Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
130. Melawan rasa takut


__ADS_3

Erlangga tidak tahu bila kejadian beberapa bulan lalu membuat istrinya menjadi trauma, tapi ingatan Erlangga tentang Grael saat bulan madu waktu berenang di pantai tidak Grael tidak menunjukan gejala traumanya.


"Ok, lebih baik kita masuk ke dalam tenda, kita istirahat!" ujar Erlangga yang menuntun istrinya untuk tidur.


"No! I'm fine!" ucap Grael yang merasa dia harus melawan rasa ketakutannya dan tidak mau terus dalam bayangan rasa takut yang menghantuinya.


"Kamu serius?" tanya Erlangga yang meyakinkan Grael.


"Ya!" jawab Grael yang membuang napasnya dengan kasar.


"El, lebih baik jangan di paksa dulu!" ucap Rangga walaupun di hatinya sudah ada Emira tapi Rangga masih peduli terhadap mantannya tersebut.


"Ok, kita pelan-pelan untuk menghilangkan rasa takut itu ya!" Erlangga mengecup kening istrinya dan di anggukan oleh Grael.


Perlahan Grael menurunkan kakinya ke bawah menyentuh air, setelah itu mencoba untuk masuk lebih dalam lagi, ditemani oleh sang suami dari arah depan dan juga Rangga dari arah belakang yang siap siaga untuk memantau perkembangan psikis batin Grael.


Tangan Grael mencengkram kuat lengan Erlangga, deru napasnya juga semakin tertekan di dalam air, dia pun mencoba untuk fokus ke arah sang suami yang terus menuntunnya semakin dalam dan memberikannya semangat untuk dirinya.


"El!" ucap Rangga penuh khawatir, saat menangkap tubuh Grael yang hilang keseimbangan. Namun, dengan cepat Erlangga menarik tangan Grael dan memeluknya dengan cepat.


"Ok, tenang! Ada aku di sini!" ucap Erlangga yang berusaha untuk menenangi napas Grael yang tersengal.


Lambat Laun Grael mulai menyingkirkan rasa pobianya terhadap air yang tenang dan terdapat ikan. Begitu sang suami melepaskannya secara perlahan, batinnya berkata bahwa dia bisa melakukanya. Grael pun tidak segan-segan untuk mulai menggerakkan tubuhnya selayaknya perenang yang handal.


Melihat sang istri sudah mulai berenang menjauh, Erlangga tersenyum lalu mengejarnya. Dia baru mengetahui satu hal bakat istrinya yang kali ini belum dia ketahui. Ya, Grael Arabella perenang yang handal. Namun, bagaimana pada saat itu istrinya bisa tenggelam di kolam ikan? Jawabannya satu, sepintarnya Grael pandai berenang tapi bila kakinya keram di dalam air dia bahkan tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri.


"Wwoow, semangat, Ay! Eh salah ... Semangat El!" teriak Rangga yang sudah di tinggal jauh oleh pasangan suami istri tersebut. Tidak mau sendirian di pinggir danau, Rangga pun menyusul Grael dan juga sang kakak.


Di bawah air terjun kecil yang menjadi penambah indahnya pemandangan alam tersebut, ternyata Grael dan Erlangga sedang asik menukar saliva. Tangan Erlangga terus menahan tengkuk lehernya saat dia ingin melepaskan ciuman itu karena kedatangan Rangga.

__ADS_1


Namun, Erlangga terus menunjukkan kemesraan dia bersama Grael di bawah air terjun di hadapan Rangga. Seakan memamerkan pada sang adik bila dia adalah winner, dia pemenang atas cinta dan tubuh Grael.


"Aaah, dasar Kakak nggak ada akhlak! Bisa-bisanya dia mamer kemesraan, nyesel gue nyusul mereka!" maki Rangga. Akan tetapi, akal bulusnya berpikir dengan cepat untuk membalas perbuatan mereka yang pamer kemesraan.


Rangga pun masuk ke dalam air dan mengambil salah satu ikan lalu dia masukan ke dalam cellana dallam sang kakak, sontak saja Erlangga langsung terkejut dan mendorong tubuh Grael.


"Kamu kenapa, Yank?" tanya Grael yang melihat suaminya panik dan merogo bagian bawahnya.


"Anjrit! Apaan nih?" Erlangga mengambil sesuatu dari dalam cellananya seraya mengeraskan rahangnya dan berteriak, "RANGGA!"


