Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
74. Semut Rang-Rang


__ADS_3

Hari ke dua MOS semua siswa ditugaskan untuk meminta tanda tangan kepada orang yang sama tanggal lahirnya dengan siswa yang meminta tanda tangan.


Semua para peserta pun merasa mengeluh sebab mereka tidak tahu tanggal lahir senior yang sama dengan mereka, karena itu Rangga memberi bocoran kepada para peserta data nama serta tanggal lahir. Namun, tidak beserta fotonya sehingga mereka harus mencari nama yang sesuai dengan tanggal lahir mereka masing-masing.


Mereka begitu antusias mencari nama yang ingin mereka minta tanda tangannya, karena waktu mereka terbatas hanya pada saat jam istirahat ke dua, jika mereka tidak bisa menemukannya, maka akan diberi sangsi dengan cara berjalan seperti kodok melingkari lapangan.


Waktu tersisa beberapa menit lagi, tetapi Emira justru tidak menemukan tanggal lahir yang sama dengannya, karena tidak tercantum di kertas yang diberitahukan oleh Rangga.


“Sial, kenapa giliran gue kagak ada yang sama tanggal lahirnya?” gerutu Emira dengan kesal. Dia sudah mencari di setiap sudut sekolahan, tetapi dia belum menemukannya.


Pada akhirnya akal pikiran Grael tertuju pada satu tujuan, senyumnya pun mengembang dan langkahnya segera berlari ke arah di mana orang itu berada.


Suara bangku yang digeser pun terdengar di telinga Rangga, Grael dan juga teman-temannya saat mereka sedang asyik tertawa di jam istirahat kedua. Emira duduk di samping Rangga lalu meminta tanda tangan pada ketua anggota tim MOS tersebut.


“Tanda tangan!” pinta Emira dengan ciri khasnya sebagai wanita yang tidak suka berbasa-basi.


Semua mata pun tertuju pada gadis berparas cantik dan berambut pirang tersebut termasuk Grael. “Emira, kamu sudah tahukan misi dan visi sekolah ini? Jadi kamu harus mematuhi peraturan tata Krama dan etikanya.”


“Oh, iya, lupa ... maaf kak, aku jadi canggung dekat sama Kak Grael,” ucap Emira dengan intonasi suara yang lembut, berbeda dengan berbicara ketika bersama Rangga.


“Kak Rangga, boleh aku minta tanda tangan kakak?” Emira pun memasang wajah senyum manisnya dengan intonasi yang seakan-akan dibuat lembut.


“Fan, temani gue ke perpus, yuk!” Rangga berdiri dari duduknya lalu mengabaikan Emira yang meminta tanda tangannya.


Emira pun tampak kesal lalu berdiri untuk memanggil Rangga. “Kak, aku minta tanda tangan! Kenapa aku malah dicuekin?”


“Kamu, memangnya sama tanggal lahirnya dengan Rangga?” tanya Ernata.


“Kak Rangga tanggal 22 Agustus kan?” Emira melihat ke arah Grael untuk memastikan ucapannya.

__ADS_1


“Ah, kenapa pada melihat ke aku?” Tunjuk Grael pada dirinya sendiri saat Ernata dan Emira melirik ke arah dia.


“Ah, tidak ... hanya saja, aku tahu kalau Kak Grael itu calon istri Kak Rangga,” ucap Emira yang berbasa-basi seraya tersenyum manis.


“Ah,” sahut Grael yang hanya tertawa canggung.


Ernata menyipitkan matanya saat Grael hanya tertawa, dia pun menyuruh Emira untuk berusaha meminta tanda tangan pada Rangga secepat mungkin bila tidak mau terkena hukuman.


Gadis berambut pirang itu bergegas mengikut ke mana perginya Rangga, dia berusaha membujuk Rangga dengan menjadi pesuruh pria itu untuk mengambilkan buku yang akan pria itu baca, bahkan mengelapkan bangku yang akan Rangga duduk.


“Kak,” ucap Emira selembut mungkin agar tidak berisik di perpustakaan. Namun, Rangga malah mengacuhkannya dengan berdiri dari kursinya lalu pergi keluar dari ruangan perpustakaan.


“Aaiissh ... Rang–Rang kurang asem dasar!” umpat Emira dalam hati.


Emira pun bergegas mengejar Rangga untuk mendapatkan tanda tangannya, satu langkah lagi dia berhasil menarik baju seragam Rangga. Namun, saat tangannya ingin menggapai baju seragam ketua MOS itu, Rangga justru menghindar dengan cepat. Hal hasil membuat Emira kehilangan keseimbangan dan melihat ke arah Rangga yang menatapnya dengan dingin.


