
“Surpise, baby!” ucap pria yang berjoget di belakang Emira sembari mengeluarkan dua tiket.
Senyum sinis pun mengambang di wajah Rangga ketika melihat senyum manis Emira ketika mendapat hadiah dari kekasihnya itu, dia pun memberikan umpatan tidak suka ketika melihat gadis itu mencium bibir pria itu di muka umum termasuk di depannya.
“Bang sat!” maki Rangga dalam hati dia pun menyenggol Emira dengan sengaja agar tidak terlalu lama mencium pria itu.
“Anjeng! Maksud, Lo apa? Hah!” Pria itu memaki Rangga ketika membuat Emira terjatuh dalam pelukan Rangga.
“Sorry, sorry! Gue sengaja! Eh, maksud gue, nggak sengaja!” Rangga tersenyum ke arah Emira dan juga pria itu.
“Kak Rangga?” panggil Emira yang baru sadar ternyata ada kakak kelas dia.
“Lo, nggak apa-apa kan? Ada yang terluka nggak?" tanya Rangga yang masih memegang tangan Emira.
"Nggak usah lama-lama, pegangnya!" bentak Steven—kekasih Emira.
Emira pun menyuruh Steven untuk bersabar karena dia mengenal pria yang menabraknya secara tidak sengaja menurut Emira.
“Gue, nggak apa-apa! Santai aja. Oh iya, kenalin ... Stev, ini Kak Rangga, Kakak kelas aku,” ujar Emira kepada kekasihnya.
“Rangga!” Rangga mengulurkan tangannya pada Steve sembari tersenyum akrab.
“Steven!” ucap Steven tanpa membalas uluran tangan Rangga dan langsung mengajak Emira untuk kembali duduk.
Rangga hanya memasang senyum sinisnya ketika mengetahui bahwa pria itu begitu posesif terhadap Emira, dia pun semakin tertantang untuk merebut milik orang lain seperti Erlangga yang merebut Grael darinya.
“Ck! Pecundang!” maki Rangga terhadap Steven. Dia pun kembali duduk bersama wanita yang ternyata kesal dengan Rangga karena sudah meninggalkannya begitu saja.
“Gue punya pekerjaan buat Lo!” bisik Rangga ketika menyuruh wanita itu menggoda Steven saat waktu yang tepat.
“Ok!” Wanita yang memiliki tubuh yang molek seperti gitar spanyol itu menjalankan aksinya ketika Steven meminta untuk pergi ke toilet.
“Hai,” ucap para laki-laki yang tidak dikenal oleh Emira datang mendekatinya saat Steven pergi.
“Boleh kenalan nggak?” tanya pria itu, yang menjulurkan tangan kepada Emira.
Emira tidak menanggapinya, dia hanya terus asik melihat sekitar ruangan club malam yang begitu ramai. Tidak peduli pria yang ada di depannya memberikan kata umpatan untuknya, dia hanya terus pokus melihat orang-orang yang sedang menikmati musik dengan raut wajah senang.
__ADS_1
“Hayolah, Cuma kenalan doang kok! Jual mahal banget, lagian cowoknya juga nggak tahu ini!” Colek pria itu pada pinggang Emira, sontak memancing amarah Rangga yang berada di belakang pria itu.
Langsung saja Rangga membalikkan bahu pria itu lantas menghajarnya di depan Emira, satu pukulan berhasil membuat pria itu terjatuh ke lantai dan membuat semua club tersebut langsung melihat ke arah sumber suara.
“Bang sat!” Rangga kembali memukul pria itu bertubi-tubi hingga akhirnya Emira menyuruh Rangga untuk segera menghentikan perbuatannya.
“Kak, Stop!” teriak Emira, dia menahan tangan Rangga agar berhenti membuat keributan.
“Emira!” panggil Steven, dia menarik tangan kekasihnya agar menjauh dari Rangga.
“Minta maaf!” pinta Rangga pada pria yang sudah babak belur dipukuli oleh Rangga. Pria itu masih bergeming hingga membuat Rangga berteriak, “Minta maaf!”
Rangga menarik baju pria itu untuk berlutut di kaki Emira sembari meminta maaf, suara deru napasnya begitu menggebu seiring dengan pandangannya yang melihat tangan Steven ke pinggang Emira.
“Maaf,” ucap pria itu dengan lirih sembari ketakutan.
“Yang keras!” bentak Rangga yang begitu kesal.
“Maafin gue!” teriak pria itu dengan suara yang lirih.
