Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
123. Penguntit honeymoon sang Pewaris


__ADS_3

"Lo, serius cuma segini?" tanya Steven yang merasa kecewa.


"Ya," jawab Max yang mendaratkan bokongnya tetap di samping Steven.


"Menarik, siapa dia? Sampai datanya di blok sangat ketat!" batinnya bergumam dia pun menghabiskan satu gelas anggur sekali tenggak dan melangkah pergi keluar kamar.


"Mau ke mana Lo?" tanya Max yang hanya mendapat lambaian tangan dari Steven.


Steven berjalan menuju pintu lift, dia menekan untuk menunggu pintu lift terbuka, ketika pintu itu terbuka, ternyata sudah ada Grael dengan balutan dress yang begitu mempesona dengan penampilan bak seperti bidadari yang di kawal oleh dua bodyguard bertubuh besar.


"Ha-hai," ucap Stev yang terbatah, dia mengucek matanya untuk memperjelas penglihatan bahwa dirinya tidak berkhayal akibat minuman alkohol yang dia minum. Namun, ternyata dia benar melihat Grael.


Grael hanya tersenyum tidak menanggapi pemuda tersebut, karena dia tahu akan seperti apa bila dia membalas sapaan pemuda itu meskipun hanya sekedar ramah tamah.


Steven menyunggingkan senyuman ketika dia paham bila gadis itu selalu ketat dalam pengawasan dan itu semakin membuktikan bila Grael berasal dari keluarga terpandang. Steven masuk dan berdiri di depan bodyguard, tidak lupa matanya melihat ke tombol yang menunjukan lantai Grael akan turun.


"Sungguh gadis anggun dengan sejuta pesona," batin Steven yang melihat Grael dari pantulan pintu lift. Tentu saja itu menyadarkan kedua bodyguard Grael untuk menghalangi pandangannya, Steven hanya tersenyum seraya menunduk saat mata keranjangnya ketahuan oleh pengawal Grael.


Begitu pintu lift terbuka, ternyata Erlangga sudah menunggunya di depan pintu lift sembari memasukan satu tangan kanannya ke saku celana dan satunya lagi melihat ke arah jam tangan yang dia kenakan.


Steven melihat jelas wajah ceria Grael saat mendekat ke arah seorang pria yang dia ketahui itu adalah seorang artis terkenal yang hampir jarang terlihat kembali di layar kaca.


"Siapa dia? Apakah artis itu Kakaknya? Atau—"


Steven perlahan mengikuti mereka berdua dari belakang, dia melihat sendiri bagaimana sikap gadis itu yang begitu manja dengan Erlangga, sedangkan Erlangga merangkulnya dengan mesra seakan takut lepas dari genggamannya.


Sampai pada menara Apple, Steven melihat gelagat yang membuatnya marah. Dia melihat Erlangga mencumbu mesra wanita yang masih jauh lebih muda usianya dari pada usia Erlangga.

__ADS_1


Bibir mereka saling menaut satu sama lain di depan umum, memang di negara tersebut hal itu menjadi hal yang lumrah untuk dilakukan sepasang muda-mudi, jadi tidak ada bagi mereka berdua untuk merasa takut ataupun sungkan.


Hampir sejam mereka di sana sampai pada akhirnya Steven masih terus mengikuti ke mana mereka pergi, mudah bagi Steven ketika menjadi obat nyamuk pasangan yang sedang kasmaran apalagi bulan madu, karena mereka berdua tidak di jaga oleh pengawal yang terus menempel.


Langkah kaki Steven terhenti, ketika mendapati Erlangga semakin menggila mencumbu Grael saat pintu lift belum tutup sempurna, langsung saja dia menjulurkan tangan untuk ikut masuk ke dalam lift.


Sontak tindakan Steven membuat kedua sejoli tersebut berhenti bercumbu di dalam lift yang kosong secara mendadak, sorot mata Steven melihat Erlangga begitu posesif menghalangi tubuh Grael dari pantulan dinding Lift yang bisa melihat ke belakang meski Steven membelakangi mereka.


"Ehem!" Erlangga berdeham untuk menyadarkan pemuda yang ada di depannya menekan tombol lantai yang akan pria itu tuju, karena yang Erlangga tahu, lantai yang dituju oleh Erlangga lantai khusus privasi bagi pasangan bulan madu.


