Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
105. Perdebatan Grael dan Sherly


__ADS_3

"Loh, kenapa kamu menangis sayang? Masih kangen sama Kak Cia?" tanya Erlangga.


"Jelas masih kangen, pake tanya!" rengek Grael yang meneteskan air mata.


Erlangga pun langsung memeluk tubuh sang istri, ketika mereka berdua duduk di kursi belakang. Tangannya mengusap lembut pipi Grael lalu mengecup keningnya.


"Apa perlu kita menginap di tempat mereka?" tanya Erlangga agar tidak membuat istrinya sedih. Namun, Grael menolak karena dia tidak mau menyusahkan sang kakak.


"Lain kali kita berkunjung dan menginap di sana!" ujar Erlangga yang mencubit pipi sang istri, lalu kemudian menyuruh Pak Beni untuk mampir kesebuah toko jam tangan, karena Rio setelah mengantar mereka, asisten Erlangga itu langsung pergi.


"Kenapa?" tanya Grael yang menanyakan jam tangan Erlangga.


Erlangga hanya bisa menjawab jam tanganya terjatuh, walaupun dia berbohong kepada istrinya bila jam tangan dia rusak akibat menolong Sherly ketika ingin terjatuh, sehingga jam yang ada di tangannya membentur ujung tepi meja.


"Oh, oke! Aku percaya." Grael langsung melepaskan pelukannya dan duduk lebih tegap.


Sikap Grael yang langsung berubah membuat Erlangga percaya bila sang istri sedang cemburu, dia pun berusaha untuk membujuknya dengan rayuan mautnya.

__ADS_1


"Percayalah, hatiku sudah tertutup oleh wanita lain selain kamu!" Erlangga menarik kembali lengan sang istri agar berada di pelukannya.


"Iissh, gombal aja! Nggak mempan!" Grael tersenyum sembari mencubit dada bidang sang suami, tentu saja itu membuat Erlangga Erlangga membalas cubitan sang istri dengan menggelitiki pinggang ramping Grael.


Begitu sampai, Grael ikut menemani sang suami untuk membeli jam tangan yang baru, dia menyuruh Grael untuk memilihkannya.


"Yang ini, kurang cocok! Bentar, aku pilihin yang ... ini!" Tunjuk Grael pada atas etalase yang mengarah jam tangan.


Staf karyawan itu pun mengambilkan jam tangan yang ditunjuk oleh Grael, lalu Grael mencobanya di pergelangan tangan Erlangga dan pada saat itu juga, tiba-tiba Sherly datang mendekat ke arah mereka berdua.


"Pak Erlangga jadi kesini juga?" tegur Sherly dengan raut wajah yang senang.


"Ya ampun, senangnya saya ... bila Pak Erlangga mau mendengar saran saya. Oh, iya soal jam tanganya maaf ya, Pak ... gara-gara meno—"


Tiba-tiba Erlangga terbatuk untuk menghentikan ucapan Sherly sebelum banyak bicara, tapi apalah daya bila seorang Sherly lebih gatel dari pada ulat bulu, Erlangga bisa merasakan bila tangan sekertaris itu mengelus dadanya untuk menetralkan batuknya.


Tentu saja itu membuat Grael langsung melepaskan tangan Erlangga begitu saja ketika wanita itu terus mengelus dada suaminya meskipun dia melihat sendiri bila sang suami menolak rasa empati dari Sherly.

__ADS_1


"Pak Erlangga sudah tidak apa-apa?" tanya Sherly masih memasang wajah khawatirnya.


"Saya tidak apa-apa! Terima kasih," ujar Erlangga yang menarik napas pelannya.


"Ya jelas nggak kenapa-kenapa! Orang cuma keselek ludah do ... ang! Lagian, kalau mau berterima kasih itu dengan tindakkan!" ujar Grael dengan sinis.


"Maaf ya, Bu! Gara-gara Pak Erlangga menolong saya yang hampir terjatuh! Akhirnya jam tanganya ke bentur, untung badan saya dipeluk oleh Pak Erlangga, coba kalau tidak," tutur Sherly yang merasa bersalah dengan raut wajah yang ingin membuat Grael muntah.


Sherly bisa memanggil Grael dengan sebutan Ibu karena dia sudah tahu bila anak yang masih sekolah itu adalah istrinya Erlangga, dia pun tersenyum licik dalam hatinya berharap ucapannya bisa menusuk hati Grael.


Erlangga langsung memijat keningnya saat Sherly tetap saja menceritakan kepada Grael, dia pun pasrah bila mendapat kartu merah dan tidur di sofa.


"Loh, nggak usah minta maaf, saya senang kok bila suami saya bisa menolong kamu, karena itu yang sudah saya katakan sama dia untuk menolong semua bawahannya, bukan hanya kamu saja, maaf ya bila kamu terlalu tersentuh dengan sikap terlalu baik suami saya!" Grael tersenyum mengejek kepada Sherly dan sengaja menekan kata-kata tertentu agar Sherly tidak perlu berlebihan menanggapi sikap Erlangga yang hanya menolong.


Erlangga tertawa dalam hatinya, bibirnya tersenyum mendengar ucapan Grael seraya berkata, "Tidak usah minta maaf, karena itu sudah kewajiban saya untuk menolong semua karyawan! Kalau gitu kita duluan!"


Erlangga langsung menarik tangan sang istri untuk keluar dari toko tersebut saat dia sudah membayar jam tangan pilihan istrinya saat Grael dan Sherly beradu debat. Tidak lupa juga dia membelikan jam tangan untuk Grael.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2