Tidak lama kemudian pihak keamanan datang untuk membubarkan dan mengeluarkan orang yang bersangkutan dalam keributan tersebut yang mengganggu pengunjung yang lainnya.
Tanpa mengucapkan rasa terima kasih, Steven langsung mengajak Emira untuk pulang, dia menahan lengan Emira agar tidak melambaikan tangan pada Rangga.
Melihat Emira dan Steven sudah menjauh, dia menyuruh wanita bertubuh seksi itu untuk keluar dari persembunyiannya lalu memberikan laporan pada Rangga.
Raut wajah Rangga langsung berubah menjadi senang ketika dia melihat hasil yang sesuai dengan keinginannya, dia pun mentransfer sejumlah uang pada wanita itu lantas masuk ke dalam mobil.
***
“Good morning, honey!” Suara bariton Erlangga terdengar jelas di telinga Grael, saat dia mengerjapkan mata.
“Morning too, My hubby.” Grael tersenyum lemah saat tubuhnya masih terasa panas dia rasakan.
“Apa kita perlu ke rumah sakit? Atau mau aku panggilkan dokter?” tanya Erlangga yang masih merasakan hawa panas pada tubuh sang istri.
“Nggak perlu, aku hanya ingin beristirahat sebentar,” elak Grael yang menolak secara halus untuk menghindari meminum obat.
__ADS_1
“Are you, sure?” tanya Erlangga untuk memastikan kedua kalinya.
Grael mengangguk serta mempererat pelukannya untuk meyakinkan sang suami bila dia akan baik-baik saja.
“Ok, kalau gitu ... aku juga mau berlibur sehari!” Erlangga membalas pelukan sang istri.
“libur sehari?” tanya Grael.
“Ya, kan kita mau bikin baby!” Erlangga berbisik di telinga Grael sembari mencium pipi sang istri yang masih terasa hangat.
Grael hanya tersenyum mendengar penuturan sang suami, untuk saat ini dia hanya bisa terdiam dan tidak memberikan komentar apa pun pada Erlangga tentang seorang anak.
Harapan Grael memang ingin memiliki seorang anak dari Erlangga tetapi dia juga memikirkan nasib masa mudanya, dia ingin menikmati masa-masa muda dengan penuh canda dan tawa bersama dengan teman-temannya, meraih impiannya setelah itu baru memiliki anak bersama Erlangga.
Akan tetapi, harapan tinggal harapan, ketika sang suami meminta anak dari Grael, dia pun hanya bisa terdiam berharap Erlangga mau mengerti dan bersabar untuk menginginkan seorang anak darinya.
“Mau sarapan apa? Aku akan bilang sama Chef James untuk memasak apapun yang kamu mau,” ucap Erlangga.
“Serius? Kalau gitu ... aku mau, bubur sumsum.” Grael memajukan bibirnya seperti anak kecil.
Erlangga melahap bibir ranum itu sekilas kemudian bangun dari tempat tidur dan memencet nomor telepon yang terhubung ke dapur. Dia menyuruh Chef James untuk menyiapkan makanan yang dia perintahkan.
Usai memberitahu, Erlangga langsung membantu sang istri mengelap tubuhnya. Sempat ada penolakan dari Grael saat tangan dia ingin mengelap tubuh mungilnya itu, tetapi Erlangga tetap memaksanya untuk menurut dan menjadi patuh selama di rawat oleh Erlangga.
Tangan Erlangga berusaha untuk mengikat rambut sang istri usai memakaikan baju pada Grael. Entah itu rapih atau tidak, setidaknya dia berusaha untuk menjadi suami yang baik untuk sang istri.
“Permisi, Tuan!” James mengetuk pintu kamar, dia pun membuka pintu setelah mendapat ijin dari sang pemilik kamar.
James mendorong troli yang berisikan aneka hidangan luar negeri yang begitu menggoda serta bubur sumsum sesuai yang Grael pinta.
Satu tangan James membuka penutup hidangan tersebut, lalu meletakkannya di atas meja, begitu selesai James pun berdiri di samping Erlangga untuk menunggu komentar Grael tentang masakkanya.
“Bagaimana? Apa kamu suka?” tanya Erlangga.
“Ehm,” sahut Grael, dia pun mulai menyukai masakan James ketimbang masakannya sendiri.
“Thank you, Nyonya!” James membungkukkan tubuhnya untuk memberi rasa hormat kepada Grael.
__ADS_1
To be continued...