
Setelah selesai mengambil rapor, Grael dan Erlangga pun pergi ke rumah sakit sesuai kesepakatan bersama semalam. Ya, meskipun dalam hati Grael berkata bila sang suami seakan meragukan kesuburannya. Akan tetapi, dia menepisnya dengan mengatakan ini juga demi kesehatannya.
Selama perjalanan Grael hanya terdiam, enggan membuka suara sedikitpun, pandangannya hanya pokus melihat ke arah jalanan yang terkadang sedikit macet. Perasaan saat ini begitu was-was, bagaimana bila hasil check nya yang membuat mentalnya down? Sampai suara kaca mobil terbuka menyadarkan dia dari berbagai banyak spekulasi.
Grael menengok ke arah Erlangga ketika kaca dibuka dan beralih melihat seorang anak kecil yang memberinya bunga mawar merah dari luar kaca mobil. Dia mengambil satu tangkai bunga mawar itu sembari tersenyum, ternyata anak itu penjual bunga mawar di lampu lalulintas saat lampu berubah menjadi warna merah.
"Thank you!" ucap Grael dengan ramah, tetapi anak itu tidak menyahut perkataan dia, justru anak itu memberinya sepuluh tangkai bunga mawar pada Grael lantas memberanikan diri mencium pipinya sebelum anak itu berlari.
Erlangga yang melihat istrinya dicium oleh anak itu yang sebelumnya sudah dia bayar untuk membeli bunganya, mengklason berkali-kali sebagai bentuk kesal dan cemburu.
Grael terkekeh melihat tingkah suaminya, dia pun tidak menyangka bila dirinya mendapat ciuman hangat di pipi dari penjual bunga mawar.
"Lebih cantik tersenyum dari pada melamun!" ujar Erlangga yang tersenyum melihat istrinya tertawa seraya mengusap lembut kepala Grael.
"Makasih, Sayang," ucap lembut Grael yang memeluk tubuh suaminya dari arah samping.
Begitu lampu merah telah usai, Erlangga kembali menjalankan mobilnya hingga sampai ke sebuah butik terlebih dahulu untuk Grael mengganti bajunya. Usai mengganti baju mereka pun melajukan kembali mobilnya ke arah rumah sakit ternama.
Dup, begitulah kiranya ketika Erlangga menutup pintu mobil usai sang istri keluar, langkahnya terus berusaha mengimbangi langkah kecil Grael agar tidak membuat wanita itu kesulitan mengimbangi jalannya.
"Tunggu sebentar!" Erlangga menyuruh sang istri untuk duduk di kursi tunggu, sedangkan dia pergi ke loket untuk menanyakan langsung dokter Zee yang kali ini sebagai SpOG yang menangani Grael.
"Periksa kandungan juga?" tanya seorang ibu-ibu yang tengah hamil tua.
"Belum, Bu. Baru mau program," ucap Grael dengan lembut.
"Oalah, tetap semangat ya, Nak! Nggak apa-apa, masih mudah. Siapa tahu nanti langsung di kasih kepercayaan double." Ibu itu mengusap perut Grael yang masih rata.
"Terima kasih Bu, atas doanya!" ucap Grael yang tersenyum ramah. "Semoga Ibu juga diberikan kelancaran dalam proses persalinannya."
"Aamiin," sahut ibu itu yang tersenyum.
Tidak lama kemudian, Erlangga pun menghampiri sang istri. "Sayang, ayo!"
__ADS_1
"Saya permisi dulu ya, Bu!" Grael pun bangun dari tempat duduknya dan menerima uluran tangan Erlangga.
"Sayang, kita nggak apa-apa ini, nggak nunggu antrian?" tanya Grael yang merasa tidak enak dengan pasien yang lain.
"Nggak apa-apa, Sayang! Toh kita nemuin Dokter Zee yang kebetulan berbeda dengan dokter yang sedang jadwal praktek sekarang," ucap Erlangga seraya mencubit pipi istrinya.
Mereka pun masuk ke dalam ruangan yang ternyata cukup luas dengan peralatan medis yang lengkap, Grael duduk lalu duduk di persilahkan duduk oleh Dokter Zee.
***
Sementara itu, mobil yang dikendarai oleh Rangga berhenti tepat di depan rumah Emira. Rangga pun langsung di sambut hangat oleh bidadari cantiknya saat dirinya sudah masuk dalam rumah mewah tersebut.
"Kok, lama banget sih?" tanya Emira yang bergelayut manja dipelukan Rangga.
"Macet, Yank!" sahut Rangga yang mencubit hidung kekasihnya, matanya pun melihat seisi rumah seakan mencari sosok yang menjadi calon mertuanya. "Mama kamu ke mana?"
