
Erlangga membalas pelukan hangat salam pertemuan kembali dengan salah satu rekan di dunia artis—Hans Santiago. Perkenalan mereka tentu saja membuat ketiga wanita itu bingung, ternyata kedua pria itu saling mengenal satu sama lain. Begitu juga dengan ketiga cowok yang sedang menatapnya dari jauh.
"Wah, gila Ngga! Tuh, kuda Nil kenal sama Abang lo?" celetuk Irfan.
"Samperin yuk!" Ajak Anjas yang ditolak oleh Rangga.
"Udahlah bukan urusan kita! Toh, juga udah ada kak Erlangga ini!" Rangga langsung membalikan tubuhnya dan memilih untuk berselancar lagi, begitu juga Anjas yang ikut dengan Rangga, sedangkan Irfan yang lebih memilih untuk menghampiri Gea dan berpamit kepada kedua temannya yang telah memberi dia izin untuk mengambil wanita incarannya mulai saat ini.
Sementara itu, Erlangga langsung merangkul pinggang ramping sang istri ketika dia mengenalkan kepada Hans. Dengan bangga dan tanpa ragu, Erlangga mengecup pipi Grael dan itu berhasil membuat Hans tersenyum canggung.
Tiba-tiba dari arah belakang Irfan menghampiri Gea mengajaknya untuk pergi dari sana begitupun juga ernata, dia lebih memilih untuk mengikuti langkah Gea dan Irfan.
"Kita duluan! Have fun!" Erlangga menepuk bahu pergi membawa sang istri.
Sorot mata Hans menatap tajam ke arah pasang pasutri tersebut, ternyata gadis yang ingin dia jadikan belahan jiwa sudah menjadi milik orang lain.
.***
"Yank, aku takut!" keluh Grael saat tubuhnya sudah tiduran di atas papan selancar dengan posisi tengkurap dan Erlangga menuntunnya dari samping.
"Nggak apa-apa, Yank! Ada aku," ucap Erlangga yang memandu sang istri agar bisa berselancar.
Begitu ada anak ombak berada di depan mata, Erlangga menyuruh sang istri untuk fokus dan tetap tenang dan memberikan perintah apa yang harus dilakukan. Dia melihat Grael melakukan apa yang diucapkannya tetapi pada saat ombak pertama datang. Grael langsung terjatuh dan dia pun sudah bersiap menangkap sang istri.
__ADS_1
Suara air ketika tubuh Grael terjatuh tergulung oleh ombak kecil, matikan suara pendengaran dia ketika Erlangga memanggil namanya dan yang ada hanya suara gemuruh air yang ada di dalam laut. Tubuhnya langsung terangkat ke permukaan saat Erlangga berhasil memeluk tubuhnya.
"Aahh, hhaa!" Grael kelabakan saat dia berupaya mengambil nafas ketika sudah berada di permukaan air.
"Are you okay?" tanya Erlangga dengan panik tetapi istrinya itu justru tertawa seraya mengeratkan tangannya memeluk lehernya.
"Yes, I am alright!" Grael mengusap wajahnya ketika menyapu air dari wajahnya sembari tertawa.
Mereka pun terus melakukan berulang kali, meskipun Grael terjungkal, terpental, tetap jatuh dan terjatuh lagi. Akan tetapi, Erlangga selalu siaga menolongnya. Suara canda keduanya pun begitu bahagia, bagaimana cara Grael tertawa lepas berada di dekat Erlangga. Pada saat itu juga Erlangga langsung mencium bibir sang istri yang masih tertawa berada di pelukannya, seraya mellumat dengan napsu.
Ciuman mereka pun dilihat oleh Rangga yang ternyata barada di dekat mereka, dengan kejahilannya dia mulai masuk ke dalam air yang tidak terlalu dalam untuk berenang hingga sampai ke kaki sang kakak, dia mengambil lumpur yang berada di dasar laut dangkal lalu dia baluri mukanya ketika sudah berada permukaan air.
Rangga berdiri di belakang Erlangga dan mengetuk bahu Gesek, hingga wanita itu perlahan membuka wajahnya dan melihat sosok aneh yang menyeramkan di belakang sang suami. Dan apa yang menjadi target Rangga pun tercapai.
"Aaaaakkk!" teriak Grael yang mendorong tubuh Erlangga.
