kita datang malam-malam untuk menjenguk saudari Grael yang katanya sedang sakit pada kakinya." Rio mengulurkan tangannya kepada Karina.


Karina yang masih bingung dengan ucapan Rio hanya membalas uluran tangan dan mempersilahkan untuk masuk terlebih dahulu, tetapi Rio memperkenalkan Erlangga sebelum dia masuk ke dalam rumah Grael.


"Ah, maaf Bu, saya datang kesini bersama sahabat sekaligus artis saya, Erlangga." Rio menggeser tubuhnya saat Erlangga mendekat ke arah Karina.


Grael yang tidak percaya dengan Erlangga yang benar-benar datang kerumahnya, membulatkan mata dan menutup mulutnya. Begitu juga dengan Karina, dia terlihat syok melihat artis papan atas yang hanya dia ketahui di televisi, bisa mau datang ke rumah gubuk tuanya.


"I-ini ... beneran, Nak Erlangga?" tanya Karina yang memastikannya kembali.


"Iya, apa boleh saya masuk?" tanya Erlangga kepada Karina.


"O-oh, ya ... boleh, bo-boleh ... silahkan masuk." Karina menyuruh kedua pria itu langsung masuk.


"Gak! Gak boleh!" bentak Grael yang melarang masuk ketika kaki kanan Erlangga sudah masuk ke dalam rumah.


Karina, dan kedua pria itu terdiam mendengar larangan dari Grael, Karina pun bertanya kepada anaknya. "Kenapa gak boleh masuk?"


Grael pun menjelaskan kepada Ibunya, bahwa saat ini sudah malam, dan tidak baik bertamu malam-malam. Rio yang mendengar alasan Grael mencoba untuk menjawab, mereka tidak bisa pulang dengan alasan mobilnya mogok dan mereka juga sudah melapor kepada ketua RT setempat.


Mendengar ucapan Rio, Grael hanya pasrah membiarkan sang ibu yang terlihat senang dengan kedatangan Erlangga menyambutnya dengan hangat. Erlangga yang tersenyum puas sembari mengangkat kedua alisnya ke arah Grael, berlalu masuk kedalam dan duduk di sofa ruang tamu bersama Rio.


"Maaf ya, kalau tidak nyaman datang ke rumah Grael, oh ya ... mau minum apa? Tapi, di rumah ibu hanya ada air putih, teh sama kopi," ucap Karina yang menawarkan kepada kedua pria tersebut.


"Oh, gak apa-apa Bu ... nanti juga akan terbiasa," ucap Erlangga yang keceplosan.

__ADS_1


Mendengar ucapan dari Erlangga, membuat ketiga orang yang berada didekatnya menjadi terdiam. Menyadari dia sudah salah berucap, Erlangga langsung memberikan verifikasi karena Grael adalah asisten pribadinya, pasti otomatis mereka akan sering berkunjung.


"Oh ya sudah, kalau gitu biar Grael yang buatkan air minumnya." Karina menyuruh Grael yang masih berdiri di depan pintu untuk segera ke dapur membuatkan minuman.


"Mah, kaki Grael kan masih sakit!" tolak Grael dengan cemberut yang masih kesal dengan Erlangga.


"Gak usah Mah, ah .. maksud saya, Bu. Biar Manager saya aja yang membuatkan minuman, jika ibu berkenan untuk meminjamkan dapurnya kepada manager saya!" Erlangga mendorong tubuh Rio agar membuatkan air minum.


Karina menyuruh Grael untuk menemani Erlangga, sedangkan dia mengantar Rio untuk menemani membuatkan air minum, sembari menanyakan prihal anaknya yang bisa menjadi asisten Erlangga.


Grael hanya bisa pasrah menuruti apa kata ibunya dan memilih duduk lebih jauh dari Erlangga. Sang empu yang melihat penampilan Grael dari atas sampai ke kaki yang sakit, langsung mengukir senyumannya.


"Mau apa ke sini? Belum percaya?" tanya Grael dengan ketus.


Erlangga tidak menjawab pertanyaan dari Grael, dia justru mendekat ke arah gadis itu dan mengangkat kaki Grael yang diperban, dia menekan perban dengan jari telunjuknya dengan pelan, lalu menanyakan keadaan gadis tersebut.


"Eh, eh ... mau ngapain?" tanya Grael.


"Apakah sakit?" tanya balik Erlangga.


Grael hanya menjawab sedikit sakit dengan wajah yang malu karena kakinya berada di atas paha Erlangga, dia mencoba menurunkan kakinya tetapi Erlangga justru menahannya dan melihat lebih detail perban yang dibalutkan di pergelangan kaki gadis itu.


"Udah dibawa ke dokter ortopedi?"


"Belum, hanya dokter umum." Grael melihat raut wajah Erlangga yang mulai panik.


"Eh, gak usah! Ini cuma keseleo doang kok!" secara tidak sadar Grael memegang tangan Erlangga untuk tidak memesankan taksi.


Erlangga melihat tangannya dipegang oleh Grael, begitu senang sembari melihat raut wajah gadis itu yang merasa bersalah karena memegang tanganya dan perlahan melepaskan tangan dia dari gadis itu.


