
"Semua hasilnya bagus, tidak ada kendala sama sekali! Tidak perlu khawatir, karena mungkin ini efek penggunaan alat kontrasepsi." Dokter itu menjelaskan seraya tersenyum kepada Erlangga dan juga Grael.
Ya, sejak masuk ke dalam ruangan Dokter Zee, Erlangga selalu setia menemani sang istri untuk menjalani pemeriksaan. Bukan hanya pada Grael saja, tetapi Erlangga pun juga ikut andil dalam pemeriksaan.
Jemari Erlangga terus menggenggam erat tangan Grael saat Dokter Zee menjelaskan hasil yang sudah diperoleh. Dia pun semakin senang ketika hasilnya tidak ada kendala.
"Ini saya kasih vitamin, jangan lupa di habiskan ya!" Dokter Zee memberikan resep pada Grael untuk ditebus di farmasi.
"Ok, kalau begitu terima kasih, Dok!" Erlanhga segera berdiri dan menjabat tangan sang dokter, begitu juga dengan Grael.
"Sama-sama, Pak!" Dokter Zee tersenyum ke arah mereka berdua.
Setelah keluar dari ruangan Dokter Zee, mereka pun berpapasan dengan Dokter Nadin. Di sana Grael kembali bersembunyi di balik lengan kekar Erlangga.
"Hai, udah periksa?" tanya Nadin yang mendekat, dia melihat sikap Grael yang lebih menunduk ketimbang menyapanya lantas berkata, "Hasilnya bagus kan?"
Erlangga pun mengangguk dan melihat ke arah Nadin yang tersenyum ke arah istrinya.
"Mau makan siang bareng?" tawar Nadin ketika melihat jam tangan yang ada di pergelangan tangannya.
"Tidak usah, Tan. Sepertinya, Istri saya masih malu," ucap Erlangga yang tersenyum.
"Oh, gitu ... ya, ya, nggak apa-apa. Padahal Tante ingin sekali mengajak menantu Tante makan siang, tapi ...."
"Ih, nggak kok. Ya sudah Tan ... kita makan siang bareng!" Grael langsung mengiyakan ajakan Nadin, dia memang tipe orang yang sulit menolak untuk berkata tidak.
"Nah, gitu dong! Kalau begitu, kita lets go!" Nadin melepaskan tangan Grael dari tangan Erlangga dan langsung merangkul mengajaknya untuk pergi ke kantin.
Erlangga hanya menggeleng di saat kedua wanita itu mulai terlihat akrab dan melupakan keberadaanya.
Sesampainya di kantin rumah sakit, Grael yang duduk di depan Nadin dan terhalang oleh meja kantin, mendengarkan semua cerita Nadin tentang Erlangga saat masih kecil sembari menunggu pesanan mereka matang.
"Masa sih, Tan?" tanya Grael sekali lagi tentang kisah cinta pertama Erlangga.
__ADS_1
"Iya, bahkan sampai sekarang dia masih tetap mencintai wanita itu," ucap Nadin yang mulai memancing rasa cemburu Grael.
Tentu saja ada sedikit rasa nyeri di hatinya ketika mendengar ucapan Nadin, tetapi dia menampiknya dengan cepat, karena Grael sudah berjanji pada dirinya sendiri bila dia akan mulai berusaha untuk tidak menaruh harapan lebih pada suaminya.
Pengalaman pertama Erlangga yang berbuat kasar pada dirinya enam bulan yang lalu membuat dia tersadar, bila mungkin suatu saat nanti suaminya akan benar-benar pergi kepelukan wanita lain.
Grael mulai membatasi diri, apalagi dia menyadari dirinya yang belum kunjung mendapatkan momongan di tengah keharmonisan rumah tangganya. Dia tidak mau bila Erlangga kembali menyakiti dirinya dengan berbuat kasar.
Erlangga melihat ke arah Grael seakan ada senyum yang ditahan setelah Nadin melontarkan kata seperti itu pada Grael. Padahal orang yang dimaksud oleh Nadin adalah Grael.
"Terus, kenapa Kak Erlangga tidak memperjuangkan cinta pertamanya Tante?" tanya Grael yang jauh diluar ekpetasi Erlangga.
"Kenapa, ya? Kenapa, Er?" tanya Nadin yang melempar pertanyaan pada Erlangga.
