
Usaha Grael tidak sia-sia, dia berhasil mengalihkan emosi Rangga sehingga Veby bisa berhasil bernapas kembali saat Rangga melepas cengkraman tangannya dari leher Veby.
Veby pun langsung berlari ketika Rangga melepaskan cekikkannya, tidak lupa dia memotret perselingkuhan Grael dengan Rangga secara diam-diam seraya ketakutan untuk membalaskan dendam pada Grael.
Mengetahu Veby sudah pergi, Grael pun ingin melepaskan ciuman itu tapi Rangga begitu kuat hingga dirinya tidak berhasil melepaskan ciuman itu. Grael semakin takut bila Rangga lepas kontrol akibat kesalahan fatal yang dia ambil demi menyelamatkan nyawa seseorang.
Tangan Rangga pun menutup hordeng UKS dan menahan tengkuk leher Grael untuk memperdalam ciuman mereka, ciuman yang Rangga rindukan, ciuman yang Rangga selalu berharap bisa mencicipi kembali bibir manis dari wanita yang dia cinta.
Rangga terus mellumat bibir Grael, mengabsen di dalam mulut wanita itu hingga tidak tersisa, tangganya berusaha untuk masuk ke dalam baju seragam Grael tapi selalu mendapat penolakan dari sang empu.
Hingga akhirnya, Grael menggigit bibir Rangga agar terlepas dari ciumannya, segera Grael menampar pipi Rangga dengan kencang hingga Rangga langsung tersenyum sinis.
Grael pun mendorong tubuh Rangga untuk bisa pergi dari sana, tetapi Rangga mencegahnya dan menatap Grael dengan tatapan sinisnya.
“Itu alasan kamu membatalkan pernikahan kita? Iya!” Rangga mengeraskan rahangnya. Akan tetapi, wanita itu tetap saja tidak mau menjawab.
“Jawab!” bentak Rangga yang memukul tembok dengan keras membuat wanita itu ketakutan.
“Buat apa aku jawab? Bukan kah kita sudah berjanji untuk tidak membahas dan berdamai dengan masa lalu kita?” Grael sungguh ketakutan saat ini berdua dengan Rangga.
“Kamu tahu, apa yang aku rasakan saat itu? Aku hampir gila, El! Mengetahui kamu menikah dengan kakak aku! Sekarang dengan mudahnya kamu menggeser posisi aku? Segitukah rasa cinta kamu? Hah!” teriak Rangga yang sudah kesal.
“Ngga, please kita udah bahas ini berkali-kali, semua sudah masa lalu! Biarkan aku bahagia bersama kakak kamu, dan begitu pun sebaliknya, aku ingin kamu bahagia dengan pasangan kamu! Please, Ngga!” Grael menangis menutupi wajahnya, dirinya terlalu lelah untuk mengingat dan membahas masa lalu lagi dan lagi.
Rangga mengepalkan tangannya, jujur dia benci dirinya karna faktanya dia belum bisa move on dari Grael. Sangat terlihat jelas ketika bibirnya mendapat ciuman dari orang yang sangat dia cintai, dirinya begitu merindukan Grael sampai dia melupakan status mereka.
“Ok, kalau itu mau kamu!” Rangga mengepalkan tangannya lalu pergi meninggalkan Grael yang masih menangis di ruangan UKS.
***
__ADS_1
Selama masa MOS berlangsung Rangga selalu melampiaskan kekesalannya terhadap Emira, entah itu kesalahan kecil ataupun kesalahan yang dibuat-buat oleh Rangga untuk menghukum Emira.
“Sialan! Akkhh, dasar semut Rang-Rang!” kesal Emira ketika dia mendapat hukuman merapikan sepatu para peserta didik baru.
Hukuman terus berlanjut sampai bel sekolah telah berbunyi, Emira pun baru terbebas dari hukumannya. Langkanya terhenti ketika melihat Rio sudah berada di samping mobilnya dan menegur Grael yang berdiri di depan gerbang sekolah.
“Hai,” sapa Rio yang tersenyum ke arah Grael.
“Hai, loh, Kak Rio disini? Nggak—”
Grael menghentikan ucapannya saat melihat Rio bisa berada di depan sekolahan dan tidak bersama dengan Erlangga.
