
...Warning!!!...
...Adegan dalam episode ini hanya fikti belaka yang mengandung tindak kekerasan, harap bijaklah dalam membaca!! Tidak patut ditiru!!...
...°Happy Reading°...
Langit berubah menjadi gelap, udara malam pun semakin dingin. Namun, kedua sejoli masih asyik saling memberi kehangatan dalam alur mimpi di balik selimut yang sama. Hingga suara ketukan pintu mengusik tidur mereka yang begitu nyenyak.
“Tuan, makan malamnya sudah siap!” Lydia masih berdiri di depan pintu kamar yang terkunci oleh sidik jari Erlangga dan juga sidik jari Grael.
“Jangan bangun, biar aku!” Grael menahan tangan Erlangga agar tidak menemui maid itu, karena dia tahu dibalik pintu itu adalah Lydia.
Grael turun dari tempat tidur sembari membawa selimut yang dia lilitkan sebagai penutup tubuhnya yang polos, tidak lupa dia juga menutupi seluruh tubuh Erlangga dengan selimut satunya dari ujung kaki hingga ke ujung kepala.
Pintu pun terbuka dan terlihat Lydia sedang menundukkan kepala, Grael pun berdeham agar Lydia mengangkat wajahnya. Begitu Lydia melihatnya, dia mengibaskan rambut yang terurai ke belakang, memperlihatkan leher jenjang berwarna putih mulus yang terdapat cap tanda cinta dari Erlangga.
Tentu hal itu membuat Lydia terdiam untuk merasakan sesak di dadanya, dia hanya meremas kedua tangannya sendiri sembari berkata, “Tuan, saya disuruh Tuan besar untuk menunggu Tuan Erlangga dan ... Nyonya.”
Lydia menundukkan kembali kepalanya, hatinya begitu dongkol melihat wanita yang ada di depannya sebagai istri sah Erlangga yang memamerkan aksi pergulatan panas cinta mereka.
“Tunggu di bawah, sebentar lagi kami turun!” ucap Grael dengan judes lalu menutup pintu kamar dengan kencang membuat Lydia tanpa terkejut.
Segurat senyuman tampak terukir di wajah Erlangga ketika melihat tingkah istrinya, dia pun segera turun dari tempat tidur dan mengajak Grael untuk mandi bersama.
“Ah? Mandi bersama? Kak, nanti Papi kelamaan nungguin!” elak Grael, dia tahu kalau nanti akan ada sesi kedua di dalam kamar mandi bila dia menyetujui permintaan Erlangga.
“Masih ada waktu tiga puluh menit untuk makan malam bersama Papi, sekarang tidak ada penolakkan, Sayangku!” Erlangga membuka selimut yang masih melekat di tubuh sang istri lalu menggendongnya ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
Ya, benar saja, hal yang sudah bisa ditebak oleh Grael terjadi. Erlangga mencumbunya dengan buas di bawah pancuran air shower. Begitu dingin tetapi juga panas yang dirasakan oleh Grael.
Tangan kekar Erlangga terus menuntunnya sesuka hati, menciptakan gerakkan yang menguras tenaga. Begitu semangat Erlangga mengendalikan tubuh sang istri sepenuhnya ketika Grael selalu membalasnya sesuai keinginan Erlangga
Suara merdu yang mereka keluarkan mengalahkan suara gemercik air yang keluar dari lubang shower ke tubuh mereka hingga jatuh ke lantai.
Gerakkan demi gerakan mereka ciptakan, hingga tanpa sadar, sudah berapa banyak gaya yang telah mereka lakukan demi menciptakan surga duniawi yang mereka buat bersama di dalam kamar mandi tersebut.
Kaki yang gemetar dan suara panjang ciri khas Erlangga yang ditunggu-tunggu oleh Grael akhirnya keluar, segera tubuhnya dipeluk erat oleh Erlangga seraya terus memberikan kecupan hangat di sisa detik-detik aliran yang mulai melemah.
Sungguh Erlangga pemain yang sangat luar biasa ketika mengajak istrinya terbang ke nirwana, dia selalu membuat tubuh sang istri terkulai lemas tidak berdaya. Erlangga menggendong tubuh Grael keluar dari kamar mandi, usai melakukan sesi mandi yang berbeda.
