
Perjalanan menuju sekolah terasa hening, saat wajah Rangga terus memasang tampang masamnya. Grael sama sekali tidak berani membuka suara terlebih dahulu, dia memilih menunggu sang kekasih berbicara lebih dulu. Namun, sikap Rangga yang mendiaminya sangat menyiksa rasa bersalah dia.
Akhirnya, Grael memutuskan untuk berbicara lebih dulu. "Ngga a-aku—"
"Apa hubungan kamu sama Kakakku, selain fans?" tanya Rangga dengan suara yang begitu dingin sedingin kutub Selatan.
"A-aku sama dia ... cu-cuma hubungan kerja," ucap Grael yang begitu gugup.
"Kerja?" tanya Rangga yang heran dengan jawaban kekasihnya.
"Iya kerja, gak lebih." Grael menunjukkan dua jari sebagai tanda kejujurannya, walaupun dia tidak yakin dengan apa yang pernah dia perbuat.
"Kerja apa?" Rangga sekilas melihat ke arah Grael dengan sorot mata yang tajam.
Grael mencoba untuk menjelaskan kepada Rangga secara jujur dan terbuka, dia tidak mau menyembunyikan apapun kepada kekasihnya itu. Entah Rangga marah ataupun kesal setelah mendengar tentang dirinya, yang penting dalam prinsip diri Grael tidak ada yang harus dirahasiakan kecuali soal Erlangga yang terus menerus melakukan asusila kepada dia.
"Kamu yakin hanya sebatas itu dan gak lebih?" Rangga menghentikan mobilnya saat berada di lampu merah. Dia menatap serius ke arah Grael, mencari sebuah kebohongan. Namun dia tidak menemukannya.
"Astaga! Kamu gak percaya sama aku?" Grael tampak kecewa dengan sikap kekasihnya itu. Rangga tidak bermaksud untuk merendahkan Grael, dia hanya kepikiran dengan ucapan sang Kakak bila Grael adalah wanitanya.
"Bukan gak percaya, cuma ... kenapa kamu gak bilang dari awal sama aku?" tanya Rangga yang kini berubah menjadi lembut.
"Aku hanya nunggu waktu untuk bilang sama kamu," jawab Grael dengan suara pelannya.
"Setelah selesai, aku mau kamu jangan terlalu dekat dengan ya? Aku tipe pencemburu walaupun dia itu adalah Kakakku." Rangga mengambil tangan Grael lalu menggenggamnya dengan lembut
"Hmm," jawab Grael dengan anggukan sembari tersenyum manis.
Mobil pun berjalan hingga sampai ke halte bus sekolah, seperti biasanya Grael tidak mau sampai ada yang melihat jika dia berangkat sekolah bersama Rangga. Dia meminta kepada Rangga agar merahasiakan hubungan mereka untuk sementara waktu.
Pintu mobil dibuka oleh Grael, tetapi Rangga menahannya. "Jangan terlalu dekat Irfan!"
"Iya ... sayang," ucap Grael dengan lembut, dia kembali membuka pintu mobil, tapi lagi-lagi Rangga menahannya, Grael pun kembali melihat ke arah Rangga.
"Jadi, beneran kita backstreet nih?" Rangga mulai merajuk dengan keputusan Grael dengan memajukan bibirnya ke depan.
__ADS_1
Sikap Rangga terlalu menggemaskan di mata Grael, hingga dirinya tertawa dan mencubit pipi Rangga dengan kencang, membuat pria yang memiliki hidung mancung itu meringis kesakitan.
"Aaaakh ... atit," keluh Rangga yang minta dicium sebagai kompensasinya.
Grael pun tertawa sembari memberi ciuman pada pipi Rangga menggunakan tangannya bukan dengan bibirnya, dia langsung melarikan diri untuk keluar dari mobil itu agar tidak tertangkap lagi oleh Rangga.
"Awas ya!" ancam Rangga yang tertawa ketika dirinya dikerjai oleh sang kekasih, Grael pun tertawa sembari menjulurkan lidahnya. Kemudian berjalan masuk ke dalam gerbang sekolah.
***
Upacara bendera tengah berlangsung, semua murid mengikutinya dengan tertib. Grael yang berada dibarisan belakang perempuan sedangkan Rangga juga dibarisan belakang laki-laki, akan tetapi mereka bersebelahan membuat Rangga sering kali mencuri pandang dan tersenyum.
Terkadang Rangga pun mencoba untuk menyentuh tangan Grael saat yang lain tengah fokus mengikuti upacara bendera, jari kelingking Rangga berusaha meraih jemari Grael. Sang gadis yang merasakan sentuhan di jemarinya menahan senyumannya agar tidak menimbulkan gelagat aneh yang mengundang keributan.
Sekali jari kelingking Rangga berhasil menggandeng jemari Grael, dia melirik ke arah kekasihnya yang ternyata juga sedang menatapnya sembari menahan senyuman. Namun, tiba-tiba ada suara deheman dari petugas upacara yang berdiri dibelakang mereka berdua.
