
"Bungkus ini!" pinta Erlangga pada pegawai toko itu.
Tidak heran bagi para pegawai yang berada di mall tersebut, baik itu dari pegawai baju branded, pegawai makanan bahkan sampai keamanan pihak mall tidak terlalu syok dengan ke datangan artis, karena memang mall itu sering dikunjungi oleh berbagai kalangan artis terkenal termasuk Erlangga, hanya saja yang menjadi target kewaspadaan seorang artis adalah masyarakat dan para wartawan.
"Baik, Pak!" ucap pegawai yang menerima beberapa baju lingerie keluaran model terbaru.
"Sekalian, tolong bungkusin!" Rangga menambah beberapa style fashion ke arah pegawai, dia pun tersenyum ke arah Erlangga sembari merangkul pundak sang kakak.
"Apa kamu mau mati? Jauhkan lenganmu!" Erlangga menatap tajam ke arah Rangga dan menghempaskan tangan sang adik tanpa menyentuhnya.
Erlangga pergi begitu saja meninggalkan Rangga yang tersenyum kesal, lalu menghampiri sang istri untuk melarangnya membawa barang-barang tersebut.
"Loh, kenapa?" tanya Grael saat tubuhnya sudah ditarik masuk ke dalam rangkulan sang suami.
"Aku sudah mengeluarkan banyak uang untuk membelanjakan manusia itu, itu sudah resiko dia agar berguna sedikit bila ingin menjadi benalu!" ucap Erlangga yang begitu pedas kepada Rangga.
Grael hanya terdiam ketika Erlangga merangkul pinggangnya dan berjalan keluar dari toko tersebut. Matanya melihat ke arah Rangga yang memasang wajah kesal saat menerima barang belanjaan begitu banyak.
"Sial!" gerutu Rangga ketika terpaksa menerima semua barang belanjaan.
"Apa kamu menyukai warna merah?" tanya Erlangga yang kesal melihat sang istri terus memperhatikan Rangga yang kesulitan membawa barang belanjaan.
Grael langsung tersadar mendengar ucapan sang suaminya, dia pun tersenyum seraya menjawab, "Entah kenapa mulai sekarang aku tidak menyukai warna merah, justru warna favorit aku berubah menjadi warna biru."
"Oh, ya?" tanya Erlangga untuk memastikan lagi.
"Ya!" Grael tersenyum manis ke arah Erlangga.
Erlangga mencubit hidung mancung sang istri lantas menarik pinggang ramping itu agar mengikuti langkahnya masuk ke sebuah toko mewah yang menyediakan berbagai macam tipe model ponsel dengan merek terkenal.
"Oh, ya?" Rangga meniru ucapan sang kakak seraya mengejeknya dengan kesal, dia pun mengikuti mereka masuk ke dalam toko dan melihat ponsel incarannya selama ini sudah launching.
Rangga pun menunjuk pada salah satu pegawai penjaga toko untuk mengambilkan satu buah handphone model keluaran terbaru.
__ADS_1
"Kak, gue mau satu!" Rangga memperlihatkan kepada Erlangga bahwa dia juga ingin seperti Grael, apapun yang Erlangga belikan untuk Grael, dia pun menginginkannya.
"Two!" ucap Erlangga kepada pegawai toko tersebut sembari mengeluarkan black card.
"Are you serious?" tanya Rangga untuk ke dua kalinya dengan semangat.
"Satu saja!" Erlangga kembali menyuruh pegawai untuk meng-chancel ponsel pesanan Rangga.
"Eh ... jangan, jangan, jangan! Dua, sama ini!" ucap Rangga.
Rangga pun menunggu selesai pembayaran dan mengambil ke dua ponsel itu lalu segera menyusul Erlangga dan Grael yang sudah keluar terlebih dahulu dari toko tersebut.
Ada rasa senang dan juga kecewa di hati Rangga ketika dia menyadari, bahwa wanita yang dia cintai diperlakukan istimewa oleh kakaknya, sangat terlihat jelas bahwa Erlangga sangat memanjakan Grael, walaupun wanita itu hanya mengambil beberapa yang dia perlukan tapi Rangga memperhatikan bahwa sang kakak sangat royal memanjakan istri kecilnya.
Rasa cemburu menelusup masuk ke relung hati kecil Rangga, entah dia cemburu kepada Erlangga yang begitu mencintai Grael, atau cemburu kepada Grael yang sudah merebut perhatian kakaknya yang selama ini Rangga inginkan.
Setelah mereka puas berbelanja dari satu toko ke toko lainnya, tiba-tiba dari arah depan ada tiga remaja perempuan yang tiba-tiba datang mendekati Grael.