"Mama sama Papa belum pulang, masih di tempat kak Bella, karena tahun ini Kak Bella sudah mau tinggal di rumah sama kita," ucap Emira dengan jujur.
"Bella?" tanya Rangga yang mengerutkan keningnya dan di anggukan oleh Emira. "Saudara tiri kamu? Anak dari Mama kamu?"
Emira langsung pergi ke dapur membuatkan minuman untuk Rangga, tetapi saat Emira mengambil gelas dalam kabinet di atas. Tiba-tiba, pinggangnya merasakan pelukan tangan Rangga, dia melihat bagaimana kekasihnya membantu mengambilkan gelas sembari mengecup lehernya.
"Kak," ucap Emira yang membalikan tubuhnya menghadap Rangga.
"Kak Rio mana?" tanya Rangga dengan berbisik di telinga Emira sembari memeluk erat pinggang ramping itu.
"Ada di kamarnya," jawab Emira seraya mmjamkan matanya.
Sontak Rangga langsung menjaukan tubuhnya dari Emira dan menuang minumannya sendiri, sedangkan Emira yang mengetahui sikap Rangga yang berubah langsung tertawa, karena berhasil mengerjai calon suaminya tersebut.
"Tadi pagi, sebelum berangkat kerja!" Emira merebut teko yang dipegang oleh Rangga dan tersenyum ke arahnya.
Rangga melihat Emira dpyang ternyata mengerjainya, dia pun ikut tersenyum lalu mengangkat tubuh Emira hingga duduk di atas kursi bar mini. Lantas menyerang bibir Emira dengan hasrat yang sudah terbakar.
__ADS_1
Tangan Rangga mulai masuk ke dalam baju Emira, membuka pengait yang menyanggah kedua gunung kembar putih tersebut lalu mendakinya dengan tekanan kuat, hingga gadis itu meringis kesakitan.
"Aakkh, Kak! Pelan sedikit!" keluh Emira ketika Rangga ternyata sudah menyelundup masuk ke dalam kaos Emira dan menghisap benda kenyal seperti quishy.
Rangga pun keluar dari dalam kaos Emira lalu tersenyum. "Maaf, yank! Gemas abisnya."
Rangga menurunkan Emira lalu kakinya pun melangkah ke arah tangga menuju kamar gadis berambut pirang tersebut. Dia menggenggam erat tangan itu saraya membawa minuman.
Ya, begitu sampai ke dalam kamar, Emira langsung memasang DVD yang akan dia tonton bersama Rangga sesuai janji yang telah mereka sepakati sejak semalam. Emira pun duduk di samping Rangga sembari mengambil cemilan yang dibawa oleh kekasihnya tersebut.
"Yank, aku boleh tanya nggak?" Rangga mengelus rambut Emira ketika kekasihnya itu bersandar di bahunya.
"Hhm?" Emira melirik Rangga sekilas lalu melihat ke arah layar yang kini perlahan sudah memutar alur cerita film.
"Apa kamu ... sudah mengenal Bella lebih dulu? Hmm, maksud aku—"
"Belum, kenapa?" jawab Emira dengan cepat sebelum Rangga melanjutkan ucapannya.
"Kamu ... serius? Nggak tahu wajah Bella seperti apa?" Rangga menegakkan posisi duduknya dan menatap Emira dengan serius.
Emira pun ikut menjauh dari pundak Rangga lalu menatap intens ke arah laki-laki itu. "Kamu mau kenalan sama dia? Mau tahu cantik apa nggak nya? Gitu?"
"Eh, bukan begitu Sayang!" Rangga menarik lagi kepada
Emira agar bersandar padanya.
"Ya terus?"
"Enggak ada terus, cuma sebatas tanya gitu doang!" bujuk Rangga agar calon istri yang sebentar lagi dinikahi itu tidak merajuk lama terhadap nya.
"Bener?" Emira masih melebar tatapan dunianya.
"Bener, apa kamu takut aku akan tertarik padanya? Dan meninggalkanmu?" Rangga mengangkat dagu Emira lalu berucap, "Sedangkan kamu, butuh perjuangan untuk aku dapatkan!"
__ADS_1
Tanpa permisi lebih dulu, bibir Rangga langsung melahap bibir Emira dengan lembut, sangat lembut. Bahkan Emira bisa merasakan desiran syaduh itu kembali saat tangan Rangga mulai berkelana menelusuri bagian bawah sana yang seakan merindukan sentuhan nakal dari tangan kekasihnya itu.
To be continued...