Grael pun melirik ke arah sang suami dan menunggu jawaban. Akan tetapi, rasa pemasarannya beriringan dengan rasa takut sakit hati bila Erlangga mengucapkan yang akan nanti membuatnya menangis.
"Karena, sudah ...."
"Eh, makasih ya, Mang!" ucap Grael yang lebih memilih untuk mengalihkan ucapan Erlangga.
"Ssshh ... panas ternyata," ucap Grael yang berdusta, dia hendak mengambil tisu tetapi Erlangga sudah mengelap air matanya.
"Minumlah," ujar Erlangga yang memberikan segelas minuman miliknya.
Grael pun dengan nurut meminumnya, usai menenggak beberapa tegukan. Erlangga menarik piring Grael dan meniupnya secara perhatian lantas berniat menyuapi ke sang istri.
Grael terdiam sesaat, dia melihat ke arah Nadin lalu kembali melihat ke arah suaminya yang sudah menaikan satu alis meminta agar dia segera membuka mulutnya.
Ragu-ragu Grael membuka mulutnya di depan Nadin lalu mengunyahnya secara perlahan, saat itu pula tangannya digenggam oleh Erlangga tepat di bawah meja dan di atas paha.
"Aduh, sepertinya Tante nyesel nih! Ngajak kalian makan siang buat temenin Tante makan," celetuk Nadin dengan suara sedikit susah diucapkan karena rasa pedas pada lidahnya.
"Tante mau juga, disuapin?" tanya Erlangga yang memilih makan menu sang istri.
__ADS_1
"Telat! Makanan Tante sudah habis!" ucap Nadin dengan ketus, dia juga menghabiskan minumannya lalu berkata, "Tante duluan, ya ... Lupa hari ini ada jadwal operasi ringan!"
"Semangat, Tante Nadin!" ucap Grael yang tersenyum.
"Bye, Sayang!" Nadin segera beranjak pergi usai mencium pipi Grael.
"Mau nambah?" tanya Erlangga yang mendapat gelengan dari Grael.
"Mau langsung pulang?" tanya Erlangga yang hanya mendapat anggukan dari Grael.
Erlangga langsung menggandeng tangan sang istri usai membayar pesanan mereka, jemarinya terus dia eratkan ketika Erlangga merasa ada yang aneh dengan sikap istrinya.
Pinggang ramping milik sang istri Erlangga tarik begitu saja agar mereka berjalan tidak berjauhan meski tangan saling menggenggam, dia melihat istrinya ketika mendapat tatapan dari Grael.
"Apa kamu marah? Aku ajak ke sini?" Kaki Erlangga memperlambat jalannya untuk menikmati lorong rumah sakit yang terkesan sejuk dan indah.
"Tidak," sahut Grael.
"Lalu?" Erlangga menghentikan langkahnya lantas melihat ke arah sang istri dan berkata, "Apa kamu cemburu dengan wanita yang menjadi cinta pertamaku?"
Grael terkekeh mendengar ucapan Erlangga, dia pun mendorong tubuh suami agar menjauh. "Aku tidak cemburu, itu hak kamu, toh setiap orang juga punya masa lalunya bukan kamu saja, aku pun juga memiliki cinta pertama!"
Grael berjalan meninggalkan Erlangga yang masih berdiam diri saat dirinya sudah mengatakan bila dia juga memiliki cinta pertama.
"Siapa orangnya?" Erlangga menarik tangan Grael dengan kasar hingga wanita itu langsung berbalik ke arahnya.
Grael menghela napas secara perlahan, benar kan? Apa yang sudah bisa ketebak, pasti suaminya seperti itu. Cemburu, posesif dan juga protektif.
"Adik kamu! Siapa lagi? Kenapa? Mau marah?" Grael menetap Erlangga dengan malas.
Tanpa menjawab ucapan Grael, Erlangga mencium istrinya dimuka umum saat masker yang dia kenakan dibuka begitu saja.
"Jelas aku marah, itu sungguh tidak adil! Karena cinta pertama aku adalah kamu!" Erlangga kembali mengecup bibir manis istrinya saat mereka masih berada di lorong rumah sakit.
__ADS_1
"Om, Om! Om lagi ngapain si sama Kakak?" tanya seorang anak kecil yang sedang makan permen lolipop sembari menatap ke arah mereka berdua.
To be continued...