Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
116. Pebinor


__ADS_3

Perkelahian sengit antara Lydia dan Sarmini berhenti, selepas dipisahkan oleh penjaga yang bertugas menjaga sel mereka. Semua tahanan yang satu sel dengan Lydia menjadi takut dan berjaga jarak.


"Awas kalau kalian masih berantem lagi, saya tidak akan segan-segan menghukum kalian berdua!" ancam petugas kepolisian yang melerai pertikaian mereka.


Lydia dan Sarmini hanya saling tatap menatap satu sama lain, Lydia yang kesal ketika selalu mendapat perintah dari Sarmini sesuka hati, sedangkan Sarmini—tahanan sel sudah lima tahun dipenjara, kesal dengan Lydia yang tidak menghargainya sebagai ketua di dalam sel tersebut.


"Dengar tidak kalian? Hah!" teriak petugas dengan tegas.


Semua yang berada di dalam tahanan tersebut menjawab dengan serempak termasuk kedua yang bersangkutan. Begitu petugas telah kembali keluar, Lydia langsung duduk di sudut tembok, sedangkan Sarmini beserta ke tiga tahanan lainnya memilih untuk berkumpul di sisi berlawanan.


"Sial, ini semua gara-gara pellacur kecil itu! Awas aja, gue bakalan balas dendam dengan apa yang sudah lo lakuin ke gue! Tapi, sebelum gue membalaskan dendam gue ke Lo, gue bakalan kasih perhitungan dengan nenek lampir yang sok berkuasa di rumah itu. Liat aja nanti!" Lydia mengepalkan tangannya dengan sorot mata yang begitu tajam.


Bayangan tentang istri Josua yang selalu memerintahkan Lydia begitu sadis ketika dia telat sedikitpun dalam menjalankan tugas, maka dia akan mendapat hukuman dari Kylie.


Terkadang Kylie menyuruh Lydia berdiri di bongkahan es yang begitu banyak sembari memainkan musik biola, sedangkan Kylie melihat penampilan Lydia seraya menikmati secangkir teh hangat.


"Nyonya, tolong bebas kan saya!" ucap Rani yang bersujud di kaki Kylie. Sangat terlihat jelas di mata Lydia saat itu ketika Kylie menjenguk Rani yang mendekam di penjara. Namun, ternyata dia sendiri yang akhirnya merasakan ada di posisi Rani.


"Brengsek! Nenek sihir tidak tahu diri!" maki Lydia dengan kencang saat lamunannya membuat dia emosi.


"Apa lo bilang? Lo ngatain gue nenek sihir?" Sarmini bangun dari tempat duduknya dan langsung memberi kode pada teman-temannya yang memihak dirinya untuk memberi pelajaran pada Lydia secara diam-diam agar tidak ketahuan oleh petugas polisi.


"Eh, bu–bukan! Ja–jangan, macem-macem! Gue bakalan teriak. Woi, jangan main keroyokan!" Mulut Lydia langsung dibekap oleh tahanan lainnya dan langsung mendapat pelajaran yang membuat Lydia kehilangan kesadaran.


...----------------...


Pagi hari, Grael masih mendiami sang suami. Usai sarapan, dia pun berpamitan pada Josua untuk berbangkat ke sekolah. Di dalam mobil juga Grael masih tetap terdiam memilih untuk melihat jalanan ke arah luar jendela dari pada harus membuka suara lebih dulu, sedangkan Erlangga masih terus fokus pada layar laptopnya dengan dunia pekerjaan.


Begitu sampai di gerbang sekolah, tanpa pamit kepada Erlangga, Grael hendak membuka pintu mobil, tapi sayangnya pintu itu masih terkunci. Ternyata Pak Beni belum mengizinkan membuka pintu mobil sebelum mendapat perintah dari Erlangga.

__ADS_1


Grael hanya menarik napasnya dengan pelan, seraya berkata, "Kak, aku harus cepat masuk ke kelas! Lima menit lagi bel!"


Erlangga langsung menutup laptopnya dan melihat ke arah Grael. "Sampai kapan kamu bersikap seperti ini?"


"Apanya yang seperti ini?" tanya Grael yang masih bisa mengontrol emosi jiwanya.


