Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
30. Unek-unek Erlangga


__ADS_3

Selepas Grael pergi, Rangga pun menyusul dengan mobil pribadi yang dia kendarai sendiri. Di pertengahan jalan, Rangga mengklason dan menghentikan mobil tersebut dan menyuruh Grael untuk ikut satu mobil dengan dia.


"Maaf, Tuan ... tapi, saya harus menjalankan tugas saya untuk mengantar Nona Grael ke tempat tujuan." Sopir pribadi itu melarang Rangga agar tidak membawa Grael.


"Udah tenang saja. Biar aku yang bilang sama papi, nanti." Rangga membuka pintu untuk sang kekasih.


Begitu sang gadis sudah masuk ke dalam dan duduk, tak lupa juga Rangga memakaikan sabuk pengaman kepada kekasihnya. Satu kecupan pun mendarat di kening Grael dengan seuntaian senyuman.


"Ok, siap berangkat Tuan Putri?" tanya Erlangga dengan suara ciri khas seorang pangeran.


"Kita, let's go!" ucap Rangga yang menancapkan pedal gasnya ketika mendapat anggukan dari Grael.


***


Susana malam hari di rumah Ernata begitu hangat dengan suara candaan dari teman-temannya yang tengah berkumpul di ruangan tengah. Ernata yang tengah sibuk menyiapkan minuman di dapur ternyata dibantu oleh Anjas.


"Thanks," ucap Ernata saat dirinya mendapat bantuan dari Anjas.


Anjas yang berstatus agamanya Islam memalingkan kontak mata saat kedua mata mereka saling bertemu, begitu juga dengan Ernata yang beragama non muslim, dia memilih untuk diam dan tidak terlalu dibawa perasaan.


"Hayo ... ngapain Lo berdua? Wah, gue gak nyangka sama Lo, Njas! Diem-diem nakal juga," ledek Irfan.


"Kebetulan ada Lo, bantuin bawain ya?" Anjas memberikan napan berisi minuman dan berlalu lebih dulu.


"Anjriet ... jadi kacung gue! Emang temen gak ada akhlak tuh, si asmara." Irfan terpaksa membawa minuman untuk teman-temannya.


"Nat, di rumah Lo ada kacung baru? Eh sekalian dong, pijitin kaki gue," ledek Veby saat melihat Irfan membawa nampan berisikan minuman.


"Silahkan diminum, ladies and gentleman." Irfan menendang kaki Veby dengan kencang dan menaruh gelas satu persatu pada temannya.


"Ini spesial buat kamu, dari aku." Irfan meletakan gelas di depan Grael.


"Ini spesial ... preett!" celetuk Veby saat menirukan omongan Irfan sembari mengelus kakinya yang terasa sakit ditendang oleh Irfan.


"Hai, udah! Kalau berantem terus kapan selesainya ini." Ernata dan Anjas secara tidak sadar bersamaan dalam berucap.


"Cie ...."


Semua tersenyum tak kalah melihat sesuatu yang menarik yang menjadi candaan mereka untuk mengisi kejenuhan saat belajar.

__ADS_1


"Ngga, ini gimana?" Veby mendekat ke arah Rangga dan mencoba menggeser tubuh Anjas saat dirinya mencoba bertanya soal pelajaran yang dia belum mengerti.


Rangga melirik ke arah Grael sekilas yang ada di sampingnya, mencari titik cemburu pada kekasihnya tersebut. Namun, Grael sama sekali tidak melihat ke arah Rangga, justru gadis itu masih pokus mengerjakan soal tanpa memperdulikan sekitarnya.


"Ngga! Issh, malah bengong, ini gimana?" tanya Veby.


"Ah, ini ... coba jabarin dulu pakai rumus baris aritmatika," ujar Rangga yang mau tidak mau menjelaskan kepada Veby dengan sabar.


"Oh, gitu ... kaya gini?" Veby terus bertanya pada Rangga, hingga membuat Grael merasa tidak nyaman mendengar suara Rangga yang begitu lembut memberikan penjelasan kepada Veby.


Grael pun mencoba bangun dari duduknya, tapi dicegah oleh Rangga lewat tangan satunya lagi ketika Rangga masih menjelaskan kepada Veby secara lembut. "Nah, ketemu deh hasilnya, ngertikan?"


"Oh, sekarang aku ngerti! Kalau ini juga sama?" tanya Veby yang menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Rangga.


"Yang mana? Oh yang ini? Kalau yang i—"


Rangga langsung melihat ke arah Grael ketika tanganya berhasil gadis itu lepas dengan paksa dan menjauh sembari mengangkat telepon dari ponsel Grael sendiri.


"Hallo?" panggil Grael ketika menjawab panggilan nomor dari Erlangga yang dia simpan dengan nama buaya belang.


"Hallo! Eh, cepet balikin punya gue ... sekarang!" bentak Erlangga yang terdengar mabuk berat.


"Apa? Baju?"