"Maaf," ucap Grael dengan suara yang pelan.


Dalam satu tarikan saja, Grael sudah berada di dalam pelukan Erlangga. "Jangan buat khawatir orang!"


Erlangga mendekapnya dengan erat dan mengelus rambut Grael, membuat sang gadis kesulitan untuk mencerna apa yang sudah diperbuat oleh Erlangga.


"Eeehhem!" Rio berdeham memberitahu agar mereka segera melepaskan pelukannya sebelum Karina datang melihat mereka.


Grael langsung mendorong tubuh Erlangga agar menjauh dan tidak lama kemudian, Karina datang membawa cemilan. Sang ibu pun mengucapkan terima kasih kepada Erlangga karena sudah memberikan pekerjaan untuk anaknya dan mau menjenguk Grael yang hanya sakit ringan.


"Sama-sama Bu, oh ya ... ini ada beberapa untuk ibu dan Grael." Erlangga menyuruh Rio untuk mengambil semua hadiah yang berada di bagasi mobilnya.


"Ya ampun ... banyak banget nak Erlangga!" Karina tidak percaya bahwa artis yang sering dia liat di televisi begitu baik hati dan dermawan.

__ADS_1


"Ya Bu, ini sebagai bonus karena Grael bekerja udah sangat giat selama ini, maaf kalau Grael sering pulang terlalu malam," ucap Erlangga dengan tulus.


Karina masih tidak percaya dengan barang-barang mahal yang begitu banyak di depan matanya, dia menerima barang semua barang tersebut karena Erlangga bilang ini adalah bonus dari hasil kerja keras Grael selama ini yang dia sendiri tidak dia ketahui.


"Ya sudah kalau gitu, ibu tinggal ke dapur ya, ibu lagi mau urus pesanan pelanggan ibu dulu. Ayo! Silahkan ngobrol, jangan malu-malu cicipi kue buatan Grael." Karina pergi ke dapur meninggalkan mereka.


Suasana menjadi hening, ketika Rio masih saja belum pergi dari tempat duduknya untuk meninggalkan dia bersama Grael. Erlangga pun berdeham untuk menyadarkan Rio agar mencari alasan untuk segera pergi, tetapi dia justru menikmati minuman dia dan mengambil kue bikinan Grael.


"Ehhhem! Yo, bisa beliin gue obat batuk gak? Di kota Paris?" Erlangga berdeham dengan kencang saat Rio ingin memasukan kue tersebut ke dalam mulutnya.


Rio yang ingin melahap kue tersebut, menaruhnya lagi ke atas piring dan menyeruput minuman yang dia buat. Setelah itu, dia pergi keluar meninggalkan Erlangga dan Grael berduaan di dalam ruang tamu.


"Udah makan belum?" tanya Erlangga.


"Udah," jawab Grael singkat.


"Udah minum obat?" tanya Erlangga yang mengambil kue Grael dan mengunyahnya.


"Udah!" jawab Grael sedikit menekan.


"Enak!" ucap Erlangga yang membuat Grael langsung senang.


"Serius? Enak? Kurang apa?" tanya Grael yang begitu semangat.


Erlangga langsung terdiam saat melihat Grael mendekat ke wajahnya untuk menanyakan soal rasa kue buatannya, dia mengunyahnya perlahan untuk memberikan komentar kepada Grael. Erlangga juga melihat raut wajah gadis itu tidak sabar menunggunya untuk memberikan saran.


"Seluruhnya enak, cuma—”


"Cuma?" Grael memperhatikan setiap ucapan Erlangga.


"Kurang banyak." Erlangga tertawa melihat ekspresi kesal pada gadis tersebut.


Di saat Erlangga sedang tertawa mengerjai Grael, tiba-tiba ada suara Karina meminta Grael untuk menutup keran mandinya yang patah. Grael pun berjalan ke arah kamar mandi dibantu oleh Erlangga yang memapahnya.


"Astaga! Coba sini biar Grael tutup." Grael melepaskan pegangannya dari Erlangga, tapi sang empu melarangnya agar dia yang mengerjakannya.


Grael yang tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Erlangga, seorang artis terkenal membetulkan keran air kamar mandi di rumahnya. Setelah selesai, Karina menyuruh artis tersebut untuk mengganti pakaian di kamar Grael, sontak membuat gadis itu langsung menahan Erlangga agar tidak masuk lebih dulu.


"Tunggu sebentar." Grael masuk ke dalam kamarnya dan menyembunyikan aset-aset kain berharga yang bertebaran di atas tempat tidurnya.


"Dah, masuk!" Grael membuka pintu kamarnya dan memberikan baju milik Kak Marvin yang masih berlebel dengan merek terkenal, lalu segera menutup pintu kamarnya.


Perasaan Erlangga langsung memanas seketika, ketika dia membuka bajunya dan ingin memakai baju yang berada di atas tempat tidur. Dia memutuskan untuk tidak memakainya sembari membuka baju lemari Grael.

__ADS_1


Wajahnya langsung tersenyum, ketika dia melihat kain berharga berbentuk kembar berada di dalam lemari yang tersusun rapih. Erlangga tidak menyangka bila Grael menyukai warna hitam.


To be Continued...


__ADS_2