"El, a—"


Belum sempat Erlangga terucap, suara ponsel nya sudah berdering. Erlangga langsung melihat siapa yang menelepon dan kemudian menyuruh Pak Beni untuk membuka pintu mobil dan membiarkan Grael untuk turun.


Kedua mata Erlangga terus memperhatikan sikap sang istri yang turun dari mobil begitu saja ketika bibirnya terus berbicara pada seseorang di seberang telepon, dia melihat Grael tidak melirik sedikit pun ke arahnya dan masuk ke dalam gerbang sekolah bersama siswa lainnya.


"Thanks ya, Yo!" ucap Erlangga yang mematikan sambungan telepon yang ternyata dari Rio.


Tidak lama kemudian, mobil pun perlahan berjalan meninggalkan area sekolah menuju kantor. Selama perjalan itu pula Erlangga menanyakan perihal sikap Grael saat pulang sekolah, dan Pak Beni menjawab sejujur-jujurnya mulai dari bersama Irfan sampai bertengkar kecil dengan Rangga.


"Teman laki-laki Nyonya, meminta Nyonya untuk mengajari materi yang dia tidak mengerti, Tuan!" tutur Beni.


"Apa kamu ikut bersamanya?" tanya Erlangga.


"Iya, Tuan!" sahut Beni.


"Bagus, kalau gitu biar saya yang menjemputnya, nanti sore! Pak Ben, tinggal menyiapkan segala sesuatu dengan sempurna!" ucap Erlangga yang memerintahkan Beni untuk menyiapkan bulan madu tanpa ada kendala saat Erlangga menjemput sang istri.


"Baik, Tuan!" ucap Beni.


...----------------...


Di ruang lingkup sekolah, Irfan berjalan mendekat ke arah Grael yang sedang duduk tertawa bersama teman-teman di depan kelas. Dia pun tidak segan-segan untuk bergabung bersama mereka dan duduk di samping Grael.

__ADS_1


"Cie, Irfan ... pepet terus, Fan!" ledek anak-anak lainnya yang belum tahu identitas Grael kecuali Ernata.


Irfan yang mengambil kesempatan dalam kesempitan merasa senang, dia pun memberikan satu minuman favorit Grael kepada sang empu. Namun, Grael masih ragu untuk menerima minuman dari Irfan.


"Dah, terima aja!" Irfan mengambil tangan Grael dan memberikannya tepat di telapak tangan wanita itu.


Tiba-tiba Rangga datang langsung merebut minuman dari tangan Grael, dia duduk di tengah-tengah Irfan dan iparnya untuk memberi jarak agar mereka tidak berdekatan.


"Rangga masih cemburu aja!" ujar salah satu teman.


"Jangan macem-macem sama istri Kakak, gue! Lo mau jadi pebinor? Hah!" bisik Rangga saat tangannya membuka kaleng minuman Grael lalu menenggaknya sampai tandas.


"Kalau iya, kenapa?" tantang Irfan yang tersenyum licik.


Ucapan Irfan membuat air minum yang ada di tenggorokan Rangga muncrat keluar mengenai para sahabat yang ada di depannya, dan itu berhasil membuat semua menjadi heboh dengan suara teriakan anak perempuan.


"Anjing! Lo, mau cari gara-gara sama gue?" Rangga langsung mencengkram kuat-kuat kerah baju seragam Irfan saat tubuhnya berada di atas tubuh Irfan.


"Ngga, udah! Kenapa si, malah jadi berantem!" tegur Grael berusaha untuk melerai pertengkaran Rangga dengan Irfan.


"Ck!" Irfan hanya berdengus kesal melihat sikap Rangga.


"Berani Lo jadi perusak rumah tangga Kakak gue, gue bakal buat perhitungan sama Lo!" ancam Rangga, dia langsung bangun dari tubuh Irfan lalu menarik tangan Grael.


"Ikut, gue!" bentak Rangga yang menarik paksa tangan Grael, saat itu juga semua teman-teman melihat ke arah mereka begitu juga dengan Emira.


Emira langsung memasang wajah cemburunya ketika melihat Rangga memegang tangan Grael, teman yang ada di sampingnya berusaha untuk memberi nasihat bila apa yang dia lihat belum tentu seperti bayangan yang ada dipikirannya.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2