
Udara malam hari begitu dingin di sertai hujan yang cukup deras, membuat kedua pasangan insan yang sedang dimabuk gelora asmara menambah kesan nikmat. Setelah puncak birahinya tersalurkan, Erlangga langsung tumbang di samping sang istri, walaupun sesi kali ini sangat tidak adil bagi Grael.
Akan tetapi, tetap saja Grael melakukannya karena tugasnya sebagai seorang istri, begitu selesai dia pun tertidur di samping sang suami masuk ke dalam pelukan Erlangga.
Tidak lama kemudian, suara notifikasi dari ponsel Erlangga berbunyi, tidak hanya sekali tetapi berkali-kali notifikasi tersebut berbunyi hingga mengganggu kenyamanan Grael yang sedang tertidur dalam dekapan sang suami.
Dalam kesadaran yang masih setengah sadar, Grael meraih ponsel Erlangga, dia pun membuka matanya secara perlahan untuk melihat pesan dari siapa hingga mengirimnya begitu banyak.
Alangkah terkejutnya Grael saat melihat foto dirinya yang sedang berciuman dengan Rangga terpangpang jelas di layar ponsel sang suami, dia mengucek matanya untuk memastikan kembali apa yang dia lihat.
"Ya Tuhan," ucap pelan Grael, pikirannya tercetus ke seseorang yang mengirim foto tersebut ke ponsel Erlangga.
"Veby!" batin Grael, dia pun langsung membuka pesan tersebut untuk menghapusnya, tetapi ponsel itu memiliki kata sandi untuk membukanya.
Sudah lima kali Grael memasukan kata sandi yang salah pada ponsel Erlangga, hingga akhirnya dia mencoba menggunakan jemari Erlangga untuk membuka kata sandi dan ternyata berhasil terbuka.
Grael mengambil napas panjangnya sebagai ungkapan perasaan leganya, dia langsung membuka isi pesan tersebut lalu menghapusnya secepat mungkin, sebelum Erlangga mengetahuinya.
"Kamu, ngapain Yank?" Erlangga membuka matanya saat melihat Grael memegang ponselnya.
Jantung Grael berdegup kencang saat Erlangga memanggil namanya dan kini sang suami tepat berada di sampingnya seraya melihat ponsel yang dia pegang. Grael begitu gugup saat ingin menjawab pertanyaan dari sang suami.
"Aah, ahmm, ta–tadi ... a–aku, nggak sengaja—"
Erlangga pun melihat pesan yang masuk ke dalam ponselnya yang masih dipegang oleh Grael. Terlihat banyak pesan masuk dari Angelin, dia tahu pasti sang istri penasaran ingin melihat isi ponselnya sehingga dia gugup saat melihat pesan dari Angelina.
"Maaf, jangan marah! Aku sama sekali nggak balas pesan dari dia!" Erlangga menarik tubuh Grael agar berada dipelukkannya, dia mencoba menjelaskan agar Grael tidak salah paham terhadapnya.
Ucapan Erlangga sangat membingungkan bagi Grael, dia tidak mengerti yang di maksud oleh suaminya, ketika Erlangga meminta maaf dan tidak membalas pesan.
"Kamu lihat ya, aku blokir nomornya, biar kamu percaya sama aku!" Erlangga mengambil ponsel dari tangan sang istri lalu menghapus pesan Angelina.
Semua pesan telah terhapus begitu juga nomor Angelina, Grael tidak percaya bahwa wanita yang bertubuh seksi itu ternyata masih menghubungi suaminya dengan kata-kata yang membuat dia cemburu.
__ADS_1
Tidak hanya menunjukkan pesan dari Angelina, Erlangga juga menunjukan semua isi pesan dari kolega termasuk pesan dari Rio, begitu semua isi ponsel Erlangga dibedah oleh sang pemilik agar istrinya tidak curiga, Erlangga pun menanyakan kembali kepada Grael.
"Apa ada yang mau kamu lihat lagi?" tanya Erlangga yang kini posisi mereka bersandar di divan tempat tidur.
"Boleh liat galeri?" ucap Grael ragu antara foto ciumannya dengan Rangga masih tersimpan dan juga ragu takut melihat terdapat foto Erlangga bersama wanita lain.
Erlangga menampakkan senyumannya dan menunjukkan kepada Grael semua galeri yang tersimpan. Dapat Grael lihat sendiri bahwa foto yang tersimpan di galeri Erlangga ternyata foto dirinya semua.
"Astaga, kok semua foto aku bisa di kamu?" tanya Grael yang tidak percaya. Dia pun mengambil ponsel Erlangga lalu men-scrol dari atas sampai bawah.
"Kenapa nggak bisa? Kamu aja bisa aku dapetin, masa cuma foto tidak bisa aku dapetin?" Erlangga mencubit hidung sang istri dengan gemas.