Suara jatuh dari seorang gadis pun terdengar oleh siswa lainya dan itu memicu gelak tawa saat melihat Emira terjatuh dengan posisi yang membuat Rangga pun ingin tertawa.


“Aaaww! Sakit!” Emira merasakan sakit di seluruh tubuhnya, dia pun mengulurkan kembali tangan pada Rangga tapi sang empu enggan untuk membantunya berdiri, justru meninggalkannya begitu saja.


“Bangke!” maki Emira ketika semua menertawakan dirinya yang sudah terjatuh tidak mendapat pertolongan pula.


“Awas ya Lo, semut Rang-Rang! Gue pites, gue injek-injek sampai mati!” gerutu Emira dengan kesal ketika dia berjalan untuk kembali masuk ke dalam barisan anggota Grup.


Semua teman-teman Emira mendapatkan tanda tangan dan berhasil masuk ke dalam aula untuk tugas berikutnya, tetapi karena Emira tidak berhasil mendapatkan tanda tangan Rangga, dia pun mendapat hukuman untuk mengitari lapangan sembari berjalan seperti kodok.


“Ayo ... buruan! Lama amat begitu aja, katanya jago bela diri, tapi baru dua putaran Uda cape!” Rangga berdiri tepat di depan Emira yang sedang berjalan berjongkok sembari berkacak pinggang.


“Sial, awas Lo, gue balas!” ucap Emira dalam hati dengan raut masamnya.

__ADS_1


“Ngga, Veby berantem lagi tuh, sama Grael, di ruang UKS.” Irfan menghampiri Rangga yang sedang memberikan hukuman pada Emira.


“Kenapa lagi sih? Ya sudah, Lo pantau nih nenek-nenek, satu putaran lagi!” Rangga pun pergi ke ruang UKS untuk melihat Grael.


Emira pun merasa cemas mendengar nama Veby berantem dengan Grael, dia pun ingin memastikan apa yang sudah diperbuat oleh Veby pada Grael. Akan tetapi, Irfan masih terus mengawasinya.


“Belum kapok juga tuh, nenek sihir!” umpat Emira kepada Veby dalam hati.


Ruang UKS, Veby terus memaki Grael dengan segala umpatannya ketika Grael mencoba ingin mengobati luka pada sudut bibir Veby, Grael juga tidak tahu bila satu jari Veby yang ternyata patah akibat diinjak oleh Erlangga.


“Gue bilang jauhin gue! Apa Lo, budek Akkh? Gue tuh benci sama Lo, El! Jangan pernah dekat sama gue! Belum puas Lo, liat gue kaya gini? Ini semua gara-gara, Lo!” maki Veby seraya menangis.


“Apa salah gue sama Lo, By? Gue uda ikhlas in Rangga sesuai yang Lo, pinta! Gue uda menghindar dari Rangga mau di sekolah atau di rumah! Gue Cuma mau kita sahabatan kaya dulu lagi, gue sayang sama Lo, peduli! Apa lagi yang harus gue lakuin? Bahkan gue udah membatalkan pernikahan gue sama Rangga dan menikah sama Erlangga demi permintaan, Lo!” Grael menangis melihat keadaan temannya yang terlihat babak belur, Grael mengira bila luka di tubuh Veby akibat bulian dari teman-teman sekolah. Padahal ulah sang suami yang memberi hukuman pada Veby karena sudah berani menyentuh Grael.


“Peduli? Kalau Lo, peduli sama gue, jahuin gue!” bentak Veby kepada Grael karena takut dengan ancaman Erlangga.


Dari balik pintu UKS, ternyata Rangga mendengar semua percakapan Grael dengan Veby, hatinya begitu sakit ternyata Grael membatalkan pernikahan dengan dia dan menerima menikah dengan Erlangga karena Veby yang meminta.


Rangga pun mendobrak pintu UKS dengan kencang saat penjaga UKS tidak ada di ruangannya. Dia melihat Grael dan Veby yang terkejut akibat kedatangannya. Tangan Rangga pun langsung mencekik leher Veby dengan kencang di depan mata Grael hingga wanita itu kesulitan bernapas.


“Ya Tuhan, Rangga! Lepasin!” Grael memukul tangan Rangga agar pria itu bisa melepas cekikkannya.


“Sa–sakit!” keluh Veby.


Grael pun menggigit tangan Rangga agar pria itu mau melepaskan Veby, tetapi Grael sadar Rangga sangatlah tidak mempan dengan gigitan Grael, hingga akhirnya Grael mengambil tindakan yang semestinya tidak terjadi.


Grael menarik kepala Rangga lalu mencium bibir Rangga agar pria yang tersulut emosi itu bisa melepaskan Veby yang hampir kehabisan napas.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2