Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
96. Belajar bersama


__ADS_3

"Ngomong apa sih? Nggak jelas banget!" Emira mengalihan pandangannya.


"Kalau lagi ngomong tuh, liat lawan bicaranya!" tegas Rangga, dia menarik dagu Emira agar menatap matanya.


"Kak, salah aku menjaga jarak sama kamu? Setelah aku tahu kalau kamu secara terang-terangan ingin mengambil hati aku? Aku tuh, tunangan Steven! Apa pantas aku dekat dengan lelaki lain, termasuk kamu?" Emira menatap mata Rangga dengan mata yang berkaca-kaca.


"Apa kamu sanagt mencintainya?" tanya Rangga yang melihat kedua bola mata Emira untuk mencari tahu letak kebohongan. Namun, dia sama sekali tidak menemukan bila gadis itu mengucapkan bila dia cinta dengan steven.


"Ok! Kalau kamu memang sangat mencintainya, mulai sekarang ... aku berhenti mengejar kamu!" Rangga mengeraskan rahangnya ketika sudah mengeluarkan kata-kata yang mampu membuat Emira meneteskan air matanya seraya menatap ke arah dia dengan tatapan sulit di artikan.


Rangga membuka pintu dengan kasar lalu meninggalkan Emira begitu saja yang masih mematung mendengar ucapan Rangga.


Sementara Emira langsung berjongkok dan menangis, mendengar penuturan kata-kata Rangga bahwa dia akan berhenti mengejarnya. Itu yang di inginkan oleh Emira karena dia sudah punya Steven, tetapi entah kenapa, hatinya begitu sakit saat tahu kalau pria itu akan berhenti mengejarnya.


"Aaakhh! Bego banget si gue, padahal tahu lu udah punya Steven, Mir ... tapi kenapa Lo malah jatuh cinta sama orang yang lo benci!" maki Emira pada dirinya sendiri, dia pun bangun dari tempat duduknya.


Ya, benar saja. Apa yang diucapkan oleh Rangga benar, bisa Emira rasakan ketika pulang sekolah, Rangga langsung menjauh darinya dan tidak melihat sedikitpun ke arahnya, dia juga melihat bila Rangga masih bisa tersenyum manis dengan para teman wanitanya.

__ADS_1


"Sabar, Emira ... memang sudah seharusnya lo dan Rangga menjaga jarak, biarkan saja Rangga menjauh, toh memang itu yang terbaik!" batin Emira yang melihat mobil Rangga sudah menjauh dari pandangannya.


...----------------...


Pukul 07 : 00 wib. Semua teman-teman Rangga termasuk Ernata, Gea sudah berada di rumah kediaman Louis. Mereka berkumpul di ruangan tengah menunggu Rangga yang sedang menyuruh chef James menyiapkan makan malam untuk teman-temannya.


Sementara itu, Grael yang masih berada di dalam kamar dengan memakai pakaian switer warna nude dan rok rampel berwarna white sangat cocok di kulit putih bersiap menemui sang suami yang sudah berada di halaman parkir rumah.


Grael pun berlari kecil untuk menuruni anak tangga, tetapi senyumnya tiba-tiba mengambang dan langkahnya berhenti saat melihat semua teman-teman sekolahnya sudah ada di ruangan tengah.


"El? Lo ngapain di sini?" tanya Gea yang begitu polos dan saat itu juga Ernata langsung mencubit lengan Gea agar tidak banyak bicara.


Semua teman-teman melihat Grael begitu berbeda saat memakai baju biasa, lebih cantik dan lebih anggun, apalagi Irfan yang menatap Grael tanpa berkedip.


"Ingat ... dia sudah menjadi istri orang!" bisik Anjas di telinga Ifan. Tentu saja bisikan Anjas membuatnya kesal karena mengingatkan dia bahwa wanita yang masih bersemayam di dalam hatinya sudah menjadi istri dari Kakaknya Rangga.


"Ka–kalian, ngapain?" tanya Grael gugup yang perlahan menuruni anak tangga.

__ADS_1


"Kita kan mau kerja kelompok! Nah, Lo ... ngapain di sini? Rumah Lo kan bukan di sini! Ini rumah Rangga," ucap Gea yang lagi-lagi bicara tanpa beban.


Ernata menarik lengan Gea lalu membisikan di telinganya untuk menyuruh diam dan tidak banyak bertanya, dia juga menjelaskan bahwa Grael juga ikut kerja kelompok dan sudah satang lebih dulu. Terpaksa Ernata bicara seperti itu agar urusan tidak terlalu pancang.


Sementara itu Rangga yang baru saja dari dapur, melihat Grael turun dari tangga, yang kemudian mendekat ke arah teman-temannya.


"Kalian bukannya mau kerja kelompok di rumah Ernata ya?" tanya Grael yang menyuruh teman-teman duduk.


"Awalnya gitu, tapi batal ... akhirnya di sini, mau ikut ke paviliun?" ucap Rangga yang menjelaskan kepada Grael dan pada saat itu juga Erlangga membuka pintu utama yang menjulang tinggi.


Sontak semua mata tertuju pada laki-laki tampan, tajir, sekaligus seorang artis terkenal yang berjalan masuk ke dalam dengan penampilan yang cukup memukau.


"Loh, loh, loh ... Ngga! I-itu kan—"


Ucapan Gea di tutup oleh Ernata, sebelum gadis polos itu mengeluarkan banyak tanda tanya. Erlangga pun tersenyum melihat sang istri ternyata mau menyambut ke datangan nya dengan rama tamah.


"Erlangga Louis!" teriak seseorang.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2