Setelah keluar dari kamar, mereka melihat Lydia dengan raut wajah yang kesal akibat menunggu begitu terlalu lama, segurat senyuman mengembang di wajah istri Erlangga. Ada rasa puas mengerjai maid yang rasanya dia ingin menendang keluar saat itu juga.
“Tuan,” ucap Lydia dengan lembut dan tetap tersenyum manis di depan Erlangga.
“Loh, Tuan sendiri yang mengakses sidik jari saya agar bisa masuk ke dalam paviliun ketika Tuan membutuhkan saya!” ujar Lydia yang memiliki makna dalam agar Grael terbakar api cemburu.
Grael pun langsung melirik ke arah Erlangga untuk menunggu jawaban dari suaminya bahwa itu tidak benar, tetapi jawaban yang ingin dia dengar tak kunjung keluar dari mulut sang suami.
Erlangga justru terus melangkahkan kakinya sembari memegang erat tangan Grael saat memasuki rumah utama, ketika mereka tiba di ruang makan ternyata sudah ada Josua dan sang istri, sedangkan Rangga baru saja turun dari tangga.
“Hai, Kak!” sapa Rangga yang kemudian duduk di seberang meja Erlangga.
Erlangga tidak menggubris teguran hangat dari sang adik, dia memilih menggeser bangku Grael lalu duduk di samping sang istri seraya berkata, “Aku tidak mau siapa pun masuk ke paviliunku, sekalipun Papi yang menyuruh!”
Josua menghela napas pelannya mendengar ucapan dari Erlangga, walaupun dia tidak tahu bila Lydia tengah berusaha merusak rumah tangga Erlangga dan Grael. Namun, Josua cukup paham dengan maksud ucapan sang anak.
__ADS_1
Suasana di meja makan pun cukup hening ketika semua pokus dengan makanan yang ada di piring mereka masing-masing, hingga Rangga membuka suara tanpa sengaja.
“Aaww!” keluh Rangga saat bibirnya begitu perih terkena bumbu pedas dari ikan yang dia makan.
“Kenapa bibir kamu?” tanya Josua yang membuka suara agar suasana tidak terlalu hening.
Sontak membuat Rangga melihat ke arah Grael yang berpura-pura tidak bersalah dan memilih untuk tetap fokus makan. Namun, berbeda dengan Erlangga, dia melihat Rangga dengan tatapan sinis saat sang adik menatap istrinya.
“Ah, hanya di gigit serangga betina, Pih!” celetuk Rangga yang kembali menyantap makanannya.
Kata-kata Rangga mampu membuat Grael tersedak saat itu juga dan berhasil menjadi pusat perhatian semua yang ada di meja makan, terutama Erlangga. Hatinya begitu berdebar kencang karena takut membuat sang suami marah mendengar ucapan Rangga.
“Minumlah!” ucap Erlangga yang memberikan air minum kepada sang istri.
Grael langsung meminumnya agar mengurangi rasa tersendatnya ketika belum juga reda. Dapat dia rasakan bila sang suami masih marah soal ciuman itu, tetapi Erlangga tahan agar tidak merusak suasana makan malam mereka.
Setelah makan malam telah usai, Erlangga menghampiri sang adik yang berada di kamarnya, dia masuk tanpa permisi dan langsung menghajar sudut bibir Rangga hingga berdarah.
“Ck! Bang sat!” Rangga yang tidak terima bila sang kakak tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya dan langsung memukulnya, membalas dengan memukul balik sang kakak.
Pergulatan sengit pun terjadi, keduanya saling baku hantam satu sama lain hingga Rangga benar-benar di hajar habis-habisan oleh Erlangga karena sudah berani menyentuh Grael yang sudah resmi menjadi miliknya.
Emosi yang ditahan oleh Erlangga sudah meledak ketika mendengar ucapan Rangga dengan intonasi yang seakan senang bila melakukan itu di belakangnya tanpa dia ketahui.
“Itu hukuman buat, Lo!” Erlangga berdiri dari atas tubuh sang adik ketika melihat sang adik sudah terkulai tidak berdaya.
To be continued...
__ADS_1