Rangga pun langsung menjauh dari sang kakak sambil tertawa ketika dia berhasil memisahkan Erlangga dengan Grael. Hatinya begitu puas ketika melihat ekspresi raut wajah kakak nya yang kesal akibat ulahnya.


...----------------...


Malam hari, Erlangga sedang sibuk membuat api unggun di tengah-tengah tenda mereka. Josua dan Grael sibuk melakukan perawatan wajah mereka bersama Rangga dengan memakai pakaian piayama.


"Ihhh, Kakak ... masa aku disuruh angkat kayu, berat tahu! Aku nggak mau, nanti maskerku lusak!" ucap Rangga yang begitu lenje ala-ala anak gadis yang manja.


Erlangga yang masih sibuk menata ranting kayu untuk di bakar, seketika menengok ke belakang saat mendengar intonasi adiknya begitu menjijikkan di telinganya.


"Eh, anjing, malah ikutan! Najjis punya adek kaya gitu!" Erlangga langsung menyambit bokong Rangga dengan ranting seraya tertawa dengan umpatan yang dia lontarkan untuk adiknya.


"Iih, Papi! Kak Erlangga ahad ama aku! Masa aku dikatain anjing!" rengek Rangga yang menarik lengan Josua untuk keluar dari dalam tenda.


Erlangga yang masih tertawa melihat tingkah Rangga langsung terkejut melihat sang ayah yang ternyata memakai piyama dengan motif pink dengan gambar silermoon. Bayangkan saja, ketua Grup Jaya yang terkenal sangar, beretitut, tegas, disiplin. Namun, ketika bersama menantu kesayangannya yang dia anggap sebagai anak perempuannya bagaikan sosok ayah yang lemah lembut dan penyayang.


"Astaga? Yank ... Papi kamu apain?" Erlangga mematung melihat ayahnya berbeda 360° Celcius saat dekat dengan istrinya.


"Kenapa? Apakah piayama Papi kurang ciut? Apa masker Papi tidak retak?" tanya Josua yang panik takut dirinya tidak sesuai dengan keinginan anak perempuannya.

__ADS_1


"Cute, Pi! Cute!" ucap Grael yang tertawa.


"Kiut Pih! Bukan ciut! Kulit Papi baru ciut!" Rangga menarik kulit sang ayah yang masih terlihat bugar.


Erlangga hanya menggelengkan kepala sembari tertawa ketika melihat ayahnya begitu menghayati dalam peran sebagai ayah yang memiliki anak perempuannya.


"Ngga buruan ambil korek gas sama ranting di belakang tenda!" bentak Erlangga yang menyambit kaki Rangga pake batu.


"Nggak mau! Atut!" renggek Rangga dan mengaduk ke Josua.


"Bantu Kakakmu buat api unggun, Papi mau telepon Mami dulu!" ucap Josua.


"Rangga, gue kirim ke Emira ya?" Grael menunjukkan hasil rekamannya kepada Rangga dari jarak jauh.


"Ah, nggak lucu, El! Hapus nggak!" bentak Rangga yang berubah sangar ketika imagenya dipertaruhkan. Dia mencoba mengejar Grael tapi istri kakaknya itu selalu menghindar.


"Nggak mau, wleee!" Grael menjulurkan lidahnya seraya menjauh dari kejaran Rangga dan mengumpat di belakang tubuh Josua.


"Wah, asuh, Lo! Siniin nggak HP nya!" pinta Rangga yang berada di depan sang ayah.


"Ini anak omongannya!" Josua yang mau menghubungi Kylie tertunda dengan kelakuan anaknya.


"Ya ... Ngga, udah ke kirim? Gimana, dong?" ledek Grael yang sengaja mengirim ke Emira.


"El, duluan, Pih! Kak, istri Lo, tuh! Ah, nggak lucu, El! Kak!" teriak Rangga pada Erlangga, berharap dapat bantuan dari sang kakak, tapi bukan bantuan yang dia dapet justru dirinya mendapat umpatan dari Erlangga yang membentak dia untuk mengambilkan ranting pohon.


"Ya, gue ambilin! Puas!" Rangga pun dengan kesal pergi ke belakang tenda untuk mengambil ranting. Masker yang ada di wajahnya retak akibat emosi terpancar di raut wajahnya.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2