Steven yang mengerti langsung memencet asal lantai setelah lantai Grael dan Erlangga, hatinya panas karena satu hal yang dia tahu, gadis yang masih berusia 18 tahun itu adalah istrinya Erlangga Louis, mereka sedang menikmati bulan madu mereka di Negera dan hotel tersebut.


Suara pintu lift terbuka, Erlangga langsung menarik tangan Grael seakan tidak memberi istrinya kesempatan untuk melihat pemuda yang satu lift dengan mereka.


Setelah terdengar suara pintu lift tertutup, Erlangga yang sudah terbakar api asmara, langsung menyudutkan Grael di dinding, lalu mencumbunya langsung di sepanjang lorong yang begitu sepi, karena dia sudah menyewa satu lantai untuk kamar bulan madunya.


"Sudah kubilang, aku begitu mencintaimu Grael! Sampai aku tidak pernah puas untuk selalu melakukannya padamu! Balas aku, Yank!" tutur Erlangga, dia mencium leher Grael sembari meremas gundukan kenyal dan beralih mencium bibir Grael.


Grael pun membalas ciuman Erlangga, sembari meremas kepala sang suami, kakinya pun terangkat di pinggang Erlangga ketika suaminya menuntun kakinya untuk berada di atas pinggang.


Bisa Grael rasakan jemari sang suami masuk leluasa di bagian sana dan kembali meremas dadanya seakan sesuka hati Erlangga atas seluruh tubuhnya.


"Aaahh, Yank!" Erlangga memejamkan matanya ketika dirinya dibuat melambung tinggi hanya dengan merasakan bagian alat vittalnya di remas lembut oleh tangan Grael.


Hal itu membuat Erlangga semakin dibuat liar, dan segera menuntun Grael untuk masuk ke dalam kamar hotelnya untuk melakukan sesi cinta berikutnya.


"Ck! Ternyata dia pellacur artis itu? Kita lihat, seberapa nikmatnya tubuh pellacurmu Erlangga, yang sudah berhasil menggodaku!" Steven masuk kembali ke dalam lift setelah melihat betapa menggiurkan tubuh Grael saat dicumbu oleh Erlangga.

__ADS_1


...----------------...


Keesokan paginya, Grael merentangkan tangannya seraya menikmati angin yang menerpa tubuhnya dengan manja, saat dirinya berdiri di depan small yachts.


Erlangga pun memeluknya dari belakang sembari mencium leher istrinya, ketika yachts yang dia kendarai berhenti di tengah-tengah pantai.


"For you!" Erlangga mengeluarkan satu kado hadiah berukuran kecil.


Grael terkejut ketika Erlangga tidak henti-hentinya memberi kado untuknya, dia pun membuka pita yang melekat pada kotak berukuran kecil lalu melihat isi dalam kotak tersebut yang ternyata sebuah kunci rumah.


"Kak, ini?" Grael bertanya sekali lagi untuk memastikannya dan Erlangga mengangguk sebagai tanda menyakinkan Grael.


Tanpa bisa berkata apa-apa, Grael langsung mellumat bibir Erlangga dengan lembut. Kali ini dia yang berinisiatif untuk berterima kasih menggunakan bahasa tubuhnya.


Bisa Erlangga rasakan Grael sedikit lebih berani untuk mengendalikan dirinya, tangan lentiknya perlahan masuk ke dalam celana bokser pantai dan menyentuh aset vittalnya yang begitu perkasa. Namun, belum sempat mereka melakukan di atas kapal, tiba-tiba terdengar letupan kecil pada bagian mesin kapal.


Sehingga terpaksa Erlangga menahan Grael untuk bertindak lebih lanjut dan segera bangun untuk memeriksa bagian kapal yang bermasalah.


"Akkh, syyhit!" umpat Erlangga yang mengetahui masalah pada yachts.


"Kenapa, Yank?" tanya Grael yang ikut panik melihat raut wajah suaminya.


Erlangga memberikan kode pada Grael agar diam sebentar karena dia mencoba untuk menghubungi seseorang, tapi entah kenapa di saat situasi yang lagi denting malah menambah masalah, Erlangga melihat sinyal pada ponselnya teryata hilang.


"Yank, ponsel!" pinta Erlangga, dia pun melihat ponsel Grael ternyata sama tidak ada sinyal, Erlangga mencoba menekan tombol darurat sebagai penanda SOS, lantas memeluk Grael seraya memberi kabar kurang baik untuk mereka.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2