"Bu–bukan!" ucap Grael gugup. Dia pun melirik ke arah sang suami dan juga Rangga yang menatapnya dengan curiga.
"Iya, ini bener Kak Kazumi! Kak, Aku boleh minta tanda tangannya, nggak? Please kak, please!" Mohon anak itu dan diikuti kedua temannya yang lain.
"Ha, ya, ya, boleh," ucap Grael yang tersenyum kaku.
Ketiga anak remaja itu pun begitu senang ketika bertemu dengan Grael, mereka mengeluarkan spidol lalu meminta Grael untuk tanda tangan di baju mereka masing-masing lalu mereka pun meminta foto bersama Grael.
"Iihh, makasih Kak! Ya ampun ... senangnya! Boleh minta peluk, nggak?" tanya anak remaja itu, dan Erlangga pun berdeham sembari merapihkan topi hitamnya. Namun, tetap saja ketiga remaja itu tidak memperdulikan pria yang ada di samping Grael, karena Erlangga mengunakan masker dan topi.
Grael pun memeluk mereka satu-persatu para penggemarnya, dan pada saat itu juga, dua remaja laki-laki pun mendekati Grael untuk meminta hal yang sama seperti ketiga temannya.
Kedua remaja itu pun meminta sesi foto bersama Grael, dan pada saat remaja itu ingin memeluk Grael. Erlangga langsung memasang tatapan sinisnya ke arah dua remaja laki-laki itu, sontak membuat kedua remaja itu mengurungkan niatnya lalu pergi dengan melambaikan tangannya seraya tersenyum.
Grael sungguh tidak percaya bila ternyata ada yang mengenali dirinya sebagai Kazumi Hanasita, yang menjadi namanya saat bekerja sampingan melalui ponselnya. Dia pun melirik ke arah sang suami yang menatapnya dengan penuh tanda tanya besar.
__ADS_1
"Sayang ... boleh kita mampir makan dulu? Aku laper," ucap Grael yang manja, seraya memajukan bibirnya untuk menggoda Erlangga, serta tanganya membalas rangkulan sang suami agar tidak mendapat kartu merah serata pertanyaan dari Erlangga.
Erlangga pun tersenyum mendengar intonasi sang istri yang begitu manis, dia pun berbisik di telinga Grael. "Apa kamu sedang menggodaku? Kalau iya, aku menyukai sebutan yang kamu bilang untukku! Dan kamu punya hutang penjelasan padaku!"
Grael pun tersipu malu atas apa yang baru saja dia katakan demi terhindar dari hukuman Erlangga, kakinya melangkah mengikuti sang suami pergi, begitu juga dengan Rangga yang menjadi kacung sang kakak.
"Anjriiit ... nyesel, gue, ikut! Lihat, gue bales Lo, Er!" maki Rangga yang kerepotan akibat barang belanjaannya sendiri.
Setelah sampai di restoran, Erlangga memesan khusus ruangan pribadi untuknya, di mana satu ruangan hanya untuk mereka bertiga, Rangga pun melempar semua barang belanjaannya dan memesan beberapa makanan spesial yang dia mau.
"Ngga, kamu yakin, makan sebanyak itu?" Grael tidak percaya bila Rangga memesan begitu banyak makanan.
"Kamu lupa? Kalau a—"
"Berhentilah bicara atau kamu yang bayar semuanya!" Erlangga memotong ucapan Rangga sebelum sang adik melanjutkan ucapannya.
Pada saat itu juga, Rangga terdiam memasang senyuman termanisnya seraya menggerakan jemarinya untuk menutup bibirnya rapat-rapat.
Para pelayan pun datang membawa pesanan untuk mereka, berbagai macam menu hidangan yang sudah tertata rapih, mulai dari makanan seafood, daging, dan sayuran serta aneka minuman.
Grael hampir tidak percaya, bila ternyata Rangga makan begitu lahap seperti seorang yang tidak makan selama berhari-hari. Namun, dia kembali fokus pada makanan yang berada di hadapannya saat Erlangga memperhatikan dia.
Tidak lama kemudian, suara ponsel Erlangga berdering. Terdapat pesan dari Rio, Erlangga pun mengerutkan keningnya dan ingin membalas pesan tersebut tetapi Rio sudah menelepon-nya terlebih dahulu.
"Bawa dia ke kantor polisi!" ucap Erlangga pelan tapi mampu memecahkan keheningan di ruang restoran tersebut.
Mata Grael dan Rangga saling beradu pandang, saat suara dingin Erlangga begitu menakutkan. Tanpa berkomentar apapun mereka melanjutkan makan.
To be continued...
Kira-kira ... pekerjaan sampingan Grael apa ya? Ada yang tahu? 🤔
Jangan lupa komentar dan Vote nya ya 🥰
__ADS_1