"I–i–itu, itu!" Tunjuk Grael sembari ketakutan.
"Itu apa?" Erlangga melihat ke arah yang dituju oleh sang istri, tetapi tidak menemukan apapun.
Grael langsung membuka matanya secara perlahan ketika melihat tidak ada siapapun di sana, hanya deburan anak ombak yang menyapa tubuh mereka. Dia menjadi bingung sendiri lantas meminta untuk kembali ke darat. Akan tetapi, pada saat mereka belum sampai ke darat Grael merasa curiga pada Rangga yang tertawa sendiri, dia beranggapan bila Rangga lah yang telah mengerjainya.
"Nah, yah! Ketangkep makhluk jeleknya! Ini, Yank! Yang tadi nakuti aku, nih buktinya masih ada!" Grael mencolek sisa lumpur yang masih menempel di kening Rangga, dan dia pun menjambak langsung rambut Rangga dengan jenjang hingga perkelahian antara saudara ipar pun terjadi sampai di darat.
__ADS_1
"Ay, ampun, Ay! Aduh, sakit ... Ay! Kak, woy tolongin gua!" Rangga bejalan menunduk ketika telinganya tarik oleh Grael.
Erlangga mengambil ponsel dan mentransfer uang kepada Rangga untuk membeli sebuah minuman untuk dia dan istri sebagai hukumannya, tidak lupa juga dia menyuruh sang adik untuk memijat bahunya usai membelikan air minum ciri khas pantai.
"Ya ampun, nasib ... nasib, jadi gua! Niat liburan malah jadi kacung!" Rangga berjalan menuju lokasi tempat penjual minuman, dia pun kesal lalu melampiaskannya dengan menendang kaleng kosong hingga kaleng itu terbang dan mendarat di lapangan yang begitu luas tidak ada rumput dengan ukuran luas lapangan itu seperti bola.
"Aakh! Shiiit! Who's that? Damn it!" Pria bule dengan kepala botak itu bangun lalu mencari siapa yang sudah melempar kaleng kosong ke arah kepalanya, hingga membuat benjolan pun terlihat.
"Waduh! Gawat, kena si bule botak!" Rangga terkejut lantas berupaya untuk bersembunyi dengan berpura-pura menggandeng tangan wanita bule cantik.
"Hai! Who's that? How dare you hold my girlfriend's hand!" Pria bule dengan berbadan besar pun menghadang jalan Rangga hingga membuat pria lokal tersebut terjungkal ke pasir.
"Sorry, brother! Best friend together! Im, im, hmm ... Tidak sengaja. Oke!" ucap Rangga dengan menggunakan bahasa asing blepotan karena gugup.
Tentu pria itu tidak terima dengan permintaan maaf dari Rangga, dia pun ingin melayangkan pukulan tapi Rangga dengan gesit sudah lari lebih dulu, tapi siapa sangka saat dia berlari ke arah berlawanan Rangga bertemu lagi dengan pria botak itu.
Rangga panik lagu berusaha untuk kabur dari kedua pria asing dengan berbadan tubuh besar itu yang badannya lebih besar daripada tubuhnya sendiri seraya berteriak, "Erlangga! Tolongin gua! Kak!"
Rangga berlari terbirit-birit menghindari dua pria berbadan tubuh besar yang sedang mengejarnya, dia berusaha berlari berjijak agar terhindar dari lemparan batu yang dilempar oleh kedua pria itu.
"Erlangga, tolongin gua, bang sat!" maki Rangga dari kejauhan saat dia melihat kakaknya justru malah asik kemesraan dengan istrinya.
Dari kejauhan Erlangga melihat adiknya itu berlari terpenting-panting mengarah ke arahnya seraya berteriak meminta tolong, dia pun bangun dari tidurnya dan menggeser tubuh sang istri kemudian mempertegas penglihatannya bila ternyata sangat dikejar kedua pria asing dengan berbadan tubuh besar seperti algojo.
__ADS_1
"Kakak! Gua sumpain burikan panttat Lo, kalau nggak bantuin gua!" teriak Rangga bersusah payah yang masih jauh dari posisi Erlangga, tentu saja kelakuan Rangga seperti itu membuat semua pengunjung yang melihatnya tertawa terbahak-bahak.
To be continued...