“Oh, kebetulan abis mengambil beberapa dokumen, dan sekalian jemput,” ujar Rio yang menjelaskan.
Belum sempat Grael membalas ucapan Rio, suara mobil yang mengklakson dari Pak Beni pun telah tiba, dia berpamitan pada Rio dan menampakkan senyum manisnya. “Aku duluan ya, Kak!”
Rio pun membalas senyuman Grael seraya melambaikan tangannya, sorot matanya tidak berkedip sampai mobil itu pergi menjauh.
“Da, masuk!” Rio membukakan pintu mobil untuk sang adik.
Selama perjalanan Emira menceritakan kekesalannya kepada Rio tentang apa yang dilakukan oleh Rangga terhadap dirinya, dari cara Emira menceritakan sosok Rangga, sangat terlihat jelas bila Emira begitu benci pada Rangga.
“Awas, nanti benci jadi cinta,” nasihat Rio pada adiknya.
“Cinta? Amit-amit!” keluh Emira
***
“Pak Ben, Kak Erlangga masih di kantor?” tanya Grael.
__ADS_1
“Iya, Nyah!” sahut Pak Beni yang tetap pokus ke arah jalanan.
Grael mengirim pesan kepada Erlangga bahwa dia meminta ijin untuk pulang ke rumah orang tuanya, karena rasa rindu terhadap ibunya. Semenjak kedua anaknya menikah, Karina tinggal sendiri di rumah.
Setelah mendapat ijin dari Erlangga, Grael menyuruh Pak Beni untuk pergi ke rumah orang tuanya yang di jalan anggrek. Begitu sampai di rumah Karian, Grael turun dari mobil dan pada saat itu juga semua tatapan tetangga melihat ke arah Grael.
Grael pun hanya membalas tatapan aneh tetangga dengan senyumannya, dapat Grael tebak bahwa Karina pasti selalu mendapat cemooh yang tidak enak dari mulut tetangga sekitar, bahwa dirinya menikah di usia masih terbilang sangat muda yang menikah dengan salah satu anak pewaris Grup Jaya.
“Eh, Dek Grael. Apa kabarnya, makin gemuk aja ... lagi, ngisi ya?” ucap salah satu tetangga yang mencoba mengakrabkan diri mereka dengan mantu pewaris Grup Jaya.
“Baik, nggak ... mau nunda dulu! Saya masuk dulu ya, Bu!” jawab Grael yang tersenyum ramah, tanpa basa-basi Grael masuk ke dalam rumah dan di sambut hangat oleh Karina.
“Kangen, Mah!” Grael memeluk Karina seraya menangis.
Karina mencubit pipi sang putri dengan gemas, dan menanyakan soal kabarnya selama ini. Pasalnya selama Grael sudah memutuskan pindah ke rumah utama, dia belum mendapatkan kabar tentang anak bungsunya. Berbeda dengan Gracia yang selalu datang setiap hari setelah menikah, terbalik saat ke dua anaknya sebelum menikah.
“Maaf, sudah buat Mama cemas, Grael baik-baik saja selama di sana! Mereka juga baik sama Grael,” dusta Grael agar Karina tidak terlalu cemas.
“Senang Mama mendengarnya, oh iya ... kamu nginap kan di sini kan?” tanya Karina.
“Belum dapat ijin mah, dari kak Erlangga.” Grael merasa bersalah kepada Karina, hatinya ingin sekali menginap di rumah sang mama tetapi apalah daya bila dia sudah memiliki suami.
“Ya sudah kalau gitu, mau mandi dulu? Mama siapkan air hangat!” Karina mencolek hidung anaknya dengan gemas ketika Grael menganggukkan kepalanya.
Baru saja Grael keluar dari kamar mandi dan ingin memakai baju di dalam kamar, Erlangga sudah menghubungi lewat video call. Tanpa ragu Grael mengangkat sambungan telepon itu lalu meletakkannya di atas meja belajarnya.
“Halo, Yank? Kamu masih di rumah Mama?” tanya Erlangga dari seberang telepon.
“Iya, kenapa emangnya, Kak?” sahut Grael ketika dia membuka lemari pakaian dan mengambil baju salin yang akan dia pakai.
__ADS_1
“Kamu lagi apa sih?” kesal Erlangga ketika dia melihat dari layar ponselnya tidak ada sosok wajah sang istri.
To be continued...