"Aaakhhh! Lo mau gue gimana lagi? Hah! Gue uda nunjukin rasa sayang gue sama Lo! Gue uda ungkapin rasa suka gue ke lu, tapi Lo tetap milih anak ingusan itu dari pada gue! Apa kurangnya gue? Hah!" Erlangga mengeluarkan segala unek-uneknya lewat telepon, tapi gadis itu sama sekali tidak menjawab, dia justru mendengar celotehan dari Erlangga.


Terdengar suara tangisan Erlangga dan suara Rio yang mencoba merebut ponsel Erlangga dengan paksa, lalu dengan suara yang senduh Rio meminta maaf kepada Grael agar tidak menghiraukannya.


"Dari siapa?" tiba-tiba suara Rangga mengejutkan Grael dari belakang.


"Astaga, Rangga! Bukan dari siapa-siapa!" Grael memasukan ponselnya lagi ke dalam saku celana.


"Kamu cemburu?" tanya Rangga yang mendekat ke arah Grael.


"Cemburu apa sih? Gak!" Grael mencoba untuk menjauh dari Rangga tapi kekasihnya itu terus mendekat ke arah dia.


"Ngaku!" pinta Rangga dengan senang.


Rangga terus mendesak ke arah kekasihnya, saat Grael mencoba untuk menghindar. "Ngga, awas gak! Nanti yang lain bisa lihat."

__ADS_1


"Ya, biarin aja lihat, jadi Irfan gak perlu repot-repot nembak kamu!" Rangga memasang wajah cemberutnya saat mengingat bahwa Irfan akan mengutarakan perasaanya pada Grael.


"Waduh, aku harus tampil cantik dong? Gimana penampilan aku? Udah cantik belum?" kali ini Grael mencoba untuk memancing Rangga cemburu.


"Jelek! Jelek banget! Awas kalau terima!" Rangga mengacak-acak rambut Grael menjadi berantakan dan mengigit pipi tembam sang kekasih untuk melampiaskan rasa kesalnya.


Grael hanya tertawa melihat Rangga pergi begitu saja setelah mengigit pipinya dengan gemas, sesaat dia kembali mengingat Erlangga yang begitu menghawatirkan.


Ada sedikit rasa sedih, bersalah, bercampur menjadi satu. Apakah dirinya begitu egois ketika dia sudah memiliki Rangga tapi hatinya mulai tergoyah oleh Erlangga.


"Sadar Grael, itu hanya rasa kagum sesaat! Oke ... jadi Lo harus pokus untuk hari H–nya sama Rangga." Grael menguatkan hatinya sendiri. Dia kembali berkumpul dengan teman-temannya.


Jam menunjukkan pukul 09:00 pm, usai belajar bersama, mereka pun merilekskan sejenak pikiran mereka dengan saling menghibur satu sama lagi. Hingga ponsel Rangga berbunyi, dia pun meminta izin kepada teman-temannya untuk mengangkat panggilan telepon.


Irfan yang sudah menyiapkan kejutan untuk wanita yang dia cintai, langsung memberikan kode kepada teman-temannya agar bisa berjalan dengan lancar.


"El, temenin gue ke toilet yuk!" ajak Veby dengan manja.


"Kan, deket bew ... manja amat sih," belum sempat Grael menolak tapi dirinya sudah ditarik oleh Veby, sedangkan Anjas dan Ernata langsung berlari ke arah taman samping rumah Ernata.


"Bew, katanya mau ke toilet, kok malah ke sini, sih?" tanya Grael dengan curiga.


"Dah ... tenang aja, gak usah takut! Nanti juga Lo tahu kok," ucap Veby.


Begitu Veby dan Grael sampai di taman samping rumah Ernata, tiba-tiba semua lampu padam, tersisa lampu-lampu kecil yang menerangi setiap jalan Grael ke arah taman.


"Loh, Bew! Lo mau ke mana? Kok gue di tinggal sih? Bew! Veby! Issh tuh anak!" gerutu Grael, dia sudah mulai menebak bila dia akan mendapat kejutan dari Irfan.


Langkah Grael terus berjalan dan berdiri tepat di tengah-tengah lampu yang berbentuk love, sampai akhirnya suara lagu dengan suara pas-passan irfan terdengar di telinga Grael.


Lagu yang dibawakan oleh Irfan begitu romantis dengan lantunan suara gitar yang dia petik. Irfan berjalan perlahan mendekat ke arah Grael yang tersenyum ke arah Irfan. Baginya, Irfan adalah sahabat terbaik untuknya.


Begitu selesai bernyanyi, Irfanpun menawarkan sebuah boneka dan coklat pada Grael. "El, aku harap kamu mau jadi pacar aku!"


"Grael!" panggil Rangga.


To be continued...


Hallo readers tersanyang ... maap ya baru up ..

__ADS_1


authornya selama seminggu ngedrop, ditambah RL banyak keteter... mohon maaf bila hari ini feel-nya kurang 😢


Terimakasih ya, yang sudah Vote, bunga, komen dan likenya semoga rezeki kalian makin lancar aaminn..


__ADS_2