Sontak membuat Rangga langsung melepaskan tangan Grael dan memasang sikap tegap menghadap ke arah depan, petugas itu memegang pundak Rangga dengan kedua tanganya.
"Fokus ... Ngga," bisik petugas upacara.
Upacara pun berjalan dengan lancar, semua murid masuk ke dalam kelas masing-masing usai melaksanakan upacara bendera yang diadakan setiap hari Senin pagi. Grael yang ingin masuk ke dalam kelas tiba-tiba Irfan menabraknya dengan sengaja.
"Aduh," keluh Grael.
"Eh, sorry gak sengaja, lo gak apa-apa kan?" Irfan memegang bahu Grael saat gadis itu kehilangan keseimbangan.
"Ya, gak apa-apa," sahut Grael.
"Ala ... modus Lo, Fan. Bilang aja mau pegang-pegang." Ernata memukul bahu Irfan dengan pelan sembari bercanda.
"Aaa... bisa ae kaleng kerupuk," celetuk Veby di telinga Irfan.
"Anjrit bacot Lo, Inem!" Irfan mendorong tubuh Veby dengan pelan agar menyingkir dari jalannya menuju kelas.
"Eehh ... biasa aja dong Udin." Veby membalas mendorong tubuh Irfan dengan kesal.
__ADS_1
"Lama-lama jodoh Lo, berdua," umpat Ernata yang tertawa melihat tingkah Veby dan Irfan seperti Tom and Jerry.
"Amit-amit," ucap Veby.
"Wah, wah, wah ... parah Lo, Nat ... masa gue didoain ama rangginan sih! Lo tahu sendiri, cinta gue harga metong ama Grael, gak asik Lo!" Irfan kembali membalikan badan dan ingin mendorong bahu Ernata. Namun, Anjas mencegahnya agar tidak menyentuh Ernata.
"Ye ... panci item! Siapa juga yang mau sama Lo!" emosi Veby yang ingin memberi pelajaran pada Irfan tapi dicegah oleh Grael.
"Dah ... ayoo, balik ke kelas, sebelum guru dateng!" Rangga mengajak Irfan dengan merangkul pundaknya sebelum keributan semakin menjadi.
Mereka pun masuk ke dalam kelas masing-masing usai membuat keributan di depan kelas Grael.
***
Jam istirahat pertama, Grael yang berada di dalam kamar mandi mendengar ucapan dari teman-temannya yang berbeda kelas. Mereka sedang membicarakan sahabatnya sembari mencuci tangan mereka di wastafel, bahwa keluarga Veby sedang mengalami kebangkrutan akibat korupsi yang dilakukan oleh Ayah Veby.
Grael yang kaget mendengar obrolan dari siswi tersebut, langsung membuka pintu kamar mandi dengan kasar, agar mereka yang mengosipkan kejelekan tentang sahabatnya bisa berhenti. Namun, bukan sekolahan elit namanya bila siswi yang berlatar belakang orang kaya tidak berbuat tingkah dengan Grael yang notabennya dari keluarga yang sederhana.
"Kenapa Lo liatin kita gitu? Gak seneng gue ngomongin temen lo?" ujar Lucy yang sangat terkenal dengan cewek paling sekssi di sekolah elit itu.
"Siapa sih yang liatin Lo, orang gue cuma mau cuci tangan juga." Grael melewati Lucy dan Sylvia begitu saja tanpa ada rasa takut.
"Iiisshh ... dasar kismin, bangga Lo masuk kesini karena beasiswa?" ujar Silvia dengan sewot tetapi Grael tidak menggubris hinaan Sylvia, dia terus terdiam membersihkan tangannya.
"Gue heran, kenapa sih ... sekolahan sebagus ini, harus nerima murid kismin kaya lo?" celetuk Lucy yang berdiri tepat di belakang Grael.
Grael pun mematikan kerannya dan berlalu melewati Lucy dan Sylvia begitu saja tanpa membalas hinaan dari kedua siswi tersebut. Lucy yang kesal dengan sikap cuek dari Grael yang selalu mengabaikan dia, akhirnya dia mengulurkan kakinya agar Grael terjatuh akibat ulahnya.
"Aduuh!" keluh Grael kesakitan ketika dengkulnya mencium lantai.
"Upps, atit ya? Uuhh ... kacian, sorry, gue sengaja!" Lucy langsung melangkahi Grael dan keluar dari dalam kamar mandi bersama Sylvia yang tertawa melihat gadis itu menderita.
Selama ini memang Grael tidak mau meladeni sikap Lucy dan Sylvia, siswa yang disegani oleh semua murid sekolahan tersebut, karena Lucy dan Sylvia adalah salah satu keluarga terkaya yang paling tinggi dalam donatur disekolah elit tersebut.
Grael mengusap dengkulnya yang terlihat sedikit berdarah, lalu keluar dari kamar mandi tersebut menghampiri Ernata dan Veby yang sudah berada di kantin bersama ketiga cowok keren.
__ADS_1
To be continued...