"Aah," ucap Grael dengan senyum mengambang, perasaan bersalahnya semakin menjadi. Dia tidak bisa membanyangkan bila Erlangga tahu kesalahannya terlalu fatal.
"Hmm, Kak, aku mau tanya boleh nggak?" tanya Grael dengan hati-hati.
"Tanya apa?" Erlangga melihat ke arah sang istri.
"Good night, honey!" Erlangga mencium kening sang istri sembari memeluknya dengan erat.
"I love you." Grael tidak membalas ucapan selamat malam pada Erlangga, dia justru mengungkapkan cinta lalu mengecup pipi sang suami, sehingga Erlangga tersenyum sembari memejamkan matanya.
"I love you to so much!" Erlangga mengecup bibir Grael lalu masuk ke dalam mimpi.
"Maafkan aku, Kak Erlangga! Maaf telah melukai hatimu, Aku berharap kamu mau memaafkan kesalahan fatal yang sudah aku buat!" batin Grael berkata seraya menatap sang suami yang sudah tertidur lelap, kemudian dia mengingat Veby. "Kenapa Veby bisa tahu nomor pribadi, Kak Erlangga?"
...----------------...
Waktu terus bergulir, masa orientasi siswa telah berakhir. Grael pun ingin sekali cepat-cepat sampai di kamar lalu merebahkan tubuhnya sembari menulis cerita yang akan dia serahkan pada salah satu admin yang terpercaya.
"El," panggil Ernata yang berlari mengejar Grael yang akan naik ke dalam mobil.
Grael pun menengok ke arah Ernata yang ternyata mengajaknya untuk mengajarkan tugas bersama di rumahnya, dia pun sempat melirik Pak Beni sebelum memutuskan sesuatu.
__ADS_1
"Maaf, Nona Grael sudah ditunggu oleh Tuan muda!" Pak Beni membukukan tubuhnya sebagai tanda memaksa Grael harus segera pulang ke rumah.
"Maaf, Nat ... kayanya, gue nggak bisa deh, sorry, ya!" tolak Grael secara halus dan Ernata pun mengerti.
"Bye, Nat!" ucap Grael saat mobil pun perlahan berjalan.
Selama perjalan menuju rumah utama Pak Beni sudah memperingati Grael agar mencari cara untuk bisa mengambil hati Erlangga, tetapi Grael masih tidak mengerti dengan ucapan Beni yang kini sebagai sopir pribadi Grael.
Sesampainya di rumah utama, Grael langsung menuju kamarnya karena Pak Beni memberitahu bahwa Erlangga pulang lebih cepat dan menunggu dirinya pulang sekolah. Langkahnya pun berhenti ketika dia membuka pintu kamar dan sorot matanya menangkap sosok Erlangga yang sedang duduk di sofa sembari menatap ke arahnya dengan tajam.
"Kak?" Grael perlahan berjalan mendekat ke arah Erlangga, tetapi sang suami melempar beberapa lembar foto yang berukuran sedang ke arah dirinya.
Mata Grael berkaca-kaca saat melihat raut wajah Erlangga yang sudah sulit di artikan bahwa pria tersebut sangat marah melihat foto dirinya yang berciuman dengan Rangga.
Buliran air mata yang sudah Grael tahan akhirnya jatuh juga di pipinya, saat Erlangga menunggu jawaban dari mulutnya, perasaanya begitu takut, bahkan sangat takut untuk saat ini, jika kata-kaya yang dia keluarkan salah diartikan oleh sang suami.
"Kak, i–ini ... ti–ti–dak seperti yang Ka—"
"Tidak seperti apa maksud, kamu? HAH!" Erlangga bangun dari duduknya dan berteriak di depan Grael. Sang istri pun memejamkan matanya saat Erlangga membuka suaranya begitu keras.
"Aku terpa—"
"Terpaksa? Iya? Terpaksa menciumnya karena kamu cinta kan? IYA KAN!" bentak Erlangga dengan intonasi suara meninggi.
"Kenapa? Apa kamu tidak bisa melupakannya? Ini kah yang kamu maksud untuk belajar mencintai aku? Katakan!" Erlangga memegang bahu Grael dengan sangat kencang sehingga sang istri merasakan cengkraman yang begitu sakit di tubuhnya.
"Aku terpaksa mencium Rangga karena Rang—"
"Aaakkkhh!" Erlangga menyingkirkan semua yang ada di atas meja rias Grael, dia membanting vas bunga yang baru di ganti lalu melemparnya ke arah dinding tepat di samping Grael, dia begitu kesal ketika sang istri menyebut nama adik tirinya.
Tubuh Grael gemetar hebat ketika melihat sang suami mengeluarkan segala amarahnya, suara isak tangisnya semakin kencang. Kedua tangannya menutup kuping karena ketakutan mendengar teriakan Erlangga dan juga barang-barang yang di banting oleh suaminya.
To be continued...
__ADS_1